The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
39. Kabur



"Gallen, sebenarnya setan apa yang telah merasuki mu? Mengapa kamu membuat malu Mama dengan berkata kasar seperti itu kepada Siyyara?"


"Jawab!" Bentak Amanda.


"Sudah jelas, Ma. Aku tidak mencintai nya," jawab Gallen.


"Kamu tidak mencintainya? Apa kamu pikir kamu bisa membohongi Mama? Kamu bahkan hampir gila setiap hari saat Siyyara meninggalkan mu. Dan kamu mau berkata jika kamu tidak mencintainya?" Amanda menggelengkan kepalanya.


"Ma, jangan mengungkit masa lalu." Gallen menghela frustasi.


"Mama tidak akan mengungkit masa lalu jika saja kamu tidak membuat Mama dalam masalah. Kamu sudah menghancurkan impian Mama, Gallen!" Teriak Amanda dengan menangis.


"Ma, sudahlah. Jangan menangis."


"Diam kamu! Karena kamu, Mama tidak bisa dekat dengan Siyyara. Mama membenci mu, Gallen."


"Ma, sebenarnya yang anak Mama itu aku atau Siyyara?" Heran Gallen.


"DIAM! Jangan pernah mengatakan apapun lagi. Dan sebelum kamu mau menikah dengan Siyyara, Mama tidak akan berbicara dengan mu, Mama akan membenci mu," ujar Amanda sebelum meninggalkan kamar Gallen.


Gallen menghela napas lelah. Dia berpikir keras, apakah tindakannya sudah benar dengan membuat Siyyara sakit hati seperti apa yang dia rasakan saat ini?


Tetapi dirinya sakit hati bukan karena tindakan Siyyara, tetapi karena dirinya terhanyut oleh perasaannya sendiri.


"Dia benar-benar sudah menguasai perasaan ku. Dan itulah yang membuat ku semakin membencinya."


*****


Mr. Dave mengelus kepala Siyyara dengan penuh rasa sayang, dia selalu mengingat-ingat kejadian tadi pagi yang membuat emosinya meluap-luap.


Mr. Dave melirik Siyyara yang sudah tenang dan tertidur pulas. Dave pun bangkit dari tepi ranjang putrinya dan keluar dari kamar itu.


"Niko, kirimkan berkas rahasia milik Damestria Corp sekarang juga," ujar Dave melalui telepon.


"Hm, aku tunggu. Dan aku ingin kau mencari seluruh rahasia dari Perusahaan itu," pinta Dave lagi.


"Baiklah. Terimakasih." Dave langsung menutup panggilan nya, sebelum pergi, dia kembali menatap Siyyara yang tertidur, lalu Dave segera keluar dari kamar Siyyara dengan langkah kaki lebar.


Tak disangka ternyata Siyyara hanya pura-pura tidur. Setelah mendengar langkah kaki Dave yang berjalan menjauh dari kamarnya, Siyyara bangkit dari tidurnya dan berusaha memikirkan sesuatu.


"Apa Daddy akan menghancurkan Damestria Corp?" Gumam Siyyara dengan perasaan ketar-ketir.


"Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak ingin dua keluarga menjadi musuh hanya karena diriku," ucap Siyyara.


Ia langsung berdiri dari tempat tidurnya dan menyibak tirai jendela.


"Apa aku harus lompat jendela? Jika aku pergi melalui pintu, maka para penjaga akan menghentikan ku."


Siyyara ragu, dia pun takut pada ketinggian.


"Jika aku meminta nomor ponsel kak Gallen pada kak Alvian, maka kak Alvian akan curiga."


Siyyara berjalan mondar-mandir di depan jendela besar yang menghubungkan ke balkon.


Dengan tekad yang kuat, akhirnya Siyyara kembali menyibak tirai dan membuka jendela yang besar, jendela yang ada di kamar Siyyara terbuat dari kaca tebal dan besarnya seukuran pintu utama rumahnya.


Setelah pintu jendela itu terbuka, Siyyara mengambil beberapa sprei untuk membantunya turun dari balkon kamarnya.


"Ya Allah, lindungi aku. Aku takut. Tapi aku tidak ingin ada keluarga yang hancur karena diriku."


Siyyara mengikat sprei yang telah ia sambung menjadi panjang ke besi pembatas balkon kamar itu. Dengan perasaan takut, Siyyara memegang erat sprei itu dan mulai turun perlahan-lahan dari balkonnya.


Saat sampai di tengah-tengah, tangannya gemetar ketakutan karena dia sempat melihat kebawah.


"Aku tidak boleh takut, aku harus bisa."


Siyyara menyemangati dirinya sendiri, hingga akhirnya sampailah Siyyara turun dengan selamat. Dia menoleh ke beberapa tempat, untuk memastikan jika tidak ada penjaga yang berkeliaran di sekitar rumahnya. Dan pada malam itu penjagaan dirumahnya tidak terlalu ketat, hingga memberi keuntungan Siyyara untuk pergi ke rumah Gallen.


"Oh, Ya Tuhan. Jarak rumah kak Gallen sangat jauh dari sini, dan malam-malam begini mana ada taksi."


Siyyara teringat jika rumahnya yang dulu berada satu kompleks dengan rumah Gallen. Bagaimana Siyyara tahu? Tentu saja saat di perjalanan menuju ke rumah Gallen, Daddy-nya memberitahu nya.


"Masa iya aku harus minta diantar sopir ke rumah yang dulu? Mereka pasti akan curiga."


"Ck, apapun yang terjadi, aku harus menghentikan kekacauan yang akan terjadi."


Siyyara mengumpulkan tekadnya dan langsung berlari menuju ke pagar rumahnya yang tinggi. Dan saat dia menaiki pagar itu, salah satu bodyguard melihatnya. Dan dengan spontan, bodyguard itu langsung berteriak.


"Nona Siyya!"


"Nona Siyyara, tunggu. Nona mau kemana?" Teriak bodyguard itu, hingga membuat para penjaga yang lain segera mengikuti arah pandang temannya itu.


"Cepat beritahu Tuan besar jika nona Siyyara kabur," teriak salah satu penjaga itu dengan panik. Mereka pun segera menyiapkan mobil untuk mengejar putri kesayangan dari tuannya itu. Dan sebagian berlari langsung untuk mengejar Siyyara. Dan yang lainnya menunggu perintah dari tuan besarnya.


**


"APA? BAGAIMANA BISA?"


"Kami tidak tahu tuan, kami mengetahuinya saat nona Siyya memanjat pagar," ujar bodyguard itu dengan takut.


"Dan kau membiarkan nya menaiki pagar yang tinggi itu?" Tanya Dave dengan nada mematikan.


Bodyguard itu hanya diam.


"BODOH! KALIAN BENAR-BENAR BODOH! Jika Siyyara tidak juga kalian temukan, maka kepala kalian lah yang akan menggelinding untuk mencarinya. CEPAT MENYEBAR!"


"Ba-baik Tuan."


Bodyguard itu segera lari terbirit-birit untuk bergabung ke teman-teman nya. Mereka langsung membagi tugas untuk mencari Nona nya itu.


Setelah melihat kepergian para bodyguard nya, Alvian mendekati sang Ayah yang sedang memijat pangkal hidungnya. Alvian tahu jika ayahnya saat ini sedang kalut dan khawatir kepada adiknya itu.


"Dad, tenanglah. Jangan terlalu dipikirkan. Siyyara pasti kembali, memangnya dia bisa pergi kemana? Dia bahkan tidak mengenal wilayah sini," hibur Alvian.


"Dia tidak mengenal wilayah sini, karena itulah Daddy sangat takut."


Alvian menghela napas saat melihat betapa terpuruk nya sang Ayah.


"Dad, apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa tiba-tiba Siyyara kabur dari rumah? Apa Daddy tanpa sengaja mengatakan sesuatu kepadanya?" Tanya Alvian.


Dave menoleh kearah Alvian. Dia berusaha mengingat-ingat kalimatnya sebelum Siyyara tertidur pulas.


"Tidak. Daddy tidak mengatakan apa-apa," jawabnya dengan yakin.


"Apakah Siyyara pergi karena merasa sedih dengan ucapan Gallen?" Sahut Maira.


"Tidak, Mai. Aku kenal seperti apa Siyyara. Meski dia belum mengingat jati dirinya, tetapi dia masih sama seperti dulu. Dia tidak pernah berlarut-larut dalam kesedihan. Dan dia itu gadis aktif yang selalu bertindak semaunya sendiri."


"Aku harus mencarinya sendiri," putus Dave.


"Tidak, Dad. Daddy di rumah saja, biar Alvian yang mencari Siyyara. Daddy jangan kemana-mana," ujar Alvian.


"Tidak, Al. Aku harus mencari nya, aku takut terjadi sesuatu kepada nya," bantah Dave.


"Tapi-"


"Ayo." Mr. Dave langsung keluar rumah dan memasuki mobilnya.


Alvian menggeleng kan kepala melihat kekhawatiran ayahnya.


"Mai, tolong kabari kami jika Siyyara sudah pulang. Kami akan mencari nya."


"Iya, Mas. Jaga diri Mas dan juga Ayah. Semoga Siyyara tidak kenapa-napa," ujar Maira.


"Amin. Kami pergi dulu, assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Alvian pergi menyusul ayahnya yang sudah duduk dengan tidak sabar menunggunya.


"Cepat, Al!" Teriak Mr. Dave.


"Iya, Dad."


******


Siyyara berlari dengan sekuat tenaga nya, dia terkejut saat dia ketahuan oleh bodyguard nya. Dia terus berlari tak tentu arah, hingga akhirnya dia berhenti saat dia membutuhkan istirahat, napasnya terengah-engah, dan dia pun memutuskan untuk bersandar di bawah pohon.


Setelah dia menguasai dirinya, dia membuka matanya lebar-lebar, dia melihat sekelilingnya dengan horor.


"A-aku dimana?"


Jalanan sangat sepi, tidak ada kendaraan satu pun yang melewati tempat itu, hingga di telinga Siyyara hanya terdengar suara jangkrik.


"A-apa aku nyasar?" Siyyara terus melihat sekelilingnya, dia terus berdoa agar ada orang yang datang menolongnya.


"Jika begini sama saja dengan bunuh diri," gerutu Siyyara.


"Semoga saja para bodyguard bodoh nya Daddy cepat menemukan ku. Ini adalah pelarian yang sia-sia. Jika aku melanjutkan berjalan, bisa saja aku makin nyasar."


Siyyara memutuskan untuk berdiam diri di tempat itu, dia pun duduk di tepi batu besar yang ada di pinggir jalan, dia duduk sambil mengamati sekitarnya.


Matanya membulat sempurna saat melihat sorot cahaya mobil. Hatinya senang, dia pun langsung berdiri dan menghentikan mobil itu. Siyyara yakin jika mobil itu adalah salah satu mobil bodyguard ayahnya.


Saat mobil itu sudah berhenti tepat di depan Siyyara, Siyyara menghentikan senyumannya. Siyyara memperhatikan plat mobil itu dengan seksama, dan Siyyara yakin jika itu bukan mobil bodyguard nya.


Tak lama kemudian, penghuni mobil itu keluar, dan Siyyara bergidik ngeri saat keluarlah segerombolan bodyguard. Dan Siyyara tahu pasti jika mereka bukan bodyguard Daddy nya.


"Ma-maaf saya sudah mengganggu perjalanan kalian. Ka-kalian bisa melanjutkan perjalanan kalian kembali," ucap Siyyara dengan takut.


Mereka pun menyunggingkan senyum bahagianya.


"Untuk apa kami melanjutkan perjalanan jika sasaran kami tepat berada di depan kami?" Ujar salah satu diantara mereka.


Siyyara meneguk ludahnya kasar.


"A-apa maksud kalian?" Tanya Siyyara dengan menahan rasa takutnya.


"Cepat bawa dia ke mobil!" Teriak orang itu.


Siyyara yang menyadari jika dirinya dalam bahaya, dia segera berlari lagi dengan kencang. Dan segerombolan bodyguard itu segera mengejarnya.


"Daddy tolong! Kak Alvian!" Teriak Siyyara dengan terus berlari.


"TOLONG!"


Salah satu bodyguard itu berhasil mengejar Siyyara, dia segera mencekal pergelangan tangan Siyyara.


"Lepaskan aku! TOLONG!"


Tak tinggal diam, bodyguard itu segera membekap mulut dan hidung Siyyara dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Hingga akhirnya Siyyara tak sadarkan diri.


"Cepat bawa dia ke Mansion. Bos pasti merasa senang karena incarannya dengan suka rela keluar dari sangkar emas," ucap salah satu bodyguard itu.


"Hahaha, kau benar. Tidak sia-sia kita memantau rumah itu selama berhari-hari, jika hasilnya akan se-memuaskan ini, hahaha. Tanpa menggunakan tenaga, dia dengan suka rela keluar sendiri. Cepat kabari bos sekarang juga," ujar salah satu diantara mereka.


Dengan perasaan senang, mereka memasukan Siyyara ke dalam mobilnya dan mereka bertujuan membawa Siyyara ke Mansion besar milik bos nya.


*****


"Apa kalian sudah menemukan Siyyara?" Tanya Alvian kepada bodyguard nya melalui panggilan telepon.


"Belum, tuan muda. Kami sudah menyebar di semua belokan jalan, tetapi kami tidak menemukan nona Siyyara."


"Lakukan yang terbaik."


"Baik tuan muda."


Alvian menutup panggilan nya dengan gelisah. Dia melirik ayahnya dan terlihat gusar.


"Daddy tenang lah. Siyyara pasti ditemukan."


"Jika Siyyara ada di sekitar sini, sudah pasti mereka akan menemukannya. Tetapi sampai detik ini, kita tak juga menemukannya!" Teriak Mr. Dave frustasi.


"Aku takut jika kejadian 2 tahun yang lalu terulang kembali," lanjut Mr. Dave.


"Tidak. Itu tidak akan terjadi, Dad."


"Kerahkan pasukan rahasia kita, Al. Mereka juga harus ikut serta menemukan Siyyara," pinta Mr. Dave.


"Jika kita meminta bantuan pasukan itu, Kakek akan tahu jika-"


"Aku tidak peduli dengan kemarahan kakek mu, yang terpenting sekarang adalah Siyyara," bantah Dave.


"Baik, Dad."