The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
38. Kekesalan



Gallen mengepalkan kedua tangannya, rasa marahnya bangkit saat melihat raut wajah penolakan dari Siyyara.


"Aku tidak setuju!" Gallen membanting sendoknya, hingga menimbulkan bunyi dentingan yang keras.


Tristan memelankan kunyahannya, entah mengapa selera makannya tiba-tiba menghilang. Dia segera mengambil gelas berisi air putih dan langsung meneguknya hingga habis.


"Gallen, ada apa?" Tanya Amanda lembut.


Siyyara gemetar ketakutan ketika melihat kemarahan Gallen, meski kemarahan itu tidak ditujukan untuk nya, tapi tetap saja, dia sangat takut dengan suara dingin Gallen. Siyyara meletakkan sendok dan garpu nya dengan pelan di piringnya. Dia terus menunduk untuk menghindari tatapan Gallen yang ganas.


"Jawab Mama, Gallen."


"Aku tidak setuju dengan perjodohan gila yang sedang Mama rencanakan. Gallen bisa mencari wanita sendiri ketika Gallen sudah siap untuk menikah," jawab Gallen.


"Ketika sudah siap menikah? Ya Tuhan, Gallen usia mu saat ini hampir menginjak 30, kamu harus segera menikah. Apa kamu ingin menjadi perjaka tua?"


"Mama tidak mau tahu, pokoknya kamu harus setuju dengan keputusan Mama, lagipula kamu kan mencintai Siyyara. Jadi kamu tidak punya alasan untuk menolak," ujar Amanda.


Gallen melirik Siyyara yang terus menundukkan kepalanya. Gallen merasa gadis itu tidak nyaman dengan perkataan Mamanya barusan yang mengungkit perasaannya kepada gadis itu. Gallen tersenyum lirih.


"Itu dulu, Ma. Sekarang tidak," kilah Gallen.


Semua orang yang ada di ruangan itu seketika menoleh untuk menatap Gallen. Mereka ingin memastikan, apakah yang baru saja diucapkan Gallen adalah sebuah kebenaran? Apakah Gallen sudah tidak mencintai Siyyara lagi?


Alvian menatap Gallen dengan tatapan tidak biasa, tatapan itu menyelidik, meski Gallen menyadari tatapan Alvian untuk nya, tetapi dia tidak ambil pusing. Gallen merasa jika kali ini dia tidak boleh menjatuhkan harga diri nya di hadapan gadis yang tidak pernah mencintai dirinya.


"Apa maksudmu?" Tanya Amanda menuntut.


"Gallen tidak suka barang bekas, barang yang Mama tawarkan saat ini, bisa Gallen temukan di mana pun Gallen mau. Gallen hanya suka kepada barang yang berkualitas tinggi," ujar Gallen dengan nada dingin dan tatapannya menuju ke arah Siyyara yang tengah duduk tepat di hadapannya.


Alvian dan Dave membelalakkan kedua matanya saat mendengar kalimat tidak manusiawi yang Gallen ucapkan.


"GALLEN!" Bentak Alvian.


Kesabarannya sudah habis, dia tidak akan sanggup jika adik kesayangannya dihina oleh seseorang, apalagi seseorang yang sudah menghina adiknya adalah sahabat dekatnya sendiri, dia tidak akan rela.


"Apa maksud dari perkataan mu?" Alvian berdiri dari duduknya dan menatap Gallen dengan pandangan menusuk.


"Yang ku katakan adalah kebenaran nya, mana ada gadis terhormat yang suka merayu pria sana sini? Bukankah dia sama saja dengan wanita penghibur?" Gallen memiringkan kepalanya dan tersenyum sinis ke arah Alvian.


Alvian menggertakkan giginya, kedua tangannya terkepal erat, dan bersiap untuk menonjok Gallen.


PLAK


Tetapi sebelum dia melayangkan tinjunya ke wajah Gallen, Gallen terlebih dulu terjungkal dari duduknya, dan pelaku yang sudah membuat Gallen jatuh adalah Dave.


"Jangan pernah menghina putriku. Siapa kau? Berani sekali kau menghina putriku di depan keluarganya sendiri? Jika kau memang menolak perjodohan ini, maka kau tinggal bilang saja jika kau menolaknya. Tetapi kau malah menghinanya, sebenarnya apa tujuanmu menghina anakku? Apa karena kau sakit hati? Katakan!" Bentak Dave dengan suara menggelegar.


Amanda menangis saat Dave dengan sengaja memukul Gallen, tetapi Amanda paham dengan kemurkaan Dave, mana ada seorang ayah yang tahan jika putrinya direndahkan seperti itu.


Amanda sangat sedih karena kata-kata kasar penuh penghinaan keluar dari mulut anaknya, dia tidak menyangka jika Gallen bisa sekasar itu.


Siyyara terus menunduk dengan berurai air mata, dia tidak tahu apa kesalahannya hingga Gallen begitu membencinya. Bukankah kemaren malam dia bersikap lembut kepadanya, lalu mengapa sekarang Gallen sangat membencinya?


"Aku tidak akan pernah membiarkan pria busuk seperti dirimu mendekati putriku lagi, dan aku bersumpah, aku akan-"


"Da-daddy, Siyya mau pulang," ujar Siyyara dengan nada lirih. Siyyara sengaja memotong perkataan Daddy-nya, dia tidak ingin Daddy nya hanyut dalam kemarahan. Perkataan orang yang sedang marah biasanya tidak akan terkendali dan bisa saja mengucapkan kalimat buruk lainnya. Siyyara tidak ingin Daddy-nya menjatuhkan harga dirinya dengan membalas kalimat kasar yang telah Gallen ucapkan.


"Da-ddy."


"Iya sayang, kita pulang sekarang." Dave segera menghampiri putrinya dan menuntun nya untuk keluar dari rumah itu.


"Dave, tunggu. Jangan terbawa amarah, Gallen pasti lelah hingga dia bisa mengucapkan kalimat seperti itu, aku kenal betul seperti apa Gallen. Dia pasti tidak sengaja menghina Siyyara-"


"Aku tidak peduli jika dia memang tidak sengaja. Yang aku tahu, dia sudah menyakiti Siyyara, dan sampai kapanpun, aku tidak akan menyerahkan Siyyara kepada pria brengsek seperti putramu."


"Ta-tapi Dave. Kita sudah-"


"Aku mencabut perkataan ku sebelumnya, dan aku tidak akan menikahkan Siyyara dengan anakmu," potong Dave.


"Alvian, bawa istrimu ke mobil. Kita akan pulang," ujar Dave kepada Alvian.


Alvian mengangguk patuh, dia segera menggandeng istrinya untuk keluar dari rumah itu. Dan Maira segera mengikuti langkah Suaminya.


Tristan pun segera berdiri, dia tahu suasana saat ini sedang menegangkan, dan dia merasa jika ada baiknya jika ia segera pergi dari tempat itu.


"Ma, Tristan pamit ke atas dulu," pamit Tristan.


Amanda menoleh ke arah putra bungsunya, dan dia segera mengangguk, dia memberi ijin Tristan untuk pergi dari ruangan itu.


Setelah kepergian Tristan, Amanda kembali menoleh ke arah Gallen.


"Gallen! Minta maaf sekarang juga kepada Siyyara dan keluarganya! Cepat!" Bentak Amanda.


"Gallen!"


"Gallen, kembali sekarang juga!"


"GALLEN!" Teriak Amanda seperti orang kesetanan.


Dave melihat sendiri bagaimana Gallen sekarang, dia benar-benar sudah berubah.


"Keyakinan ku untuk membatalkan perjodohan ini semakin besar, Gallen tidak pantas mendapatkan Siyyara. Lupakan kesepakatan kita sebelumnya, Amanda."


"Dave, aku mohon. Jangan batalkan perjodohan ini. Aku sangat ingin menjadikan Siyyara menantuku, aku bersumpah, aku akan menyayanginya melebihi rasa sayangku kepada anak-anakku. Aku mohon," pinta Amanda.


"Maaf, aku tidak bisa. Meski nanti kamu akan menyayangi nya, tetapi bagaimana dengan nasib Siyyara? Gallen pasti tidak akan memperlakukan Siyyara dengan baik.


Amanda menangis tersedu-sedu, kesempatannya untuk menjadikan Siyyara sebagai putrinya sudah lenyap. Dan semua ini karena Gallen sendiri.


Saat Dave merangkul Siyyara dan membawa Siyyara ke pintu utama, Amanda segera menghentikan langkah kaki Dave.


"Tunggu dulu."


Dave dan Siyyara menghentikan langkahnya, mereka pun berbalik lagi untuk melihat Amanda yang berjalan mendekati mereka.


"Siyya, tante tahu kamu masih belum mengenali tante. Kamu pasti juga bingung mengapa Tante begitu ingin menjadikan mu sebagai istri Gallen, bukankah begitu?"


Siyyara mendongak untuk menatap wajah Dave, dan Dave hanya berekspresi datar, tak menanggapi perkataan Amanda sama sekali.


"Tante, Siyya tahu jika Tante sangat menyayangi Siyya. Pasti ada sebab sehingga Tante begitu menginginkan Siyya," jawab Siyyara dengan wajah polosnya.


Amanda tersenyum haru, dia mengangguk untuk menguatkan pendapat Siyyara.


"Iya, Tante sangat menyayangi mu, nak."


Amanda menarik napasnya dengan panjang, lalu menghembuskan nya lagi.


"Sebenarnya Tante ingin menjodohkan mu dengan Gallen karena persahabatan suami tante dan juga Daddy-mu, begitu pula persahabatan Tante dengan Mommy-mu, Siena. Tante ingin agar ikatan persahabatan kami semakin kuat."


"Tetapi saat melihat penolakan Gallen kepadamu dan berbagai hinaan untukmu, Tante semakin ingin menjadikanmu bagian dari keluarga Tante, karena Tante tahu, hanya kamu yang bisa mengembalikan Gallen seperti dulu lagi. Bukankah jika ada orang yang salah jalan, kita harus merangkulnya dan menunjukkan jalan kebenaran untuknya? Kamu boleh menilai Tante sangat egois, tetapi Tante melakukan hal ini karena Tante sangat menyayangi mu dan Gallen. Tante hanya ingin kamu menjadi menantu sekaligus anak untuk Tante." Amanda meyakinkan Siyyara dengan wajah penuh permohonan. Dan hal itu berhasil membuat Siyyara bimbang.


"Sudah cukup, Manda. Jangan hasut Siyyara, biarkan dia memilih apa yang dia inginkan," ujar Dave setengah jengkel.


"Iya. Siyyara memang harus memilih pasangan nya sendiri. Dan Siyya, sekarang katakan padaku, apakah kamu mau menjadi istri Gallen?" Amanda menggenggam tangan Siyyara dengan lembut.


Siyyara gelagapan, dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dia menolak, maka Amanda akan terlihat kecewa, dan jika dia menerima, dia tidak bisa membayangkan seperti apa nasibnya nanti.


"Tidak usah kau jawab, Siyya. Ayo, sebaiknya kita segera pergi dari sini," sela Dave.


"Iya, Dad."


Amanda memandangi wajah Siyyara dengan tatapan sendu. Amanda menunduk untuk menyembunyikan air matanya, dan Siyyara menyadari kesedihan Amanda.


"Tante, beri Siyyara waktu. Siyyara akan memikirkan nya." Siyyara berusaha menampilkan senyum manisnya untuk meyakinkan Amanda, Siyyara tidak suka ketika Amanda merasa sedih karena nya.


"Siyya, apa yang kau katakan?" Tanya Dave dengan suara keras.


"Da-daddy, Siyya-"


"Jangan pernah menentang Daddy," ucap Dave dengan nada penuh ancaman. Siyyara segera menunduk.


Amanda tersentak dengan ucapan Dave yang terdengar menusuk di telinga.


"Dave, jangan marahi Siyyara. Dia tidak bersalah."


"Dia memang tidak bersalah, tetapi kau yang bersalah." Intonasi nada Dave naik.


"Dad, sudah." Siyyara menggenggam tangan Dave, agar Dave menjadi tenang.


"Dengar Siyyara, kamu harus berjanji jika kamu tidak akan berhubungan lagi dengan keluarga Damestria lagi, dan itu berlaku untuk selamanya. Jika kamu melanggar, maka Daddy tidak akan kembali ke Indonesia selama nya."


Siyyara tercengang dengan penuturan Daddy-nya.


"Dad?" Lirih Siyyara.


Dan kali ini Amanda diam, dia tak ingin membuat ayah dan anak itu semakin bertikai karena dirinya.


"Ayo kita pulang," ajak Dave yang masih belum melunak juga.


"I-iya, Dad."


Dave segera menarik lengan Siyyara dan membawanya ke dalam mobil. Dengan berat hati, Siyyara meninggalkan Amanda tanpa pamit terlebih dahulu dengannya.