The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
27. Kebohongan



"Bagaimana kabarmu, Len?" Tanya wanita itu dengan nada lembut, seolah ingin menunjukkan kepada Siyyara jika dirinya dengan Gallen sudah kenal dan sangat dekat.


"Aku baik-baik saja. Ada apa kamu kemari?" Tanya Gallen to the point.


"Aku khawatir kepada mu, Len. Dan aku juga ingin memberitahukan jika Aira sangat merindukan mu," ujar wanita itu langsung pada point nya.


Gallen membulatkan kedua matanya dengan lebar. Kedua tangannya terkepal kencang saat wanita itu menyebut nama Aira. Gallen melirik Siyyara yang masih duduk diam di tempatnya, bahkan ekspresinya seperti tidak peduli sama sekali.


"Kinan, bisakah bicaranya lain kali saja? Aku sedang ingin istirahat." Gallen berusaha sebaik mungkin menutupi perasaan gugupnya.


Kinan tersenyum maklum saat melihat keberadaan Siyyara.


"Baiklah, jika kau sudah pulang dari sini, temui lah Aira, dia selalu menanyakan dirimu terus," ujar Kinan sengaja agar Siyyara mendengar ucapannya.


"Hm," gumam Gallen.


"Aku permisi," pamit Kinan.


Kinan keluar dari ruang rawat inap Gallen dengan senyum kebahagian. Dia senang karena setidaknya Gallen mau bertemu dengan Aira, dia tidak peduli jika Gallen sangat marah padanya, dan Kinan juga tidak peduli dengan pacar Gallen saat ini.


***


"Aira itu siapa?" Tanya Siyyara setelah merasa Kinan sudah keluar.


Gallen menatap Siyyara dengan tatapan lembut.


"Maaf, saat ini aku belum bisa cerita. Aku butuh waktu, Siyya."


"Iya, tidak apa. Kamu harus ingat, Gallen. Bahwa aku tidak suka di bohongi," seru Siyyara Dy datar.


Gallen meneguk ludahnya kasar. Dia memejamkan mata nya sebentar, lalu membuka mata itu kembali dengan menarik napas panjang dan menghembuskan nya.


"Iya, Siyyara. Aku tahu itu, dan aku ingin kau juga selalu mempercayai ku," ucap Gallen.


"Saat ini aku belum bisa mempercayai mu sepenuhnya karena kamu belum menceritakan padaku apa hubungannya dirimu dengan Aira dan Kinan."


Gallen gusar, dia takut. Sungguh dia sangat takut jika harus kehilangan Siyyara, dia tidak ingin Siyyara tahu akan masa lalunya, dia tidak ingin Siyyara pergi karena mengetahui masa lalunya.


"Gallen?"


"Iya," jawab Gallen cepat.


"Aku beri waktu kamu untuk jujur, dan pergunakan kesempatan yang sudah ku beri itu dengan baik," ujar Siyyara.


Gallen mengangguk paham.


"Iya, aku akan bercerita ketika aku sudah siap."


"Kamu tahu? Perkataan mu membuatku takut, Gallen."


"Takut?" Gallen menyerngitkan keningnya.


"Jika masa lalu mu biasa saja, pasti kamu akan menjawabnya saat ini juga ketika aku bertanya."


"Tapi kamu bilang, kamu akan menceritakan semua ketika kamu sudah siap. Apakah sebegitu pentingnya kah masa lalu mu itu?"


"Kamu harus tahu, jika aku tidak menyukai dibohongi," lanjut Siyyara.


"Aku mengerti." Gallen menatap Siyyara dengan tatapan teduh.


******


"Aghhhhtttt! Brengsek!"


Brakk


"Sialannn!" Umpat pria itu.


"Bos, kami juga mendapatkan informasi jika Mr. Dave saat ini sedang ada di Jakarta. Kita akan kesulitan untuk membawa gadis itu kemari, Bos."


"DIAM!"


"Ini semua gara-gara kalian. Jika saja ketua kalian tidak menembakkan pelurunya ke mobil Gallen, Siyyara tidak akan buta. Dan Dave tidak akan ada di Jakarta! Dasar bodoh!" Pria itu marah dan terus membuang semua barang-barang yang ada di ruang kerjanya.


"Ma-maaf Bos. Kami janji, kali ini kami tidak akan membuat kesalahan lagi. Kami akan membawa Nona Siyyara ke hadapan Bos dengan hidup-hidup," ujar kelompok Mafia itu.


"Tidak. Untuk saat ini jangan dulu," sahut pria itu.


"Aku punya rencana yang jauh lebih baik, tetapi kita harus menunggu waktu yang tepat." Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya dengan tersenyum iblis.


"Jika Gallen tetap menghalangi jalanku, maka jangan salahkan aku jika aku akan menghabiskan juga," tambah pria itu.


*****


Waktu telah berlalu dengan cepat, Gallen pun diizinkan pulang setelah kondisinya membaik. Setelah kejadian 1 bulan yang lalu saat Siyyara hampir diculik oleh seseorang, Gallen selalu menjaga Siyyara dengan ketat. Dan selama itu juga, dia belum memberitahukan masa lalunya kepada Siyyara. Gallen masih merasa takut, takut jika Siyyara akan meninggalkan nya.


Gallen memandang Siyyara yang tengah duduk di ayunan yang ada di taman rumah keluarga Damares. Melihat Siyyara yang sepertinya tengah kesepian, Gallen mendekat dan duduk di samping gadisnya.


"Gallen?" Tanya Siyyara saat merasakan seseorang sedang duduk di sampingnya.


"Iya, aku ngagetin kamu ya?"


"Tidak. Aku kira tadi siapa," ujar Siyyara pelan.


Siyyara menyerngitkan dahi saat Gallen hanya diam saja. Dan Siyyara merasa Gallen ingin mengungkapkan sesuatu, tetapi dia ragu ingin mengatakan nya. Apakah Gallen ingin menceritakan tentang masa lalunya?


"Gallen, ada apa?" Gallen menjawab dengan gelengan kepala, tetapi saat dia menyadari jika kekasihnya masih belum bisa melihat, Gallen segera mengeluarkan suaranya.


"Siyya, aku punya kabar baik untukmu," ujar Gallen sambil mengulum senyum.


Siyyara masih menatap ke depan dengan datar.


"Apa?" Tanya Siyyara.


"Siyya, sebentar lagi kamu akan bisa melihat lagi," ujar Gallen.


"Ap-apa?"


"Iya, ada seseorang yang dengan suka rela mau mendonorkan kedua matanya untuk seseorang yang membutuhkan, dan Alan memberi tahuku tadi pagi. Aku ingin agar kamu yang mendapatkan mata itu, Siyya."


"Tapi, bagaimana bisa? Siapa orang itu?"


"Aku juga tidak tahu, Siyya. Dia  adalah korban kecelakaan, sebelum meninggal, dia menyampaikan pesan itu kepada dokter yang menanganinya."


"Siyya, kamu mau kan menjalani operasi transplantasi mata? Aku ingin agar kamu bisa melihat lagi. Bukankah kamu ingin agar bisa bersekolah kembali?"


Siyyara menunduk, wajahnya berubah menjadi sendu.


"Gallen, apakah keluarganya tahu tentang hal ini?"


"Aku masih berusaha mencari tahu keberadaan keluarganya. Tapi kamu mau kan menjalani operasi itu?" Tanya Gallen untuk memastikan.


Siyyara mengangguk ragu.


"Gallen, aku mau menjalani operasi setelah keluarga orang itu benar-benar mengizinkannya," ujar Siyyara.


"Kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja." Gallen mengelus rambut Siyyara dengan pelan.


"Gallen."


"Apa kamu sudah siap untuk cerita?" Tanya Siyyara.


"Kamu ingin tanya apa?" Tanya Gallen balik.


"Siapa itu Aira? Dan mengapa Kinan seperti sudah lama mengenal mu? Apa hubungannya Aira dan Kinan?"


"Mana dulu yang harus aku jawab?" Tanya Gallen pelan sambil tersenyum.


"Siapa Aira?" Ulang Siyyara.


"Dia adalah keponakan ku," jawab Gallen mantap.


"Keponakan?"


"Iya, dia anak dari saudaraku."


"Lalu apa hubungannya Aira dengan Kinan?"


"Dia adalah anak Kinan," jawab Gallen ragu.


"Anak? Jadi Kinan sudah punya anak?"


Gallen menghela napas, dia sungguh takut jika Siyyara akan bertanya lebih banyak lagi.


"Iya, Siyya."


"Lalu mengapa Kinan tadi mengatakan jika Aira kangen dengan mu? Apa kalian sangat dekat?"


"Iya begitulah. Dia dari dulu selalu nempel padaku," ujar Gallen.


Siyyara menggigit bibir bawahnya, entah mengapa perasaan Siyyara sangat resah. Tiba-tiba hatinya menjadi gelisah dan juga takut.


"Gallen. Kamu dan Kinan terlihat sangat dekat, apa sebelumnya kamu memiliki hubungan khusus dengannya?"


"Itu-"


"Sayang. Kamu dimana?" Teriak Dave dari dalam rumah.


"Siyyara?" Panggil Dave lagi.


"Siyya, Daddy mu sedang mencarimu. Akan aku katakan jika kamu sedang ada disini, tunggu sebentar ya," ujar Gallen dan langsung pergi meninggalkan Siyyara yang masih duduk di ayunan.


Air mata Siyyara menetes, entah apa yang ia tangisi, Siyyara tidak tahu. Hatinya sangat sakit saat tiba-tiba Gallen menghindari nya, meski sebelum pergi Gallen mengatakan ingin mengatakan keberadaan nya kepada Mr. Dave, tapi Siyyara memiliki pemikiran jika Gallen pergi karena ingin menghindari pertanyaan nya.


"Hiks."


Siyyara segera menghapus air matanya saat mendengar suara langkah kaki.


"Hiks." Siyyara masih terisak kecil, dan hal itu tak luput dari pandangan Mr. Dave.


"Ya Allah, Sayang. Kenapa menangis?" Mr. Dave segera menghampiri dan memeluk putri kecilnya.


"Siapa yang membuatmu menangis, sayang?" Siyyara menjawab dengan gelengan kepada di dalam pelukan Mr. Dave.


"Sudah jangan menangis." Mr. Dave menghapus air mata putrinya dengan lembut.


"Sayang, Daddy besok harus kembali ke Berlin. Kamu tidak apa kan Daddy tinggal lagi? Daddy hanya 1 Minggu di sana, Siyyara. Daddy janji, setelah urusan Daddy selesai, Daddy akan langsung kembali ke Jakarta," ujar Mr. Dave.


"Siyya tidak apa, Dad. Daddy pergilah, sudah seharusnya Daddy kembali ke Jerman. Siyya mengerti dengan kesibukan Daddy. Siyyara janji, Siyya akan menjaga diri Siyya dengan baik, lagipula disini masih ada kak Alvian, Dad."


"Iya, tapi Alvian selalu saja sibuk di Kantor."


"Dad, Siyya sangat tidak suka jika diperlakukan seperti anak kecil. Dan Daddy juga jangan memaksakan diri untuk ke Indonesia lagi, karena Siyyara tidak mau Daddy kecapekan karena sering bolak-balik dari Jerman ke Indonesia."


Mr. Dave tersenyum, dia tidak menyangka jika putrinya yang dulu selalu membelot, kini telah menjadi gadis yang lembut. Apakah dirinya yang selama ini tidak pernah tahu watak asli dari putrinya?


"Oh ya, Daddy sangat senang ketika Gallen mengatakan jika dia sudah mendapatkan pendonor mata untuk dirimu, sayang. Selamat ya, sebentar lagi Siyyara akan bisa melihat kembali."


"Dan maaf karena Daddy tidak bisa mendampingi Siyyara," lanjut Mr. Dave.


"Tidak apa, Dad. Siyyara mengerti." Siyyara tersenyum manis.


"Siyya."


"Iya, Dad?"


"Daddy sangat senang dengan perubahan mu. Daddy sangat berterima kasih kepada Gallen, karena dia bisa membuat putri Daddy yang sangat nakal ini menjadi pribadi yang lembut," ujar Mr. Dave.


"Gallen?" Gumam Siyyara pelan. Siyyara tersenyum hambar.


"Ada apa, sayang?"


Suasana hatinya kembali memburuk saat Daddy-nya mengucapkan nama Gallen. Ingin rasanya Siyyara pergi menjauh dari Gallen untuk selamanya. Sepertinya itu ide yang bagus. Tetapi dia harus memberikan alasan yang jelas kepada Gallen nanti.


"Siyyara ingin ikut Daddy," lirih Siyyara. Mr. Dave hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan Siyyara.


"Apa Gallen telah membuatmu marah, sayang?" Tanya Mr. Dave dengan menggoda putrinya.


"Tidak, Dad. Tidak ada hubungannya dengan Gallen. Aku ingin merasakan hidup disana bersama Daddy dan kakek. Apa boleh?" Pinta Siyyara dengan memohon.


"Apa Gallen sudah tahu niatmu ini?" Mr. Dave berusaha memastikan lagi.


"Belum, dad. Siyya akan memberitahu nya saat dia datang kemari besok," jawab Siyyara ragu.


"Lalu untuk operasi mu? Apa kamu akan membatalkan nya?"


"Siyya ingin operasi di Jerman saja, Dad. Kita nanti cari seorang pendonor lagi."


"Tapi, Siyya. Kenapa? Disini bahkan Gallen sudah menyiapkan semuanya? Ada apa, sayang? Katakan pada Daddy, apa yang sedang kau fikirkan?"


Bukannya menjawab, Siyyara justru menangis dengan kencang. Pertahanan yang sedari tadi ia pasang, sekarang hancur lebur karena tidak kuasa menahan rasa sakit.


"Katakan pada Daddy Siyyara. Apa kamu ingin menghindari Gallen?" Tanya Dave yang kesekian kalinya, karena ia ingin memastikan sendiri, apakah Siyyara bahagia bersama Gallen atau tidak.


"Baiklah, keputusan ada di tangan mu, nak. Yang penting kamu bahagia dengan jalan yang kamu ambil."


"Tapi, kamu juga harus memikirkan bagaimana perasaan Gallen saat kamu pergi nanti," jelas Dave.


Siyyara diam sambil menahan isakannya.


"Daddy juga pernah muda, Siyya. Kamu harus tahu alasan Daddy menyetujui hubungan kalian berdua. Daddy melihat rasa cinta yang begitu besar di hati Gallen untuk kamu. Daddy dulu memang sangat mencintai Mommy mu, tetapi perasaan cinta Daddy tidak sebanding dengan cinta Gallen untuk mu, nak. Jangan sia-sia pria baik seperti Gallen. Karena Daddy juga pernah ada di posisi Gallen, nak."


"Perasaan nya sangat tulus untuk Siyyara. Selama ini Daddy belum pernah melihat seorang pria yang seperti Gallen, bahkan Gallen selalu menjaga jarak dengan wanita lain, nak." Dave berusaha meyakinkan putrinya.


"Daddy tidak tahu apa yang saat ini Siyya alami, Daddy belum tahu siapa Gallen yang sebenarnya. Daddy tidak akan pernah bisa mengerti perasaan Siyyara."


"Apa maksudmu Siyyara?"


Siyyara kembali menangis lagi, kali ini suara tangisan Siyyara terdengar lebih menyakitkan, Mr. Dave langsung memeluk Siyyara, untuk menenangkan nya.


"Di-dia sudah berbohong, Dad. Saat Siyyara tahu yang sebenarnya, Siyyara berusaha menerima dirinya apa adanya. Tetapi Siyyara sangat marah saat dia menjawab pertanyaan Siyyara dengan kebohongan, dia berbohong untuk menutupi kesalahannya, Dad," ujar Siyyara dengan sesegukan.


"Siyya, sudah cukup sayang. Jangan menangis lagi. Jika kamu akan bahagia saat ikut bersama Daddy, maka Daddy akan membawamu ke Berlin. Kita akan hidup disana disana dengan tenang."


Siyyara masih menangis, perasaan nyamannya sudah terlanjur tumbuh saat bersama Gallen. Apakah dia mampu hidup di negara lain tanpa ada Gallen?