
"Salah satu dari kami..... terbunuh !"ucap Al dengan pandangan kosong.
Perkataan Al berhasil membuat raja Albus dan Winston lebih terkejut.
"APA !!!"
---------------------------------------------
"Hiks....kak....hiks....aku mohon....hiks....aku mohon, bukalah matamu....hiks...."ucap Sierra diselingi oleh isak tangis sembari memeluk tubuh dingin Arthur.
"Jika saja....hiks....jika saja, aku lebih kuat...hiks....kakak....hiks....pasti tidak akan berakhir seperti ini....hiks...."Sierra menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakaknya.
Will yang tidak tahan melihat Sierra menyalahkan dirinya mulai mendekat dan memegang bahunya.
"Sierra, kau tidak boleh menyalahkan dirimu atas kematian Arthur karena ini bukan kesalahan yang kau perbuat ! Ini semua merupakan kesalahan para Night Eagle itu !"ucap Will menenangkan Sierra.
Sierra tersentak mendengar perkataan Will. Dirinya menjadi sadar akan sesuatu. Tatapan matanya yang tadinya menyiratkan kesedihan yang sangat mendalam, berubah menjadi tatapan penuh kebencian dan kemarahan.
"Ya, kau benar ! Ini semua salah mereka !! Karena monster - monster itu, kakak tidak bisa bersamaku lagi !!! Aku....aku akan balas dendam dan menghancurkan mereka !!!"kemarahan Sierra semakin memuncak di seiring dengan kata - kata yang keluar dari mulutnya.
Kemarahan Sierra yang memuncak memicu sesuatu yang telah lama tertidur di dalam tubuhnya terbangun.
Aura berwarna hitam tiba - tiba keluar dari tubuh Sierra dan menyelimuti seluruh tubuhnya diikuti oleh hawa yang sangat mengerikan yang meledak - ledak.
Aura hitam yang keluar dari tubuhnya semakin membesar membuat tanah di sekitar Sierra mengalami keretakan panjang diikuti oleh hempasan angin yang sangat kuat yang menghempaskan Will dan yang lainnya beberapa meter.
Gempa yang sangat besar mengguncang benua Drasius. Memporak - poranda semuanya.
Bukan hanya benua Drasius saja yang merasakan gempa itu. Hampir di semua benua merasakan gempa yang sama besarnya yang terjadi di benua Drasius.
Dengan sekejap, merubah keadaan tenang menjadi kekacauan.
Bencana alam tersebut seakan menjadi sebuah pertanda dari murkanya seorang dewi yang turun ke dunia Starus.
Aura hitam yang menyelimuti Sierra terlihat memadat. Kini Sierra telah tertutupi oleh kepompong berwarna hitam yang semakin menebal hingga akhirnya auranya kini seperti kegelapan total.
*krak*
Lalu tiba - tiba kepompong yang membalut Sierra mengalami keretakan kecil. Lalu semakin lama semakin menyebar hingga akhirnya.
*ppyyarr*
Kepompong itu pecah berkeping - keping. Menampilkan seseorang dengan sepasang sayap hitam legam dan sepasang tanduk di kepalanya yang memiliki rambut panjang berwarna hitam.
Dengan gaun berwarna hitam legam yang membalut tubuhnya, membuat dia terlihat menawan dan akan menjadi rebutan para lelaki yang melihatnya jika saja dia tidak sedang memegang sabit berukuran besar di tangan kanannya.
Raut wajahnya tidak menampilkan ekspresi apapun dan tatapan matanya kosong. Dan didekatnya ada tubuh Arthur yang tidak mengalami kerusakan apapun, masih berada di posisi yang sama.
"Sierra ? Bukan ! Dyra, apa itu benar - benar kau ?"ucap Will yang mulai mengeluarkan air matanya.
Sierra atau yang sekarang merupakan Dyra, sang dewi kematian menolehkan kepalanya ke asal suara dan melihat Will yang kepalanya mengalirkan darah.
"William..."
Suara yang sangat merdu keluar dari mulut Dyra, memanggil nama Will dengan pandangan kosongnya.
Tanpa menjawab lebih lanjut lagi, Dyra mengepakkan sayapnya dan terbang ke suatu tempat yang tidak di ketahui oleh Will yang terlihat ingin menyusulnya tetapi tidak bisa karena mananya hampir habis.
Di udara, Dyra terbang dengan anggunnya menghampiri sarang dari para Night Eagle yang telah menyerang mereka sebelumnya.
Dyra pun sampai di tempat pertama kali Arthur dan yang lain serta dirinya yang masih menjadi Sierra bertemu dengan monster bersayap yang menyerang mereka. Dyra merentangkan kedua tangannya dan mengendalikan sulur - sulur tanaman berwarna hitam untuk menghancurkan tebing - tebing yang ada di dekatnya.
Semakin lama, jumlah Night Eagle yang mengepungnya semakin bertambah hingga mencapai ribuan ekor.
Dyra pun menurunkan kedua tangannya. Ekspresinya kini berubah. Sebuah seringai menyeramkan mulai terbentuk di wajahnya yang cantik.
Dia memegang gagang sabitnya menggunakan kedua tangannya lalu mengayunkannya dengan kekuatan penuh.
Ayunan sabitnya menghasilkan sebuah gelombang angin yang melewati ratusan Night Eagle yang ada di depannya.
Sejenak, tidak terjadi apa - apa. Lalu sedetik kemudian hujan darah mulai terbentuk dari ratusan Night Eagle yang telah dilewati oleh gelombang angin sebelumnya.
Di susul oleh ratusan tubuh Night Eagle yang terbelah menjadi dua dengan potongan yang sangat rapi yang berjatuhan ke bawah menjadikan pemandangan itu seperti sekumpulan daun yang jatuh karena tertiup angin.
Night Eagle yang masih hidup sangat terkejut dan marah sekaligus takut saat melihat ratusan teman mereka mati secara mengenaskan karena di bunuh oleh orang yang tidak mereka kenal.
Secara bersamaan, semua Night Eagle terbang untuk menyerang Dyra. Sedangkan Dyra, dirinya merentangkan kedua tangannya seperti sebelumnya.
Sulur - sulur hitam yang jumlahnya tidak terhitung mulai bermunculan dari balik kabut tebal yang langsung menusuk para Night Eagle.
Dalam sekali serang, enam ratus ekor Night Eagle mati tertusuk sulur - sulur dan membuat hujan darah, sama seperti sebelumnya.
Jumlah Night Eagle yang kini hanya tersisa empat ratus ekor menjadi ketakutan melihat kekuatan yang di perlihatkan oleh Dyra.
Para Night Eagle itu pun mulai berbalik arah dan terbang menjauh. Dyra yang melihat itu tidak tinggal diam.
Dia mulai memegang sabitnya menggunakan kedua tangannya berniat untuk mengayunkannya seperti sebelumnya.
Tetapi sepasang tangan memeluk tubuhnya dari belakang, menghentikan perbuatan Dyra yang ingin membasmi Night Eagle yang tersisa.
"Sudah cukup, Dyra. Kau sudah terlalu banyak membunuh makhluk hidup."ucap orang itu di dekat telinga Dyra. Membuat dirinya menghentikan serangan yang akan di keluarkannya.
"Walau pun kau merupakan seorang dewi kematian, tapi tidak seharusnya kau membunuh banyak makhluk hidup hanya karena amarah."ucap orang itu lagi yag semakin erat memeluk tubuh Dyra.
Mata Dyra mulai berkaca - kaca. Air matanya mulai mengalir.
"Apa kau mengerti, Dyra ?"ucap orang itu sembari menaruh dagunya di pundak Dyra.
"William....hiks....hiks...."ucap Dyra memanggil orang yang memeluk tubuhnya sembari menangis.
Will dan Dyra mulai turun ke bawah dengan perlahan - lahan. Setelah kaki mereka menapak di tanah, Dyra kehilangan kekuatannya dan terduduk.
Will tetap memeluk Dyra dari belakang. Perlahan tapi pasti, cahaya seperti ribuan kunang - kunang berwarna hitam mulai berterbangan dari tubuh Dyra. Merubahnya menjadi Sierra kembali.
"Hiks.....maafkan aku.....William...."ucap Sierra dengan lemah sebelum dirinya tidak sadarkan diri di pelukan Will.
"Aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu, Sierra."ucap Will.
Lalu Will pun mulai mengangkat tubuh Sierra yang tidak sadarkan diri dan terbang menuju tempat yang lainnya menunggu.
___________________________________________
Jangan lupa dukung author dengan cara like, vote, rate, tip dan saran & komen supaya author tambah semangat untuk update cerita :)
Jangan pernah bosan untuk menunggu update-an cerita ini ya (:
Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati :)
See you in the next chap :v
CapricornDS089