
I found a love for me
Oh darling, just dive right in and follow my lead
Well, I found a girl, beautiful and sweet
Oh, I never knew you were the someone waiting for me
Siyyara memejamkan kedua matanya seraya menunduk, dia sangat malu karena sekarang dirinya menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Lantai dansa yang semula penuh dengan para pasangan yang sedang berdansa, sekarang tempat itu hanya ada dirinya dan Gallen. Karena semua orang sedang menepi seolah memberi ruang untuk dirinya dan Gallen.
'Cause we were just kids when we fell in love
Not knowing what it was
I will not give you up this time
But darling, just kiss me slow, your heart is all I own
And in your eyes, you're holding mine
Gallen menghampiri Siyyara dengan langkah kaki pelan, seolah dia ingin mengulur-ulur waktu, dia menyanyi dengan pandangan yang terus mengarah ke Siyyara.
Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favourite song
When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath
But you heard it, darling, you look perfect tonight
Siyyara merasakan perasaan aneh di dalam hatinya, menggoda teman-teman Alvian adalah salah satu hobinya, tetapi ketika dia menggoda Gallen, ada perasaan lain yang hinggap di dalam hatinya.
'Bukankah aku dan dia baru saja bertemu hari ini? Lalu mengapa aku merasa sudah mengenalnya lama? Atau hanya perasaan ku saja?' batin Siyyara, dia menatap Gallen dengan tatapan ragu dan gelisah.
Well I found a woman, stronger than anyone I know
She shares my dreams, I hope that someday I'll share her home
I found a love, to carry more than just my secrets
To carry love, to carry children of our own
We are still kids, but we're so in love
Fighting against all odds
I know we'll be alright this time
Darling, just hold my hand
Be my girl, I'll be your man
I see my future in your eyes
Alvian dan Maira tersenyum menyaksikan keromantisan Gallen dan Siyyara.
"Mas, apakah tidak apa jika kita mendekatkan mereka disaat Siyyara masih belum mengingat masa lalunya?" Tanya Maira dengan wajah khawatir.
"Itu bukan masalah, Maira. Aku tidak tahu masalah apa yang membuat mereka berpisah dua tahun yang lalu, tetapi aku yakin jika Siyyara memendam perasaan kepada Gallen. Aku tahu seperti apa watak Siyyara, meski dia tidak mau jujur, tetapi dia tidak bisa membohongi ku," ujar Alvian.
"Bagaimana jika ingatan Siyyara belum juga pulih dan hubungan mereka semakin dekat?"
Alvian menatap wajah gelisah Istrinya. Dia pun menyunggingkan senyum menawannya.
"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja," ujar Alvian yang berusaha menenangkan kekhawatiran Istrinya.
Baby, I'm dancing in the dark, with you between my arms
Barefoot on the grass, listening to our favorite song
When I saw you in that dress, looking so beautiful
I don't deserve this, darling, you look perfect tonight
Gallen meraih kedua tangan Siyyara dan menggenggamnya dengan lembut. Gallen menatap Siyyara dengan tatapan penuh puja, Siyyara yang menyadari tatapan Gallen, dia pun tersenyum malu dan segera mengalihkan pandangannya.
"Ehem."
Mendengar suara deheman orang yang sangat ia kenali, Siyyara segera menjauh dari Gallen.
Siyyara membalikkan tubuhnya dan membelakangi Gallen, dia menatap pujaan hatinya dengan tersenyum manis.
"Brian?"
"Hallo, Dear," ujar Brian dengan santai. Brian berjalan mendekat ke arah Siyyara, lalu dia mencium kening Siyyara.
Menyaksikan adegan itu, Gallen memalingkan wajahnya, kedua tangannya terkepal erat dan wajahnya mengeras. Dia sangat marah karena ada seseorang yang begitu berani mencium Siyyara, meski hanya di kening.
"Dear, who is he?" Tanya Brian.
"Ah ya, dia kak Gallen, dia adalah sahabat nya kak Alvian," jawab Siyyara dengan tersenyum.
Brian melirik sedikit ke arah Gallen, lalu dia kembali menatap Siyyara.
"Maaf karena aku baru bisa datang," ujar Brian dengan memeluk mesra Siyyara.
"Tidak apa, aku senang karena kamu benar-benar mau datang ke Indonesia." Siyyara membalas senyuman Brian.
"Aku datang hanya untukmu, sayang," tukas Brian.
Brian melirik Gallen lagi.
"Hallo, kita belum berkenalan secara langsung." Brian mendekati Gallen sambil menggandeng tangan Siyyara.
"Kalau begitu, perkenalkan namaku Brian Sanu Regan. Kekasih dari Siyyara." Brian menodongkan tangannya untuk berjabat dengan Gallen.
"Kekasih?" Tanya Gallen lagi untuk memastikan pendengaran nya.
Brian dan Siyyara hanya mengangguk kompak, dan itu membuat hati Gallen seperti dicabik-cabik langsung oleh binatang buas.
"Siapa namamu?" Tanya Brian lagi.
"Gallen Altara Damestria," jawab Gallen dengan nada datar.
"Woa! Damestria? Aku tahu banyak tentang nama itu, para gadis di Jerman begitu mengagumi sosok Gallen Damestria. Kau memiliki banyak penggemar di sana," ucap Brian dengan nada santai.
Gallen diam, dia merasa muak. Hatinya terasa panas. Dia ingin mengamuk saat ini juga, tapi dia sadar, ini adalah acara penting sahabatnya, dia tidak ingin membuat kehebohan di pesta ini.
"Brian, benarkah Gallen terkenal di Jerman?" Tanya Siyyara dengan raut berbinar.
"Iya, sayang. Kamu bisa bertanya langsung kepada orangnya. Bahkan dulu saat dia tiba di bandara Otto Lilienthal, di sana sangat ramai oleh teriakan para gadis karena Gallen ada di sana."
"Woa, benarkah? Kak Gallen hebat."
Gallen tersenyum getir.
"Aku harus pergi, aku ingat jika ada urusan penting yang harus ku selesaikan," ujar Gallen.
"Kak Gallen mau pergi?"
Saat Gallen membalikkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu, Brian segera melancarkan aksinya.
"Sayang, lain kali jangan menggoda teman-teman kak Alvian lagi ya. Jika yang kamu goda teman-teman kak Alvian yang biasa, mungkin aku bisa paham karena mereka tahu jika kamu hanya bercanda menggodanya. Tapi aku tidak suka jika kamu menggoda seseorang yang tidak tahu jika kamu hanya bercanda, sayang. Aku kasihan kepadanya, pasti dia berharap begitu banyak padamu," ujar Brian dengan melirik Gallen yang sudah membalikkan tubuhnya, tetapi dia belum beranjak dari tempatnya berdiri.
Siyyara tersenyum canggung, "Maafkan aku, Brian. Aku janji, aku tidak akan mengulangi nya lagi," jawab Siyyara dengan nada lirih.
Raut wajah sedih terpancar jelas di wajah Gallen, dia segera pergi dari pesta itu dengan terburu-buru tanpa menoleh ke belakang, hati nya hancur saat mengetahui orang yang telah ia nantikan kehadirannya ternyata dia sudah memiliki kekasih.
*
"Mas, mengapa Brian sampai ada di sini? Bukankah Mas tidak mengundangnya?" Tanya Maira, dia tidak tega kepada Gallen.
"Pasti Siyyara yang sudah memanggilnya." Alvian terus mengawasi Siyyara yang masih memeluk Brian.
"Jujur, aku tidak menyukai kedekatan mereka, aku merasa jika Brian hanya terobsesi dengan Siyyara saja, dia tidak mencintai Siyyara," ucap Alvian dengan pelan.
"Siyyara saat ini sedang tidak mengingat siapapun selain keluarganya dan juga Brian. Lalu apa yang ingin Mas lakukan? Ku rasa ini akan sulit, Mas. Mengingat Siyyara yang begitu bergantung kepada Brian. Brian seolah datang di saat yang tepat, andai saja Brian hadir saat Siyyara masih belum hilang ingatan, pasti Brian akan ditolak mentah-mentah oleh Siyyara," gerutu Maira.
Alvian segera memutar kepalanya ke arah Istrinya. Dia mencerna kalimat Maira dengan baik.
"Kamu benar, Ra. Kehadiran Brian yang tepat saat Siyyara tidak mengingat apapun, membuatku memiliki alasan untuk mencurigainya. Kita harus menjauhkan Siyyara dengan Brian secepatnya. Aku tidak ingin Siyyara menyesal di kemudian hari."
Maira mengangguk mantap.
"Ayo kita dekati mereka, Mas. Dan bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa." Maira mengelus lengan Alvian, dia tahu jika suaminya sedang menahan kemarahannya saat Brian berhasil membuat Gallen pergi dari pestanya.
"Ayo."
*
"Brian, besok kita jalan-jalan ya. Aku bosan di rumah terus, kak Alvian dan Daddy juga selalu melarang ku pergi jauh-jauh," ucap Siyyara dengan cemberut.
"Hahaha. Baiklah, besok kita jalan-jalan. Kamu mau kemana?" Tanya Brian dengan menangkup wajah Siyyara.
"Tidak ada yang boleh pergi kemanapun," sahut Alvian cepat.
Brian dan Siyyara menoleh cepat ke sampingnya, dimana disana sudah ada Alvian dan Istrinya.
"Hai, kak. Selamat atas pernikahan mu dengan kak Maira ya. Semoga kalian selalu bahagia dan segera di beri momongan," ujar Brian.
"Terimakasih untuk doa nya." Alvian pura-pura tersenyum.
"Oh ya, mana Gallen?" Tanya Alvian seolah tidak tahu apa-apa.
"Kak Gallen sudah pergi, kak. Katanya tadi dia ada urusan penting," jawab Siyyara.
"Kenapa dia tidak pamit padaku? Bahkan aku dengan khusus mengundangnya untuk datang ke sini. Dia adalah tamu yang paling Istimewa ketimbang tamu-tamu ku yang lainnya," tukas Alvian menahan kekesalannya.
Brian tersenyum canggung, Brian tahu jika sebenarnya Alvian sedang menyindirnya dengan kata-kata 'Khusus mengundangnya', sedangkan dia ada di pesta ini pun bukan karena undangan Alvian, melainkan karena Siyyara yang memaksanya untuk datang.
"Kak Gallen menitipkan salam untuk kakak, sepertinya dia benar-benar terburu-buru," ujar Siyyara.
'Dia tiba-tiba pergi karena ulah kekasihmu itu, Siyya,' batin Alvian menggeram marah.
Alvian menatap adiknya dan juga Brian dengan tajam.
"Besok kamu tidak boleh pergi kemanapun. Besok Daddy akan pergi ke rumah Tante Amanda. Dan ada baiknya kita ikut bersama Daddy."
"Tante Amanda? Siapa dia, kak? Apakah dia kerabat kita?"
"Dia adalah sahabatnya Daddy dan Mommy. Anak Tante Amanda yang sulung juga sahabat kakak. Dan anaknya yang bungsu adalah temanmu dua tahun yang lalu," jelas Alvian.
Siyyara mengangguk dan mulutnya berbentuk huruf O.
"Apakah tidak apa jika Siyyara masih belum mengingat Tante Amanda, kak? Siyya takut." Siyyara menunduk sedih.
"Tidak apa, tante pasti mengerti. Tante juga sangat menyayangi mu, kamu pasti akan senang bertemu dengannya," hibur Alvian.
"Benarkah? Siyyara jadi tidak sabar ingin bertemu Tante Amanda, kak." Wajah Siyyara kembali ceria, dan hal itu membuat Alvian terkikik geli.
Brian diam dan menyunggingkan senyumnya dengan terpaksa.
"Kak, apakah Brian boleh ikut?" Tanya Siyyara lagi. Dan kali ini pertanyaan Siyyara membuat Alvian menghilangkan senyumannya.
"Tidak boleh. Acara keluarga tidak boleh diganggu oleh orang asing."
"Apa maksud kakak? Brian bukan orang asing, kak. Kakak jangan keterlaluan deh," bantah Siyyara.
"Sekali tidak tetap tidak. Jika kamu membantah perintah Daddy, lihat saja nanti. Kakak tidak akan mengizinkan mu dekat dengan Brian lagi." Alvian mulai menunjukkan ancamannya.
"Kakak!"
"Jangan membantah, Siyya. Sebaiknya kamu temui Daddy di aula sebelah. Beliau ingin berbicara dengan mu."
"Siyya, aku pergi dulu ya," ucap Brian kemudian.
"Tidak, Brian. Aku baru akan mengizinkanmu pergi dari sini setelah kamu makan. Aku tidak akan membiarkan tamu pergi dengan perut kosong. Kita makan bareng ya," bujuk Siyyara.
"Tidak, Siyya. Aku harus pergi."
"Baiklah, Brian. Silahkan, kamu boleh pergi," sahut Alvian dengan menggerakkan tangannya ke arah pintu keluar dari gedung itu.
Brian mati-matian menahan rasa malunya dan juga kemarahannya. Jika yang di depannya saat ini bukan kakak dari kekasihnya, sudah pasti Brian akan menghajar seseorang yang berani dengan sengaja menghinanya.
"Permisi," ucap Brian sebelum pergi dari aula itu.
"Hm, silahkan." Alvian menatap Brian dengan tatapan sinis.
Brian segera pergi dari pesta itu dengan membawa rasa kesal, dengki, dan juga emosi. Hatinya seperti disiram minyak tanah dan dengan sengaja Alvian menyalakan api di hatinya yang sudah tersiram minyak tanah.
"Brian?" Panggil Siyyara.
"Brian tunggu." Siyyara memanggil Brian lagi, tetapi panggilan Siyyara sengaja di abaikan Brian.
Setelah punggung Brian sudah tidak terlihat, Siyyara menatap kakaknya dengan marah.
"Kakak jahat! Kenapa kakak bersikap seperti itu kepada Brian? Apa salah Brian?" Bentak Siyyara.
"Bersikap bagaimana?"
"Kakak mengusir Brian dari sini, sedangkan dia rela jauh-jauh datang kesini demi untuk menghadiri acara pernikahan kakak, tetapi kakak malah mengusir nya," ucap Siyyara.
"Gallen juga pergi sebelum acara ini selesai, dan lagi dia pergi dalam keadaan perutnya masih kosong. Jadi impas kan? Dia sudah berani membuat Gallen pergi dari sini, dan kakak juga bisa membuatnya pergi dari sini," tukas Alvian tidak mau kalah.
"Kakak!" teriak Siyyara.
"Sejak kapan kamu jadi berani kepada kakak?" Tanya Alvian dengan santai, dia melipat kedua tangannya di depan dada.
"Siyya benci kakak. Kakak sudah berubah!" Siyyara segera pergi meninggalkan Alvian dan juga Maira yang sedari tadi hanya diam saja.
"Siyya?" Panggil Alvian dengan nada menyeramkan.
"Kembali Siyya! Kakak belum selesai berbicara padamu!" Teriak Alvian dengan keras, seketika para tamunya pun memandang ke arah Alvian dengan penuh tanya.
"SIYYA!"
"Sudah, Mas. Malu dilihat orang banyak." Maira berusaha menenangkan kemarahan Alvian.