
Brian's pov
Setelah kejadian penyerangan para doppelganger itu desa mengalami kerusakan parah. Banyak rumah yang hancur. Untungnya tidak ada korban jiwa dari penduduk desa. Doppelganger juga dapat dipukul mundur setelah pemimpin kami yaitu pemimpin desa datang dan membantu melawan doppelganger.
Saat ini kami semua saling membantu untuk membangun kembali desa agar seperti sedia kala. Semua warga yang ikut membangun memiliki tugasnya masing - masing. Aku ikut membantu menebang pohon di hutan. Aku dan 6 orang lainnya yang akan menebang pohon segera pergi ke hutan.
Beberapa menit kemudian kami telah sampai di hutan. Aku dan yang lainnya segera memilih pohon yang sesuai dan cocok untuk ditebang. Kami semua berpencar walaupun tidak terlalu jauh. Sebelum menebang aku merenung sejenak.
'Kalau desa membutuhkan banyak kayu maka akan sangat banyak pohon yang harus ditebang. Jika demikian itu berarti sama saja desa merusak hutan. Tapi.... Bagaimana kalau aku menggunakan kekuatan apiku untuk memperbesar dan memperingan satu pohon ? Bukankah itu sangat efektif ?'
Aku pun melihat ke arah orang - orang yang ikut menebang. Mereka sudah bersiap - siap akan menebang pohon. Tetapi aku segera menghentikan mereka dan memberikan ideku kepada mereka semua.
"Tunggu, semuanya..."ucap ku
"Ada apa Brian ?"tanya orang yang paling dekat posisinya denganku yang bernama Ryan. Dia seumuran denganku.
"Aku mempunyai ide yang menurutku sangat efektif. Kalian mendekatlah."ucapku lagi.
Lalu keenam orang itu pun mendekat kepadaku. Setelah semuanya berkumpul aku pun mulai menjelaskan ideku. Setelah aku selesai menjelaskan mereka tampak ragu dengan apa yang ku katakan. Entah apa yang membuat mereka ragu.
"Apakah ada kekuatan semacam itu ?"ragu Tom. Lelaki berumur sekitar 25 tahun.
"Iya benar, aku tidak mengetahui tentang kekuatan itu.."temannya yang bernama Jimmy pun ikut menyahut.
"Kalian tidak percaya ?"ucapku.
"Akan ku buktikan ! Lihat baik - baik..."
Lalu aku mengambil sebuah ranting kering. Aku pun membakar ranting itu dengan kekuatanku. Setelah apiku membakar ranting itu hingga seperti membungkusnya ranting itu membesar dengan perlahan.
Semua yang melihat kejadian itu membelalakkan mata tidak percaya dengan mulut menganga.
"K-kekuatan macan apa itu !?"ucap seseorang yang berumur 30 tahun yang bernama Ron. Dia adalah yang tertua di sini.
"M-mustahil !"ucap orang disebelahnya yang bernama Kay.
"Oh ayolah, kalian masih tidak mempercayainya ?"tanyaku.
"Bukan begitu. Kami hanya terkejut saja kalau memang ada kekuatan seperti itu..."ucap kay.
"Jadi ? Apa kalian setuju dengan ideku ?"tanyaku.
"Yah, tidak ada salahnya mencoba. Lagipula kalau itu berhasil. Kita tidak perlu merusak hutan."ucap lelaki berumur 20 tahun yang bernama Daniel.
"Aku juga tidak masalah." ucap Kay menimpali.
"Baiklah. Hanya tinggal mencari pohon kualitas terbaik."
Yang lainnya hanya menganggukkan kepala. Lalu kami pun mencari sebuah pohon bersama - sama. Kami menyusuri hutan lebih dalam lagi agar kami mendapatkan pohon kualitasnya lebih tinggi. Akhirnya aku dan orang yang ikut bersama ku menemukan pohon yang cocok. Tidak terlalu besar tetapi tidak terlalu kecil.
Tanpa menunggu lama lagi Kay segera mengeluarkan kapaknya dan mulai menebang pohon. Hanya butuh 3 kali ayunan kapak darinya pohon itu langsung rubuh ketanah. Setelah itu yang lainnya pun menghampiri pohon itu dan mulai memotongnya hingga menghasilkan balok - balok kayu.
15 menit kemudian kami menemukan padang rumput yang tidak terlalu luas yang cocok untuk menggunakan kekuatanku. Kami pun berhenti di tengah - tengah padang rumput dan menjatuhkan balok kayu ke tanah.
"Baiklah, saatnya menggunakan kekuatanku. Kalian semua mundurlah sedikit..."
Aku memejamkan mata untuk memfokuskan pikiranku ke tubuhku. Lalu mengendalikan mana yang ada di tubuhku untuk disebarkan ke semua anggota tubuhku. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Aku merasakan sensasi melayang. Setelah itu aku merasakan tubuhku mulai berubah bentuk.
Kurasakan tanganku berubah menjadi sayap seekor burung. Kakiku juga berubah menjadi kaki seekor burung. Bukan hanya tangan dan kaki. Kepalaku pun ikut berubah menjadi kepala burung dengan paruh yang bengkok dan tajam seperti elang. Aku telah berubah menjadi seekor burung coklat raksasa yang diselimuti oleh api berwarna coklat juga. Yap, betul. Aku telah berubah menjadi Brown Phoenix.
Aku yang tengah melayang membuka mata dan turun dengan perlahan hingga kaki burungku menapak di tanah. Kulihat mereka semua melebarkan matanya saat melihat perubahan wujudku. Aku tidak memperdulikan itu dan memfokuskan pandanganku kearah balok kayu dihadapanku.
Setelah itu aku mengepakkan sayapku kearah tumpukan balok kayu. Api berwarna coklat segera muncul dari kepakkan sayapku dan menyebar dengan cepat di tumpukan balok itu. Balok yang terkena apiku membesar dengan perlahan. Aku pun terbang kembali agar tidak terkena balok kayu yang sedang membesar itu. Yang lainnya pun segera lari menjauh.
Aku melihat dari atas. Setelah aku merasa besarnya sudah cukup aku mengepakkan sayapku lagi. Kali ini yang keluar dari kepakkan sayapku bukan api berwarna coklat melainkan hembusan angin yang memadamkan api coklatku yang ada di balok kayu. Setelah apiku padam balok itu berhenti membesar.
Aku turun dengan perlahan. Setelah menapak di tanah aku memanggil yang lainnya untuk mendekat. Kulihat ekspresi mereka tidak berubah. Aku tahu mereka terkejut dengan wujudku ini dan akan meminta penjelasan dariku. Tetapi sebelum itu terjadi aku segera menyuruh mereka untuk memotong balok - balok kayu itu hingga berukuran normal.
Mereka pun melakukan apa yang aku suruh. Setelah selesai kini balok kayu pun bertambah dua kali lipat. Aku menyuruh mereka lagi untuk menjauh karena aku akan memperbesar balok kayu lagi seperti sebelumnya.
Kegiatan itu terus dilakukan hingga akhirnya kami menghasilkan banyak tumpukkan besar balok kayu yang cukup untuk membangun desa. Lebih tepatnya 7 tumpukkan kayu setinggi 5 meter yang berisi 100 balok kayu di setiap tumpukkan. Jadi kami berhasil membuat 700 balok kayu hanya dengan sebatang pohon.
Aku yang sebelumnya terbang segera turun dan merubah wujudku menjadi manusia lagi dan berkumpul dengan yang lainnya. Sebelumnya aku telah menceritakan tentang diriku yang menjadi Phoenix. Aku juga menyuruh mereka agar tidak menceritakannya kepada siapapun. Mereka pun berjanji tidak akan menceritakannya ke siapapun termasuk keluarga mereka. Hanya mereka saja yang tahu kalau aku adalah Phoenix.
"Bagaimana caranya agar kita membawa semua balok kayu itu ? Kita pasti akan kesulitan membawanya.."Tanya Tom.
"Mudah saja, kita akan menggunakan kekuatan Brian kembali untuk memperingan bebannya. Dan masing - masing membawa satu tumpukkan kayu."timpal Ron.
"Tapi kita tidak akan bisa melewati hutan yang lebat dengan membawa barang bawaan yang besar walaupun sudah di ringankan bebannya..."Kay membantah ucapan Ron.
"Kita adalah ras naga kan ? Mengapa tidak lewat jalur udara saja ?"ucapku.
"Iya juga. Baiklah, kita akan lewat jalur udara dengan masing - masing dari kita membawa satu tumpukkan kayu yang sudah diikat dan di ringankan bebannya oleh Brian."ucap Ron.
Lalu kami semua berpencar menuju tumpukkan balok yang akan dibawa masing - masing dan mengikatnya dengan tali yang sebelumnya sudah dibawa. Setelah itu aku menyentuh ke tujuh tumpukkan balok dan mengalirkan api coklatku.
Setelah merasa cukup satu - persatu kami berubah menjadi naga dan mengangkat satu tumpukkan balok dan terbang menuju desa. Tidak lama kami telah sampai di desa karena perjalanan udara lebih cepat dari pada perjalanan darat. Dan kami semua mulai membangun desa naga kembali.
*******
**Jangan lupa like, vote, dan komennya karena author butuh saran kalian.
Jangan pernah bosan untuk menunggu update-an cerita ini ya (:
Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati :)
See you in the next chap :v**
CapricornDS089