
Siyyara sedang membantu Daddy nya mempersiapkan keperluan untuk ke Berlin. Saat Siyyara melipat pakaian Dave dan memasukannya ke dalam koper, Siyyara melihat foto Mommy nya yang selalu Dave simpan di dalam koper.
"Dad, foto Mommy-"
Mr. Dave segera menoleh ke arah putrinya yang sedang mengamati foto sang Ibu.
"Daddy selalu membawa nya?"
Mr. Dave tersenyum.
"Iya. Saat Daddy bepergian ke luar negeri, Daddy selalu membawa foto Mommy mu."
"Kenapa?" Tanya Siyyara heran.
"Saat Daddy membawa foto Mommy mu, Daddy merasa sedang bepergian bersama nya. Jadi, rasa lelah yang Daddy rasakan tidak akan terasa karena Mommy mu selalu ada untuk Daddy," jawab Dave dengan tersenyum.
Siyyara tanpa sadar meneteskan air matanya, dia menatap Dave dengan perasaan haru.
"Daddy masih mencintai Mommy?"
"Tentu saja, Siyya. Mommy mu tidak akan pernah hilang dari hati Daddy. Daddy akan selalu mencintai nya, selamanya." Mr. Dave tersenyum lemah, dia mengalihkan wajahnya ke arah jendela kamarnya, agar Siyyara tidak melihat kesedihan nya.
"Daddy," panggil Siyyara.
Siyyara mendekat dan memeluk tubuh Ayahnya dengan erat.
"Siyyara senang jika Daddy hanya mencintai Mommy. Suatu saat nanti, semoga Siyyara mendapatkan pasangan seperti Daddy," ujar Siyyara.
Mr. Dave terkekeh kecil. Dia segera membalikkan tubuhnya dan memeluk anak gadisnya.
"Suatu saat nanti, kamu pasti akan mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik dari Daddy. Daddy jamin itu," sahut Mr. Dave.
"Daddy sok tahu," celetuk Siyyara sambil menyunggingkan senyumnya.
Mr. Dave terkekeh kecil dan memegang pundak putrinya.
"Jaga dirimu baik-baik. Jangan biarkan seseorang menyakiti mu. Kamu adalah harta berharga Daddy, Daddy akan hancur jika sampai terjadi sesuatu padamu." Mr. Dave mengelus kepala Siyyara pelan.
"Siyyara sudah hapal dengan kalimat Daddy. Jadi, jangan katakan kalimat itu lagi. Siyyara akan jaga diri Siyya dengan baik. Daddy tidak perlu khawatir, oke?" Siyyara mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Daddy-nya.
Mr. Dave tersenyum dan segera menyuruh pengawalnya untuk membawa kopernya.
"Dad, boleh Siyyara antar Daddy sampai bandara?"
"Tidak sayang, biar Daddy berangkat bersama kakak mu saja. Kamu istirahat di rumah saja ya," ujar Mr. Dave lembut.
Karena tidak mau berdebat dengan Mr. Dave, Siyyara hanya mengangguk pelan.
******
"Apa kabar?" Ujar seorang pria yang memakai pakaian serba hitam.
"Aku baik, bagaimana kabarmu sendiri?" Tanya seorang wanita.
"Aku sedang tidak baik-baik saja. Karena kekasihku meninggalkan aku," ujar pria itu.
"Oh, jadi saat ini kau sedang patah hati?" Wanita itu terkekeh kecil.
"Aku tidak menyangka jika ada juga wanita yang menolak pesona mu," lanjut wanita itu sambil menahan tawanya.
"Ck, kau tertawa karena kau tidak tahu dengan apa yang ku rasakan saat ini." Pria itu mendengus kesal.
"Hahaha, kau benar. Tetapi jika aku jadi dirimu, aku tidak akan menyerah semudah itu. Menyerah tidak ada dalam kamus ku." Wanita itu tersenyum mengejek kepada pria itu.
Pria itu mengibaskan tangannya dan mulai mengalihkan pembicaraan.
"Ada perlu apa sampai kau datang ke sini?" Tanya pria itu.
"Aku hanya merindukan tanah kelahiran ku saja, tidak lebih."
"Jika sampai kau mengatakan kalimat seperti itu, pasti saat ini kau sedang ada masalah, bukan begitu?"
"Tahu darimana?" Tanya wanita itu dengan wajah masam, karena tebakan sepupunya itu selalu benar.
"Tentu saja aku tahu, karena jika kau dalam keadaan bahagia, kau selalu melupakan tanah kelahiran mu ini," ejek pria itu.
"Dasar, tidak begitu juga kali. Kau menyebalkan!"
"Hahaha!"
*****
"KAK!"
"KENAPA KAU LAMA SEKALI? AKU BISA TELAT NANTI!"
"CEPAT TURUN!"
Siyyara teriak-teriak di ruang tamu dan berkacak pinggang dengan tatapan yang masih mengarah ke lantai dua. Dia sebal karena kakaknya sangat lama sekali turun dari kamarnya.
"Kak Alvian!"
"KAK ALVIAN! CEPAT TURUN!"
Teriaknya lagi dengan suara super kencang, hingga membuat para maid hanya menggelengkan kepala melihat tingkah bar-bar Nona nya.
"Siyya, ini bukan hutan. Bisa tidak, untuk tidak teriak-teriak?" Tegur Alvian dengan nada tegas.
"Tidak bisa! Salah siapa membuat ku menunggu lama," bantah Siyyara.
Alvian turun dari tangga dengan langkah tegas, dan Siyyara langsung mengambil tas yang sebelumnya ia letakkan di sofa ruang tamu.
"Kakak mau sarapan dulu, kau juga sarapan lah," bujuk Alvian.
Maira sudah menata piring di atas meja makan dengan rapi, dia juga sudah menyiapkan makanan untuk sarapan pagi suami dan adik iparnya.
"Wah, istriku pandai sekali memasak. Pasti enak nih," ujar Alvian sambil mengambil sendok dan garpu.
"Siyyara, ayo duduklah. Pasti kau lapar karena tadi sudah teriak-teriak," ucap Maira dengan menahan tawa.
"Tidak, kak. Aku tidak lapar, aku hanya haus." Siyyara langsung mengambil air yang sudah di tuang Maira, lalu meminumnya hingga habis.
"Kakakmu masih sarapan, sebaiknya kau juga ikut sarapan, Siyya." Maira mendekati Siyyara menyuruhnya untuk duduk.
"Kak, aku bisa telat. Siyya malu jika Siyya telat nanti, karena Siyya masih baru," ungkap Siyyara.
Maira terkikik geli, dia menggelengkan kepalanya.
"Ih, kakak jangan tertawa," ucap Siyyara dengan wajah cemberut.
"Sarapan lah, Siyya," ujar Alvian dengan menatap lembut adiknya.
"Aku malas sarapan, kak. Sebaiknya kakak cepat sarapan dan segera antar Siyya ke kampus."
"Dek, kakak tidak akan biarkan kamu pergi dengan perut kosong, nanti kalau kamu sakit gimana? Bisa-bisa kakek akan menggantung kakak di alun-alun kota," oceh Alvian.
"Cepat duduk dan makanlah," tambah Alvian.
Maira menyunggingkan senyum lembut.
"Biasalah mas, mungkin Siyyara tidak sabar ingin segera sampai di kampus baru nya," sahut Maira. Alvian hanya manggut-manggut mengerti.
"Dengar ya, dek. Jangan sampai kamu pulang sebelum kakak ataupun bodyguard menjemput mu, dan jangan pergi kemanapun tanpa seizin dari kakak," ucap Alvian sambil memasukkan makanannya ke mulutnya.
"Kalau nanti Siyyara punya teman dan teman Siyyara ingin mengajak Siyyara pergi jalan-jalan, gimana?"
"Tentu saja kakak tidak akan memberi izin," jawab Alvian enteng.
"Ck, kakak menyebalkan!"
"Siyya, aku akan siapkan bekal saja untukmu kalau kamu tidak mau sarapan. Nanti dimakan ya," ujar Maira.
Siyyara mengangguk pelan.
"Mai, aku sudah kenyang. Sepertinya nanti aku ada lembur, jangan menunggu ku ya," ujar Alvian kepada Maira.
"Iya, Mas. Berhati-hatilah di jalan."
Alvian mengangguk. Maira mencium punggung tangan Alvian, dan Alvian balas mencium kening Maira.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab Maira.
"Ayo, Siyya," ajak Alvian.
"Kak Mai, Siyya pergi dulu, assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
******
Siyyara duduk manis di samping Alvian, dia mengamati jalan yang dilewati kakaknya.
"Ngapain?" Tanya Alvian.
"Lihat jalan aja, kak," jawab Siyyara.
"Ingat, jangan kabur dari para pengawal." Alvian memberi peringatan kepada Siyyara.
"Apa? Pengawal? Jadi, akan ada pengawal yang memantau Siyyara? TIDAK KAK! SIYYARA TIDAK MAU, Siyyara malu, mau ditaruh di mana muka Siyya?"
Omelan Siyyara membuat Alvian menulikan pendengaran nya. Dia melirik adiknya dengan malas. Dia kira adiknya akan tetap menjadi gadis penurut selama ingatan nya belum kembali, tetapi dugaan Alvian salah. Siyyara tetap lah gadis bar-bar yang membuat nya selalu pusing.
"Pengawal itu akan menjagamu di luar gerbang. Jadi kau tidak akan malu," jelas Alvian.
Siyyara diam, mood nya tiba-tiba hancur saat mendengar jika dia akan diawasi oleh bodyguard kakaknya.
"Kak," rengek Siyyara.
"Apa?"
"Siyyara tidak mau ada bodyguard. Siyyara bisa jaga diri, kak," rengek Siyyara dengan tatapan mata memelas.
"No!"
"Ck, ayolah kak. Siyyara akan menuruti semua ucapan kakak, tapi suruh bodyguard itu untuk tidak mengikuti Siyyara, please." Siyyara mengatupkan kedua tangannya dan menatap kakaknya dengan pandangan memelas.
"Terserah, kakak tidak akan percaya padamu." Pandangan Alvian masih fokus ke depan, dia sengaja untuk tidak menatap adiknya yang sedang bertingkah menggemaskan itu, dia takut jika dia akan tertipu mulut manis adiknya yang nakal itu.
Siyyara mengerucutkan bibirnya, dia sebal dengan kakaknya yang sangat sulit dijinakkan. Sepertinya memang dia harus memutar akal agar para bodyguard itu tidak mengikutinya lagi.
Saat pikirannya sedang memikirkan berbagai cara licik untuk menipu bodyguard nya, tiba-tiba ponsel Siyyara bergetar, tanda jika ada pesan masuk di ponselnya. Siyyara langsung membuka pesan itu dengan gerakan santai. Raut wajahnya berubah saat membaca pesan itu. Tangannya gemetar ketakutan.
Alvian yang masih fokus menyetir segera mengalihkan tatapannya ke arah Siyyara, dia merasa aneh karena tiba-tiba adiknya berhenti mengoceh dan membantah ucapannya.
"Ada apa?" Tanya Alvian.
Siyyara segera masukkan ponselnya ke dalam tasnya, dan menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat tegang.
"Tidak ada. Siyyara merasa jika tiba-tiba perut Siyyara sakit," jawabnya berbohong.
"Itu akibatnya jika kau tidak mau sarapan, habis ini segera sarapan dan jangan biarkan perutmu kosong tanpa terisi makanan," ujar Alvian sedikit khawatir.
"Iya, kak."
Alvian menoleh, dia mengamati adiknya yang masih menunduk.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?" Tanya Alvian yang masih khawatir.
Dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Siyyara. Alvian merasa bingung dengan diam nya sang adik. Apakah Siyyara marah padanya?
"Siyya, sepertinya kakak tidak bisa menjemput mu hari ini, kamu bisa kan jika nanti pulang bersama bodyguard yang menjagamu di kampus?"
Siyyara masih murung dan diam.
"Kakak akan perintah kan mereka untuk menjagamu di luar gerbang saja, agar mereka tidak menganggu waktumu bersama teman-teman mu," ujar Alvian lagi. Dan Siyyara tetap membungkam mulutnya rapat-rapat, dia tidak tertarik dengan ucapan kakak nya sama sekali.
"Siyya, kamu kenapa? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit dulu untuk periksa?" Tanya Alvian dengan nada lembut.
Siyyara menggeleng lemah.
Alvian menepikan mobilnya, begitupun para bodyguard yang mengikuti mobil Alvian. Bodyguard itu ikut menepikan mobilnya. Dan dengan segera, bodyguard itu keluar dari mobilnya dan menghampiri mobil Alvian.
"Dek, ada apa?" Tanya Alvian pelan setelah mobilnya berhenti.
"Siyya rindu Mommy, kak," jawab Siyyara dengan sesegukan.
Alvian segera memeluk Siyyara untuk menenangkannya.
"Apa sebaiknya kakak antar kamu pulang saja?" Tanya Alvian yang sudah khawatir dengan kondisi Siyyara.
"Tidak, kak. Siyyara ikut kakak saja," jawab Siyyara.
"Baiklah."
Tok tok
"Tuan muda, apa ada masalah?" Tanya bodyguard itu.
Alvian menurunkan kaca mobilnya.
"Tidak, sebaik nya kalian kembali pulang saja, biar Siyyara ikut bersama ku, sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja, biar aku yang mengurus nya," ujar Alvian dengan menatap iba adiknya.
"Dan tolong izinkan Siyyara, dia tidak bisa mengikuti perkuliahan hari ini," ujar Alvian pada bodyguard nya.
"Baik tuan muda."
Alvian menaikkan kaca mobilnya dan menjalankan mobilnya kembali.
"Kakak tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu, jika kamu sudah siap bercerita, ceritalah pada kakak. Kakak akan jadi pendengar yang baik untukmu."
Siyyara hanya mengangguk lemah, dan Alvian hanya bisa menghela napas saat Siyyara masih murung.