
"Gallen, aku merindukan mu," ucap wanita itu.
"Kinan, ba-bagaimana kau ada disini?" Tanya Gallen dengan tergagap.
"Aku sengaja datang kemari karena aku mencarimu, aku ingin meminta maaf padamu." Kinan mendekati Gallen dan ingin memeluk Gallen, tapi Gallen segera menghindar.
"Cukup, Kinan. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, jika kau ingin merawat Mama karena dia adalah Mama ku, lebih baik kau jangan kembali lagi ke rumah ini," ujar Gallen, tidak peduli jika wanita itu sudah menangis tersedu-sedu.
"Gallen, apa kau tidak menanyakan kabar 'dia'?" Tanya Kinan menahan air matanya.
"Aku, aku menyesal karena tidak menuruti apa katamu, 'dia' telah pergi meninggalkan ku, meninggalkan mu. Hiks, apa yang harus ku lakukan? Rasa bersalahku selalu menghantui diriku, Gallen."
"Cukup!" Gallen merasa pening, kisah masa lalunya membuat dirinya gemetar ketakutan.
"Kubur semua rasa bersalahmu itu, karena tidak ada gunanya kau menangis saat ini."
"Hiks, apa kau tidak merindukan 'dia'?"
Gallen memejamkan kedua matanya untuk menghalau air matanya.
"Tidak, karena itu bukan urusanku," jawab Gallen dengan tegas.
"Apa jika kejadian itu tidak terjadi, kau tidak akan meninggalkan ku? Apa sekarang kita akan menikah?"
"Sudah cukup Kinan! Jangan mengungkit masa lalu itu."
"Andaikan aku tidak melakukan kesalahan, saat ini aku pasti telah menjadi nyonya Damestria," ujar Kinan lagi.
Gallen menggeram, bukan karena dia tidak bisa melupakan masa lalunya, dia hanya takut jika semua orang akan tahu tentang kisahnya di masa lalu.
"Terserah apa katamu, jangan pernah kau datang ke rumahku lagi. Aku sudah memaafkan mu, tidak ada yang perlu kau sesali. Dan jangan mengungkit kisah itu lagi, aku tidak ingin jika sampai kekasihku salah paham kepadaku. Mengerti?" Kinan terdiam, Gallen sudah banyak berubah, dia tidak seperti dulu lagi.
Gallen tidak peduli jika Kinan akan menangis seharian di depan rumahnya, dia tidak peduli. Dia segera masuk ke dalam rumah nya, meninggalkan Kinan yang masih menangis.
******
"Kak, baru saja dokter Kinan keluar, apa kakak sudah bertemu dengannya?" Tanya Tristan saat berpapasan dengan Gallen.
"Iya."
Tristan mengerutkan dahi.
"Ada apa, kak?"
"Tidak. Besok dia tidak akan datang ke sini lagi."
Tristan terkejut dengan apa yang Gallen katakan, apa Gallen yang meminta agar Kinan tidak kembali lagi? Tapi kenapa? Karena yang selama ini dia lihat, dokter Kinan sangatlah baik. Tetapi Tristan tidak akan meragukan keputusan Gallen, karena jika Gallen sudah berkata demikian, pasti memang ada sesuatu, dan dia tidak akan banyak bertanya lagi.
"Baiklah kak. Lalu, apakah sudah ada pengganti?"
"Belum." Gallen langsung naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada.
Tristan melihat punggung Gallen dengan tatapan penuh tanya. Dia ingin bertanya, tetapi dia takut kalau Gallen akan murka. Jadi semua keingintahuannya dia pendam rapi di dalam kepalanya.
******
Alvian heran melihat adiknya selalu bergonta-ganti posisi tidur, dia seperti sedang gelisah saat ini.
"Dek, mengapa belum tidur?" Tanya Alvian.
"Kak, apa Gallen tidak akan datang kemari?" Tanya Siyyara tanpa ia sadari.
"Jadi kau merindukan Gallen?" Tebak Alvian, tersenyum geli.
"Apaan sih, bukan kali kak. Aku hanya takut saja dia datang kemari setelah aku tidur, karena setiap dia datang kemari, kalian selalu berisik dan mengganggu tidurku."
"Ah masa sih? Tapi kamu tenang saja, Gallen tidak akan datang mengganggumu, karena dia akan pulang ke rumahnya."
"Oh." Siyyara membulatkan mulutnya.
"Apa kamu tahu jika Mama Gallen sedang sakit?" Tanya Alvian.
"Sakit? Sakit apa kak?"
"Mungkin sejenis kejiwaan. Besok kan kamu sudah boleh pulang, gimana kalau kita menjenguk Mama nya Gallen? Sekalian kan, kamu dekat dengan calon mertua mu," goda Alvian.
"Ih, apaan sih. Siapa juga yang mau menikah dengan Gallen."
"Hm, jadi kamu ingin segera menikah dengan Gallen. Baiklah, kakak akan mengatakan kepada Daddy jika putrinya ini sudah Kebelet nikah."
"Jangan mulai ya kak. Siapa juga yang kebelet nikah? Aku ini masih kecil, aku tidak ingin nikah muda. Mungkin kakak kali yang ngebet ingin nikah." Sindir Siyyara.
"Hehe, kamu tahu aja sih dek."
"Cih," decih Siyyara.
Drett drett.
"Gallen nelfon. Tumben sekali," ujar Alvian. Siyyara pura-pura cuek dan tak mau tahu, padahal yang sebenarnya dia sangat penasaran. Mengapa Gallen menelfon kakaknya di tengah malam.
"Assalamualaikum, ada apa Len?"
"Wa'alaikumsalam. Apa Siyyara sudah tidur?"
Alvian melirik sekilas ke arah Siyyara, dia tersenyum usil. Dan perasaan Siyyara tidak enak ketika melihat ekspresi kakaknya yang seperti itu.
"Dia tidak bisa tidur. Sedari tadi dia menanyakan tentang dirimu, mengapa kau tidak sampai menjenguknya hari ini," jawab Alvian cekikikan.
Siyyara melotot kearah Alvian. Kakaknya itu memang Raja drama, entah kemana perginya sifat dinginnya itu, sekarang dia berubah menjadi banyak bicara dan usil.
"Benarkah? Katakan kepada Siyyara jika besok aku akan menjemputnya."
"Hm, itu ide yang bagus. Karena tadi dia juga menanyakan keadaan Mama mu, dia ingin berkunjung ke rumahmu katanya," ujar Alvian setengah berbohong. Siyyara menggeram marah disana. Semua yang dikatakan Alvian bukanlah kebenaran, semoga saja Gallen tidak percaya pada kebohongan kakaknya itu. Yang memiliki rencana ke rumah nya Gallen kan kakaknya, mengapa dia yang dituduh seperti itu.
"Benarkah Siyyara berkata seperti itu?" Tanya Gallen memastikan.
"Iya, kamu gak percaya nih?"
"Bukan, aku sangat senang ketika Siyyara menanyakan keadaan keluarga ku, itu berarti Siyyara sudah menerima hubungan kita."
Alvian tersenyum kearah Siyyara sambil menjulurkan lidahnya.
"Besok aku akan menjemputnya, sekalian mengajaknya berkunjung ke rumahku," ujar Gallen lagi.
"Hm, tapi kau tidak ingin melamar Siyyara kan? Karena dia masih kecil. Katanya dia belum siap menikah."
"Hahaha, tentu saja aku akan melamarnya jika dia sudah siap."
"Apa kau ingin berbicara dengan Siyya?"
"Tidak, biarkan dia istirahat. Aku tidak ingin mengganggu waktu istirahat nya."
"Hm, baiklah. Sampai bertemu besok, wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Tit.
"Sudah puas?" Siyyara sangat kesal dengan kakaknya yang berbicara sembarangan. Dia kan malu, bagaimana dia akan menghadapi Gallen besok?
"Sudah lah. Setidaknya kakak melihat kesungguhan Gallen kepada mu. Aku senang karena kamu berada di tangan orang yang tepat."
"Terserah lah." Siyyara segera memunggungi Alvian yang sedari tadi asik tertawa.
"Besok Gallen akan menjemputmu, sekalian dia akan membawamu ke rumahnya, jadi bersiaplah. Dandan yang cantik agar Ibu mertuamu kesengsem." Jika Alvian sudah berpidato seperti ini, maka Siyyara akan menutup kedua telinganya, agar suara sumbang Alvian tidak sampai terdengar di telinganya.
"Dia juga bilang ingin melamar mu jika kau sudah siap." Alvian sedikit mengeraskan suaranya agar Siyyara tetap mendengar, meski kedua telinganya telah di tutup bantal.
*******
Livia memasukkan buku-buku nya dengan santai ke dalam tas, jam masih menunjukkan pukul 06.00 WIB, saat dia sibuk membereskan alat tulisnya, tiba-tiba ponselnya bergetar, tanda ada pesan masuk.
Ting
Tristan
Hi, mau berangkat jam berapa?
Kita bisa berangkat bersama kan?
Tristan.
✓✓
^^^Me^^^
^^^Bisa tahu nomorku dari mana?^^^
^^^✓✓^^^
Tristan
Dari Siyyara.
Aku akan menjemputmu di rumahmu, kau bersiap-siap ya.
✓✓
"Ap-apa? Mengapa mendadak dia sangat peduli?" Livia menggenggam erat ponselnya. Dia khawatir jika bibi nya tahu jika dia di jemput oleh laki-laki, pasti bibinya akan sangat marah.
^^^Me^^^
^^^Jangan, aku bisa berangkat naik bis. Kau jangan datang ke rumahku ya.^^^
^^^✓✓^^^
"Tunggu, dia bisa tahu alamat rumahku dari siapa?"
Ting
Tristan
Aku akan tetap menjemput mu.
Jangan menolakku.
Karena aku sudah sering ditolak Siyyara.
✓✓
^^^Me^^^
^^^Kau tahu alamatku dari mana?^^^
^^^✓✓^^^
Tristan
Dari Siyyara.
Cepat bersiap, aku sedang meluncur ke rumahmu.
✓✓
^^^Me^^^
^^^Huh, pemaksa 😔^^^
^^^✓^^^
"Aduh, gimana nih? Semoga bibi tidak melihatku di jemput oleh Tristan. Lagipula kenapa sih, Tristan tiba-tiba berubah seperti ini?" Gerutu Livia setengah kesal kepada Tristan.
******
"Selamat pagi," sapa Gallen dengan menggunakan jas dokternya.
"Pa-" ucapan Siyyara terputus saat melihat wujud Gallen, bukan karena Gallen yang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Tetapi Siyyara terkesima dengan penampilan Gallen, meski dia pernah melihat Gallen menggunakan jas putihnya, tetapi entah kenapa hari ini kedua matanya tidak bisa diajak kompromi saat melihat sosok Gallen.
"Jangan melihatku seperti itu, Liebe. Aku tahu jika aku sangat tampan," ujar Gallen dengan nada kaku.
"Narsis," sahut Siyyara.
"Bagaimana keadaanmu? Lebih baik?"
Siyyara melirik Gallen dengan sinis.
"Kamu kan dokter, ngapain nanya seperti itu."
Gallen berusaha sabar menghadapi kekasihnya itu.
"Baiklah, biar aku sendiri yang periksa. Sekarang, buka bajumu," ujar Gallen dengan wajah serius.
"A-apa?" Siyyara melotot galak.
Plakk
"Dasar pria mesum, pergi kamu dari hadapanku!" Bentak Siyyara.
"Kenapa aku di tampar?" Tanya Gallen sambil memegang pipinya.
"Itu karena kau kurang ajar."
"Kurang ajar bagaimana? Aku kan hanya ingin memeriksamu," bantah Gallen.
Siyyara bingung menghadapi Gallen saat ini, jelaslah Siyyara marah, perempuan mana coba yang tidak marah ketika dia disuruh membuka baju. Apalagi yang memerintah adalah seorang lelaki.
"Kamu tadi nyuruh aku buka baju, yang benar saja! Apa kamu memperlakukan semua pasien dengan seperti itu? Dasar dokter mesum!"
"Berhenti mengatai aku mesum. Kamu itu yang mesum."
"A-apa? Kok aku?"
"Iyalah, aku meminta mu membuka baju, karena aku ingin memeriksa luka jahitan yang ada di perutmu. Lagi pula yang aku maksud itu bukan buka baju semuanya. Disini siapa coba yang berfikiran aneh-aneh, kamu kan?"
Siyyara memalingkan wajahnya ke arah lain, dia sudah terlanjur malu, malu karena telah berprasangka buruk kepada Gallen, hingga Siyyara tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi Gallen saat ini.
"Lagipula, kalau perutmu tertutup seperti itu, aku sebagai dokter tidak akan tahu apakah luka mu itu sudah benar-benar kering atau belum," ucap Gallen mengubah nadanya menjadi lembut kembali.
"Cepat singkap sedikit bajumu, aku hanya ingin memeriksa perutmu saja, bukan memperkosamu," tukas Gallen dengan sinis.
"Ck, bahasa nya," sindir Siyyara.
Dengan ragu-ragu, Siyyara menyingkap baju atasannya hingga ke perut, dan saat itu Gallen dengan sigap memeriksa jahitan di perut Siyyara, karena jahitannya tidak hanya satu, tetapi dua jahitan. Mikel yang memberitahu Gallen jika Siyyara tertusuk sebanyak 2 kali diperutnya. Dan saat itu Gallen semakin murka kepada seseorang yang telah melukai kekasihnya dengan tidak manusiawi.
"Apa masih nyeri?"
"Tidak, hanya kadang sedikit kram, saja," jawab Siyyara dengan rona merah di pipinya yang sangat kentara.
"Lukamu masih basah, aku mengizinkanmu pulang, tetapi dengan syarat, jangan melakukan aktivitas yang berat, dan perbanyak istirahat di rumah."
"Hm."
Setelah selesai memeriksa luka diperut Siyyara, Gallen mengambil stetoskop yang menggantung di lehernya, dia mengarahkan Earpieces ke telinganya dan mengarahkan Diaphragm ke dada Siyyara. Siyyara yang belum siap pun hanya menahan napasnya, detak jantungnya pun semakin menggila. Siyyara benar-benar sangat malu, pasti Gallen dengan jelas mendengar detak jantungnya yang berdetak cepat.
"Rileks, Siyya," ucap Gallen lembut.
"Hm."
"Sudah selesai belum?" Tanya Siyyara dengan ketus.
"Sudah," jawab Gallen lembut.
"Ayo, ku gendong."
"Nggak, aku bisa jalan sendiri."
"Jangan membantah, aku tidak suka."
"Aku tidak peduli."
"Siyya," panggil Gallen frustasi.
"Apa?"
"Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, jadi nurut lah."
"Ck, tidak ya tidak. Kamu pikir aku tidak malu menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan karena kamu menggendong ku?"
"Malu kenapa?" Gallen menyerngitkan dahinya.
"Ck, bicara dengan mu benar-benar membuat tenagaku terkuras habis."
"Jika begitu, kamu harus mau ku gendong. Aku tidak mau nanti kamu pingsan karena kecapekan," sahut Gallen.
Siyyara memutar bola matanya jengah. Mengapa Gallen selalu saja memancing emosinya, apa dia tidak tahu jika saat ini dia mati-matian menahan diri agar tidak mengumpat? Dasar Gallen bodoh, pikir Siyyara.