The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
3. Kebencian



"Siyyara, kamu jangan bertingkah seperti itu lagi kepada orang lain, bagaimana jika orang itu berfikir yang macam-macam tentang dirimu?"


Siyyara siap-siap mengambil earphone untuk menutup kedua telinganya, kepalanya masih sakit, dia tidak ingin mendengar ceramah kakaknya yang kesekian kalinya.


"Kalau kakak sedang bicara itu harus di dengar, Siyya," geram Alvian.


"Iya, kak," jawab Siyyara dengan malas.


Alvian menggelengkan kepala, tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Dia sudah berusaha menasihati Siyyara, tapi sepertinya gadis itu benar-benar tidak ingin di nasihati.


"Sstt," desis Siyyara sambil memegang kepalanya.


"Kamu kenapa?" Alvian segera mendekati sang adik.


"Hanya pusing saja, kak."


"Ya sudah, mending kamu istirahat saja. Kakak keluar ya, jika butuh sesuatu, kamu panggil kakak saja," ujar Alvian dengan nada lembut.


Siyyara hanya mengangguk lemah. Jujur saja, Alvian sangat suka ketika Siyyara menjadi gadis penurut seperti ini. Apa Alvian harus berdoa agar Siyyara tidak sembuh, agar Siyyara jadi gadis penurut?


"Lampunya kakak matikan atau kakak biarkan menyala?" Tanya Alvian yang sudah berdiri di dekat saklar lampu.


"Biarkan menyala saja, kak," ujar Siyyara.


Alvian mengangguk dan meninggalkan kamar Siyyara dengan lampu kamar yang masih menyala.


Setelah kepergian Alvian, Siyyara menyumpahi Dokter muda yang di temui nya siang tadi.


"Sial, gara-gara dokter bodoh itu aku jadi tidak berdaya seperti ini. Ini sakit," gerutu Siyyara menahan rasa pusing di kepalanya.


"Awas saja kalau sampai ketemu dia lagi, akan ku buat dia merasakan apa yang aku rasakan saat ini."


Siyyara terus mengoceh ketika rasa nyeri menghampirinya. Hingga akhirnya Siyyara tertidur karena efek obat yang di minum olehnya.


*****


Ting Tong


"Siapa yang datang malam-malam begini?" Tanya Alvian pada dirinya sendiri.


Dengan rasa malas dan rasa ngantuk yang telah menderanya, Alvian bangkit dari sofa yang digunakannya untuk rebahan dan berjalan mendekati pintu utama.


Cklek


Saat Alvian membuka pintu, kedua mata Alvian setengah terpejam. Hingga tidak menyadari siapa yang bertamu di rumahnya.


"Al," panggil tamu itu.


Saat Alvian merasa mengenal suara itu, Alvian segera membuka kedua matanya lebar-lebar. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat sahabat karibnya telah berdiri tepat di hadapannya.


"Gal-Gallen? Ngapain kamu kesini malam-malam?" Tanya Alvian sembarangan, yang membuat Gallen semakin tidak enak hati.


"Sorry Al, karena aku telah mengganggu waktu Istirahat mu."


Alvian mengangguk, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bersalah karena telah membuat sahabat lamanya menjadi sungkan.


"Tidak apa-apa, Len. Ayo masuk, sepertinya aku tertinggal banyak cerita tentang kehidupan mu," canda Alvian.


"Hahahaha, tidak juga. Justru kamu yang membuatku pangling sekarang, di usiamu yang masih muda kau telah mendirikan perusahaan besar di Eropa. Aku salut denganmu," puji Gallen.


"Darimana kamu tahu? Kurasa kamu terlalu berlebihan, Len. Yang aku jalani tidak ada apa-apanya ketimbang perjuanganmu. Meski aku tidak paham, tetapi aku tahu betapa sulitnya dirimu. Oh ya, aku turut berduka cita atas meninggalnya Papamu, semoga beliau tenang di alam sana dan di beri tempat terbaik di Sisi-Nya."


"Amin."


"Darimana kamu bisa tahu jika ini adalah rumahku?" Tanya Alvian.


"Aku telah pindah rumah, karena Mama selalu bersedih saat mengingat mendiang Papa. Dan aku memutuskan pindah ke perumahan sini, karena menurutku perumahan di sini sangat indah dan nyaman. Dan saat aku sedang berkeliling, aku melihat dirimu memasuki rumah ini bersama adikmu. Dan aku memutuskan untuk menyapa dirimu."


Alvian manggut-manggut mengerti.


"Terus bagaimana ceritanya kamu jadi dokter?" Tanya Alvian lagi.


Gallen kesal karena dia seperti sedang di sidang di pengadilan untuk di adili.


"Kamu ngelucu? Jelaslah aku harus kuliah dulu, baru bisa jadi dokter."


"Hahahaha!" Tawa Alvian membahana di ruang tamu itu, sehingga membuat Gallen semakin geram dengan sahabat nya itu.


"Maksud ku bukan begitu. Saat dulu kamu ingin menjadi dokter, bukankah Papa mu dulu sempat ngelarang? Lalu bagaimana caranya kamu membuat Papa mu nurut?"


Gallen menghela napas lelah.


"Meski Papa mengizinkan aku kuliah kedokteran, tetapi saat ini aku juga yang mengurus dan memantau perkembangan Perusahaan Papa, bahkan aku sempat meninggalkan meeting dengan Klein penting karena ada pasien yang sedang membutuhkan bantuan ku," ujar Gallen dengan menyandarkan tubuhnya ke Sofa dan wajahnya menengadah ke atas.


Alvian salut dan kasihan secara bersamaan kepada temannya.


"Bentar, aku ambilkan makanan dan minuman dulu di dapur. Kau ingin minum apa?" Alvian berdiri dari duduknya dan bersiap menuju ke dapur.


"Tidak usah Al, kamu jangan memperlakukan ku seperti seorang tamu, anggap saja aku saudaramu."


Gallen tersenyum kecil dan Alvian kembali terkekeh.


"Oh ya, kamu kan sekarang jadi Dokter nih, apa kamu tidak ingin menyerahkan tanggung jawab sebagai direktur perusahaan kepada adikmu?" Tanya Alvian sembari menatap Gallen dengan wajah serius.


"Dia tidak ingin meneruskan bisnis Papa, katanya dia mau jadi seorang Pengacara." Gallen memijit pangkal hidungnya.


"Ckck, derita jadi anak sulung ya," gumam Alvian dengan nada mengejek.


"Kamu juga anak sulung, kan? Memangnya penderitaan apa yang kamu alami hingga kamu berkata seperti itu?" Heran Gallen.


"Kamu gak tahu? Penderitaan ku sangat-sangat pedih, aku bisa ada di sini karena Daddy yang menyuruhku agar kembali ke sini dan meninggalkan Paris. Kamu tahu alasannya? Karena setan kecil itu," sungut Alvian, melupakan sifat dingin dan cueknya.


"Setan kecil? Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Siyyara? Dia itu seperti hantu, setiap malam keluyuran, bahkan Bodyguard yang ditugaskan Daddy untuk memantau Siyyara pun selalu kecolongan. Heran deh dengan watak gadis itu." Alvian geleng-geleng kepala saat mengingat betapa ajaibnya setan kecil itu.


"Hahahaha!" Gallen tidak bisa menahan tawanya lagi. Tawanya pun menggelegar di seluruh ruangan.


"Hati-hati Bro. Dia tetap adik mu. Kau harus sabar."


*****


"Hahahaha!"


"Kak Alvian tertawa dengan siapa sih? Ganggu tidur orang aja. Udah tau adiknya lagi sakit, malah diganggu."


Siyyara menyibak selimut tebalnya dan menurunkan kakinya dari tempat tidur, dengan langkah kaki tertatih, Siyyara memaksakan kakinya untuk melangkah keluar dari kamarnya dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Alvian di ruang tamu.


Saat Siyyara telah sampai di dekat tangga, Siyyara memantau tamu yang datang ke rumahnya dari atas. Dan Siyyara membulatkan kedua matanya karena terkejut saat melihat musuh baru nya telah menginjakkan kaki di rumahnya.


"WOYY! NGAPAIN KAMU KE RUMAH KU?" Teriak Siyyara sambil berkacak pinggang dari lantai dua.


Alvian dan Gallen pun terkejut dengan teriakan Siyyara yang tiba-tiba.


Alvian dan Gallen menolehkan kepalanya untuk melihat keberadaan Siyyara.


"Kamu kenapa bangun, dek?" Tanya Alvian pelan.


Siyyara diam tak menjawab pertanyaan Alvian. Siyyara masih menatap ke arah pria yang ada di samping kakaknya dengan tatapan andalannya, yaitu tatapan membunuh untuk seseorang.


Alvian menyadari kemarahan adiknya saat melihat keberadaan Gallen. Alvian pun berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang. Alvian berjalan menaiki tangga untuk menghampiri sang adik yang masih berdiri di lantai 2.


"Ayo dek, kita turun. Kakak belum memperkenalkan mu dengan dokter yang sudah merawat mu, kan? Ayo kamu berkenalan lah dengannya, karena dia sekarang menjadi tetangga kita," ucap Alvian dengan nada lembut.


Meski perilaku Siyyara sangat menyebalkan, tetapi Alvian berusaha menahan kekesalannya karena Siyyara sedang sakit. Jika tidak, Alvian pasti sudah menjitak kepala batu Siyyara dengan keras.


"TIDAKK!" Teriak Siyyara lagi.


Gallen memperhatikan tingkah laku Siyyara dengan jengah, Gallen berusaha memaklumi tingkah labil Siyyara, karena Siyyara memang masih Remaja.


"Al, kita lanjutkan perbincangan kita di lain hari saja. Aku harus pulang, karena Mama pasti mencari ku saat ini," pamit Gallen.


"Ya sudah, pulang aja sana. Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini, mengerti?" Ujar Siyyara.


"Gallen, maaf atas ketidak nyamanan nya, ku harap kau mau memaafkan Siyyara, dia memang seperti itu," ujar Alvian dengan perasaan tidak enak hati.


Gallen mengangguk dan berjalan keluar dari rumah Alvian dan Siyyara.


"Hufft." Alvian menghela napas berat setelah melihat Gallen keluar dari rumahnya.


"Ayo, dek. Sebaiknya kamu istirahat kembali di kamar," seru Alvian dengan mengelus rambut Siyyara pelan.


"Kak, Siyya pusing," keluh Siyyara sambil memeluk kakaknya.


"Benarkah? Jika begitu, kakak akan panggil Gallen untuk memeriksa dirimu, ya."


Mendengar nama Gallen, Siyyara mendongakkan kepalanya dan menatap Alvian dengan tajam.


Siyyara berusaha menahan rasa nyeri di kepalanya. Siyyara memaksakan diri untuk pergi ke dalam kamarnya sendiri tanpa meminta bantuan Alvian.


Alvian diam membiarkan Siyyara memasuki kamarnya dengan tertatih-tatih, Alvian tahu jika Siyyara sedang menahan sakit. Alvian hanya diam tanpa membantu Siyyara berjalan, karena Alvian ingin agar Siyyara sedikit melunakkan hatinya dari keegoisan, agar dia tidak bersikap buruk lagi kepada seseorang.


Brak


Alvian terkejut bukan main ketika melihat Siyyara terjatuh di pintu kamarnya.


"SIYYAAA!"


*****


Gallen memasuki rumahnya dengan pelan, saat ingin menutup pintu, Gallen terkejut saat melihat Alvian yang berlari menuju rumahnya.


"Al, ngapain kamu berlari? Ada apa?" Gallen mendekati Alvian.


"Len, tolongin Siyya, dia pingsan. Aku takut terjadi sesuatu dengannya," ujar Alvian dengan napas terengah-engah.


Gallen segera masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil peralatan medis nya.


"Ayo kita segera kesana," ujar Gallen telah bersiap.


Dengan cepat, Gallen menuju ke rumah Alvian dan Siyyara, meski Gallen sangat kesal dengan Siyyara, tetapi saat ini Siyyara sedang sakit, dan sebagai seorang dokter, Gallen tidak akan menyangkut pautkan masalah pribadi dengan keselamatan seseorang.


Saat telah sampai, Gallen meminta izin dari Alvian untuk memasuki kamar Siyyara, bukan apa-apa, hanya saja Gallen merasa harus meminta izin saat memasuki kamar pribadi seorang gadis.


Gallen memiringkan tubuh Siyyara dan memeriksa luka di kepala Siyyara dengan teliti.


"Jahitannya terbuka sedikit."


Gallen dengan telaten membersihkan luka itu kembali dan menjahit kembali luka itu.


"Dasar gadis keras kepala," gumam Gallen pelan.


Gallen tersenyum kecil saat mengingat betapa menyebalkan nya tingkah Siyyara, bahkan dalam sejarah kehidupan Gallen, dia adalah gadis pertama yang membenci keberadaannya.


Karena selama ini Gallen selalu dikelilingi perempuan cantik yang terang-terangan menggodanya. Dan Gallen selalu menolak mereka semua karena sangat risih dengan sifat bar-bar perempuan-perempuan itu.


"Andai kata kamu itu gadis penurut dan pendiam, sudah pasti aku adalah orang pertama yang akan jatuh hati kepada dirimu. Tetapi kenyataannya perilaku mu itu membuat ku bergidik ngeri. Benar kata Alvian, kamu itu seperti setan, setan kecil."


Setelah mengungkapkan beberapa deret kalimat, Gallen tertawa kecil. Gallen menyadari kebodohannya karena berbicara dengan seseorang yang tidak sadarkan diri.


Sebelum keluar dari kamar Siyyara, Gallen melihat beberapa foto gadis itu, mulai saat masih bayi, hingga remaja. Gallen sangat terpaku dengan wajah cantik, manis, polos dan lugu yang di miliki oleh Siyyara kecil.


Gallen mengalihkan pandangannya ke arah Siyyara yang tengah tertidur, lebih tepatnya pingsan karena obat bius.


"Kau memang cantik, ku akui sangat cantik," gumam Gallen pelan.


Gallen segera melanjutkan niatnya yang ingin keluar dari kamar Siyyara dengan langkah kaki pelan dan menutup pintu kamar Siyyara dengan pelan.


"Len, gimana dengan kondisi Siyya?" Alvian telah berdiri tepat di depan pintu kamar Siyyara.


"Dia baik-baik saja, jahitannya terbuka sedikit, dan aku sudah membenarkan kembali jahitan di kepalanya."


"Jahitannya kebuka?" Alvian bergidik ngeri.


"Hm, bisa jadi karena Siyyara terlalu memaksakan diri hingga otot-otot kepalanya menegang, atau mungkin karena Siyya sering marah-marah. Itu bisa saja."


Alvian hanya diam, berusaha memahami kalimat Gallen.


"Jadi maksud mu, kamu ingin agar Siyyara tidak marah-marah lagi?" Tanya Alvian memastikan.


Gallen hanya mengangguk polos.


"Ya Allah! Demi apapun di jagad raya ini, Siyyara bahkan tidak bisa diam walau hanya 1 menit, dia gadis yang aneh yang ada di muka bumi ini," keluh Alvian.


Gallen bergidik ngeri dengan sifat absurd Alvian.


"Sekarang yang aneh bukan Siyya lagi, melainkan dirimu. Ku sarankan, sebaiknya kamu mandi lagi dengan kembang 7 rupa," sindir Gallen dengan nada sinis.


Alvian menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Kata-kata mu sangat menusuk," ujar Alvian.


Alvian dan Gallen adalah pria yang selalu menjunjung tinggi harga diri, maka dari itu mereka selalu bersikap dingin saat di luar sana atau bahkan saat bertemu dengan orang yang tidak ia kenal. Tetapi saat dua pria itu bersama, maka sikap dingin mereka lenyap tak tersisa, karena mereka berdua telah memahami satu sama lain.


Tidak perlu banyak teman, satu teman pun cukup, asal setia kawan, bukankah begitu?


"Baiklah, aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa panggil saja aku."


Alvian mengangguk mendengar perkataan temannya.


"Sekali lagi terimakasih atas bantuan mu, Len."


"Sama-sama, Al." Gallen mengangguk dan melengkungkan senyum tipis.


*****


Gallen membuka pintu rumahnya dengan gerakan pelan, saat ingin menutup pintu kembali, Gallen telah dikejutkan dengan adiknya yang sudah berdiri di belakang tubuhnya.


"Astaghfirullah, kakak kirain siapa. Mengapa belum tidur?" Tanya Gallen dengan nada tegas.


"Kak Gallen sendiri habis dari mana? Tadi Mama mencari keberadaan kak Gallen."


Mendengar cerita si adik, Gallen menolehkan wajahnya sedikit ke arah adiknya.


"Apa Mama baik-baik saja?"


"Iya, dia baik-baik saja, seperti biasa Mama sering melamun lagi." Adik Gallen menghembuskan napas lelah.


"Kak, apa Mama bisa kembali sehat? Aku terkadang khawatir dengan keadaan Mama, aku takut jika Mama....."


"Kakak akan mengusahakan, meski itu bukan keahlian kakak, kakak akan mencarikan dokter terbaik yang ada di dunia ini untuk Mama, karena hanya Mama yang kita miliki. Kau juga harus fokus kepada sekolahmu Tristan."


Tristan Altara Damestria tersenyum, Meski usia mereka terpaut 10 tahun, Tristan begitu akrab dengan Gallen. Bagi Tristan, Gallen adalah panutannya, dan apapun yang di perintahkan oleh Gallen, Tristan selalu menurutinya, karena Tristan sangat menghormati dan menyayangi kakaknya.


"Baik kak. Aku akan belajar dengan baik," jawab Tristan.


Gallen mengangguk dan ingin pergi ke arah kamarnya, tetapi Tristan menghentikan langkah kaki Gallen.


"Kak, maafkan aku karena aku tidak bisa meringankan beban pekerjaan mu. Aku tahu kakak sangat lelah dengan pekerjaan-pekerjaan kakak."


Gallen tersenyum tanpa memperlihatkan senyumannya kepada sang adik.


"Dengar, Tristan. Jika kau tidak mau memegang kursi direktur, tidak apa. Itu bukan masalah besar, karena kakak akan berusaha semampu kakak untuk membagi waktu kakak. Dan hari ini kakak telah mengundurkan diri sebagai seorang Dosen."


Mendengar perkataan Gallen, Tristan semakin menunduk. Bukan karena takut dengan Gallen, melainkan karena rasa bersalah yang sangat besar.


"Kakak, kita berasal dari keluarga yang berkecukupan, bahkan lebih. Tetapi mengapa kakak bekerja di dua tempat? Menjadi Dosen dan Dokter."


"Aku hanya ingin membagi ilmu ku saja dengan seseorang, bukan karena ingin mendapat uang. Lalu dokter? Itu adalah impianku sejak dulu," gumam Gallen yang dapat di dengar Tristan dengan jelas.


"Tapi hari ini, aku mengundurkan diri sebagai seorang dosen. Aku ingin fokus ke Rumah Sakit yang telah ku bangun dengan susah payah, dan sisa waktu ku akan ku gunakan untuk memantau Damestria Corp secara berkala."


Tristan mengangguk, tidak salah jika dia sangat mengagumi sosok Gallen. Bagi Tristan, kakaknya seperti tokoh heroik yang sangat berguna dan selalu datang saat seseorang membutuhkan bantuannya.


*****


"APA INI!" teriak Siyyara dari dalam kamarnya.


Mendengar teriakan Siyyara yang memekakkan telinga, Alvian segera menghampiri kamar Siyyara. Karena Alvian takut terjadi sesuatu pada adiknya.


"Adek, ada apa? mengapa kau berteriak?" Tanya Alvian dengan terburu-buru memasuki kamar Siyyara.


"Makanan apa ini, kak? Siyya tidak mau makan. Siyya tidak suka." Siyyara memasang wajah cemberut dan melipat tangannya di depan dada.


Alvian menghela napas lelah. Dia memijit pangkal hidungnya dengan frustasi.


"Hanya karena makanan, kamu membuat kakak sangat khawatir dengan teriakan mu itu," ucap Alvian pelan.


"Sayur itu sangat baik untuk kesehatan mu, Siyya. Kali ini kakak mohon, jangan membatah ya, dek." Alvian duduk di tepi ranjang Siyyara. Alvian mengelus kepala Siyyara dengan sayang.


Meski Alvian sangat kesal dengan Siyyara, Alvian terus menahan kekesalannya itu. Alvian memiliki rencana indah untuk membalas kekesalannya setelah Siyyara sembuh nanti.


"Aku ingin Steak kak, bukan sayur. Aku bukan kambing, kak."


"Jika kamu takut makan sayur karena tidak ingin seperti kambing, itu tidak masalah. Tapi kamu akan lebih mirip Serigala jika kamu sering makan daging," sinis Alvian.


Siyyara geram dengan jawaban kakaknya.


"ALVIAN! AKU AKAN MENGADU KE DADDY JIKA KAMU TIDAK MEMBERIKU MAKAN SAAT AKU SEDANG SAKIT!"


"TERSERAH, AKU TUNGGU ADUANMU KEPADA DADDY. DAN MAU TIDAK MAU, KAMU HARUS MEMAKAN MAKANANNYA, MENGERTI?" Balas Alvian dengan teriakan juga.


"ALVIAN GILAAAA!"