The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
6. Kekasih bohongan



Dengan wajah dan pakaian yang kusut, Gallen duduk di luar salon untuk menunggu Siyyara yang sedang di dandani oleh petugas salon sesuai permintaannya.


Gallen tersenyum kecil saat mengingat betapa gadis itu sangat membenci dirinya, bahkan saat dia masuk kerumahnya, gadis itu meneriaki dirinya. Tetapi sekarang? Gadis menjadi penurut hanya karena gertakannya.


"Senyum-senyum sendiri seperti orang gila," ujar Siyyara dengan nada pelan, tetapi karena jaraknya dengan Gallen hanya beberapa meter, Gallen mendengar gumaman Siyyara.


"Aku dengar," sahut Gallen dengan khas wajah datarnya.


Gallen memperhatikan penampilan Siyyara dengan baik, Gallen sangat tidak percaya jika gadis kecil yang bersifat brutal bisa menjadi gadis anggun seperti ini.


"Jangan lihat-lihat!" Celetuk Siyyara.


"Hm," gumam Gallen tak jelas.


"Ayo!" Seru Gallen meninggalkan Siyyara yang masih belum beranjak dari tempat berdirinya.


"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?"


"Ke pesta," jawab singkat Gallen.


"Aku harus pulang dulu, karena aku harus berganti pakaian. Ayo cepat!"


"Ck," decak Siyyara yang terdengar di telinga Gallen.


"Cepat! Mau ku gendong?" Ancam Gallen.


"Iya-iya!" Jawab Siyyara setengah teriak.


*****


2 Jam Kemudian.


Gallen membawa mobilnya dengan kecepatan full, karena waktu sudah menunjukkan pukul 19.50 WIB. Dimana acara Dies Natalis MIH (Medical International Hospital) akan dibuka pada pukul 20.00 WIB, dan yang membuka acara tersebut haruslah dirinya.


Tetapi karena gadis yang disebelahnya ini selalu protes dan banyak bertanya, dia hampir saja telat menuju acaranya tersebut.


"Pelan-pelan, aku tidak mau mati muda!" Siyyara setengah berteriak.


"Lagipula kenapa kau takut telat? Kau kan pemilik acara itu, kau bisa melakukan apapun kan? Bahkan jika kau tidak menghadiri acara itu pun pasti tidak akan ada masalah," ujar Siyyara.


Gallen diam tak menggubris ucapan Siyyara.


"Oh ya, terus kenapa kamu mengajak ku ke acara itu? Aku sangat curiga."


"Hm, aku belum menjelaskan padamu tentang tugasmu. Baiklah, sekarang akan ku beritahukan pada dirimu apa tugasmu," sahut Gallen cepat.


Siyyara menyerngitkan dahinya, menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh Gallen selanjutnya.


"Tugasmu yaitu, menjadi tunangan bohongan ku. Mau tidak mau, kau harus mau."


"TIDAK!" Teriak Siyyara kencang.


"Terserah. Aku tidak peduli," jawab Gallen.


"Mengapa harus aku? Kenapa tidak wanita lainnya saja? Aku tidak mau!"


Gallen diam dan terus fokus menatap ke arah jalan.


"Bukankah sudah kubilang jika aku meminta Imbalan? Dan ini adalah imbalannya."


"Di acara itu pasti banyak para wanita, dan aku tidak ingin di ganggu para wanita yang hadir dalam acara itu. Jika mereka tahu aku memiliki tunangan, mereka akan berhenti mendekati ku," jelas Gallen dengan nada datarnya.


"Aku juga seorang perempuan, tetapi aku tidak tertarik sama sekali denganmu." Siyyara melipat tangannya di depan dada.


"Dan aku ......"


Siyyara ingin protes, tapi belum sempat mengucapkan kalimat protes nya, Gallen segera memotong.


"Diam! Dan duduk dengan manis. Mau kau protes atau tidak, kau tetap menjadi tunangan bohonganku. Mengerti?"


Siyyara bersungut-sungut, ingin sekali dia mencakar wajah sok tampan milik Gallen. Dan apa katanya tadi? Menghindari para wanita yang berusaha mendekati nya? Hello, ku rasa Gallen benar-benar terlalu percaya diri. Tidak semua perempuan tergila-gila padanya, nyatanya Siyyara tidak tertarik padanya, bukan begitu?


Siyyara menyadari jika kecepatan mobil Gallen tidak berkurang sama sekali. Dan Siyyara sangat khawatir dan takut saat seseorang mengendarai kendaraan nya dengan cepat.


"Kurangi kecepatan nya, ini terlalu berbahaya, kau tahu?"


"Kita sudah telat. Dan aku tidak mau menjadi semakin telat."


"Cepat pelankan mobilnya!"


Gallen menoleh sebentar ke arah Siyyara dengan wajah datar. Tanpa memberi respon pada ucapan Siyyara, Gallen kembali menatap ke depan dan semakin menginjak pedal gas, yang membuat mobil melaju semakin kencang.


"Aaaaaa! Hentikan!"


"KU MOHON HENTIKAN!"


Dengan sigap, Siyyara mencengkram seat belt dan menahan napasnya. Siyyara memejamkan kedua matanya dan tangannya gemetar, suara isakan pun terdengar di telinga Gallen.


"Hentikan!" Suara Siyyara semakin melemah.


Gallen menoleh kembali ke arah Siyyara, dan Gallen dapat melihat dengan jelas ketakutan di wajah Siyyara, butir-butir keringat dingin menetes dari kening Siyyara.


Gallen segera menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Apa yang terjadi? Apa kau sakit?" Tanya Gallen sedikit khawatir.


Siyyara menggeleng lemas.


"Siyya, katakan padaku, apa yang kau rasakan?"


"Takut," jawab Siyyara lemas. Dan isakan Siyyara kembali terdengar.


Gallen segera membawa Siyyara ke dalam pelukannya, Gallen mengelus kepala Siyyara dengan pelan.


"Sttt, maafkan aku karena membuatmu takut."


Ucapan maaf untuk pertama kalinya Gallen keluarkan. Sebelumnya dia tidak pernah meminta maaf kepada siapapun juga, kecuali Mama nya. Dan sekarang Gallen mengucapkan kata maaf kepada Siyyara.


Gallen sempat terkejut dengan ucapannya sendiri, karena sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan wanita asing manapun juga.


Di sisi lain, Siyyara sempat terkejut dengan kalimat lembut yang di ucapkan oleh Gallen. Meski dirinya dalam kondisi setengah sadar, tetapi Siyyara merasakan ketulusan dalam ucapan serta pelukan Gallen.


Tanpa sadar, Siyyara semakin mengencangkan pelukannya dengan Gallen. Siyyara ingin mencari kenyamanan lebih dari pelukan Gallen.


*****


"Kak Gallen kemana ya? Mengapa dia belum sampai?" Gumam Tristan pelan.


"Tuan muda, waktu telah menunjukkan pukul 20.09. Apakah tuan muda tidak ingin menggantikan Tuan Muda Gallen untuk membuka acara ini?" Tanya Mr. Nara, orang kepercayaan alrmahum ayahnya.


"Baik, tuan muda." Mr Nara membungkukkan badannya.


Mr. Nara adalah orang kepercayaan Mr. Daniar Damestria. Mr. Nara ingin mengabdikan hidupnya kepada keluarga Damestria karena Mr. Daniar dahulu membantunya saat dirinya dalam kesusahan, disaat keluarga nya sendiri tidak menghiraukannya.


Mr. Nara diangkat sebagai pengawal pribadi dan orang kepercayaan Mr Daniar, sekaligus salah satu orang yang mengetahui setiap masalah keluarga Dametria, karena Mr. Daniar selalu menganggap jika Mr. Nara adalah bagian dari keluarganya.


Mulai saat itu, Mr. Nara begitu menyayangi semua keluarga Damestria, bahkan jika diperlukan dia akan menyerahkan nyawanya untuk keluarga Damestria saat itu juga.


"Mr. Nara, saat ini semua para tamu sedang menanti kedatangan kakak Gallen. Aku tidak akan mengambil alih tugas kak Gallen. Maka dari itu, buatlah para tamu merasa nyaman sambil menunggu kedatangan Kak Gallen."


"Baik tuan muda."


*****


Mereka berdua sama-sama terdiam di dalam mobil dengan posisi masih berpelukan. Hingga akhirnya Siyyara tersadar.


Siyyara melepaskan pelukannya dari Gallen dengan kasar.


"APA YANG KAU LAKUKAN?"


Gallen mengedipkan kedua matanya dengan polos.


Siyyara mendelik, dan menatap Gallen seperti ingin menghabisi Gallen.


"Apa yang kau lakukan, ha? Berani sekali kau memelukku!" Tukas Siyyara setengah berteriak.


"A-apa? Memangnya apa yang ku lakukan?"


"Kau memelukku! Pasti kau mengambil kesempatan dalam kesempitan, bukan? Dasar mesum," ujar Siyyara marah.


Gallen terpojok, seolah dia adalah tersangka yang patut untuk dihukum. Karena Gallen merasa tidak melakukan kesalahan, Gallen tidak terima dengan tuduhan Siyyara.


"Hei setan kecil. Kau tadi terlihat ketakutan seperti sedang trauma, dan aku ingin menenangkan dirimu, karena aku tidak ingin kau mati terbujur kaku karena ketakutan. Lagipula jika sampai terjadi sesuatu padamu, Alvian akan bertanya padaku karena sebelumnya dia telah menitipkan dirimu padaku," jelas Gallen panjang lebar dengan suara menahan amarah.


"Alasan! Akan aku katakan kepada kak Alvian jika kau berbuat tidak sopan padaku!"


"Bagian mana yang tidak sopan?" Tanya Gallen setengah emosi.


Siyyara terdiam membisu, kali ini Siyyara merasa tidak memiliki simpanan kosa kata untuk membantah kalimat Gallen. Seperti seolah kecerdasannya terkunci di dalam sebuah dimensi.


"Ak-aku, aku. Aku...."


"Jika tidak ada yang ingin kau debat kan lagi, bisakah kita melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda?"


Siyyara menunduk takut, suara Gallen terdengar dingin dan datar dari sebelum-sebelumnya.


Siyyara memang tipikal gadis yang suka membantah, maka dari itu Mr. Dave Damares selaku ayah dari Siyyara dan Alvian selalu mengawasi putrinya.


Ketika melihat kenakalan putrinya semakin menjadi, Mr. Dave meminta agar Alvian segera pulang ke tanah kelahirannya untuk memantau kondisi Siyyara secara langsung.


*


Setelah terjadi keheningan di dalam mobil, Gallen dan Siyyara akhirnya sampai di sebuah hotel ternama yang terkenal dengan kemewahannya dan hotel itu tersedia hanya untuk orang-orang yang ada di kelas atas. Hotel itu yang digunakan oleh Gallen untuk menggelar acara Dies Natalis MIH.


Saat Siyyara turun dari mobil, Siyyara terpukau karena untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki di tempat mewah itu. Meski dirinya seorang anak Milyarder, tetapi hidup Siyyara seperti anak-anak biasa lainnya.


Siyyara tidak pernah menginjakkan kaki di tempat mewah ataupun tempat mahal. Karena Siyyara tidak suka menghambur-hamburkan uang.


"Mau sampai kapan kau akan terbengong di situ?"


Siyyara segera menutup mulutnya yang terbuka karena sempat terpukau dengan tempat pilihan Gallen untuk menggelar sebuah pesta yang mewah, yaitu Hotel Golden Globes.


"Ini adalah salah satu hotel milik dari Damestria Corp. Ayo kita masuk, pasti semua orang sedang menunggu diriku." Gallen kembali menggandeng tangan Siyyara.


Siyyara membuka mulutnya lebar saat mengetahui jika Hotel itu ternyata adalah milik Gallen. Siyyara tidak menyangka jika pria yang menggandengnya adalah pria yang sangat kaya raya.


"Ayo jalan dan cepat tutup mulutmu. Aku tidak ingin ada lalat yang memasuki mulutmu," ujar Gallen dengan nada santai.


Siyyara kembali membungkam mulutnya rapat. Dia sangat malu karena bertingkah seperti orang bodoh di hadapan Pria sombong yang bernama Gallen Altara Damestria.


"Tu-tunggu, apa kau benar-benar mengajakku ke sana? Ba-bagaimana jika ada orang yang mengenaliku?" Tanya Siyyara khawatir.


"Tidak akan. Semua tamu undangan ku adalah seorang pebisnis semua, dan kebanyakan adalah karyawan di Damestria. Mereka semua tidak akan mengenalimu."


Siyyara mengangguk pelan.


Gallen dan Siyyara memasuki aula hotel Golden Globes dengan bergandengan tangan. Dan semua orang yang hadir di dalam aula tersebut terkesima dengan kecantikan Siyyara dan ketampanan Gallen.


Semua wanita yang ada disana menggigit jarinya, rasa marah muncul di dalam hatinya saat idola mereka menggandeng seorang gadis yang sangat cantik. Mereka semua merasa iri dan cemburu.


Sedangkan semua pria yang ada di tempat itu menatap Siyyara dengan tatapan tidak berkedip, mereka semua bertanya-tanya, siapa sebenarnya gadis yang di gandeng mesra oleh Gallen Damestria?


Detik itu juga, Gallen dan Siyyara merasa suasana di dalam aula sangat sunyi, mereka juga merasa menjadi pusat perhatian. Tangan Siyyara gemetar saat mendapatkan tatapan yang berbeda-beda dari semua orang.


"Jangan takut, aku ada disini," bisik Gallen tepat di telinga Siyyara.


Semua orang menyaksikan adegan tersebut, ada yang terang-terangan mengabadikan momen itu menjadi sebuah foto. Dan ada yang berprasangka jika Gallen sedang mencium Siyyara karena posisi Siyyara dan Gallen yang sangat dekat.


"Siapa gadis itu?" Bisik salah satu karyawan Damestria.


"Aku juga tidak tahu," jawab yang lainnya.


Sekretaris Gallen yang bernama Agni pun cemburu dengan gadis yang di bawa Gallen. Agni tidak percaya jika Gallen tiba-tiba menggandeng seorang gadis yang sepertinya masih belia itu. Agni menunduk lesu saat melihat keromantisan Gallen dan Siyyara.


*


"Kak Gallen!" Panggil Tristan.


Mengetahui jika sang adik berjalan mendekatinya, Gallen tersenyum lembut.


"Maaf sudah membuat semuanya menunggu lama, mengapa kau tidak membuka acara ini, Tristan?" Tanya Gallen.


"Tidak, kak. Kakak yang berhak atas acara ini, karena acara ini adalah milik kakak. Acara ini adalah melambangkan kesuksesan dan keberhasilan kakak. Dan kakak sendiri yang harus membuka acara ini," ujar Tristan dengan lembut.


Meski Tristan berbincang dengan Gallen, tetapi Tristan mencuri pandang ke arah Siyyara, karena Siyyara di gandeng sendiri oleh kakak nya ke pesta ini.


"Bagaimana kak Gallen bisa mengenal Siyyara? Dan sepertinya mereka sangat akrab sekali," batin Tristan gundah.


"Siapa dia kak?" Tanya Tristan pura-pura tidak tahu.


"Ah ya, perkenalkan. Dia adalah kekasih ku, namanya Siyyara."


Ucapan Gallen tidak hanya terdengar di telinga Tristan tapi juga terdengar oleh telinga semua para tamu undangan.


"Kekasih?" Tanya Tristan lagi dengan tatapan tidak percaya.


Mengapa takdir begitu kejam? Apakah dirinya harus bersaing dengan kakak kandungnya sendiri hanya demi CINTA?