
"Permisi, tuan muda," ujar Mr. Nara kepada Gallen yang sedang di dalam ruang kerja yang ada di rumahnya.
"Iya? Ada apa?"
"Anda mendapatkan undangan pernikahan, tuan." Mr. Nara menyerahkan undangan itu kepada Gallen.
"Undangan pernikahan? Dari siapa?"
Mr. Nara diam.
Gallen pun membaca undangan itu dengan seksama. Dia membulatkan kedua matanya saat tahu siapa orang yang sebentar lagi akan menikah itu.
"A-apa?"
Gallen terkejut saat mengetahui jika orang yang dulu sempat menghilang selama 2 tahun, tiba-tiba datang membawa undangan pernikahan untuknya.
"Siapa yang datang?"
"Yang datang Alvian, tuan."
"Dengan siapa?" Tanya Gallen lagi dengan sedikit memaksa.
"Beliau sendiri, tuan muda."
"Ya sudah. Kau boleh pergi," ujar Gallen dengan nada sedikit kecewa.
"Baik, tuan." Mr. Nara berjalan mundur untuk meninggalkan ruangan itu.
Gallen mengerang frustasi, apakah dia harus datang setelah pertengkaran mereka sebelumnya? Gallen ingin datang, sangat ingin datang. Dia ingin melihat sosok cinta pertamanya yang dulu meninggalkan nya.
Rasa cintanya untuk gadis itu masih lah sama seperti dulu, tidak pernah berubah. Gallen selalu menantikan Siyyara kembali ke tanah kelahirannya. Dan sekarang, penantiannya berakhir. Orang yang ditunggunya sudah ada di Indonesia.
"Kali ini, aku tidak akan melepaskan mu lagi, Siyya. Jika kamu masih keras kepala seperti dulu, aku tetap akan memaksamu untuk tetap bersamaku." Gallen tersenyum senang, setelah bertahun-tahun akhirnya senyuman itu merekah juga di bibirnya.
"Tunggu aku, Siyya."
*******
"Gallen, kamu mau kemana?" Tanya Amanda penasaran saat melihat raut wajah Gallen yang terlihat begitu bahagia.
"Gallen akan hadir di acara pernikahan teman, Ma."
"Tumben kamu mau hadir? Biasanya kamu-"
"Ma, Gallen buru-buru. Nanti akan Gallen ceritakan semuanya, oke? Gallen harus pergi sekarang. Assalamualaikum," ujar Gallen dengan terburu-buru menuju ke mobilnya.
"Gallen!" Teriak kesal Amanda, saat Gallen pergi begitu saja.
"Wa'alaikumsalam," jawab Amanda setelah Gallen tidak terlihat lagi. Dia hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah aneh putranya sulungnya itu.
"Awas saja kalau dia pulang dalam keadaan mabuk seperti dulu lagi." Amanda menggeram kesal saat bayang-bayang Gallen yang pulang dalam keadaan berantakan dan juga mabuk karena kepergian Siyyara.
"Ma, Tristan ada acara di kampus, kemungkinan Tristan akan pulang sedikit malam. Mama jangan menunggu Tristan, ya." Suara Tristan menyadarkan lamunan Amanda.
"Eh, Tristan?" Amanda memandangi Tristan dari atas sampai bawah.
"Kamu juga akan pergi?" Menyerngitkan dahinya.
"Iya, Ma." Tristan sibuk membenahi kancing kemeja dan jasnya.
"Huft, ya sudah. Jaga diri kamu baik-baik."
"Iya, Ma. Tristan pergi dulu. Assalamualaikum." Tristan mencium tangan Amanda sebelum pergi.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan!" Teriak Amanda saat mobil Tristan sudah meninggalkan pekarangan rumah.
******
"Halo, Via. Aku jemput kamu, ya," ucap Tristan melalui ponselnya. Dia menghubungi Livia menggunakan Headset agar tidak menggangu nya saat menyetir.
"Untuk apa? Aku bisa berangkat sendiri. Kamu nggak usah jemput aku," ujar Livia takut.
"Tidak, Via. Kamu harus mau, sekitar 10 menit lagi aku akan sampai di rumahmu."
"What?"
Tut Tut Tut
*
"Hallo Tristan! Tristan!" Teriak Livia kesal saat Tristan memutus panggilan begitu saja.
"Ck. Apa sih maunya? Bisa gawat jika bibi sampai tahu." Livia merebahkan tubuhnya ke atas ranjangnya. Dia berusaha mengusir kegusarannya.
**
"Livia!" Panggil bibinya dengan keras.
"Iya, Bi. Sebentar." Livia segera bangun dari rebahan nya dan langsung menemui sang Bibi.
"Livia!"
"Iya, bi? Ada apa?" Tanya Livia ngos-ngosan karena dia berlari dari lantai 2.
Sarah memandang Livia dari atas hingga bawah, dia menyerngit tidak suka.
"Kau mau kemana?" Tanya Sarah dengan sinis.
"Maaf, Bi. Via harus pergi ke kampus, karena di kampus sedang-"
"Malam-malam begini? Kau fikir aku akan percaya, ha?" Sarah mulai menaikkan intonasi suaranya.
"Livia tidak berbohong, Bi." Livia hanya menundukkan kepalanya.
"Tidak usah pergi. Sebaiknya kamu bantu Bibi memasak. Hari ini akan ada tamu spesialnya Lily," ujar Sarah sombong.
"Ta-tapi, Bi-"
"Mau bantah? Sekarang sudah berani bantah?"
"Bu-bukan begitu, Bi."
"Jangan banyak alasan. Bilang saja kamu tidak suka jika Lily bahagia. Kamu iri kan dengan Lily, karena Lily sudah memiliki kekasih yang sebentar lagi akan memperistri nya?" Tuduh Sarah seenaknya.
"Ya Allah, Bi. Via tidak pernah berpikir seperti itu. Via sayang dengan Lily, Lily sudah Via anggap sebagai kakak Via sendiri."
"Bohong! Kau pasti-"
Tit Tit!
Kalimat Sarah terhenti saat mendengar bunyi klakson mobil yang nyaring dari halaman rumahnya.
"Siapa itu?" Tanya Sarah.
Meski Bibi Sarah sangat membencinya, tetapi dia selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan kepadanya. Bibi Sarah selalu menasihatinya agar menjaga kehormatannya sebagai seorang perempuan. Bibi Sarah mendidik Livia dan Lily dengan pendidikan yang sama, meski kepada Livia dia sangat kasar dan berlebihan dalam memperlakukan Livia.
"Bibi, biar aku saja yang membukanya," ujar Livia.
"Tidak. Aku ingin melihat, siapa orang yang telah membunyikan klaksonnya di depan rumahku." Livia meneguk ludahnya dengan kasar saat Sarah sudah sampai di pintu utama. Dia pun membuka pintu itu perlahan, hingga terlihatlah seseorang yang berjalan ke arahnya.
Sarah diam, dia ingin menunggu orang itu menjelaskan maksudnya datang ke rumahnya.
"Selamat malam, Bi. Livia nya ada?"
"Livia?" Sarah menyerngitkan dahinya.
"Iya, Bi. Apakah Livia ada?" Tanya Tristan lagi dengan lembut.
"Siapa kau? Untuk apa kau mencari Livia?"
"Saya temannya, Bi. Malam ini di kampus kami sedang mengadakan sebuah acara, dan saya ingin mengajak Livia berangkat bersama, Bi," jawab Tristan jujur.
"Livia!" Teriak Sarah.
"Livia, keluar kau!"
"I-iya, Bi," jawab Livia takut.
"Apa kau mengenal laki-laki ini?" Tanya Sarah dengan dingin.
"Iya, Bi. Livia kenal. Dia adalah sahabat Livia, namanya Tristan." Livia masih menunduk.
"Baiklah, jika kau ingin membawanya pergi. Bawa saja, tetapi jika sampai Livia kenapa-napa. Maka kau adalah orang pertama yang akan kami cari," ujar Sarah dengan pelan. Dia tidak ingin ribut dengan pemuda yang belum jelas asal-usulnya itu.
"Baik, Bi. Saya akan menjaga Livia dengan baik."
Livia tersenyum kikuk. Dia tahu jika bibinya saat ini sedang marah besar kepadanya.
"Ayo, Via," ajak Tristan.
"Bibi, kami pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucap Tristan sebelum membawa Livia.
"Hm, wa'alaikumsalam."
******
Gallen dengan ragu melangkahkan kakinya ke pesta pernikahan itu. Dapat dia lihat seseorang yang dulu pernah berdebat dengannya dan seseorang yang amat ia rindukan.
Gallen memantapkan hatinya dan dia mulai mendekati mempelai pengantin itu untuk diberi ucapan selamat.
"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian bahagia dan segera di beri momongan," ucap Gallen dengan ragu.
"Hahaha." Orang itu tertawa meledeknya.
"Tidak usah se-formal itu kalimatnya. Hahaha," tawanya yang membuat Gallen menjadi kesal.
"Terserah kau saja," sahut Gallen dengan malas.
"Hm. Bagaimana kabarmu? Maaf selama ini aku sibuk, jadi tidak ada waktu untuk berbincang dengan mu, lagi pula jika kau bertemu denganku, pasti pertanyaanmu itu tidak jauh-jauh dari Siyyara. Benarkan?" Tanya orang itu yang masih menyunggingkan senyumnya.
Gallen menghela napas saat Alvian masih mengingat kejadian dulu.
"Maaf, dulu aku pernah memukulmu," ucap Gallen penuh sesal.
"Tidak masalah. Aku senang karena kau mau datang ke acara pernikahan ku." Alvian tersenyum manis.
"Oh ya, aku lupa memperkenalkan mu dengan Istriku. Kenalkan, dia adalah Maira." Alvian memperkenalkan Istrinya kepada Gallen.
"Dan Maira, dia adalah Gallen sahabat ku," lanjut Alvian memperkenalkan Gallen kepada Maira.
"Salam kenal," ucap Maira dengan tersenyum ramah.
"Salam kenal juga," jawab Gallen seadanya.
Alvian melirik Gallen dengan senyuman misteriusnya, dan dia memberi kode kepada Maira agar ikut dalam rencana nya.
"Ah, Maira. Apa kamu melihat Siyyara?" Tanya Alvian kepada Maira.
Tubuh Gallen tersentak ketika mendengar nama keramat itu. Dia membatu di tempat, antara ingin bertemu dengannya dan belum siap bertemu dengannya.
"Em, aku tadi melihatnya sedang berbincang dengan Kevin. Entah kalau sekarang," jawab Maira, dia mengerti arah pembicaraan Alvian, karena Alvian lah yang sebelumnya memberitahu nya.
"Ada apa kamu mencarinya?" Tanya Maira kepada Alvian.
"Tentu saja aku merindukan ocehannya itu. Tidak ada dia 1 jam membuat telingaku ini menganggur," jawab Alvian dengan terkekeh.
Gallen berdecak kesal mendengar tawa Alvian. Dia tahu jika Alvian ingin mempertemukannya dengan Siyyara, tetapi apakah gadis itu masih mau bertemu dengannya?
Gallen down lagi mengingat betapa bencinya Siyyara kepadanya.
"Aku akan mencarinya sebentar, dia pasti ada di sekitar sini." Maira segera beranjak untuk mencari adik iparnya.
"Hm," gumam Alvian.
Alvian melirik Gallen yang mengeluarkan keringat dingin, dia hampir saja menyemburkan tawanya jika dia tidak ingat akan rencananya.
"KAK ALVIAN!" Teriak gadis itu membahana karena kesal dengan Alvian.
Alvian pun menutup kedua telinganya.
"Tidak usah teriak-teriak bisa?" Sindir Alvian.
"Habisnya kakak menyebalkan. Ada apa mengganggu ku?" Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Siapa juga yang mengganggu mu. Memangnya apa yang kau lakukan sehingga kau merasa terganggu," tanya Alvian.
"Tentu saja aku sedang merayu teman kakak yang sangat tampan itu," tunjuk Siyyara kepada salah satu teman bisnis Alvian.
"Dasar kau ini." Alvian terkikik geli melihat tingkah Siyyara yang usil seperti dulu lagi.
"Ada apa kakak memanggil ku?" Tanyanya judes.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu, seseorang itu jauh lebih tampan dibandingkan pria yang tadi kau rayu itu," jawab Alvian santai. Dia melipat kedua tangannya di depan dada seraya pandangannya mengarah ke belakang Siyyara.
Melihat arah pandang Alvian, Siyyara langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang yang dimaksud oleh kakaknya, dan seketika Siyyara dan Gallen bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Gallen yang sebelumnya terus maju mendekati Siyyara di belakangnya, dia tidak tahu jika Siyyara akan berbalik badan. Begitu pula dengan Siyyara, dia tidak tahu jika ada orang yang tengah berdiri tepat di belakangnya.
Air mata Gallen mengalir deras di pipinya, dia begitu merindukan sosok yang ada di hadapannya ini. Dia berharap jika ini bukanlah mimpi. Jika benar hanya mimpi, sungguh dia tidak ingin terbangun dari tidur indahnya ini.
"Ka-kamu apa kabar?" Tanya Gallen dengan nada bergetar.
Siyyara diam, dia masih sibuk menatap Gallen dengan tatapan penuh kekaguman, dia bahkan tidak berkedip sama sekali. Dia begitu mengagumi paras pria yang berdiri tepat di hadapannya saat ini.
"Kamu siapa?"