
"Kevin? Apa yang kau lakukan disini?" Heran Dave.
"Tentu saja aku ingin menyapa adik cantikku ini, Paman," ucap Kevin dengan nada santai.
"Kapan kau pulang?"
"Baru saja, Paman," jawab Kevin kesal, karena pamannya selalu banyak bertanya.
"Aku tidak mengizinkan mu berbicara dengan Siyyara. Pergilah, biarkan dia istirahat."
"No, Paman. Aku ingin berbincang-bincang sebentar dengannya. Please." Kevin mengatupkan kedua tangannya dengan menampilkan wajah melasnya.
"Gimana, Siyya? Apa kamu biarkan pria gila ini berbicara dengan mu?" Sindir Dave. Yang disindir pun berlagak bodi amat, dia tidak ambil pusing dengan kalimat-kalimat pedas pamannya.
"Iya, Dad. Biarkan dia disini. Lagipula sudah lama sekali kami tidak bertemu," ujar Siyyara dengan terkekeh kecil.
"See?" Ujar Kevin pada Dave.
Dave sudah melotot ke arah Kevin, dia menggeram marah, jika saja pria di depannya ini bukan keponakannya, sudah pasti Dave akan menggantungnya di tiang gantungan.
"Baiklah, Daddy akan keluar. Ini sudah malam, sebaiknya setelah selesai berbicara dengan Kevin, kamu langsung tidur saja ya." Dave mengelus rambut Siyyara pelan.
"Baik, Dad. Selamat malam."
"Malam, sayang." Dave mencium kening Siyyara, setelah itu dia keluar dari kamar Siyyara dan meninggalkan Siyyara bersama keponakan buluknya.
Setelah Dave sudah tidak terlihat lagi, Kevin duduk di samping Siyyara dan menatap wajah cantik Siyyara.
"Akhirnya aku bisa berjumpa dengan Putri Raja nya kakek," ujar Kevin dengan nada bercanda.
"Bilang aja kamu iri," cibir Siyyara.
"Aku tidak berhak iri dengan kesayangan kakek. Karena nasibku juga sama seperti Alvian, kami seperti cucu tiri nya kakek," canda Kevin.
Siyyara terkekeh kecil saat mendengar keluhan sepupunya.
"Oh ya, aku datang kemari karena aku ingin menyambut mu dan memberi mu hadiah kecil."
"Hadiah apa?"
"Buka aja saat kamu ingin membuka nya," ujar Kevin.
"Hm," gumam Siyyara sambil menerima kotak itu.
"Terimakasih untuk hadiahnya," ucap Siyyara dengan menyunggingkan senyum manis.
"Sama-sama cantik."
"Apaan sih," gerutu Siyyara.
"Kamu cantik banget sih? Andai saja kamu bukan sepupuku, pasti sudah aku nikahi kamu saat ini juga," goda Kevin.
"Jangan mulai deh, aku aduin ke kak Alvian mau?" Ancamnya.
"No, aku masih sayang dengan kepalaku. Aku belum siap jika kepalaku menggelinding di kakinya." Kevin bergidik ngeri membayangkan keganasan Alvian.
"Hahaha!" Tawa Siyyara pecah dan begitu lepas, hingga membuat Kevin tersenyum kecil, tujuannya datang kamar Siyyara memang ingin membuat adik sepupunya itu ceria lagi. Alvian mengatakan jika sejak insiden itu terjadi, Siyyara menjadi gadis pemurung, biasanya gadis itu akan mengucapkan kalimat blak-blakan, tetapi sekarang ucapannya selalu di jaga. Gadis itu sangat berubah menjadi pribadi yang menyendiri. Dan hal itu membuat Alvian sedih, sehingga Alvian meminta tolong padanya untuk menghibur gadis itu di mansion Damares.
"Aku pergi dulu ya, Siyya. Ini sudah malam, sebaiknya kamu cepat tidur. Maaf karena aku mengganggu waktu istirahat mu," ucap Alvian tulus.
"Tidak apa, kak. Aku senang dengan kehadiran kakak. Sudah lama kita tidak berjumpa. Dan saat kita berjumpa, aku tidak bisa melihat wajah kakak," ujar Siyyara lirih. Meski Siyyara memaksakan untuk tersenyum, tetapi hal itu tidak bisa membuat Kevin percaya dengan senyuman Siyyara.
"Siyya, kamu jangan khawatir. Dari dulu sampai sekarang, aku masihlah tampan seperti dulu. Ketampanan ku inilah yang membuat para wanita bertekuk lutut," ujar Kevin sombong.
Siyyara yang mendengar penuturan Kevin pun memperagakan gaya muntah, sehingga membuat Kevin tergelak.
"Jangan begitu, Siyyara. Jika kamu sudah bisa melihat, kamu akan terpesona dengan pangeran Damares yang bernama Kevin. Lihat saja nanti." Kevin masih mempertahankan gaya sombongnya.
"Ya ya ya. Terserah padamu. Sekarang pergilah. Aku mau tidur," usir Siyyara.
"Ngusir nih?"
"Iya," jawab Siyyara ketus.
"Baiklah, Sayang. Aku pergi dulu, jangan merindukan ku ya. Semoga mimpi indah."
"Good night, dear."
"Night too," jawab Siyyara pelan.
Setelah pintu kamarnya ditutup rapat oleh Kevin, Siyyara terkekeh sendiri mengingat tingkah ajaib sepupunya itu.
"Ternyata tinggal disini sangat menyenangkan," ujarnya pelan sambil tersenyum. Tetapi senyumannya pudar saat mengingat kebersamaan nya dengan Gallen.
"Gallen? Aku akan berusaha melupakan mu selamanya. Aku tidak akan menghalangi kebahagiaan mu bersama Aira dan Kinan."
"Jika boleh jujur, aku sangat terluka saat memutuskan pergi darimu. Tetapi aku jauh lebih terluka saat kamu lebih memilih berbohong ketimbang jujur padaku," lirih Siyyara.
"Selamat tinggal, Gallen. Aku mencintaimu.'
******
1 bulan kemudian.
Gallen menghela frustasi saat Alvian tidak mau memberitahu keberadaannya Siyyara.
"Sudah ku bilang jika Siyyara pergi ke Jerman."
"Dimana dia tinggal? Aku akan menyusul nya," jawab Gallen dengan tegas.
Alvian menatap Gallen sebentar, dan dia teringat janjinya dengan Siyyara, jika dia tidak boleh memberitahu dimana tempat tinggal Siyyara.
"Aku tidak tahu Daddy membawa Siyyara ke mana."
"Aku tidak percaya. Pasti kau menyembunyikan keberadaan nya kan? KATAKAN PADAKU! DIMANA SIYYARA?"
Alvian terkekeh kecil. Dia memandang Gallen dengan tatapan remeh.
"Meski aku tahu, aku tidak akan memberitahu mu," tantang Alvian.
"BRENGSEK!" Umpat Gallen seraya menonjok Alvian.
Alvian mengusap ujung bibirnya yang berdarah, dia tersenyum sinis. Dan tanpa aba-aba, Alvian membalas pukulan Gallen dengan lebih keras.
"Aku tidak tahu apa masalah mu dengan Siyyara, tetapi melihatmu seperti ini. Aku yakin, kau pasti sudah menyakitinya, dan sampai kapanpun, aku tidak akan pernah memberi tahu keberadaan Siyyara kepadamu."
Amarah Gallen meluap sampai ubun-ubun nya. Tangannya terkepal erat, matanya memerah, dan giginya gemeletuk. Dia tidak peduli jika Alvian itu sahabatnya.
"ALVIANN!"
"KU TANYA SEKALI LAGI, DIAMANA DIA?" Teriak Gallen seperti orang kesetanan.
"Brengsek kau Alvian," ujar Gallen pelan.
"Hahahaha! Sudah menunjukkan sifat asli mu? Jadi seperti ini lah dirimu yang sebenarnya, Gallen Damestria?"
Gallen diam dengan tangan terkepal erat.
"Oh ya, sebaiknya aku memberitahu mu jika Siyyara tidak akan pernah kembali ke sini lagi. Dia sudah memutuskan jika dia akan menetap disana selamanya. Jadi. Jangan. Menunggunya. Ataupun. Mencarinya lagi," ujar Alvian dengan kalimat penuh penekanan.
"Hahahaha!" Tawa Gallen pecah. Dia tertawa seperti orang gila di rumah Alvian.
Bruk
Tanpa Alvian sangka, Gallen memukulnya dengan membabi buta. Karena Alvian tidak tahu apa kesalahannya, dia pun membalas pukulan Gallen.
Mereka saling pukul dan tendang, tidak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua. Wajah keduanya pun sudah babak belur, tetapi tetap tidak ada salah satu diantara mereka yang berkeinginan untuk menyudahi perkelahian nya.
"Agh," lirih Gallen saat perutnya di tinju oleh Alvian. Gallen tidak mau kalah, dia juga mengumpulkan semua kekuatannya dan menonjok perut Alvian, hingga Alvian limbung dan jatuh ke lantai. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Gallen menaiki tubuh Alvian dan memukuli wajah Alvian hingga penuh lebam.
"Dimana Siyyara?" Tanya Gallen dengan nada mengancam.
"Tidak-akan ku beri-tahu," jawab Alvian terbata.
"Alviannnn!" Geram Gallen.
Gallen berdiri dari tubuh Alvian, tanpa rasa kasihan sedikitpun pada Alvian, Gallen menginjak dada Alvian dengan sadis hingga membuat Alvian terbatuk dan sesak napas.
"Astaghfirullah, kak Gallen, hentikan!" teriak Tristan saat berada di depan pintu rumah Alvian, dia melihat kakaknya menginjak Alvian dengan bringas.
"Kak, lepaskan dia." Tristan berusaha menarik lengan Gallen, agar Gallen menyingkirkan kakinya dari dada Alvian.
"Kak, aku tidak pernah melihatmu seperti ini, kak. Hentikan!" Bentak Tristan.
"DIAM! JANGAN IKUT CAMPUR DENGAN URISANKU. INI MASALAHKU DENGAN SI BRENGSEK INI! LEBIH BAIK KAU PERGI SAJA DARI SINI!"
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan mu membunuh sahabat mu sendiri, kak. Lepaskan kak Alvian, dia bisa mati karena kehabisan napas," ujar Tristan penuh permohonan.
Gallen tidak menggubris perkataan Tristan, justru dia semakin menekankan kakinya hingga membuat Alvian megap-megap.
"Kak, ingat Siyyara! Jika Siyyara tahu kakak lah yang membunuh kak Alvian, Siyyara pasti tidak akan memaafkan kakak," pancing Tristan, dan itu berhasil.
Gallen segera menyingkirkan kakinya dari dada Alvian. Tristan pun menghela napas lega karena Gallen melepaskan Alvian.
Tristan pun segera menghampiri Alvian untuk membuatnya kembali tersadar.
"Kak, kakak tidak apa-apa?" Tanya Tristan dengan khawatir. Tristan menuntun Alvian untuk berbaring ke sofa.
"Agh," lirih Alvian.
"Sebentar, kak. Aku akan menelfon kak Alan. Kakak tahan sebentar."
"Untuk apa kau memanggil Alan ke sini?" Tanya Gallen tidak suka.
"Tentu saja untuk memeriksanya, kak. Dia terluka parah," jawab Tristan dengan nada jengkel.
"Biar aku yang memeriksanya, jangan panggil Alan ke sini," perintah Gallen dengan nada dingin.
"Aku akan memeriksanya, dan jika dia tidak mau menjawab pertanyaan ku juga, maka akan ku berikan dia racun mematikan saat ini juga," ancam Gallen. Dan ancaman itu terdengar jelas di telinga Alvian.
"KAK!" Bentak Tristan.
"Kau berani membentak ku?" Tanya Gallen dengan nada iblisnya.
Tristan menatap Gallen dengan tatapan sedih. Gallen sekarang bukankah Gallen yang dulu. Dia sekarang seperti iblis yang tidak memiliki hati sama sekali. Hanya karena cinta, kakaknya berubah seperti ini. Dia dulu juga mencintai Siyyara, bahkan sekarang pun perasaannya masih sama, tetapi dia tidak pernah menjadi gila seperti yang dilakukan kakaknya saat ini ketika tahu jika Siyyara lebih memilih kakaknya ketimbang dirinya.
Dia berusaha merelakan Siyyara bersama kakaknya. Tetapi sekarang Siyyara juga membuat kakak nya hancur dengan kepergian nya. Apakah gadis itu memang berencana menyakiti hati kakak-beradik ini?
"Ingat batasanmu, Tristan."
"Kau sekarang berubah kak. Kau bukanlah Gallen yang dulu. Apa yang membuatmu seperti ini? Apa kau tidak bisa merelakan Siyyara walau hanya sebentar saja?"
"Tahu apa kau tentang diriku?"
"Aku tahu segalanya tentang dirimu," jawab Tristan dengan berani.
"Iya, kau tahu segalanya tentang ku, tapi kau tidak tahu dengan perasaan ku. Kau tidak tahu apa yang kurasakan saat ini!" Gallen mulai menaikkan nada bicaranya.
"Aku tahu apa yang kau rasakan. Karena aku juga pernah ditinggalkan bahkan perasaan ku tidak terbalas sama sekali. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika dia lebih memilih saudaraku ketimbang diriku yang selalu ada untuknya."
Gallen diam, dia mencerna dengan baik setiap kata yang diucapkan oleh Tristan.
"Siapa yang kau maksud? Saudara siapa yang kau maksud?" Tanya Gallen dengan membentak.
"Orang itu adalah dirimu! KAU TIDAK TAHU BETAPA HANCURNYA HATIKU SAAT MELIHAT GADIS YANG KU CINTAI, YANG SELAMA INI INGIN KU RAIH HATINYA, DIA LEBIH MEMILIH KAKAKKU SENDIRI. APA KAU TAHU SEPERTI APA RASA SAKITNYA?"
Gallen dan Alvian membulatkan kedua matanya, mereka sangat terkejut dengan pengakuan Tristan. Apa Tristan berkata dengan jujur?
"K-kau?" Gallen tergagap.
"Bagaimana bisa? Bukankah waktu itu kau bilang tidak mengenal Siyyara?"
"Iya, aku memang mengatakan kalimat itu. Dan semua itu ku lakukan agar kau bisa hidup bahagia bersama Siyyara, aku tidak ingin perasaan ku membebani mu."
"Lalu kenapa sekarang kau mengatakan nya padaku?" Tanya Gallen sinis.
"Agar kau sadar, yang terluka tidak hanya dirimu. Tetapi aku juga merasakan nya."
"Cih! Omong kosong!"
"Dengar, kak. Aku lebih mengenal Siyyara ketimbang dirimu, karena kami sudah bersahabat sejak SMP. Jika dia sampai marah dan memutuskan pergi dari sini, berarti dia sangat terluka. Dan ku harap lukanya Siyyara bukan karena dirimu. Jika aku tahu bahwa Siyyara pergi meninggalkan Indonesia karena dirimu, dengan senang hati aku akan merebutnya darimu. INGAT ITU!"
"BRENGSEK KAU!" Teriak Gallen lagi.
Alvian tersenyum sinis saat melihat ketakutan Gallen. Ancaman Tristan memang ancaman yang paling bagus. Dia sekarang tahu bagaimana mengendalikan emosi Gallen.
"Kau sekarang mudah marah, kak." Trisya menggeleng tidak percaya.
"Jika aku bisa mengendalikan amarahku dengan baik, seharusnya kau juga bisa mengendalikan kemarahan mu itu, kak. Untuk apa kau memukuli kak Alvian?"
"Itu karena dia tidak mau memberitahu ku keberadaan Siyyara saat ini," jawab Gallen dengan lantang.
"Kau memiliki banyak anak buah kan? Kau memiliki akses yang luas. Lalu mengapa kau tidak mencoba mencari tahu sendiri keberadaan nya saat ini?"
"Sudah ku lakukan! Aku sudah mengerahkan semua anak buahku untuk mencari Siyyara di kota Berlin. Dan mereka memang menemukan mansion Damares, dan mereka menyamar menjadi bodyguard disana, mereka mencoba mencari keberadaan Siyyara, tetapi tidak ada dia disana! Siyyara tidak ada di mansion Damares. Dia seperti hilang ditelan bumi, bahkan para bodyguard ku tidak bisa mengorek informasi secuil pun disana."
Alvian terkejut saat tahu bahwa Siyyara tidak ada di mansion nya. Jika tidak ada di mansion, lalu dimana dia? Alvian cemas, dia takut terjadi sesuatu disana.
"Siyyara tidak ada di mansion Damares?" Tanya Alvian serius.