
Setelah rapat selesai, Gallen menuju ke arah ruang kerjanya dengan mengusap wajahnya yang lelah. Gallen berjalan cepat agar segera sampai di ruang kerjanya, karena dia sudah berjanji kepada Siyyara jika ia akan mengajak Siyyara jalan-jalan setelah rapat selesai.
Saat ia telah membuka pintu ruangannya, ia dikejutkan dengan keadaan kekasih dan ruangannya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Dimana Siyyara dengan santainya tidur di atas meja kerja Gallen, dan semua file beserta kertas-kertas lainnya berserakan di lantai.
Gallen pun menghampiri Siyyara dengan langkah pelan agar tidak mengusik tidur kekasihnya, Gallen mengulum senyum karena melihat tingkah Siyyara yang sangat menyebalkan sekaligus menggemaskan.
"Kau benar-benar seperti iblis," gumam Gallen pelan.
GallenĀ mengangkat tubuh kecil Siyyara untuk di bawa ke dalam ruangan rahasia yang ada di dalam ruang kerjanya, ruangan rahasia itu selalu digunakan Gallen untuk beristirahat saat dia sedang lembur di kantor, ataupun saat dia malas untuk pulang.
Gallen menaruh Siyyara di ranjangnya dengan penuh hati-hati, karena dia tidak ingin membuat gadis yang disayanginya terbangun karenanya.
Gallen memang menyayangi Siyyara, dan dia sangat mencintai gadis kecilnya itu. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh, dia pun tak tahu. Tetapi yang dirasakan Gallen adalah kenyamanan saat bersama Siyyara.
Meski mereka telah resmi berpacaran, tetapi Gallen belum berani mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Siyyara, karena takut ditolak. Gallen pun sadar jika mereka berpacaran karena paksaan darinya, bahkan usianya dan Siyyara pun berbeda jauh.
"Engh." Siyyara menggeliat di atas ranjang.
Gallen menahan napas saat melihat Siyyara akan terbangun dari tidurnya. Gallen segera menyingkir dari samping Siyyara, dan dia segera duduk di sofa yang ada di pojok ruangan.
"Enghh, aku dimana?" Tanyanya pada diri sendiri, karena belum menyadari keberadaan Gallen di ruangan itu.
"Kau sudah bangun?" Tanya Gallen yang tengah duduk manis di sofa.
"Kau?" Siyyara terjengkit saat menyadari dirinya tidak berada di rumahnya ataupun di apartemen Gallen.
"Kau membawaku kemana?"
"Menurutmu?"
"Jangan menjawabku dengan pertanyaan," ujar Siyyara kesal.
Gallen masih menyibukkan diri dengan ponsel yang ada di tangannya, tanpa mempedulikan ocehan Siyyara.
"Gallen! Kau tidak membawaku ke kamar hotel kan?" Tanya Siyyara penuh curiga.
Gallen menaikkan sebelah alisnya saat mendengar kalimat Siyyara, dia ingin tertawa tetapi dia berusaha menahan tawanya dengan menggigit bibir bawahnya.
"Cepat jawab aku! Ini tidak di kamar hotel, kan?"
"Apa kau mau ku bawa ke hotel?" Tanya Gallen dengan menatap Siyyara penuh arti.
"Tentu saja tidak. Aku bukan gadis bodoh yang mau dibawa ke hotel oleh seorang pria seperti mu."
"Lalu mengapa kau langsung berfikir jika aku membawamu ke hotel?"
Siyyara diam, dia pun tak mengerti mengapa mulutnya mengeluarkan kata-kata seperti itu.
"Apa itu sebuah kode?" Tanya Gallen lagi dengan senyum misterius nya.
"Ko-kode apa?" Gagap Siyyara.
"Siapa tahu kau sedang memberi kode padaku," jawab Gallen santai.
"Untuk membawa mu bersamaku ke dalam hotel," lanjut Gallen.
"Dasar gila! Mana ada seperti itu!" Teriak Siyyara tidak terima.
"Tentu saja ada. Biasanya ucapan perempuan itu adalah sebuah kode untuk laki-laki."
"Kata siapa?"
"Aku barusan," jawab Gallen sambil menunjuk hidungnya sendiri.
"Kau benar-benar gila, Gallen. Aku ingin pulang."
"Ya sudah, pulang sana."
"Kau tidak ingin mengantarku?"
"Aku sibuk," jawab Gallen singkat.
"Kau harus mengantar ku pulang, jika tidak..."
"Jika tidak apa? Putus?" Tantang Gallen.
"Iya, kita putus!" Jawab Siyyara.
"Baiklah, setelah putus aku akan menemui Orangtuamu."
"Untuk?" Siyyara benar-benar tidak mengerti dengan pemikiran pria itu, apakah karena dirinya masih remaja? Entahlah.
"Untuk meminangmu," jawab Gallen dengan suara pelan, karena dia sedang menahan tawanya.
"What? Aku tidak mau. Dasar pedofil."
Gallen tersentak saat mendengar kata 'Pedofil' dari mulut Siyyara. Ucapan Siyyara menyadarkan Gallen jika mereka tidak akan bisa bersama.
Wajah Gallen berubah murung, perubahan itu disaksikan oleh Siyyara sendiri. Siyyara pun bingung saat Gallen tidak menanggapi omongannya tadi. Dan Siyyara baru menyadari jika kalimatnya menang terlalu pedas. Apakah Gallen benar-benar tersinggung?
"Maaf," ucap Siyyara pelan.
"Untuk?"
"Emm, aku tidak bermaksud untuk...."
"Lupakan saja," sahut Gallen dengan nada datarnya.
Siyyara bingung ingin memulai pembicaraan yang seperti apa lagi, karena Gallen kembali bersikap dingin dan datar padanya.
"Aku ingin jalan-jalan," cicit Siyyara.
Gallen menoleh ke arah Siyyara, setelah melihat Siyyara yang sudah ada di sampingnya, Gallen pun merogoh dompet dan mengeluarkan kartu.
"Ini." Gallen menyodorkan kartunya kepada Siyyara.
"Apa ini?"
"Bukankah kau ingin jalan-jalan? Pakai kartu ini dan pergilah sesukamu."
Siyyara menganga mendengar penjelasan Gallen. Apa-apaan Gallen ini, yang dibutuhkan Siyyara adalah Gallen, bukan uangnya.
Dengan jengkel, Siyyara mengambil kartu dari tangan Gallen dan mematahkan kartu itu menjadi dua bagian. Siyyara tidak peduli jika Gallen akan murka dan mengamuk. Setelah kartu itu sudah hancur, Siyyara melempar potongan kartu itu ke wajah Gallen.
"Aku tidak butuh uangmu." Siyyara berusaha menahan emosinya.
Gallen naik pitam saat melihat kelancangan Siyyara, bukan karena Siyyara mematahkan kartunya, tetapi karena Siyyara memperlakukannya dengan tidak sopan.
"SIYYA!"
"Apa? Mau marah? Marah saja, aku tidak takut."
"Kau!" Gallen berusaha mendinginkan kepalanya yang tiba-tiba berasap karena kelakuan Siyyara.
"Apa maumu?" Tanya Gallen berusaha menahan amarahnya.
"Tentu saja aku ingin jalan-jalan, apalagi? Kau saja yang selalu dingin padaku."
"Aku sibuk, Liebe."
Pipi Siyyara merona saat mendengar panggilan baru dari Gallen untuknya. Entah kemana perginya amarah dalam hatinya, karena saat Gallen bersikap manis, emosi yang ada di hatinya padam. Seperti kobaran api yang akan padam jika disiram air.
"Ta-tapi tadi kau bilang sendiri, jika kau ingin menemani ku jalan-jalan." Siyyara menunduk kan kepalanya, karena ia ingin menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Kau sakit?" Gallen menempelkan punggung tangannya ke kening Siyyara.
"Tidak." Siyyara memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Tetapi wajahmu memerah. Jika kau tidak sakit berarti kau-"
Siyyara menahan napasnya, ia tidak ingin Gallen mengetahui jika dirinya saat ini tengah malu karena panggilan Gallen tadi.
"Kau pasti marah padaku," lanjut Gallen dengan wajah polosnya.
Siyyara terhenyak saat mendengar ucapan Gallen.
Gallen mengusap tengkuknya sambil meringis, karena Gallen merasa posisinya saat ini serba salah. Benar kata temannya saat di bangku kuliah dulu, jika wanita memang selalu ingin menang sendiri. Apapun itu selalu saja yang disalahkan adalah pria.
"Gallen! Aku ingin putus!" Siyyara berusaha menahan teriakannya, tetapi suaranya tidak bisa diajak kompromi saat melihat wajah menyebalkan Gallen yang saat ini menjelma menjadi pria polos.
"Jangan berkata seperti itu, Liebe."
"Jika kau ingin ku maafkan, maka kau harus membelikan ku mobil yang mahal dan mewah. Jika tidak, lebih baik kita putus."
"Kau memalakku?"
"Terserah apa katamu, pokoknya aku ingin mobil. Kau masih ingat kata-kata ku dulu bukan? Dan kau juga telah menyetujui jika apapun keinginanku, kau harus menurutinya, jika kau menolak, maka kita resmi putus."
"Kau ini belajar malak pacar dari siapa sih, Liebe?"
"Jangan panggil aku Liebe lagi!" Seru Siyyara.
"Kenapa? Bukannya kamu sendiri yang bilang jika kau ingin aku bersikap yang lebih manis."
"Kapan aku mengatakannya?"
"Tadi, kau bilang jika aku ini terlalu dingin padamu. Makanya aku ingin berubah untukmu."
Keraguan Siyyara kembali muncul saat mendengar ucapan Gallen. Apakah Gallen ingin membuat hubungan ini menjadi serius? Tetapi Siyyara bingung dengan perasaannya sendiri, karena niat awal Siyyara yaitu ingin sekali membuat Gallen jengah dengannya agar Gallen meninggalkannya, tetapi melihat raut wajah Gallen yang terlihat serius membuat Siyyara bimbang.
Tetapi Siyyara sangat yakin dengan perasaannya sendiri, jika dia masih belum menerima Gallen seutuhnya, dia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada Gallen.
"Kau melamun?" Gallen menggoyangkan ke-lima jarinya di depan wajah Siyyara.
"Ada apa?" Tanya Gallen. Siyyara masih diam, mendengar perhatian Gallen, entah mengapa tiba-tiba perutnya terasa geli seperti ada ribuan kupu-kupu terbang di atas perutnya.
"Bersiaplah, kita pergi sekarang." Gallen segera memakai jas hitamnya lagi dan membenarkan posisi dasinya.
"Kemana?" Siyyara mengerutkan dahinya.
"Ke Dealer mobil."
"What?"
"Kenapa? Kamu sendiri tadi kan yang minta?"
"Mati aku, jika sampai kak Alvian tahu, bisa benar-benar mati aku. Pria ini memang benar-benar gila. Nyesel aku karena telah mempermainkan nya," batin Siyyara miris.
"Aku ralat, aku ingin Ice Cream."
Gallen menoleh untuk melihat ekspresi Siyyara.
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kau sudah tidak ingin mobil?"
Siyyara menggigit bibir bawahnya.
"Tidak," jawab Siyyara dengan menggeleng kan kepalanya.
"Baguslah, aku tidak perlu mengeluarkan banyak uang jika begitu," ujar Gallen dengan nada dingin.
"Cih, dasar pelit."
Siyyara menghela napas lega ketika Gallen telah kembali pada sifat aslinya yaitu datar dan dingin, Siyyara memang senang di perhatikan, tetapi jika terlalu berlebihan, Siyyara juga risih dan malu.
"Tapi kau akan mengantarku, bukan?" Selidik Siyyara.
"Iya, Siyyara. Aku akan mengantarmu."
"Bagus. Ayo."
*******
"Gallen, aku ingin ke toilet bentar," ujar Siyyara setelah memakan Ice Cream di sebuah restoran.
"Baiklah, ku tunggu di dalam mobil ya."
"Oke."
Siyyara cepat berlari ke toilet, karena dia tidak ingin membuat Gallen menunggu lama.
Saat tiba di toilet, Siyyara merasa ada seseorang yang sengaja mengikutinya, dia berpura-pura tidak tahu dan segera masuk ke toilet. Sebenarnya Siyyara sangat takut, ingin menelfon Gallen dia takut merepotkan pria itu. Siyyara terus berfikir positif, setelah keluar dari toilet, Siyyara segera berlari, tetapi gerakannya berhenti ketika sebuah pisau di hadangankan tepat di depan wajahnya.
Siyyara pucat pasi, dia sangat ketakutan saat ini.
"Hallo, cantik."
"Si-siapa kau? Cepat menyingkir dari hadapan ku."
"Ow, jangan galak-galak. Nanti cantiknya hilang bagaimana?" Tanya orang itu sambil tersenyum iblis.
Dan Siyyara saat ini menyesal karena tidak meminta bantuan Gallen, seharusnya tadi dia cepat menghubungi Gallen saja agar kejadian ini tidak terjadi.
"Tolong, biarkan aku pergi."
"Tidak, cantik. Aku telah menunggu saat-saat seperti ini dengan sangat lama. Kau tahu? Hahaha."
"Apa maumu?" Siyyara memberanikan dirinya untuk bertanya kepada orang itu.
"Aku hanya ingin membuat Gallen menderita. Dan aku sangat yakin, kebahagiaan Gallen hanya bersamamu, jadi intinya aku ingin menghabisi mu agar Gallen hidup menderita." Suara orang itu terdengar bengis, penuh kebencian juga dendam.
"Kau tidak akan melakukan itu," ujar Siyyara dengan suara bergetar.
"Mengapa tidak? Aku telah merencanakan hal ini sejak lama. Dan ketika aku mendengar Gallen telah memiliki hubungan dengan seorang gadis, sejak saat itu aku selalu memantau dirimu. Tetapi aku sedikit kecewa ketika kau tinggal bersama Gallen, karena aku tidak akan bisa menghabisi mu. Tetapi aku sangat senang ketika Gallen membawamu ke apartemen nya saat di rumahmu tidak ada orang sama sekali, dengan begitu Gallen telah membuktikan jika dia sangat mencintaimu. Kau tahu? Kau adalah gadis pertama yang di bawa Gallen ke apartemen nya."
Siyyara meneguk ludahnya dengan kasar, dia tidak peduli dengan ocehan pria yang ada di depannya ini, karena dia tahu jika Gallen membawanya ke apartemen karena desakan dari kakaknya. Jika Gallen ingin melindungi nya tentu saja karena amanah dari kakaknya sebelum pergi ke Tokyo.
"Eits, mau kemana cantik?" Pria itu segera mencekal tangan Siyyara saat Siyyara ingin kabur dari tempat itu.
"Lepas! Tolong! Gallen! Tolong!"
Saat Siyyara berteriak, pria itu kalang kabut. Karena tidak bisa menghentikan teriakan Siyyara, akhirnya pria itu menusukkan pisau itu ke perut Siyyara.
"Agghhhhttt!"
Pria itu segera kabur dari tempat itu dengan menyembunyikan pisaunya yang telah penuh dengan darah segar milik Siyyara.
******
"Mengapa Siyyara belum juga keluar? Dia sangat lama sekali," gerutu Gallen di dalam mobil.
"Ck, awas saja kalau ketemu." Gallen segera keluar dari dalam mobilnya dan menuju ke toilet umum.
Rasa marahnya kembali bangkit saat Siyyara seenaknya sendiri, bahkan Gallen sedari tadi menunggunya, tetapi dia tidak juga datang. Apalagi Gallen saat ini ada jadwal untuk operasi. Tetapi sepertinya gadis itu tidak pernah mengerti dengan kesibukannya.
Gallen heran ketika melihat beberapa orang berkumpul di dekat toilet umum wanita.
"Apa yang terjadi?" Gallen terus menghampiri kerumunan itu. Karena penasaran, dia membelah beberapa orang yang masih berdiri disana, hingga akhirnya dia melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Siyyara?"
"Siyyara kau kenapa? Siyyara bangun!" Gallen segera menghampiri Siyyara memangku kepalanya.
"Siyyara!" Gallen berusaha menahan tangis, otak nya buntu tidak tahu harus berbuat apa.
Dada Gallen terasa sesak saat melihat pemandangan itu, dia tidak tahu caranya bernapas lagi. Dia sangat ketakutan saat melihat kondisi gadis yang dicintainya dalam keadaan sekarat seperti itu.
"Anda mengenal nya, tuan?" Tanya salah satu orang yang masih berdiri disana.
"Iya, dia adalah kekasih saya," jawab Gallen dengan lirih. Dia menunduk menahan tangis, tetapi dia tidak ingin terhanyut dalam kesedihan. Dia menghapus air matanya dan dia ingat dia harus melakukan apa saat ini.
Setelah mengumpulkan semua kekuatannya kembali, Gallen segera menggendong Siyyara ke mobilnya untuk di bawa ke Rumah Sakit.
Semua orang yang menyaksikan hal itu sangat prihatin, suara bisik-bisik mereka pun terdengar keras.