
Gallen terburu-buru menuju ke kediaman Siyyara saat Siyyara memintanya agar segera datang ke rumahnya sebelum berangkat kerja. Gallen merasakan firasat buruk akan terjadi pada hubungan nya dengan Siyyara.
Gallen segera berjalan menuju rumah Siyyara, dia takut terjadi sesuatu dengan Siyyara. Karena tidak biasanya Siyyara meminta dirinya untuk datang ke rumahnya.
"Permisi, apakah Siyyara ada di dalam?" Tanya Gallen kepada tukang kebun yang sedang menyiram tanaman di depan rumah Damares.
"Ada tuan, di dalam juga ada Mr. Dave dan Tuan muda Alvian."
"Baiklah, terimakasih, pak."
Gallen segera memasuki rumah besar itu dengan langkah kaki cepat. Saat sampai di ruang tamu, dia dikejutkan dengan Mr. Dave yang turun dari tangga dan beberapa ajudannya yang membawa 3 koper besar.
"Kamu sudah datang Gallen?"
Gallen mengangguk kikuk.
"Temuilah Siyyara, dia ada di kamarnya. Aku beri kamu waktu 1 jam untuk berbicara dengan Siyyara."
Gallen mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi. Diberi waktu 1 jam untuk berbicara dengan Siyyara? Kenapa? Bukankah mereka akan terus bisa berbicara.
"Maaf, paman. Apa yang sebenarnya terjadi? Paman mau kemana?"
"Aku akan kembali ke Jerman. Dan Siyyara memutuskan ikut denganku," jawab Dave jujur.
"Apa?" Gallen terkejut bukan main, bahkan Gallen lupa bagaimana cara untuk bernapas dengan baik. Tubuhnya terasa kaku, rasa takutnya semakin menjadi, dan dipikirannya selalu terbayang pada mimpinya. Apakah sekarang Siyyara benar-benar akan meninggalkan nya?
"Cepat temui dia. Dan ingat, Gallen, apapun keputusan Siyyara kamu harus menerima nya."
Penuturan Mr. Dave membuat Gallen semakin cemas. Tanpa pikir panjang lagi, Gallen segera naik ke lantai 2, dia segera menuju ke kamar Siyyara.
*****
Siyyara duduk termenung di tepi ranjangnya, dia menunggu kedatangan Gallen. Siyyara mengumpulkan segenap kekuatannya untuk menghadapi kemarahan dari Gallen. Dia tidak peduli jika Gallen akan membencinya selamanya.
Siyyara benar-benar tidak menyangka jika pria yang menurutnya baik dan bertanggung jawab, bisa melakukan hal seperti itu. Keraguan Siyyara semakin menjadi saat Gallen membohonginya.
Tok tok tok
"Siyyara?" Panggil Gallen di depan pintu kamarnya.
"Masuklah."
Cklek
Tak lama, pintu itu terbuka, dan Siyyara dapat mendengar langkah kaki Gallen yang mendekati nya.
"Siyya, kamu mau kemana?" Tanya Gallen lirih.
"Aku mau ikut Daddy," jawab Siyyara, dia berusaha menghilangkan rasa sesak di dadanya.
"Lalu bagaimana dengan ku? Kamu akan meninggalkan aku sendiri?" Tanya Gallen lagi.
"Gallen, aku ingin hubungan kita sudah cukup sampai disini. Aku tidak ingin melangkah lebih jauh lagi," ujar Siyyara dengan nada pelan.
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin kita putus, Gallen. Aku tidak mau melanjutkan hubungan ini lagi."
"Jangan bercanda Siyya!" Bentak Gallen.
"Aku serius. Aku ingin kita-"
"CUKUP!"
"Apa perhatian ku selama ini kurang? Katakan padaku, Siyya! Apa ada permintaan mu selama ini yang belum aku turuti?"
"Gallen, dengarkan aku-"
"Aku tidak ingin putus. Sampai kapanpun, aku tidak ingin putus!"
"Tetapi aku ingin," sahut Siyyara cepat.
"Apa alasanmu? Mengapa kamu ingin putus?" Tanya Gallen dengan nada dingin.
"Kamu sudah berbohong padaku."
"Bohong? Kapan aku berbohong, Siyya?" Teriak Gallen frustasi.
Siyyara diam, dia menghela napas lelah.
"Kamu yakin tidak pernah merasa melakukan kebohongan?"
Gallen menatap Siyyara dengan tajam, dia juga berpikir keras. Kebohongan apa yang dimaksud oleh Siyyara hingga hubungan mereka berada di ujung tanduk?
"Gallen, kamu memiliki segalanya, kamu diberikan sesuatu yang berharga di hidupmu. Jangan pernah kamu sia-sia kan kebahagiaan itu. Kamu adalah lelaki yang baik, dan berusahalah untuk menerima kenyataan hidupmu. Kamu diberi hadiah oleh Tuhan yang berjuta pasangan diluar sana inginkan," ujar Siyyara.
Gallen menatap wajah Siyyara yang sudah berlinang air mata. Gallen terus menatap Siyyara dengan sendu. Dia masih belum mengerti dengan alasan Siyyara yang memutuskannya.
"Gallen, jangan membohongi dirimu sendiri. Jika memang di masa lalu kamu memiliki kesalahan, kamu bisa menembusnya sekarang juga. Jangan sampai kamu menyesal, Gallen. Berdamai lah dengan masa lalu, maka hidupmu akan tenang."
"Apa maksudmu, Siyya? Jangan berbelit-belit," ujar Gallen setengah emosi.
"Yang tahu hanyalah dirimu sendiri Gallen. Jangan mengingkari sebuah kebenaran. Aku memang masih remaja labil, tapi aku berusaha mengimbangi pemikiran orang dewasa karena kamu. Aku sedih karena kamu. Aku hanya ingin kamu jujur, tetapi kamu berbohong demi menutupi kesalahanmu itu."
Gallen semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Siyyara.
"Kesalahan? Kebohongan? Katakan padaku, apa maksudmu?"
Gallen menahan napas, seluruh tubuhnya menegang dan mengeluarkan keringat dingin. Apakah Siyyara sudah tahu tentang masa lalunya? Tetapi tahu darimana?
"Gallen, selamat. Kamu sudah menjadi seorang AYAH. Jadilah Ayah yang baik untuk anakmu."
"Maaf, aku tidak bisa menerima dirimu beserta masa lalu mu. Aku tidak sebaik itu, Gallen. Apalagi-" Siyyara menutup mulutnya untuk menahan isakannya.
"Meski dia hasil hubungan yang tidak sah, tetapi dia adalah anak yang suci, dia tidak memiliki salah sama sekali. Yang salah dan yang haram adalah hubungan kalian. Hiks," ujar Siyyara dengan terisak.
Gallen jatuh terduduk di hadapan Siyyara. Dia tidak menyangka jika Siyyara akan tahu masa lalunya secepat itu. Gallen ingin marah saat melihat Siyyara kecewa dan menangis karenanya, tapi marah kepada siapa? karena Siyyara menangis karena kebodohannya sendiri. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan kebenarannya, tapi tak disangka Siyyara tahu terlebih dahulu. Dia hanya ingin Siyyara menjadi pendamping hidupnya, tetapi sekarang dia pergi karena kebodohannya sendiri.
"Gallen. Andaikan kemarin kamu mau jujur, pasti aku akan memikirkan ulang hubungan kita. Tetapi kamu lebih memilih berbohong demi menutupi masa lalu mu. Aku bukan perempuan berhati malaikat yang mau menerima kebenaran itu."
"Siyya, jangan pergi," lirih Gallen.
"Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu. Jangan tinggalkan aku, sayang."
"Aku minta maaf. Aku bisa jelaskan semuanya, Siyyara."
"Tidak. Semua sudah terlambat. Aku tidak ingin kejelasan apapun lagi," sahut Siyyara cepat.
"Aku harus segera turun. Daddy pasti sudah menungguku."
"Tidak, Siyya. Kali ini ku mohon dengarkan aku. Aku bisa jelaskan semuanya-"
"Apa yang ingin kamu jelaskan?"
"KAMU INGIN MENJELASKAN BAGAIMANA AIRA BISA LAHIR DARI RAHIM KINAN? KAMU INGIN MENJELASKAN BAGAIMANA KINAN BISA HAMIL ANAKMU?" Teriak Siyyara sejadi-jadinya, dia sudah tidak peduli lagi jika Daddy dan kakaknya akan mendengar teriakkan nya.
"Siyya, aku tidak pernah menyentuh Kinan sejengkal pun. Aku-"
"Kamu benar-benar pria brengsek, Gallen. Kamu sudah menodai kesucian dari wanita, dan kamu tidak mau mengakui nya?"
"Aku membencimu, Gallen."
"Aku bersumpah Siyyara, aku tidak pernah menyentuh Kinan."
Siyyara tersenyum kecut.
"Jika begitu, apakah Aira anakmu?" Tanya Siyyara dengan nada dingin.
"Iya. Iya, dia adalah anakku, dan-"
"Jika Aira anakmu, tentu saja kau pasti sudah menyentuhnya. Apakah ada manusia hamil tanpa disentuh pria?"
"Siyya, dengarkan aku-"
"Sudah ku bilang. Aku tidak ingin mendengar apapun lagi."
"Seumur hidup ku, aku hanya merasakan cinta saat mengenal dirimu. Aku memang pernah menjalin hubungan dengan Kinan. Tetapi itu bukan keinginan ku, Siyya."
Gallen menangis, dia masih terduduk di lantai kamar Siyyara. Dia menunduk menyesali semua yang telah dilakukannya. Andaikan saja dia tidak mengenal Kinan, hidupnya tidak akan terganggu seperti ini.
Siyyara tertegun saat mendengar suara isak tangis Gallen. Apakah Gallen menangis? Apa Gallen menangisinya?
"Siyya, maafkan aku. Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku sangat mencintaimu," ujar Gallen dengan memeluk kedua kaki Siyyara.
"Lepas." Gallen menggeleng keras.
"Gallen, aku membencimu. Lepaskan aku!"
"LEPAS, BRENGSEK!" Umpat Siyyara kasar.
Gallen terpaksa mengendurkan pelukannya, dia menangis tersedu-sedu sambil menunduk.
"Jangan pergi, Siyya."
Tanpa mempedulikan Gallen yang sedang menangis, Siyyara melangkah pelan menuju pintu di kamarnya dengan meraba-raba dinding sekitarnya. Dia ingin segera keluar dari kamarnya.
"Gallen, selamat tinggal. Sebaiknya kamu nikahi Kinan. Rawatlah anak kalian dengan baik. Aku akan lebih senang jika kamu menjadi pria yang bertanggung jawab." Setelah mengatakan kalimat itu, Siyyara keluar dari kamarnya.
Siyyara berjalan pelan untuk menuju ke ujung tangga, saat dia ingin memanggil Daddy nya. Tiba-tiba terdengar suara lembut dari Daddy nya.
"Sayang, kamu sudah selesai berbicara dengan Gallen?" Tanya Mr. Dave yang sudah ada di hadapan Siyyara.
"I-iya, Dad." Siyyara takut jika Daddy nya mendengar ucapannya barusan kepada Gallen.
"Ayo, sayang. Oh ya, mana Gallen?" Tanya Mr. Dave lagi.
Siyyara menghela napas lega saat Daddy nya masih peduli dengan Gallen. Itu berarti Daddy-nya tidak mendengar ucapannya tadi.
"Dia masih di dalam, Dad. Siyya sudah pamit sama Gallen. Ayo Dad, kita ke bandara sekarang."
"Baiklah, ayo."
******
Setelah 2 jam termenung di dalam kamar Siyyara. Gallen akhirnya keluar dari kamar itu, tetapi keadaannya jauh dikatakan baik-baik saja.
Kedua matanya bengkak karena menangis berjam-jam, kemejanya yang sebelumnya tertata rapi, sekarang keluar dari celananya. Dia berjalan ke arah rumah nya seperti orang linglung. Cinta yang dulu ia perjuangkan dengan nyawanya, sekarang telah pergi meninggalkan nya karena kecewa padanya.
Setelah sampai di rumah, Gallen mengurung diri di dalam kamarnya. Dia mengabaikan panggilan penting dari sekretarisnya, dia juga mengabaikan panggilan dari Alan. Dia tidak peduli dengan pekerjaannya lagi. Yang dia inginkan hanyalah Siyyara.
"Siyyara, jangan pergi."
"Maafkan aku," lirihnya.