The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart

The Secret Of Siyyara And Gallen's Heart
46. Bukti



Siyyara segera turun dari mobil Gallen saat mobil itu telah berhenti di halaman luas rumahnya.


"Apa kau tidak ingin mampir terlebih dahulu?"


Meski ia sangat membenci Gallen, tapi dia berusaha menutupi kebenciannya dengan bersikap biasa saja agar Gallen tidak curiga.


"Tidak, Siyya. Aku ada keperluan lain. Mungkin lain kali saja," jawab Gallen.


"Baiklah. Aku masuk dulu." Tanpa menunggu tanggapan Gallen, Siyyara terlebih dulu masuk ke dalam rumahnya.


Gallen tersenyum tipis menyaksikan sikap Siyyara padanya, sejak kemaren Siyyara sangat menghindari nya, dan Gallen tidak tahu apa kesalahannya kepada Siyyara. Gallen hanya tahu jika tiba-tiba Siyyara sangat menghindari nya.


*******


Gallen berjalan dengan cepat memasuki ruang kerja Alan, dia tidak sabar ingin menggali informasi yang sudah Alan dapatkan. Alan adalah orang kepercayaan nya sekaligus sahabatnya. Semua masalah bisnis Gallen, Alan mengetahui semuanya, baik semua musuh Gallen, maupun sekutu Gallen.


"Bos, ada apa kau kemari?" Tanya Alan dengan sengit.


"Ck, cepat katakan. Aku tidak punya waktu lagi," ujar Gallen dengan tegas.


"Sabar Bos. Saat ini pasienku sangat banyak, aku tidak suka ketika berbicara dengan terburu-buru. Maka dari itu, sebaiknya kita bicara setelah aku memeriksa semua pasienku, oke?"


"TIDAK! CEPAT KATAKAN SEKARANG! KALAU TIDAK AKU AKAN MEMBUATMU MENJADI ABU! CEPAT KATAKAN!" Ancam Gallen.


"Tumben kau tidak bilang jika kau akan memecatku atau menendang ku dari Rumah Sakit ini. Andai jika kau katakan kalimat seperti itu, aku akan cepat minggat dari pekerjaan laknat ini," gerutu Alan, dia jengkel karena dia seharusnya bekerja sebagai dokter bedah, tetapi dia selalu diperintahkan Gallen untuk ikut campur dalam hal perusahaan. Yang benar saja, bahkan ia hanya memiliki ijazah Dokter. Kenapa ia harus jadi detektifnya Gallen?


Gallen tersenyum sinis menanggapi ocehan sahabatnya itu.


"Meski kau membuat surat pengunduran diri sekali pun, aku tidak akan mengizinkanmu keluar dari sini. Jadi diam dan katakan padaku informasi apa yang sudah kau dapatkan?"


"Huft!" Alan menghela napas lelah.


"Berhati-hatilah. Sinyal bahaya itu berasal dari Jerman. Aku tidak begitu paham, saat aku berusaha menyelidiki bagian kota nya, ada seseorang yang menyadari tindakanku, dan orang itu sangat cerdik," ungkap Alan secara jujur.


"Dari Jerman?" Ulang Gallen.


"Iya, sepertinya dia orang yang sangat berpengaruh. Yang ku tahu, dia ingin menguasai Damares Corp pusat dan sekarang dia ingin mengincar Damestria Corp juga."


"Dan yang lebih parah lagi, kemungkinan saat ini dia telah menjadi orang kepercayaan Mr. Ferdy Damares," lanjut Alan sambil menghela napas.


Gallen mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan sahabatnya, dia berusaha berpikir keras, mengapa orang itu ingin menjatuhkan perusahaan sebesar Damares? Dan mengapa ia mengincar nyawa Siyyara? Apakah sebegitu bencinya kah dia dengan keluarga Damares?


"Apa yang kau ketahui lagi?" Tanya Gallen sambil menatap sahabatnya dengan serius.


"Semua tuduhan tentang Mr. Calvert tidak lah benar. Bahkan musuh Mr. Ferdy dan Mr. Dave yang terang-terangan mengibarkan bendera peperangan, mereka semua tidak ambil bagian dalam perencanaan penculikan Siyyara. Tetapi pelakunya adalah orang terdekat Mr. Ferdy dan Mr. Dave sendiri. Kemungkinan orang ini adalah sekutu Mr. Ferdy sendiri. Mulai sekarang berhati-hati lah dalam berbicara, Len."


Gallen mengangguk pelan.


"Ini akan sulit jika pelakunya adalah orang kepercayaan Kakek Ferdy sendiri," gumam Gallen.


"Boleh aku mengusulkan sesuatu, Len?" Tanya Alan.


"Apa?"


"Nikahi Siyyara, dengan begitu dia akan aman berada dalam pengawasan mu, tapi-"


Gallen melirik Alan saat Alan menghentikan kalimatnya.


"Tapi jika orang itu juga sekarang mengincar dan ingin menjatuhkan mu, maka kita tidak bisa melakukan apa-apa. Orang itu bukan penjahat biasa, Len. Bahkan dengan mudah dia menyembunyikan identitas aslinya, dan jika Mr. Ferdy saja sampai mempercayainya, itu berarti orang itu pandai dalam bersandiwara. Kamu pasti tidak akan percaya jika ternyata orang itu adalah seorang musuh yang selama ini kau cari," sambung Alan.


"Aku memang berniat menikahinya saat ingatannya sudah kembali," ucap Gallen.


"Apa sebaiknya aku memberitahu Alvian?" tanya Gallen ragu.


"Sebaiknya jangan jika dia bertindak gegabah. Tetapi jika dia bisa menahan diri, ku rasa tidak masalah jika kau ingin memberitahunya," jawab Alan seadanya.


******


Siyyara menatap langit malam dari balkon kamar nya. Dia sedih saat orang yang sudah ia sayangi ternyata membohongi nya. Dia sedih karena kasih sayang yang telah diberikan orang itu kepadanya hanya karena rasa bersalah nya kepada Mommy nya.


Dret dret!


Siyyara mengintip layar ponselnya saat merasakan getaran dari ponselnya. Dia cukup terkejut saat tahu siapa orang yang sudah menelepon nya.


Dengan sengaja, Siyyara membiarkan panggilan itu hingga berhenti dengan sendirinya. Tetapi tak lama kemudian orang itu menelpon kembali dan membuat Siyyara terusik.


"Ck, apa sih maunya?" Gerutu Siyyara.


Tit.


"Halo?"


"Halo, Siyya. Ada yang ingin ku sampaikan padamu."


"Apa?" Tanya Siyyara dengan nada judes.


"Bisakah kita bertemu di Cafe Midnight besok sore?"


"Untuk apa? Aku sibuk."


"Tolong lah, Siyya. Hanya sebentar saja, aku akan menjemputmu pukul 3 sore. Di jam segitu, kamu sudah selesai kuliah kan?"


"Hm, sudah."


"Baiklah, aku akan menjemputmu besok."


"Iya."


Tit.


"Apa yang ingin dia bicarakan?"


"Mengganggu saja," gerutunya.


*****


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Siyyara pada Gallen.


"Aku ingin bilang jika aku mencintai mu," jawab Gallen dengan penuh keyakinan.


Siyyara tersenyum sinis.


"Itu bukan Cinta, tuan Gallen yang terhormat," ejek Siyyara.


"Aku bersumpah Siyya. Aku sangat mencintaimu."


"Aku tidak percaya. Kalian semua pembohong, keluargamu itu seorang pembohong, Gallen!" Siyyara menaikkan nada bicaranya.


"Bohong apa? Aku bahkan tidak pernah membohongi mu," bantah Gallen dengan lirih.


"Cih! Pembohong tetap saja pembohong. Bahkan Mama mu, aku tidak menyangka jika wanita yang kau panggil Mama itu bisa melakukan hal yang sangat keji," ujar Siyyara sambil menahan air matanya agar tidak membanjiri pipinya.


Gallen menaikkan sebelah alisnya, kali ini dia tidak bisa diam saja saat sang Mama di cap buruk oleh gadis yang sangat ia cintai.


"Apa maksudmu? Katakan dengan jelas," seru Gallen dengan nada yang sangat dingin. Kedua matanya menyorot mata Siyyara dengan tajam.


"Saat tante Amanda ingin menjodohkan aku dengan mu pasti ada sesuatu, dan sekarang aku tahu alasannya yang ingin menjadikan aku sebagai menantunya."


Siyyara menatap mata Gallen yang masih saja menatapnya dengan pandangan menusuk.


"Kau pasti sudah tahu alasan Tante Amanda, kan? Kalau tidak, mana mungkin saat ini kau bersandiwara mengatakan cinta padaku? Pasti Tante Amanda sudah membujuk mu!"


Gallen menyunggingkan senyum paksanya, dia menggelengkan kepala pelan.


"Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu? Mama tidak membujukku sama sekali. Yang ku katakan padamu barusan adalah sebuah kebenaran perasaanku. Jika kau ingin menolakku, tolak lah. Tapi jangan kau menjelek-jelekkan Mama ku seperti itu." Gallen berbicara dengan santai, dia tidak ingin terbawa emosi saat berbicara pada Siyyara.


"Iya, kau benar. Aku memang akan menolak mu," ujar Siyyara lagi sambil menahan isakannya.


"Karena aku tidak akan bisa menikah dengan seseorang yang berasal dari keluarga yang sudah menjadi penyebab kematian Mommy ku," ucap Siyyara dengan nada lirih dan pelan.


Tapi se-pelan apapun ucapan Siyyara, Gallen masih dapat mendengarnya. Jantung Gallen berdetak lebih kencang. Entah mengapa perasaannya kali ini sangat gundah dan cemas.


"A-apa maksudmu?" Tanya Gallen dengan nada penuh penekanan.


"Tante Amanda, hiks-"


Siyyara menangis dan membekap mulutnya dengan tangannya, agar isakannya tidak mengganggu pengunjung lainnya.


Jantung Gallen berdetak lebih cepat lagi dari sebelumnya, dengan susah payah ia berusaha menelan ludahnya yang seperti menyangkut di tenggorokan nya.


"Tante Amanda lah yang sudah menabrak Mommy hingga meninggal," lanjut Siyyara dengan pelan.


"A-apa? Katakan dengan jelas, aku tidak mendengar," sahut Gallen cepat.


Sebenarnya Gallen sudah mendengar, tapi dia takut jika dia salah dengar. Dia ingin memastikan lagi ucapan Siyyara.


"Iya, Gallen. Mommy meninggal karena Tante Amanda yang sudah menabraknya. Dan andai saja waktu itu Tante Amanda langsung membawa Mommy ke rumah sakit, Mommy pasti masih hidup. Tapi apa? Tante Amanda justru membiarkan nya tergeletak di pinggir jalan hingga nyawanya melayang," jelas Siyyara dengan perasaan penuh rasa sakit dan juga kecewa.


"Darimana kau tahu?" Tanya Gallen pelan.


"Aku tahu karena ada seseorang yang sudah memberitahu ku, orang itu juga yang telah mengirimiku video yang telah ia dapatkan dari Cctv yang ada di jalan itu."


"Kalau yang dia katakan sebuah kebenaran, pasti saat itu polisi sudah menangkap Mama karena kasus tabrak lari. Apalagi ada bukti kamera Cctv yang ada di tempat itu," bantah Gallen. Dia berusaha mempercayai Mama nya, Mama nya tidak mungkin melakukan tindakan keji seperti itu.


"Om Daniar, Papa mu lah yang menyebabkan bukti satu-satunya itu hilang. Papa mu menggunakan seluruh kekuasaannya untuk menutupi kejahatan Tante Amanda. Tapi sebelum bukti itu di hapus, orang itu sudah menyalin video itu," jawab Siyyara.


"Lalu untuk apa orang itu mengirimkan video itu padamu? Pasti dia memiliki rencana jahat, Siyya."


"Aku tidak peduli dengan orang itu. Yang aku tahu, Tante Amanda sudah menipu keluargaku habis-habisan. Dia ingin menjadikan aku menantu nya karena rasa bersalah nya. Tapi dia tidak berani mengakui semua dosa-dosa nya!"


Gallen diam. Dia sungguh tidak percaya, apakah benar Mamanya lah yang menyebabkan Mommy nya Siyyara meninggal? Jika benar, Mama nya sungguh tega, selama bertahun-tahun Mama nya telah menipu dirinya dan semua orang.


Gallen berpikir keras, dan ingatannya kembali saat Mama nya masih depresi, dia ingat saat itu Mama nya terus mengucapkan kata maaf, entah itu pada siapa. Dan saat itu Mama nya pulih saat ia membawa Siyyara ke rumahnya. Dan saat Siyyara mengenalkan siapa dirinya, saat itu Mamanya tanpa sadar menangis. Apakah saat itu Mama nya tahu jika gadis yang ada di hadapannya adalah anak dari wanita yang sudah ia renggut nyawanya?


"Aghhhhttttt!" Teriak Gallen sambil menarik rambutnya.


Akibat teriakan Gallen, semua pengunjung menoleh ke arah Gallen dan Siyyara. Dan Gallen tidak peduli dengan tatapan semua orang yang sedang ada di Cafe itu.


"Siyya, aku sungguh tidak tahu masalah ini. Dan sebaiknya kau ikut denganku," bujuk Gallen.


Siyyara langsung menggeleng cepat. Rasa bencinya sudah tidak bisa di tahan lagi, hatinya sungguh sakit, dia tidak ingin berurusan dengan Gallen lagi.


"Tidak, lepaskan aku. Aku tidak mau berurusan dengan keluarga pembunuh seperti kalian." Siyyara memberontak saat Gallen menggenggam tangan kanan Siyyara.


"Siyya, aku mohon. Ikutlah denganku, turuti lah permintaan ku ini untuk yang terakhir kali. Jika kau ingin aku pergi dari hidupmu, aku akan pergi sejauh mungkin, tapi ikut lah dengan ku. Aku mohon." Gallen menundukkan kepalanya, dia tidak sanggup menatap mata Siyyara yang menunjukkan tatapan benci kepada nya.


"Baiklah, aku terima tawaran mu," ucap Siyyara seraya menghapus air matanya.


Gallen tersenyum perih, apakah takdir benar-benar tega mempermainkan kehidupannya? Apakah dia tidak di izinkan untuk merasakan kebahagiaan, walau hanya sebentar saja? Sungguh miris nasib nya.


Di meja paling pojok, ada seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam dan menutupi wajahnya dengan masker. Orang itu tersenyum tipis saat menyaksikan Siyyara dan Gallen sedang bertengkar hebat.


"Ini baru permulaan, Gallen. Tunggu saja kejutan selanjutnya," gumam orang itu dalam hati.