
masih ada yang nunggu update-an novel ini kah ?
--------------------------------------------------------
Matahari mulai terbenam. Kelopak mata Sierra yang telah lama menutup mulai bergerak hingga akhirnya terbuka dengan perlahan.
Sierra pun mulai bangun dan memposisikan dirinya duduk di kasur sembari memegang kepalanya yang sedikit sakit akibat terlalu lama tidak sadarkan diri.
Setelah rasa sakit dikepalanya sedikit reda, dia pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sierra pun menyadari bahwa dia berada di dalam sebuah kamar yang sangat asing.
'Dimana ini ? Apa yang telah terjadi kepadaku ?'
Sierra pun mulai bertanya - tanya tentang keadaannya kini.
'Apa yang sebenarnya telah terjadi ?'
Sierra mencoba mengingat - ingat kembali apa yang telah terjadi sebelum dirinya tidak sadarkan diri.
Lalu kilasan - kilasan balik tentang kejadian yang telah dialaminya mulai berputar - putar di dalam pikirannya.
Dimulai ingatan dirinya tentang kehidupan lalunya yang seorang dewi, lalu pembantaian para Night Eagle yang dilakukan olehnya. Dan kemudian, kematian satu - satunya keluarga yang tersisa darinya, kematian dari Arthur yang merupakan kakaknya.
Kedua mata Sierra mulai berkaca - kaca. Emosi di dalam dirinya berkecamuk dan bercampur - aduk menjadi satu
Entah dirinya harus merasa senang karena ingatan dikehidupan sebelumnya telah kembali, atau pun harus merasa sedih karena kehilangan satu - satunya keluarga yang dimilikinya.
Tiba - tiba pintu kamarnya terbuka, menampilkan Will yang memandangnya dengan diam.
Pandangan mata keduanya bertemu. Sierra sudah tidak dapat membendung air matanya. Air matanya tumpah ruah membasahi kedua pipinya.
Will yang melihat itu tersadar dan segera berlari menghampiri Sierra lalu memeluknya dengan erat.
"William..."ucap Sierra dengan lirih di dekat telinga Will.
"Ada kau baik - baik saja ? Apa masih ada yang terasa sakit ?"ucap Will yang penuh kekhawatiran.
"E-entahlah, W-will.... Setelah semua kejadian yang kualami akhir - akhir ini, membuatku bingung dengan apa yang selanjutnya aku lakukan."ucap Sierra dengan lirih dan terbata - bata.
"S-satu - satunya keluargaku yang tersisa di kehidupan keduaku ini....hiks...hiks...kini...hiks....telah pergi...hiks...."semakin lama, air mata Sierra semakin banyak yang keluar hingga akhirnya dia menangis terisak - isak.
"Tenanglah, Sierra. Kita pasti akan menemukan cara untuk membuat Arthur hidup kembali."ucap Will yang mencoba menenangkan Sierra.
"Hiks...hiks..."tangisan Sierra mulai mereda. Air matanya mulai berhenti mengalir.
Setelah keadaan Sierra mulai tenang, Will pun melanjutkan perkataannya.
"Untuk sekarang, apa kau ingin ikut denganku melihat pengeksekusian yang akan dilakukan oleh Escanor ?"ajak Will sembari tersenyum hangat.
"Untuk apa ? Tidak ada gunanya aku melihat seseorang yang akan dihukum mati."balas Sierra sembari mengalihkan pandangannya.
"Apa kau yakin tidak ingin melihatnya ? Kau akan merasa rugi karena eksekusi kali ini sangat istimewa, loh. Apa kau yakin tidak ingin melihatnya ?"ucap Will meyakinkan Sierra. Seringai jahat mulai terpatri di wajahnya.
"Apa maksudmu ?"tanya Sierra kebingungan.
"Apa kau tidak ingin melihat hukuman mati yang akan dijalani oleh dalang yang ada di balik kematian Arthur ?"
Seringai di wajah Will semakin lebar. Sierra yang telah mengetahui maksud lain dari seringai jahat Will pun mulai menanyakan apa yang sedang direncanakannya.
"A-"
Tetapi belum selesai Sierra mengucapkan satu kata, perkataannya dipotong oleh suara yang tiba - tiba muncul yang berasal dari pintu kamar yang terbuka.
"Hei, Will ! Bukankah kita akan melihat seseorang di eksekusi malam ini ?"tanya seseorang yang berdiri di depan pintu kamar yang ternyata merupakan Brian.
"Ya, benar."jawab Will singkat. Dia pun mulai turun dari atas kasur dan berdiri di sampingnya.
"Lalu, kenapa kau masih ada di sini ? Ku dengar dari salah satu pelayan, acaranya akan segera dimulai."ucap Brian.
"Oh, benarkah ? Kalau begitu, ayo kita berangkat bersama - sama. Kau juga harus ikut, Sierra."ucap Will sembari mengulurkan tangan kanannya kepada Sierra.
"B-baiklah."jawab Sierra yang membalas uluran tangan Will.
Lalu Sierra, Will dan Brian pun pergi ke tempat eksekusi yang berada di belakang istana.
----------------------------------------------------------------
Saat ini, Sierra, Brian, Will dan raja Escanor serta beberapa prajurit sedang mengelilingi seseorang dengan luka di sekujur tubuhnya sedang di rantai di tengah - tengah lapangan dan tidak sadarkan diri.
"WILL ! KENAPA ALICE DI RANTAI !?"teriak marah Sierra lagi.
Ternyata seseorang yang penuh luka dan dirantai itu adalah Alice.
"Apa kau tahu, Sierra ?"tanya Will tanpa memandang Sierra.
"Dia lah dalang di balik kematian Arthur !"lanjutnya penuh penekanan.
Sierra pun tersentak kaget mendengar perkataan Will. Dengan tatapan tidak percaya, dia pun memundukan langkah kakinya selangkah ke belakang.
"A-apa m-maksudmu, Will !?"ucap Will terbata - bata.
"Coba kau ingat - ingat lagi, disaat kau pertama kali bertemu dengannya."ucap Will. Kini pandangan matanya memandang mata Sierra dengan tatapan serius.
"Pertama kali kami bertemu..?"
Sierra pun termenung, mengingat - ingat kembali momen pertemuan pertama antara dirinya dengan Alice.
"Kalau tidak salah, saat itu aku bertemu dengan Alice di hutan Lightforest bagian Utara. Saat itu aku melihatnya sedang terluka. Karena aku berpikir dia adalah seorang penyusup, aku pun memanggil Arthur. Dan Arthur pun menyembuhkan luka yang ada di tubuh Alice."jelas Sierra yang menceritakan awal pertemuannya.
"Lalu, apa kau ingat kalau hutan Lightforest di kelilingi oleh sungai yang sangat deras dan lebar ?"tanya Will.
"Ya, aku ingat. Kenapa ?"jawab Sierra dengan mengangkat salah satu alisnya.
"Apa kau tidak menyadari sesuatu, Sierra ?"tanya Will lagi sembari memegang kedua pundak Sierra dan mendekatkan wajahnya.
"T-tidak."
Sierra pun menjawab dengan gugup dan wajah memerah karena jarak antara wajahnya dengan wajah Will hanya berjarak beberapa cm saja. Bahkan dirinya bisa merasakan hembusan napas Will yang menerpa wajahnya.
Will yang mendengar jawaban Sierra menghela napas lelah sebelum dirinya menjaga jarak kembali.
"Huh... Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan satu pertanyaan kepadamu."ucap Will.
"Menurutmu, bagaimana caranya dia melewati sungai yang sangat mustahil untuk dilewati tanpa menggunakan jembatan ?"tanya Will memandang Alice yang tengah dirantai dengan tajam.
"....."
Sierra hanya terdiam, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh Will.
"Dan aku yakin, setelah dia datang ke desamu, sesuatu yang aneh telah terjadi, benar ?"ucapnya lagi.
"Y-ya, sehari setelah Alice tinggal di desa, ada seorang penyusup menggunakan panah kegelapan menyerangku..... Tunggu.... Jangan bilang kalau...!?"jawab Sierra. Matanya membelalak dengan lebar saat mengetahui maksud dari pertanyaan Will selama ini.
"Hn... Itu adalah ulahnya."ucap Will yang membenarkan dugaan Sierra.
"Mus-mustahil..."ucap Sierra penuh ketidak percayaan.
Dirinya tidak menyangka kalau teman terdekatnya yang selalu menemaninya berkelana selama beberapa bulan ini adalah musuhnya.
Will pun melanjutkan perkataannya lagi.
"Apa kau tidak pernah berpikir, semenjak kalian bertemu dengannya, kalian selalu mengalami kejadian aneh yang membahayakan nyawa ?"
"Apa kau ingat saat kalian terkepung oleh monster Fire Bull ? Itu adalah ulahnya. Bahkan kematian dari pemimpin serikat petualang juga adalah ulahnya."ucap Will yang membeberkan dua buah fakta yang sangat mengejutkan.
"Dan kejadian di sarang Night Eagle. Itu juga merupakan ulahnya."lanjut Will yang membeberkan satu lagi fakta yang membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi jantungan karena terkejut.
"T-tid-dak m-mungkin...."ucap Sierra terbata - bata sembari menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Matanya mulai berkaca - kaca.
"Sebelumnya aku telah berbicara dengan Escanor alasan tentang mengapa tiba - tiba kita ada di sarang Night Eagle. Lalu dia menjawab kalau sarang Night Eagle memang ada di tempat itu, lebih tepatnya ada di dimensi lain. Jadi, tidak mungkin kita bertemu dengan Night Eagle jika saja dia tidak melakukan sesuatu."ucap Will yang mulai menjelaskan kejadian rincinya.
"Kau ingat dengan kabut yang sempat kita lewati sebelum serangan Night Eagle ?"tanyanya kepada Sierra yang mencoba untuk tidak mengeluarkan air matanya.
"Y-ya."
"Sebenarnya itu bukanlah kabut. Tetapi sebuah sihir yang memindahkan sarang Night Eagle yang ada di dimensi lain ke tempat kita. Dan itu merupakan ulah darinya juga."ujar Will.
"Atau dengan kata lain. Dia merupakan dalang di balik semua kejadian itu..!!"lanjutnya yang berhasil membuat Sierra dan Brian yang mendengarnya berseru penuh keterkejutan.
"A-APA !!!"
"T-tidak..."
"Dan satu hal lagi yang berhasil aku ungkapkan. Dia, merupakan salah satu pemimpin organisasi Cryonax yang memiliki nama Copycat..."