
Saat ini raja Escanor, Arthur dan yang lainnya sedang duduk di ruang tamu rumah Brian. Sebelumnya saat mereka bertujuh berpapasan dengan Brian di tengah jalan.
Saat itu Brian berniat kembali lagi ke gerbang desa untuk menemui Arthur dan yang lainnya. Tapi niatnya dibatalkan karena dia sudah bertemu dengan mereka ditambah dengan raja Escanor dan kedua pengawalnya.
"Silahkan diminum, yang mulia, tuan - tuan dan nona - nona."
Seorang wanita paruh baya terlihat membawa satu nampan dengan tujuh gelas berisi air di atasnya dan menyimpannya di meja. Wanita itu adalah ibu dari Brian.
"Terima kasih, bibi."ucap Arthur.
"Sama - sama."
'Hei, Will. Disaat aku pertama kali bertemu dengan temanmu yang bernama Arthur, aku merasakan aura yang sangat familiar. Dan kini aura itu bertambah satu lagi yang keluar dari tubuh salah satu wargaku. Apa kau mengetahui sesuatu, Will ?'ucap raja Escanor mengirimkan telepati kepada Will.
'Entahlah, aku juga tidak tahu. Saat aku pertama kali bertemu dengan Arthur, aku juga merasakan aura yang sangat familiar. Aku tahu kalau Arthur dan Brian merupakan reinkarnasi dari Phoenix. Tapi.... entah mengapa aura mereka berdua terasa tidak asing dengan ku.'jawab Will.
'Ngomong - ngomong soal Phoenix yang sangat familiar diantara kita. Apa kau mengetahui ramalan dari salah satu penyihir di kerajaan Lightner ?'tambahnya.
'Ya, aku pernah mendengar desas - desusnya. Dikatakan kalau Kegelapan akan bangkit kembali di barengi oleh bangkitnya kelima Phoenix. Apa mungkin kelima Phoenix itu adalah 'mereka' ?.'jawab raja Escanor sembari melihat kearah Arthur dan Brian yang duduk berdampingan.
'Kalau benar begitu, kita harus menjaga mereka berdua agar kejadian tiga ratus tahun yang lalu tidak terulang lagi.'ucap Will yang ikut memandang kearah Arthur dan Brian.
'Aku setuju dengan perkataanmu, Will.'
"Emm....maaf semuanya, sepertinya aku ada urusan yang sangat penting. Aku akan keluar dulu sebentar."ucap Alice yang tiba - tiba berdiri dari duduknya.
"Baiklah, jangan terlalu lama karena kami akan pergi ke kerajaanku."ucap raja Escanor dingin sembari memandang Alice dengan tatapan tajam dan sedikit kebencian.
"Baik !"jawab Alice yag kemudian lari keluar rumah Brian.
--------------------
Disuatu wilayah dengan pepohonan yang sangat lebat hingga hanya sedikit cahaya matahari yang berhasil masuk .
Terdapat tiga orang yang sedang saling berhadap - hadapan. Ketiganya memakai jubah berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh dan juga topeng yang menyembunyikan wajah mereka bertiga.
"Apa kau masih mengawasi 'orang' itu ?"
Suara seperti kaset rusak keluar dari salah satu orang misterius itu.
"Ya, dan dia masih belum menyadarinya."
Lalu suara berat dan serak yang keluar dari orang misterius yang lainnya terdengar sangat menyeramkan.
"Bagus..... Terus awasi dia, Copycat."
"Tanpa kau suruh pun aku akan terus mengawasinya, Mattias."
"Ingatlah, jika dia mulai menunjukkan tanda - tanda perubahan wujud, kau harus segera membawanya ke pemimpin utama."
Kali ini orang misterius terakhir mengeluarkan suara seperti monster yang keluar dari kedalaman jurang, tidak kalah menakutkannya dari suara yang sebelumnya.
"Akan ku ingat itu. Ngomong - ngomong, kenapa harus membawanya ke pemimpin utama ? Kenapa tidak langsung dibunuh saja ?"
"Aku juga tidak tahu apa yang akan dilakukan pemimpin utama pada reinkarnasi Dewi itu. Tapi yang terpenting, kau harus membawanya ke pemimpin utama dalam keadaan hidup ! Pemimpin utama sendiri yang berkata demikian."
"Baik, Fin."
Lalu mereka bertiga menyebar ke tiga arah yang berbeda hanya dalam beberapa detik, meninggalkan hutan gelap yang sangat sunyi tanpa ada tanda - tanda kehidupan.
--------------------
15 menit kemudian.
Lima belas menit telah berlalu, Alice telah kembali ke rumah Brian. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera berangkat ke kerajaan Naga.
Sebelumnya, mereka berjalan menuju tanah lapang untuk memudahkan mereka berubah wujud. Raja Escanor berubah menjadi Naga berwarna hitam keemasan dengan tinggi mencapai empat puluh meter. Sedangkan kedua pengawalnya berubah menjadi Naga berwarna kuning dan merah dengan tinggi mencapai tiga puluh empat meter.
Setelah raja Escanor dan kedua pengawalnya berubah, kini giliran Brian. Dia berubah menjadi Naga berwarna coklat dengan tinggi mencapai dua puluh lima meter.
Lalu dilanjut dengan Arthur dan Sierra yang menumbuhkan sayap mereka dan Alice yang menaiki punggung Brian.
Sedangkan Will menggunakan sihir yang sama seperti sebelumnya untuk membuat sepasang sayap yang terbuat dari daun yang memadat.
Mereka pun mulai mengepakkan sayap mereka masing - masing dan terbang menuju kerajaan para Naga.
Dengan raja Escanor yang memimpin didepan, mereka terbang lebih tinggi hingga sejajar dengan awan.
Dalam sekejap, angin yang sangat kencang menerpa wajah Alice yang berdiri di punggung Brian. Alice pun menutup matanya dan memegang duri yang ada di punggung Brian dengan sangat kencang agar tubuhnya tidak terbawa angin.
"APA KAU BISA MEMELANKAN KECEPATANMU BRIAN ?"teriak Alice.
Suara teriakan Alice yang beradu dengan kencangnya angin membut suara Alice menjadi tidak terdengar oleh Brian.
"Apa kau mengatakan sesuatu ?"tanya Brian yag menolehkan kepalanya sedikit ke belakang.
"AKU BILANG. APA KAU BISA MEMELANKAN KECEPATANMU ?" teriak Alice lagi.
"Maaf Alice, suaramu masih terlalu kecil."jawab Brian yang berhasil membuat Alice mendecakkan lidah.
"CIH...LUPAKAN SAJA !!"
"Obice !"
Tiba - tiba saja, terlihat benang - benang cahaya berwarna merah yang berkumpul menjadi satu di depan Alice dan membentuk semacam penghalang.
Penghalang itu membuat angin kencang yang menerpa wajah Alice sebelumnya menjadi sirna. Sadar akan angin kencang yang terasa menghilang, Alice pun membuka matanya dan melihat ada semacam lapisan berwarna merah transparan yang semakin lama semakin menghilang.
Alice pun mengalihkan pandangannya ke belakang dan menemukan Arthur yang sedang berdiri di belakangnya sembari mengulurkan kedua tangannya ke depan. Di jari - jarinya terdapat benang - benang warna merah yang mengarah ke pelindung yang ada di depan Alice.
Tidak lama kemudian, benang merah yang keluar dari jari Arthur semakin menipis dan akhirnya menghilang. Arthur pun menuruhkan kedua tangannya dan mengepakkan sayapnya kembali.
"Terima kasih, Arthur."
Alice pun bisa duduk di atas punggung Brian dengan tenang. Will yang melihat semua kejadian itu hanya memandangnya tanpa ekspresi apapun.
Lebih tepatnya, Will memandang Alice dengan pandangan datar. Bahkan ada sedikit ekspresi kebencian dan kemarahan di dalam matanya, seakan - akan Will sangat membenci Alice.
Tiba - tiba awan semakin menebal hingga menyerupai sebuah kabut yang menghalangi jarak pandang mereka semua.
"KALIAN SEMUA ! BERHATI - HATILAH ! SEBENTAR LAGI KITA AKAN MEMASUKI WILAYAH PARA NIGHT EAGLE !"teriak raja Escanor di depan.
"TUNGGU !! BAGAIMANA MUNGKIN MONSTER BURUNG ITU ADA DI WILAYAH INI !?"tanya Will balas berteriak.
"AKU TIDAK BISA MENJELASKANNYA SEKARANG. YANG TERPENTING, KITA HARUS BERTAHAN. SERANGAN AKAN SEGERA DATANG !"ucap raja Escanor yang terlihat berubah menjadi serius dan waspada dengan keadaan sekitarnya.
"APA MAKSUD-"ucap Will yang belum sempat terselesaikan.
"KKYYYAAAAKKK"
Tiba - tiba seekor burung berukuran raksasa dengan bulu berwarna hitam legam menukik ke arah Will, hampir mencabik - cabiknya dengan kuku yang setajam belati.
Dengan cepat Wil menggunakan sihirnya untuk meyerang Night Eagle di dekatnya.
"Ancient Magic : Wind Slash !"
Bilah - bilah angin tipis melesat dengan cepat ke arah Night Eagle, membuat monster burung itu terbelah menjadi beberapa bagian dan jatuh ke bawah.
"GGRRROOAAA!"
*DDDUUUAAARRRR!!!*
Raja Escanor menyemburkan api ke depan dan terjadi ledakan yang lumayan besar diikuti oleh pecahan - pecahan batu yang terlempar ke segala arah. Bahkan salah satu pecahan batu yang lumayan besar hampir mengenai Sierra kalau saja dia tidak dilindungi oleh Will.
"HATI - HATI ! BANYAK TEBING BATU DI SEKITAR SINI !"teriak raja Escanor memperingati. Walaupun hal itu sedikit terlambat.
"APA !!! MENGAPA KAU BARU-"belum sempat Arthur memprotes, salah satu Night Eagle melesat dengan cepat ke arahnya dan Arthur tidak sempat untuk menghindar.
"KKYYAAKK!"
*BBRUUUUSSSSHH*
Tetapi belum sempat Night Eagle itu mendaratkan kuku - kuku tajamnya, dari arah samping muncul semburan api yang sangat panas mengenai monster bersayap itu. Membuat monster itu terbakar menjadi abu dalam sekejap.
"BERHENTI BERTANYA DAN TETAP WASPADA !!"ucap Brian yang berhasil menyelamatkan Arthur di detik - detik terakhir.
Karena kencangnya angin, membuat mereka semua harus saling berteriak satu sama lain agar terdengar.
Night Eagle merupakan monster berbentuk seperti burung elang raksasa yang sangat besar. Dengan tubuh sebesar kuda perang dan bentangan kedua sayapnya yang bisa mencapai lima belas meter.
Sesuai namanya, Night Eagle memiliki bulu berwarna hitam legam. Monster terbang ini menyerang degan kecepatan yang tinggi dan kuku setajam belati yang bisa mencincang daging hanya dalam sekejap.
Semakin lama jumlah Night Eagle semakin bertambah banyak. Mereka semua mulai kewalahan dalam melawan monster terbang itu.
Kini monster Night Eagle yang menyerang mereka bertambah menjadi lima puluh ekor dan terus bertambah.
"OI, ARTHUR. APA KAU BISA MENGGUNAKAN BARRIER UNTUK MELINDUNGI KITA SEMUA ?"teriak Will sembari menghindari terjangan beberapa Night Eagle yang mengincarnya.
"BISA. TETAPI UNTUK YANG SEBESAR ITU, AKU MEMBUTUHKAN BANYAK SEKALI MANA."ucap Arthur yang membalas berteriak.
"KALAU BEGITU, GUNAKAN SEKARANG. AKU DAN SIERRA AKAN MENYALURKAN MANA KEPADAMU. KITA HARUS MENAIKKAN KETINGGIAN TERBANG KITA AGAR PARA NIGHT EAGLE ITU BERHENTI MENGEJAR !"ucap Will sembari mendekati tempat Arthur berada, diikuti oleh Sierra.
"BAIKLAH. KALIAN SEMUA, MENDEKATLAH KEPADAKU."
Arthur pun mendarat di punggung Brian, diikuti oleh Sierra dan Will. Raja Escanor dan kedua pengawalnya pun ikut mendekat.
Setelah dirasa jarak antara dirinya dengan yang lain sudah cukup, Arthur merentangkan kedua tangannya ke kanan dan kiri.
"Ventus enim protegit me. Ignis ardens tota mea. Protector et sicubi protegentis sem. giant protector !"
Setelah membaca mantra yang cukup panjang dan rumit, dari kedua tangan Arthur keluar laser cahaya berwarna merah bercampur hijau pucat. Diujung laser itu terjadi semacam ledakan yang menghasilkan pelindung tebal berwarna merah kehijauan yang sedikit transparan.
Tetapi saat pelindung itu belum selesai dibuat, Arthur terduduk dan memasang raut wajah lelah. Keringat pun mulai bermunculan. Tetapi kedua tangannya tetap mengeluarkan cahaya laser walaupun tidak sebesar diawal.
Will dan Sierra yang melihat itu mulai mendekati Arthur dan memegang kedua pundaknya. Dari tangan Will dan Sierra yang memegang pundak Arthur keluar cahaya berwarna hijau daun dan kuning.
Laser di tangan Arthur pun membesar kembali yang membuat barriernya menyebar dengan cepat mengelilingi mereka semua. Hingga akhirnya terciptalah barrier berbentuk bulat yang didalamnya terdapat raja Escanor dan yang lainnya menjadikan Arthur sebagai pusat dari barrier itu.
Tiga ekor Night Eagle terlihat ada di dalam barrier karena sebelumnya ketiga monster itu terlau dekat dengan mereka.
Dengan cepat kedua pengawal raja Escanor melawan ketiga Night Eagle itu hingga mati dan mayat ketiga monster itu tertahan di barrier bagian bawah.
Lalu mereka bersama - sama mengepakkan sayap mereka masing - masing terbang lebih tinggi hingga menembus awan.
Mereka tetap terbang lebih tinggi hingga kadar oksigen di luar barrier menipis sehingga para Night Eagle yang kini sudah berjumlah dua ratus lima belas ekor itu berhenti mengejar.
Mereka berdelapan bisa menghela napas lega untuk sejenak.
Tetapi baru saja mereka menghela napas lega, mereka dipaksa untuk menjadi waspada. Mereka merasakan aura yang sangat kuat yang setara dengan raja Escanor atau bahkan lebih sedang mengarah ke arah mereka dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Tiba - tiba, ada sebuah benda yang sangat besar menabrak barrier bagian belakang dengan sangat kencang.
"Uhuk..."
*krak*
Arthur memuntahkan seteguk darah diikuti oleh barrier yang mengalami keretakan yang semakin lama retakan itu semakin menyebar ke segala sisi.
*ppyyaarrr*
Akhirnya barrier yang melindungi mereka pecah berkeping - keping menimbulkan suara seperti kaca pecah diikuti oleh Arthur yang tidak sadarkan diri karena sihir barriernya dihancurkan secara paksa sekaligus kehabisan mana.
""ARTHUR !!!""