
Gallen menggeram marah ketika Siyyara benar-benar tidak menuruti perkataannya. Gallen berjalan semakin cepat ke arah Siyyara, dan Gallen menarik lengan Siyyara dengan kencang sehingga membuat Siyyara terjatuh ke pelukannya.
Gallen dan Siyyara saling pandang. Siyyara terkejut karena wajah Gallen sangat dekat dari wajahnya, dan Siyyara merasa takut dengan tatapan Gallen yang sangat pekat, seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Sedangkan Gallen memang sengaja memberi tatapan mematikan kepada Siyyara, dia ingin menunjukkan kepada Siyyara jika dia bukan pria yang takut dengan gertakan wanita.
"Lepas!" Siyyara membalas tatapan Gallen dengan sadis.
Dengan wajah datarnya yang menurut Siyyara sangat menyebalkan, Gallen mencengkram lengan Siyyara semakin kuat, agar Siyyara tidak bisa kabur.
"Jika kau masih memberontak, aku tidak segan-segan mencium mu di tempat ini," ujar Gallen setengah berbisik dengan nada lembut, namun mematikan.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu, karena aku tahu kau tidak akan berani melakukan nya," ejek Siyyara.
"Jika aku berani, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Gallen.
"Tentu saja melapor kepada polisi."
"Atas tuduhan?" Gallen memiringkan wajahnya sedikit, sehingga tatapan tajamnya mampu membuat Siyyara gelimpungan sendiri.
Siyyara terpaku sejenak karena begitu terpesona dengan wajah menawan dari Gallen. Gallen memang tampan, tetapi Siyyara tidak akan mengakui hal itu, karena bagi Siyyara, Gallen adalah makhluk pengganggu yang dikirim kakaknya untuk merusuhi dirinya.
"Atas tuduhan?" Tanya Gallen lagi, karena Siyyara masih terdiam.
"A-atas tuduhan pelecehan kepada gadis dibawah umur," jawab Siyyara dengan kalimat cepat karena ingin menghilangkan kegugupannya.
"KAU GILA!" Bisik Gallen tepat di depan wajah Siyyara, sehingga wajah mereka hanya berjarak 5 cm.
"Aku tidak peduli! Sekarang, lepaskan aku! Aku tidak mau menjadi pacar bohonganmu, aku tidak ingin menjadi pajangan mu demi agar kau tidak didekati para wanita, aku tidak suka kau mengganggu kehidupanku!" Ujar Siyyara setengah teriak.
"Baiklah, sekarang kau adalah PACAR RESMI KU. Sekarang kau bukan pacar bohonganku lagi. Kau sekarang adalah kekasih dari Gallen Altara Damestria. Dan Gallen tidak menerima penolakan apapun dan dari siapapun."
"Kau gila Gallen! Aku tidak mau!"
"Aku tidak penerima penolakan."
Siyyara frustasi menghadapi sifat Gallen yang tidak bisa ia tebak sama sekali. Apakah Gallen memang merencanakan semua ini demi membalas dendam padanya karena telah sering menghina Gallen? Ataukah ini hanya jebakan Gallen? Atau bahkan sandiwara untuk mempermalukan dirinya? Baiklah, akan Siyyara turuti permainan Gallen sebagaimana semestinya.
"Baiklah jika itu maumu," jawab Siyyara tiba-tiba.
Gallen membulatkan matanya karena terkejut dengan jawaban Siyyara.
"Tapi ada syaratnya," ucap Siyyara lagi.
Gallen berusaha menormalkan ekspresinya kembali. Dan sekarang, Gallen telah memasang wajah super datarnya untuk menanggapi syarat dari Siyyara.
"Katakanlah." Gallen mengikuti keinginan dari Siyyara.
"Di dalam hubungan ini, kau harus menuruti semua keinginanku, jika satu hal saja kau tidak menurutinya, maka saat itu juga kita PUTUS. Kau harus mengutamakan diriku daripada urusanmu yang lain, termasuk pekerjaan mu. Bagaimana? Apa kau setuju?" Siyyara menyampaikan syaratnya dengan kalimat seperti ancaman. Siyyara sangat yakin jika ucapannya kali ini akan membuat Gallen menjauhinya, karena Siyyara tahu betapa selama ini Gallen begitu rinci membagi waktunya demi Rumah sakit dan perusahaannya.
Bagiamana Siyyara bisa tahu? Tentu saja karena Siyyara memiliki Intel yang sangat akurat, yaitu Alvian.
"Baiklah, aku setuju." Gallen mengangguk dan mengelus kepala Siyyara dengan lembut.
"Sekarang, ayo kita masuk. Semua orang pasti menunggu acara potong kuenya," ujar Gallen dengan menautkan jemarinya dengan jemari Siyyara.
Siyyara terkejut bukan main. Bukan ini keinginannya, Siyyara memberi syarat yang sangat sulit agar Gallen membatalkan niatnya. Keterkejutan Siyyara bertambah ketika Gallen mengubah tata cara bicaranya yang semula dingin menjadi lembut.
Siyyara sangat pusing sekarang, dia tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada Gallen. Apa yang membuat Gallen ingin menjadikannya kekasih?
"Gallen, aku....."
"Panggil aku Kakak," pinta Gallen.
Siyyara membuka mulutnya lebar-lebar dan membulatkan kedua mata indahnya. Kali ini sungguh Siyyara tidak mengerti, sangat tidak mengerti.
"Tapi Gallen....."
"KAKAK." Tegas Gallen dengan suara pelan dan penuh penekanan.
Siyyara menggigit bibir bawahnya, perasaannya sangat gusar. Mengapa Gallen bersikap seperti ini? Apa yang telah terjadi? Rasanya Siyyara benar-benar ingin kabur dari hadapan Gallen sekarang juga. Siyyara sangat takut, karena Siyyara tidak percaya dengan kata Cinta, dan Siyyara tidak akan pernah percaya.
Tapi Gallen kan tidak mengatakan perasaan Cinta kepadanya, mana mungkin Siyyara harus menjalani sebuah hubungan tanpa rasa cinta? Dan bagi Siyyara, cinta adalah kata-kata tabu dan sangat menjijikan untuk di ucapkan. Dan Siyyara tidak akan pernah terjebak dalam hubungan ini.
"Apa yang sedang kau fikirkan, dek?" Tanya Gallen.
Siyyara berjingkrak kaget dengan panggilan Gallen untuknya. Tidak, ini tidak boleh berlangsung lama. Dia harus memikirkan berbagai cara agar Gallen segera memutuskan dirinya.
"Ti-tidak ada. A-aku hanya kaget dengan semua ini," ujar Siyyara.
"Iya, kakak tahu. Ayo."
Mau tidak mau, Siyyara melangkahkan kakinya dengan sangat terpaksa, hingga dirinya harus tersandung batu beberapa kali, karena tidak memperhatikan jalan.
*****
Tristan berdiri dari lantai 2 dan memperhatikan perlakuan kakaknya yang terlihat sangat pengertian kepada Siyyara. Meski tidak mendengarkan percakapan mereka, Tristan melihat jika Siyyara marah kepada Gallen dan Gallen berusaha membujuk agar Siyyara tidak marah lagi.
Tristan sangat tahu jika Siyyara hobinya selalu marah, pasti kakaknya kewalahan dengan sifat kekanakan Siyyara.
Tristan tersenyum miris, dia yang mencintai Siyyara selama ini dan kakaknya lah yang berhasil membuat Siyyara luluh. Meski rasanya sangat sakit, tetapi asal mereka bahagia, Tristan juga akan bahagia.
"Aku akan menjadi orang pertama yang akan selalu melindungi hubungan kalian, karena aku tahu setelah ini media akan gempar dengan berita hubungan mereka berdua. Tapi selama aku ada, aku yang akan melindungi mereka berdua." Tristan menarik napas dalam dan menghembuskannya, agar rasa sesak di dadanya memudar.
"Siyya, jika kebahagiaan mu hanya bersama kak Gallen, aku akan melepaskan mu dengan ikhlas. Karena aku juga ingin kakakku merasa bahagia," ujar Tristan sendu.
Tristan tersenyum saat melihat Gallen yang sangat mencemaskan Siyyara karena Siyyara beberapa kali tersandung batu. Dan hal itu lah yang membuat Gallen ingin berada di posisi kakaknya. Tapi pemikiran itu segera di tepis oleh Tristan, karena Tristan tidak ingin menjadi penghalang untuk kebahagiaan kakaknya.
*****
"Kau terluka?"
"Ti-dak. Ini tidak apa," jawab Siyyara seadanya.
"Lebih baik kita pulang saja, sepertinya kau membutuhkan istirahat," ujar Gallen.
"Ta-tapi, pestanya?"
"Ada Tristan, dan juga Mr. Nara yang bisa menghendel semuanya," jawab Gallen.
"Ayo!" tanpa menunggu persetujuan dari Siyyara, Gallen segera menggendong Siyyara ala bridal style, dan membawa Siyyara menuju ke arah parkiran mobil.
"Turunkan aku."
"Jangan membantah." Lirikan Gallen membuat nyali Siyyara menciut.
"Biarkan aku jalan kaki." Siyyara berusaha memberontak.
"Tidak."
"LEPASKAN AKU!" Teriak Siyyara kencang, hingga membuat Gallen memejamkan kedua matanya karena telinganya berdenging akibat suara cempreng Siyyara.
"Yakin?" Tanya Gallen.
"Yakin apa?" Siyyara balik bertanya karena kurang paham.
"Yakin ingin ku lepaskan?"
"Iya," jawab Siyyara singkat.
"Baiklah," jawab Gallen.
Dengan wajah tanpa dosa, Gallen melepaskan tubuh Siyyara dari gendongannya.
"AGHHHHTTTT!"
"APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH?" Teriak Siyyara dengan menahan nyeri di seluruh tubuhnya. Siyyara berusaha menahan diri agar tidak menangis di hadapan pria datar seperti Gallen.
"Kau yang minta." Gallen menampilkan wajah tanpa dosa dan dengan santainya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Brengsek!"
"Mulutnya," tegur Gallen.
"Ini salahmu! Mengapa kau melemparku, ha? Ini sakit sekali," keluh Siyyara.
"Kan kamu sendiri yang ingin ku lepaskan."
"Dasar bodoh!"
"Aku pintar," ucap Gallen.
Siyyara menggigit bibit bawahnya dan mencengkram pinggangnya karena memang terasa sangat nyeri. Dalam hati, Siyyara mengucapkan sumpah serapah untuk si datar Gallen. Siyyara tidak sabar ingin mengadu kepada Alvian atas perbuatan Gallen kepada dirinya yang melampaui batas.
"Awas saja kau," batin Siyyara.
"Apa lihat-lihat?"
Siyyara mengalihkan pandangannya ke arah lain, bukan karena takut dengan Gallen, melainkan karena sangat kesal dan marah kepada Gallen, karena Gallen telah memperlakukan seorang perempuan dengan kasar.
Saat Siyyara ingin berdiri, Gallen segera mengulurkan tangannya untuk membantu Siyyara. Tetapi tangan itu segera di tepis dengan kasar oleh Siyyara, karena Siyyara tidak ingin ditolong oleh orang yang telah memperlakukan dirinya dengan kasar.
"Jangan berani menyentuhku. Aku sangat membenci mu, Gallen."
"Panggil aku dengan sebutan Kakak, karena aku lebih tua darimu."
"TIDAK! AKU TIDAK MAU," Teriak Siyyara sambil menahan tangis.
Gallen mengendurkan wajah datarnya saat melihat Siyyara menangis, dia berfikir jika Siyyara itu gadis brutal dan hatinya juga sekeras batu, tetapi mana Gallen tahu jika Siyyara tetaplah seperti gadis-gadis lainnya yang memiliki perasaan yang lemah.
"Siyya, maafkan...."
"DIAM! AKU TIDAK MAU MENDENGAR APAPUN LAGI. AKU SANGAT MEMBENCIMU!"