The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 38 : The Dragon King, Escanor II



"Kau akan tahu nanti."jawab Will menampilkan seringai liciknya lagi.


'Apa yang dia katakan ?'ucap Alice dalam hati.


*degg*


'H-hawa ini...'


'H-hawa yang mengerikan !'


'Siapa yang memiliki hawa yang mengerikan ini ?'


'Mengapa hawa mengerikan itu mengarah ke sini ?'


'Apa dia musuh ?'


"Oh, kurasa mereka telah sampai."ucap Will dengan tiba - tiba.


"Huh ?"


"Apa maksud- ?"ucap Arthur yang terhenti.


*whuss* *whuss* *whuss*


Tiba - tiba angin yang sangat kencang menerpa mereka berempat tiga kali. Membuat pepohonan di sekitar mereka berterbangan ke segala arah.


Arthur, Sierra dan Alice melindungi kepala mereka menggunakan kedua tangan mereka dari terpaan angin yang sangat kencang. Sedangkan Will terlihat biasa saja, tetapi mulutnya menggingkan senyum yang sangat lebar.


Setelah angin mulai tenang, Arthur dan yang lainnya mulai menurunkan tangannya masing - masing dan membuka mata.


Kini dihadapan mereka berempat terdapat 3 orang yang sedang berdiri dengan gagah.


"Yo, Escanor. Kau terlihat lebih tua dari padaku. Padahal aku telah hidup lebih lama darimu."ucap Will kepada orang - orang itu.


"Jangan samakan umurku denganmu, ****** !!!"ucap orang yang paling depan dengan kasar.


"Hahaha. Dari dulu kata - kata kasarmu tidak pernah berubah."


"Kau juga, tubuhmu terlihat masih sama seperti 530 tahun yang lalu, Will."ucap orang itu yang ternyata adalah raja para Naga, raja Escanor.


Sedangkan dua orang dibelakangnya merupakan pengawal dari raja Escanor yang bertugas untuk menemani raja Escanor.


Lalu raja Escanor melihat ke arah Sierra berdiri, ia memperhatikan Sierra dengan seksama. Tidak lama kemudian raja Escanor menyunggingkan senyuman lebar.


"Oh, Will. Ternyata kau telah menemukan re-hmmph !"ucap raja Escanor yang terhenti karena mulutnya tertutupi sulur - sulur tanamana yang tumbuh secara tiba - tiba.


'Jangan pernah membicarakan hal ini di depannya secara langsung !!!'ucap Will di dalam telepati.


'Jadi, dia masih belum mengetahui jati dirinya yang sebenarnya ?'tanya raja Escanor.


'Ya.'jawab Will singkat.


'Lalu, kapan kau akan mengatakan kepadanya ?'tanya Raja Escanor lagi.


'Aku tidak tahu.'jawab Alan.


Lilitan sulur di mulut raja Escanor mulai mengendur hingga akhirnya terlepas dan masuk ke dalam tanah.


'Lebih baik kau segera mengatakannya sebelum kau terlambat, Will.'ucap raja Escanor.


'Aku tahu.'ucap Will.


"Ekhem.... Will, untuk apa kau meyuruhku datang ke sini ? Apa ada masalah ?"tanya raja Escanor kepada Will.


"Yah, sebenarnya kami di larang masuk ke desa oleh para penjaga. Dan....seperti yang kau lihat, kami di usir."ucao Will dengan santai.


Berbeda dengan raja Escanor, amarahnya mulai naik saat mendengar perkataan Will.


"Apa !! Berani - beraninya mereka mengusir sahabatku !!!"ucap raja Escanor yang mengeluarkan hawa yang sangat tidak mengenakkan.


"Akan ku beri mereka pelajaran !!!"hawa yang mengelilingi tubuh raja Escanor semakin pekat, membuat kedua pengawalnya jatuh tersungkur ke tanah. Sedangkan di sisi lain, Will telah menciotakan penghalang di sekitar dirinya dan yang lainnya.


"Emm....saya rasa, anda tidak perlu menghukum mereka, yang mulia raja Escanor. Mereka hanya menjalankan tugas."ucap Arthur dengan sopan agar tidak membuat raja Escanor tersinggung.


"Kau tidak perlu berbicara formal denganku. Itu juga berlaku untuk kalian berdua."ucap raja Escanor yang mukai menarik hawanya kembali.


"Saya tidak bisa. Anda merupakan seorang raja dan saya hanyalah rakyat biasa."jawab Arthur sembari menundukkan kepalanya.


"Apa yang diucapkan oleh temanku benar, yang mulia. Kami tidak bisa."sahut Sierra yang ikut menundukkan kepalanya.


"Kalian bertiga merupakan teman Will. Itu berarti kalian bertiga juga adalah temanku."kata raja Escanor.


"Tapi...."ucap Arthur dengan ragu.


Will pun menghampiri Arthur dan membisikkan sesuatu.


"Aku tidak akan dihukun, bukan ?"tanya Arthur dengan berbisik juga.


"Tidak akan. Aku yang akan menjaminnya."jawab Will.


Lalu Will pun berjalan kembali ke tempatnya tadi.


"Baiklah, tuan Escanor."ucap Arthur.


"Panggil saja Escanor."sahut raja Escanor.


"Tapi....umur anda dan kami terpaut sangat jauh."ucap Arthur sedikit protes.


"Panggil saja Escanor !"ucap raja Escanor tidak mau kalah.


Arthur pun mengalah dan memanggil raja Escanor dengan namanya.


"B-baiklah, tu-Escanor."


"Itu lebih baik."


------------------------


"Hormat kami, yang mulia raja Escanor."ucap ketiga penjaga gerbang desa memberi hormat sembari berlutut.


"Mohon maaf, yang mulia. Mengapa anda bersama orang asing ?"tanya salah satu penjaga itu.


"Mereka bukan orang asing, mereka adalah teman - temanku yang telah kalian usir."ucap raja Escanor dengan datar.


Ketiga penjaga itu menjadi tegang dan ketakutan saat mendengar ucapan raja Escanor. Bulir - bulir keringat mulai bermunculan di wajah mereka.


"M-mohon ma-maafkan k-kami, yang mulia. Ka-kami tidak mengetahuinya."ucap penjaga itu.


"Hah....kalau saja 'orang asing' yang telah kalian usir ini tidak membela kalian. Mungkin saja saat ini kalian hanya tinggal nama."ucap raja Escanor sedikit merendahkan.


Setelah berkata itu, raja Escanor pun melangkahkan kakinya memasuki desa di susul oleh kedua pengawal dan yang lainnya meninggalkan ketiga penjaga dalam keadaan berlutut.


'Sudah ku katakan bukan, kalian akan menyesali apa yang telah kalian lakukan kepada kami.'ucap Will mengirim telepati kepada para penjaga itu.


Suara Will menggema di dalam pikiran mereka bertiga. Mereka semakin menundukkan kepalanya saat Will dan yang lainnya melewati mereka.


Akhirnya mereka semua pun masuk ke dalam desa. Arthur dan yang lainnya pun terkejut saat melihat keadaan desa yang dalam masa pembangunan.


Orang - orang berlalu lalang di sekita mereka sembari membawa bahan bangunan. Tetapi salah satu dari orang desa itu melihat ke arah gerombolan Arthur dan menyadari salah satu dari mereka merupakan rasa Escanor.


"Hei, lihat ! Itu yang mulia raja Escanor !"ucap salah satu warga yang berhasil menarik perhatian dari beberapa warga yang lain.


"Dimana ?"tanya warga yang lain.


"Itu, di sebelah sana !"ucap warga itu sembari menunjuk ke arah kumpulan Arthur. Lebih tepatnya menunjuk ke salah satu orang di kumpulan Arthur, yaitu raja Escanor.


"Waah, kau benar ! Itu yang mulia raja Escanor !"ucap warga yang lain. Mereka menjadi semangat dan berlari menghampiri raja Escanor membuat lebih banyak warga yang menyadari kehadiran raja mereka dan segera ikut berlari.


"Hormat kami, yang mulia raja Escanor."ucap warga yang lebih dulu sampai di depan raja Escanor sembari berlutut.


"Hormat kami, yang mulia raja Escanor."ucap semua warga lainnya yang baru sampai sembari ikut berlutut.


"Berdirilah."ucap raja Escanor yang mengeluarkan aura wibawanya.


Semua warga desa pun bangun dari posisi berlututnya.


"Mohon maafkan kami yang tidak menyambut anda dengan baik, yang mulia."ucap warga yang paling depan sembari menundukkan kepalanya.


"Tidak apa - apa. Kalian lanjutkan saja kerjaan kalian."ujar raja Escanor sembari tersenyum.


"Baik, yang mulia, kami undur diri dahulu."ucap warga itu lagi sebelum dirinya melangkah mundur diikuti warga yang lainnya.


"Ya."ucap raja Escanor dengan singkat.


"Ternyata kau sangat dihormati oleh wargamu ya, Escanor ?"


"Entahlah aku juga tidak tahu, Will."


__________________________


Jangan lupa dukung author dengan cara like, vote, rate, tip dan saran & komen supaya author tambah semangat untuk update cerita :)


Jangan pernah bosan untuk menunggu update-an cerita ini ya (:


Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati :)


See you in the next chap :v


CapricornDS089