The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 7 : I Don't Believe It



Al's pov


"Mau apa kau disini manusia ? Apa kau ingin menghancurkan kami para iblis ?"ucap dia dengan sinisnya. Ternyata benar, dia adalah iblis. Aku masih diam mematung dengan tangan keatas. Antara takut dengan bingung menjadi satu.


"Jawab pertanyaanku!!!"


"T-tidak, aku .... aku tidak ingin menghancukan para iblis ?"ucapanku terlihat seperti sebuah pertanyaan karena aku pun tidak tahu apa - apa.


Tiba - tiba semak - semak disekitar bergerak - gerak seperti ada sesuatu yang sedang menuju kesini. Kalau itu hewan buas bisa gawat. Tetapi iblis di depanku biasa saja. Tidak terlihat waspada dengan sesuatu yang akan datang itu.


"Hey Sam. Sedang apa kau disini ? Dan siapa manusia itu ? Apa dia penyusup ?"ucap seorang iblis yang baru saja datang kepada iblis didepanku yang kurasa bernama Sam.


Ketakutanku bertambah saat iblis yang sebelumnya berbicara menodongkan tombaknya diikuti oleh semua iblis yang ada di sekelilingku. Ada sekitar 20 iblis lain yang datang. Jadi aku tidak bisa melarikan diri


"Lebih baik kita bawa saja manusia ini ke hadapan yang mulia."


Aku mulai berbicara saat tanganku diikat kebelakang oleh salah satu iblis.


"T-tunggu. Aku bukan penyusup ! Kumohon lepaskan aku." Kepanikanku pun bertambah karena ucapanku tidak digubris oleh mereka.


Aku tidak ingin memberontak karena aku takut kalau mereka akan membunuhku. Aku hanya bisa berdoa saja untuk keselamatan.


Kami berjalan menembus lebatnya hutan. Aku tidak tahu akan dibawa kemana. Ke kerajaan mereka mungkin ? Entahlah aku tidak tahu.


Selama perjalanan aku tidak ditodong memakai tombak jadi aku bisa menghela nafas lega untuk sementara waktu. Kami terus berjalan hingga dikejauhan aku bisa melihat tembok raksasa yang seperti benteng sebuah kerajaan. Tembok itu terlihat sangat tebal dan tinggi.


Akhirnya aku sampai di didepan tembok itu. Aku melihat gerbang yang terbuat dari kayu yang dijaga oleh dua orang iblis di masing - masing sisi pintu. Gerbang kayu itu sepertinya adalah gerbang keluar masuk para iblis ini. Terlihat dari beberapa iblis yang masuk dan keluar lewat gerbang di depanku ini.


Aku akhirnya masuk melewati gerbang yang sebelumnya aku bicarakan. Aku terus berjalan dijalan yang sepertinya adalah jalan utama. Terlihat dari banyaknya kereta kuda yang lewat di sebelahku ataupun orang - orang yang mengendarai kuda.


Aku terus berjalan dengan keadaan tangan terikat ke belakang. Disepanjang jalan banyak iblis - iblis lain yang melihat kearahku dengan tatapan kebencian.


Setelah berjalan cukup lama. Aku melihat bangunan yang sangat megah seperti sebuah istana di depanku. Aku tidak tahu itu benar - benar sebuah istana atau bangunan lain. Karena rasa penasaranku yang tidak bisa dibendung lagi akhirnya aku bertanya kepada iblis yang ada di sampingku.


"Hei, apa itu benar - benar sebuah istana ?"


"Diam kau !! Kau tidak berhak untuk berbicara sekarang !!"bukannya mendapatkan jawaban aku malah mendapatkan kemarahan sang iblis.


"Aku kan cuma bertanya. Memang apa salahnya aku bertanya ? Dasar aneh"gumamku


"Kubilang diam ya DIAM !!! JANGAN BERBICARA SEBELUM WAKTUNYA !!!"bentaknya dengan penuh tekanan pada setiap ucapannya kepadaku.


sungguh aku merasa kesal dibentak saat aku hanya ingin bertanya. Daripada aku kena bentakkan lagi lebih baik aku diam.


Bangunan megah yang seperti istana saat ini tepat di depan mataku. Hanya lima langkah saja aku akan memasuki kedalam bangunan itu. Tetapi sebelum masuk kami harus berhadapan dengan penjaga gerbang istana.


Kami langsung melewati penjaga gerbang itu tanpa ditanya apapun. Mungkin mereka sudah saling mengenal.


Setelah melewati gerbang istana mataku disuguhkan oleh pemandangan taman yang penuh dengan pohon buah - buahan dan berbagai macam bunga yang berwarna - warni. Dan saat ini kami berjalan di jalan yang berada di tengah - tengah taman yang diujung jalan ini adalah sebuah istana.


Akhirnya aku ada di dalam istana di sebuah ruangan dengan seseorang duduk di kursi yang terlihat sangat mewah. Orang itu terlihat sangay berwibawa. Semua iblis yang membawaku kesini terlihat memberi hormat kepada orang yang duduk di kursi itu. Aku tidak tahu dia siapa tapi yang pasti dia adalah orang yang sangat dihormati para iblis.


"Uugh" sakit yang kurasakan saat kakiku ditendang dengan keras oleh salah satu iblis yang ada di belakangku. Aku pun bertumpu di kedua lututku seperti orang yang sedang sujud.


"Hormat kami, yang mulia" secara serempak mereka menundukkan kepala dan semua iblis yang membawaku mengucapkan kata - kata yang membuatku yakin bahwa orang yang duduk dihadapanku adalah raja dari para iblis ini.


Author's pov


"Angkat kepala kalian"ucap raja iblis dengan penuh kharisma.


Lalu semua iblis mengangkat kepala. Al yang dengan keadaan tidak berubah tetap dibiarkan sedangkan semua iblis sudah berdiri.


"Ada apa kalian datang kemari dengan membawa manusia ini ? Apakah dia ingin menghancurkan kerajaanku ?"tanya raja dengan nada yang santai. Tidak terlihat arogan atau sombong.


"Kami menemukan manusia ini di hutan saat kami sedang berjaga, yang mulia"ucap Sam. Iblis yang menemukan Al di hutan.


Raja yang mendengar penuturan dari bawahannya berdiri dari kursi dan berjalan menuju Al yang sedang duduk itu. Iblis yang berada dekat dengan Al memundurkan langkah menciptakan jarak yang cukup lebar. Setelah sudah berada didepan Al, raja berjongkok mensejajarkan dengan Al sehingga kini mereka bisa saling bertatap muka.


"Apa tujuanmu kemari ? Apa kau ingin menghancurkan kerajaanku ?"raja mulai mengintrogasi Al.


Bukannya menjawab pertanyaan dari raja, Al malah bertanya balik kepada raja dengan ekspresi yang terlihat kebingungan.


"Menghancurkan kerajaan ? Kenapa kalian selalu mengatakan itu ? Memang apa untungnya aku menghancurkan kerajaan ini ? Aku tidak tahu ada masalah apa yang terjadi di antara kalian dengan manusia dari dunia ini. Sungguh aku tidak mengerti dengan semua ini."Al mengucapkan itu semua dengan menautkan kedua alis tanda dia sedang bingung.


"Tunggu, kau tadi bilang apa ? Manusia dari dunia ini ? Kau mengucapkan itu seolah - olah kau berasal dari dunia lain yang tersesat di dunia ini"raja mengucapkan itu dengan ekspresi serius.


Tiba - tiba raja tertawa dengan keras hingga mengeluarkan air mata.


"HAHAHAHA. Maaf HAHAHA......."


"Kau....benar. Aku......dari dunia lain. Dan aku ter...sesat"


"Aku tidak percaya. Apa buktinya jika kau berasal dari dunia lain ?"


Raja membuat seringai jahatnya


"Aku akan memberikan kesepakatan. Jika kau bisa memberikan bukti kalau kau memang berasal dari dunia lain. Kau akan aku bebaskan. Tetapi jika kau tidak bisa menunjukkan bukti. Aku akan memenggal kepalamu dan menjadikannya pajangan di kamarku."ucap raja dengan seringai jahat yang tidak pernah hilang. Dia sangat yakin kalau manusia di depannya ini tidak memiliki bukti dan dia bisa menambah koleksi kepala di kamarnya.


Al berkeringat dingin saat mendengar ucapan raja. Dia memang berasal dari dunia lain tetapi dia tidak memilili bukti untuk ditunjukkan.


"Aku hitung sampai tiga"


"Satu"raja memulai hitungannya. Sedangkan Al berkeringat dingin.


"Dua"keringat dingin di tubuh Al semakin banyak. Wajahnya pun terlihat sangat tegang.


"Tiga..... hitungan habis. Prajurit bawa dia kealat pancung"saat mendengar itu kepala Al tiba - tiba tertunduk lesu. Dia sudah pasrah untuk mati yang kedua kalinya.


Al's pov


"Aku hitung sampai tiga"ucap raja dengan seringai yang tidak pernah hilang


'Aku tidak mau mati lagi'ucapku dalam hati.


"Satu"


'Gawat!!!aku harus bagaimana ?'ucapku dalam hati dengan keringat dingin.


"Dua"


'Dewi fortuna. Tolong lah aku. Aku tidak mau mati lagi."pikirku dengan keringat dingin yang semakin banyak.


"Tiga..... hitungan habis. Prajurit bawa dia kealat pancung"


'Ternyata dewi fortuna tidak memihakku. Yah, kurasa hidupku akan berakhir lagi. Dan kali ini akan benar - benar berakhir.'ucapku dalam hati dengan kepala ditundukkan.


Aku pun diseret menuju pojok ruangan ini yang terdapat sebuah alat pemotong kepala seperti yang ada pada film - film abad pertengahan. Disana sudah menunggu iblis yang siap akan kedatanganku.


Kepalaku ditempatkan di kayu yang tepat di atasku terdapat bilah besi yang terlihat sangat tajam. Setelah posisiku sudah tepat, raja memerintahkah iblis algojo untuk memotong tali yang jika terputus maka bilah besi diatasku langsung jatuh dan memotong leherku.


Jangan tanya apa perasaanku. Intinya saat ini aku takut. Sangat - sangat takut dihadapkan dengan keadaan seperti ini. Tetapi aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa pasrah dan berdoa untuk keselamatanku.


Iblis algojo sudah mengangkat pedangnya tinggi - tinggi. Dia mulai mengayunkan pedangnya kebawah dan aku hanya bisa menutup erat mataku agar berharap aku tidak akan merasakan sakitnya. Tetapi....


"Hentikan!!!"ucap seseorang menggema diruangan ini. Pedang yang akan memotong tali hanya berjarak 1 cm saja sebelum tali itu putus. Semua kegiatan berhenti digantikan tatapan semua makhluk hidup di dalam ruangan mengarah ke pintu.


"Winston ? Mau apa kau ke sini ?"raja iblis memanggil nama dari orang dekat pintu itu dengan nada bingung.


"Tidak. Apa kau tidak merasakan kekuatan phoenix Azazil ?"tanya orang yang kurasa bernama Winston itu kepada raja iblis yang baru kutahu namanya adalah Azazil. Azazil ? Aku sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi dimana ?.


"Tidak"ucap raja iblis dengan datar.


"Lagi pula kau tahu sendiri kalau phoenix sudah musnah kan ?"lanjutnya.


"Oh iya, aku lupa memberi tahumu. Sebenarnya aku mendapat penglihatan masa depan. Kegelapan akan bangkit dan kau sudah tahu itu. Lalu, yang mengalahkan kegelapan adalah reinkarnasi dari phoenix dan kau baru tahu kan ? Aku kesini karena aku memang ingin berkunjung saja. Tetapi aku malah merasakan kekuatan dari salah satu reinkarnasi phoenix. Karena aku merasakan kekuatan phoenix ada di istana aku pergi kesini sekalian berkunjung. Tetapi aku tidak percaya. Kau ingin membunuh reinkarnasi phoenix ?."ucap Winston panjang lebar.


Raja hanya melongo dengan semua ucapan Winston. Mulut raja menganga lebar dan mata yang terbelalak. Setelah sadar, raja mengucapkan sesuatu dengan nada yang lirih.


"Aku ingin membunuh phoenix dan membuat dunia ini jatuh ke tangan kegelapan ? Aku bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan dan apa akibatnya. Aku tidak percaya itu"


"Kau dari dulu tidak pernah berubah. Kau selalu saja bertindak sesuka hatimu."ucapan Winston sepertinya membuat raja kesal. Itu terlihat dari raut wajah raja yang tiba - tiba kesal.


"Aku kan tidak tahu kalau dia adalah phoenix."ucap raja dengan sinis.


"Lepaskan dia, aku akan membawanya bersamaku."ucap Winston ke raja.


"Penjaga, lepaskan."ucap raja sinis. Sepertinya dia masih kesal dengan ucapan Winston.


Aku tidak memperdulikan percakapan yang terjadi di antara raja dan Winston. Yang terpenting adalah aku selamat dari maut dan ternyata dewi Fortuna masih memihakku. Aku harus berterima kasih kepada Winston yang menyelamatkanku. Tapi itu nanti saja.


Iblis yang ingin memenggal kepalaku membuka ikatan yang ada di tubuhku. Setelah semua ikatan lepas aku melihat ke arah Winston dan mendapat isyarat aku harus mendekat ke arahnya. Aku pun mendekat. Setelah aku berada di sampingnya Winston pamit pergi ke raja.


"Azazil aku pergi dulu. Aku masih memiliki banyak urusan."


"Yah, pergi sana"usir raja.


"Baiklah. Ayo"ajak Winston kepadaku.


dan kami pun melangkahkan kaki pergi dari kerajaan iblis.


*******