The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
24. Maaf



Alvian masuk ke dalam ruang rawat inap Siyyara dengan langkah kaki pelan, tanpa menimbulkan suara apapun.


Dia berjalan mendekati Siyyara yang masih tertidur pulas di ranjangnya, lalu apakah ketika Siyyara tahu dirinya buta, dia akan tetap ceria seperti sebelumnya? Atau gadis itu akan terlarut dalam kesedihan nya? Yang pasti, semuanya akan berubah.


Alvian duduk di sofa ruangan itu, dia berfikir jika Siyyara masih tidur karena obat penenang, tetapi yang sebenarnya gadis itu berusaha menahan tangis saat tahu kakaknya masuk ke ruangannya dengan diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Siyyara telah terbangun sedari tadi, sebelum Alvian datang.  Tetapi dia berusaha memberanikan diri di ruangan itu sendiri dengan kegelapan, dia menahan dirinya untuk tidak berteriak atau memanggil seseorang saat kedua matanya di perban, bahkan sebelum kedua matanya di perban dia sudah tidak bisa melihat, dan dia yakin jika setelah perbannya di buka, ia akan buta karena pecahan kaca itu.


Meski Siyyara menahan bibirnya rapat agar tidak menimbulkan suara isakan.


"Hiks." Tetapi sekuat apapun ia menahan tangisnya, suara isakan itu tetap keluar dari bibirnya. Sehingga membuat Alvian yang duduk di salah satu Sofa, segera berdiri dan menghampiri Siyyara.


"Siyya, kamu sudah sadar, dek?"


Siyyara diam, dia masih menahan tangisnya.


"Maafkan kakak. Lagi-lagi kakak gagal melindungi mu, kakak minta maaf." Alvian mengelus puncak kepala Siyyara dengan lembut.


"Kak." Suara Siyyara terdengar serak.


"Iya? Ada apa, Siyya?"


"Bagaimana dengan Gallen?"


Alvian membisu, dia tidak tahu harus berkata apa, dia tidak ingin membuat adiknya semakin khawatir dengan Gallen. Dan tidak mungkin Alvian katakan jika baru saja detak jantung Gallen sempat berhenti, sehingga membuat para dokter kalang kabut, mereka semua bekerja keras dan bersatu untuk menyembuhkan Gallen. Dan setelah berjuang berjam-jam, akhirnya detak jantung Gallen kembali berdetak.


"Kak?"


"Gallen ada di ICU."


"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Siyyara dengan nada bergetar.


"Iya, dia baik-baik saja, hanya saja dia belum sadarkan diri," jawab Alvian setengah berbohong. Dia hanya tidak ingin Siyyara semakin banyak pikiran setelah tahu kondisi Gallen yang sebenarnya, sudah cukup Siyyara tertekan karena tidak bisa melihat, dia tidak ingin menambah beban pikiran adiknya.


"Kak, setelah Gallen sadar. Siyya ingin ikut Daddy ke Jerman."


Alvian mendongak untuk melihat wajah Siyyara. Alvian tidak menyangka jika Siyyara akan berkata seperti itu, karena dahulu Daddy-nya sering mengajak Siyyara untuk ikut bersamanya, tetapi Siyyara dengan tegas menolak ajakan Daddy-nya. Lalu sekarang? Mengapa Siyyara ingin ikut Daddy nya ke Jerman?


"Ada apa, Siyya? Mengapa kamu ingin ikut Daddy?"


"Siyya hanya merindukan Daddy, kak. Sudah lama Siyyara tidak bersama Daddy, bahkan sekarang Siyyara tidak bisa melihat wajah Daddy lagi. Siyyara ingin, meski Siyyara tidak bisa melihat, Siyyara tetap merasakan kasih sayang Daddy lagi. Bahkan Siyyara sudah lupa bagaimana suara Daddy yang nyata, karena selama ini Siyyara hanya mendengar kan suara Daddy melalui telepon saja. Sudah lama Siyyara merindukan Daddy, Siyyara hanya ingin Daddy memperhatikan Siyyara seperti dulu lagi."


Tanpa sadar air mata Alvian menetes deras, entah mengapa perkataan Siyyara membuat dadanya sangat sesak.


"Kak, apakah Daddy datang saat tahu Siyyara sedang berada di Rumah Sakit?" Tanya Siyyara lirih.


Alvian mengangguk, dia ingin mengucapkan kata 'Iya' tetapi dia takut yang keluar dari mulutnya adalah suara isakan.


"Sayang," panggil seseorang, Alvian segera menoleh ke arah sumber suara, begitu pun Siyyara. Siyyara tahu bahwa suara itu nyata, orang itu berada di depan pintu ruangan itu.


"Da-daddy?" Gumam Siyyara.


Alvian menyunggingkan senyum nya ketika Daddy nya benar-benar datang untuk menemui Siyyara.


"Iya sayang. Ini Daddy," ucap Dave yang semakin mendekat kepada Siyyara.


"Daddy, Daddy ada dimana?" Siyyara meraba-raba sampingnya.


"Daddy disini, sayang." Dave meraih tangan anak gadisnya yang sedang mencari keberadaan nya dan segera memeluknya dengan erat untuk melepas rindu.


"Maafkan Daddy."


"Maafkan Daddy. Daddy sangat menyayangi mu, maaf karena tidak pernah menjenguk mu, sayang." Dave menciumi puncak kepala Siyyara dengan sayang.


"Dad, Siyyara ingin melihat wajah Daddy, tapi sekarang Siyyara tidak bisa melihat Daddy saat Daddy datang." Siyyara mengeratkan pelukannya kepada daddy-nya.


"Tidak apa, sayang. Daddy akan mencari pendonor mata untuk Siyya, agar Siyya bisa melihat lagi," ujar Dave pelan.


Siyyara menggeleng cepat.


"Tidak, Dad. Jika Siyyara sembuh, Daddy pasti akan meninggalkan Siyyara lagi, Siyyara tidak mau."


"Sayang, jangan berkata seperti itu. Maafkan Daddy, Daddy tidak akan menelantarkan Siyya lagi. Daddy tidak akan meninggalkan Siyyara lagi. Mulai sekarang, Daddy akan tinggal di sini bersamamu, Sayang."


Alvian menatap Daddy dengan perasaan haru. Apakah daddy-nya berkata benar?


"Sungguh, dad?" Tanya Alvian memastikan lagi, mengingat Damares Corp sangat membutuhkan sosok Daddy-nya.


"Akan Daddy usahakan."


"Kakek akan menentang keputusan Daddy. Sebaiknya Daddy tetap di Jerman, jika sewaktu-waktu Daddy merindukan kami, Daddy bisa datang ke Indonesia lagi, atau biar kami yang datang ke Jerman, Dad," usul Alvian.


"Iya, Dad. Daddy tidak perlu memaksakan diri untuk tinggal di Jakarta. Karena Siyyara sudah memutuskan untuk tinggal bersama Daddy di Berlin." Kalimat Siyyara membuat Dave membulatkan kedua matanya.


"Sayang, apa yang kau katakan? Apa yang membuat mu ingin tinggal bersama Daddy?"


"Dad, Siyya-"


"Jawab dengan jujur, Siyya," pinta Dave.


Siyyara diam dan menunduk.


"Sayang, Daddy tidak masalah jika kamu ingin ke Jerman, tetapi bagaimana dengan Gallen? Dia sekarang sedang berjuang diantara hidup dan matinya, Sayang. Dia sedang koma, dia bahkan sempat kehilangan detak jantungnya berkali-kali."


"Apa kamu tega meninggalkan nya disaat dia sedang melawan maut?"


Siyyara seketika menangis, dia menangis dengan keras setelah tahu jika Gallen saat ini sedang Koma.


Dave semakin bingung, Dave pun menatap ke arah Alvian untuk meminta penjelasan. Dan Alvian pun menjelaskan semuanya.


"Dad, Siyyara belum tahu jika kondisi Gallen sangat kritis. Yang Siyyara ketahui saat ini, Gallen baik-baik saja. Maka dari itu Siyyara tadi berkata jika dia akan pergi bersama Daddy setelah Gallen sadar kembali," jelas Alvian.


Dave memandangi putrinya, dia mengelus rambut Siyyara dengan sayang.


"Sayang, apa yang membuatmu ingin pergi dari Jakarta?"


"Hiks, Siyyara merindukan Daddy. Selain itu, Siyyara juga tidak ingin merepotkan Gallen lagi, Dad. Siyyara sudah buta, cukup keluarga Siyyara saja yang Siyyara repotkan nanti. Gallen berhak bahagia dengan wanita lain yang lebih baik dari Siyyara, Dad."


"Apa kamu tahu sebesar apa cinta Gallen untukmu?" Tanya Dave sambil menatap putrinya dengan lembut.


Siyyara diam.


"Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk dirimu, Sayang. Jadi jangan berpikir untuk meninggalkan nya, jadilah penyemangat hidup nya, sayang. Gallen akan sedih jika Siyyara meninggalkan nya."


*******


"Gallen, cepatlah sadar. Jangan membuat Mama menjadi khawatir," ujar Amanda yang sedang menjaga Gallen.


"Ma, sebaiknya Mama istirahat di rumah, biar Tristan yang menjaga kak Gallen."


"Tidak, Tristan. Mama ingin menjaga nya."


"Ma, jika Mama sakit karena kecapekan menjaga kak Gallen. Kak Gallen akan bersedih, jadi Mama sekarang istirahat ya. Bibi Sara akan mengantarkan Mama pulang," kata Tristan.


"Tapi kau harus berjanji, Tristan. Jika terjadi sesuatu dengan Gallen, tolong cepat beritahu Mama."


"Iya, Ma. Tristan janji," ujar Tristan untuk meyakinkan sang Mama.


Amanda berjalan keluar dari ruangan Gallen dengan di dampingi Bibi Sara.


*


"Kapan kakak akan sadar? Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan kami, kak."


"Jika kakak pergi, Mama tidak akan terima dengan kepergian kakak. Jangan buat Mama sedih kak," ujar Tristan dengan lirih.


"Kakak harus berjuang untuk sadar, kami semua disini menunggu kakak. Kakak harus ingat jika saat ini kakak memiliki Siyyara. Jadi kakak harus cepat sadar." Tristan mengusap kedua matanya yang basah.


Tok tok


Tristan menoleh ke arah pintu, dia segera mengusap air matanya.


"Masuk," ucapnya. Dan tak lama kemudian, muncul lah dua orang yang sangat Tristan kenal. Siapa lagi kalau bukan Siyyara dan Alvian.


Tristan terkejut saat melihat kedua mata Siyyara yang diperban, Tristan menatap Siyyara tanpa berkedip. Tristan bertanya-tanya, apa yang membuat kedua mata indah itu ditutup dengan kain kassa?


"Ehem! Bolehkah kami masuk?" Tanya Alvian karena Tristan terus memandang Siyyara dengan tatapan penuh tanya.


"Kak Alvian? Silahkan masuk kak," ujar Tristan.


Alvian mengangguk dan menuntun Siyyara untuk masuk ke dalam ruangan itu. Setelah sampai ke dalam, terdengar suara alat pendeteksi detak jantung yang membuat Siyyara memelankan langkahnya.


"Ada apa?" Tanya Alvian saat Siyyara berhenti.


"Aku ingin kembali ke ruangan ku, kak. Bawa aku kembali. Aku tidak ingin disini," gumam Siyyara dengan gelisah.


"Ada apa? Tadi kamu bilang jika ingin bertemu Gallen, Gallen sekarang tepat berada di depan mu, Siyya," ujar Alvian dengan senyum tipisnya.


"Bawa aku kembali, kak," pinta Siyyara setengah memohon dengan lirih.


"Tapi kenapa?" Siyyara diam, dia semakin mengeratkan genggaman tangannya di baju Alvian.


"Baiklah, ayo kita kembali." Alvian kembali menuntun Siyyara untuk berbalik ke arah pintu, belum sampai dua langkah, sebuah suara membuat langkah kaki Siyyara dan Alvian berhenti.


"S-Si-ya," gumam Gallen dengan nada sangat pelan, tetapi sangat terdengar jelas di telinga Tristan, Siyyara dan Alvian.


"Kak Gallen?"


"Kak Gallen?" Tristan berusaha memanggil Gallen, untuk memastikan jika Gallen benar-benar sudah sadar.


"S-Siyya," panggil Gallen lagi.


Alvian segera menuntun Siyyara untuk mendekat kepada Gallen.


"Tidak, kak. Aku ingin pergi dari sini." Siyyara memberontak saat Alvian ingin membawanya mendekati Gallen.


"Dek, untuk pertama kalinya Gallen menggumamkan sesuatu, itu adalah berita yang bagus. Siapa tahu setelah kamu ada disini, Gallen akan sadar," ujar Alvian dengan semangat.


"AKU INGIN KELUAR DARI SINI, KAK!" Teriak Siyyara sekencang-kencangnya.


Alvian tersentak dengan bentakan Siyyara, begitupun dengan Tristan. Tristan menggeram marah saat Siyyara membuat kebisingan di ruangan kakaknya.


"Kak Alvian, cepat bawa Siyyara pergi dari sini," perintah Tristan setengah marah.


"Si-yya," gumam Gallen semakin melemah.


"Tapi Gallen selalu memanggil Siyyara, aku yakin jika Siyyara ada disini, Gallen akan cepat tersadar dari koma nya," ujar Alvian.


"Tapi bukankah Siyyara tidak ingin bertemu kak Gallen?" Bantah Tristan.


"Tristan, biarkan Siyyara ada disini. Aku hanya ingin agar Gallen segera sadar."


"Tapi tidak dengan adikmu, kak. Adikmu lebih ingin kak Gallen cepat mati ketimbang cepat sadar," ujar Tristan sinis.


Meski Alvian tahu jika adiknya sangat keras kepala, tapi jika adiknya dituduh seperti itu oleh seseorang, tentu saja Alvian akan marah.


"Jaga bicaramu, Tristan! Siyyara tidak sejahat itu." Alvian memberi tatapan tajam ke arah Tristan.


"Kak Alvian tahu sendiri tadi, jika kak Gallen memanggil-manggil namanya, tapi meski dia mendengar sendiri racauan kak Gallen, dia tetap ingin pergi, dia tidak memiliki rasa iba sama sekali. Kak Gallen terlalu baik untuk gadis seperti adikmu, kak."


Alvian mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan Siyyara menyadari hal itu.


"Kak, tenanglah. Lebih baik kita pergi dari sini," ajak Siyyara.


Alvian menahan emosinya, napasnya memburu, ingin rasanya dia menonjok adik dari sahabatnya itu.


"S-Si-yya," gumam Gallen semakin pelan dari sebelumnya, dan tak lama kemudian bunyi suara alat pendeteksi jantung berbunyi dengan keras dan di monitor terlihat garis lurus.


"K-kak Gallen?"


"Gallen!"


Siyyara diam, dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada Gallen, tetapi dia tahu jika Gallen saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Tristan, panggil dokter sekarang!" Teriak Alvian.


Tristan sudah menekan tombol darurat berkali-kali, tetapi para perawat maupun dokter tidak juga muncul ke ruangan Gallen. Karena tidak sabar menunggu lagi, Tristan berlari untuk menuju ke ruang perawat, agar Gallen segera mendapat pertolongan.


"Dokter! Suster!" Teriak Tristan saat melihat beberapa dokter dan perawat berlari menuju ke ruangan Gallen.


"Kami akan melakukan tugas kami semaksimal mungkin, jangan khawatir, dokter Gallen pasti selamat," ujar dokter Mikel. Tristan mengangguk patuh.


"Ayo, kita harus cepat," seru Mikel lagi kepada kawan beserta perawat yang mendambakan nya.


Para dokter dan perawat pun langsung masuk ke ruangan Gallen. Alvian segera membawa adiknya keluar dari ruangan itu, mereka menunggu di luar dan membiarkan para dokter berjuang lagi untuk menyelamatkan Gallen.


"Dia pasti baik-baik saja," bisik Alvian pada Siyyara. Siyyara mengangguk dengan berurai air mata.


Alvian mengalihkan pandangannya ke arah Tristan yang sedang berdiri di sudut tembok dengan menundukkan kepala, Alvian tahu bagaimana perasaan Tristan saat ini. Alvian berjalan mendekati Tristan, dia menepuk pundak Tristan pelan.


"Jangan pernah lelah untuk berdoa, aku yakin Gallen akan selamat. Dia seorang pejuang," ujar Alvian setengah tertawa untuk mencairkan suasana. Meski sebenarnya dia sendiri khawatir dengan Gallen.


"Mati karena luka tembak bukan lah tipe Gallen, orang setangguh Gallen tidak akan berakhir menyedihkan seperti itu," lanjut Alvian.


Tristan mendongak untuk menatap wajah Alvian. Tristan menyunggingkan senyum kecilnya saat Alvian tersenyum kepadanya.


"Maaf, karena sudah membentakmu. Aku hanya terbawa emosi tadi."


"Tidak, kak. Aku yang salah, aku telah menuduh Siyyara dengan tidak mempedulikan perasaannya, kak Alvian berhak marah padaku. Jika saja kak Gallen sadar, pasti dia juga akan menonjok ku habis-habisan," canda Tristan.


"Kau benar." Alvian terkekeh kecil.


"Aku akan mengantar Siyyara ke kamarnya sebentar, setelah Siyya tertidur aku akan kembali lagi ke sini."


"Iya, kak."


Alvian membalikkan badannya dan berjalan mendekati Siyyara, tetapi dia terkejut saat melihat bibir Siyyara yang memucat, kedua tangannya bergetar dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.


"Dek, kamu kenapa?" Tanya Alvian khawatir.


"Siyya, kamu kenapa?" tanya Alvian lagi. Tetapi Siyyara tidak juga menjawab, tubuhnya juga semakin menggigil.


"Ada apa, kak?" Tristan segera mendekat saat melihat ada yang tidak beres dengan Siyyara.


"Aku akan membawanya ke ruangannya, kamu tunggu disini saja."


"Iya kak."