
Cerita Sebelumnya
"Kyle. Kumpulkan seluruh prajurit kerajaan di depan benteng kerajaan untuk bersiap berperang. Aku akan menemui Roh Agung lainnya untuk mengajak mereka ikut berperang juga."ucap Raja Phoenix tegas.
"Baik, yang mulia."jawab Kyle sembari melangkah keluar ruangan dan segera diikuti oleh istrinya.
Sedangkan ratu Siren tetap berada di tempat. Dirinya menangis bahagia karena permintaan bantuannya di terima dengan baik oleh raja Phoenix. Bahkan akan ada Roh Agung lainnya yang akan ikut berperang. Itu sama saja berarti seluruh ras akan ikut berperang melawan kegelapan.
Beberapa saat kemudian.
Di luar benteng kerajaan Phoenix. Terlihat seluruh prajurit serta para warga kerajaan Phoenix yang ingin ikut berperang.
Puluhan ribu orang yang berbaris rapi itu tengah menunggu seseorang yang akan memimpin mereka didalam perang melawan kegelapan.
Tidak lama kemudian dari atas benteng kerajaan yang berada di hadapan puluhan ribu orang itu, keluar api merah yang semakin lama semakin membesar membentuk pusaran api setinggi orang dewasa.
Dari dalam pusaran api itu keluar seseorang yang telah mereka tunggu sekaligus orang yang paling terpenting di kerajaan Phoenix. Orang itu adalah raja Phoenix, sang Highest Fire Elemental Spirit.
Raja Phoenix pun berjalan hingga mencapai ujung pembatas benteng dan melihat secara langsung ke arah puluhan ribu warganya yang kini berada di bawahnya.
"Wargaku sekalian. Hari ini, perang besar yang melibatkan seluruh ras yang hidup di Starus untuk melawan kaum kegelapan akan pecah. Itu berarti kita akan melawan kaum kegelapan untuk yang kedua kalinya."
Raja Phoenix memulai pidatonya dihadapan puluhan ribu warganya.
Suasana sangat hening
"Di perang besar sebelumnya, kita telah mengampuni mereka dan tidak menghapus keberadaan mereka. Dan sebagai gantinya, kaum kegelapan membuat perjanjian untuk tidak melakukan perbuatan semena - mena lagi."
"Tetapi selama bertahun - tahun belakangan ini mereka ternyata telah melanggar perjanjian yang mereka buat sendiri dan memperbudak kaum Siren."
"Hari ini, detik ini juga. MARI HAPUSKAN KAUM KEGELAPAN DARI STARUS UNTUK SELAMANYA !!! UNTUK KEDAMAIAN STARUS !!!"
"HIDUP YANG MULIA RAJA ! UNTUK KEDAMAIAN STARUS !"
Lalu perang besar antar seluruh ras melawan kegelapan pun pecah dan dimenangkan oleh seluruh ras. Dan juga menjadi perang terburuk sepanjang sejarah yang terjadi di enam ratus tahun yang lalu.
Flashback Off
Saat ini, masih di ruang makan kerajaan Black Sea. Raja Siren telah selesai menceritakan awal mula kaumnya menghormati Phoenix. Atau lebih tepatnya menyembahnya seperti mereka menyembah kepada para dewa.
Brian tidak menyangka, raja Siren dihadapannya kini masih terlihat baik - baik saja tanpa ada tanda - tanda kelelahan sedikitpun setelah bercerita selama enam jam penuh tanpa henti.
'Jika dipikirkan baik - baik, untuk apa juga aku meminta raja Siren untuk bercerita ?'ucap Brian dalam hati.
Brian pun menggeleng - gelengkan kepalanya beberapa kali.
'Tidak, tidak, tidak. Bukankah aku hanya bertanya alasan kenapa mereka bersujud kepadaku ? Lalu..... Mengapa dia malah bercerita tentang Awal Mula ?'
Kini Brian merasa menyesal karena telah membuang - buang waktunya selama enam jam hanya untuk mendengarkan cerita "awal mula tunduknya kaum Siren kepada kaum Phoenix".
"Ekhem...."
Brian berpura - pura berdeham untuk mulai pembicaraan agar tidak menimbulkan kecanggungan.
"Aku ucapkan terima kasih kepada raja karena telah mengajakku untuk ikut makan bersama di kerajaan Black Sea ini."ucap Brian sembari menundukkan kepalanya sedikit untuk menunjukkan kesopanannya terhadap keluarga kerajaan.
Raja Siren pun panik menyuruh Brian untuk tidak menundukkan kepalanya dan tidak perlu mengucapkan rasa terima kasih.
"Anda tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada saya, yang mulia."
Brian hanya menganggukkan kepalanya lalu beralih kepada Putri Erika.
"Jadi Putri Erika, dimana tasku ? Aku harus pergi dari sini secepatnya."
"Eh ? Apa anda tidak akan tinggal untuk sementara di kerajaan Black Sea terlebih dahulu yang mulia ?"
Bukan Putri Erika yang menjawab pertanyaan Brian, tetapi raja Siren yang memberikan pertanyaan balik kepadanya.
"Aku tidak bisa membuang - buang waktuku lebih dari ini. Ada yang harus ku lakukan di Benua Strangeland. Dan sepertinya waktu ku tidak banyak lagi."ucap Brian datar.
Brian pun mengikuti Putri Erika yang akan mengantarkannya menuju ruang harta kerajaan untuk mengambil tas miliknya yang sebelumnya di simpan oleh Putri Erika disaat Brian tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian.
Saat ini Brian dan raja Siren serta keluarganya sedang berdiri di depan gerbang istana. Di hadapannya kini terdapat pemandangan bawah laut yang sangat indah dengan terumbu karang dan betbagai jenis ikan yang berenang kesana kemari.
Brian tidak menyangka bahwa kerajaan Black Sea terletak di dasar laut Black Sea dengan sebuah pembatas yang menyelimuti seluruh kerajaan yang membuat air laut tertahan di balik pembatas dan tidak menenggelamkan kerajaan Black Sea.
Tidak menunggu lebih lama lagi Brian pun melewati pembatas kerajaan Black Sea dan merubah dirinya menjadi Naga untuk membantunya berenang ke permukaan lebih cepat.
Brian membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk mencapai permukaan laut dan terbang di ketinggian yang pas. Brian pun melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda ke arah Timur, menuju Benua Strangeland.
Satu bulan kemudian.
Satu bulan telah terlewat begitu saja. Akhirnya Brian pun telah tiba di sebuah hutan di Benua Strangeland. Sebuah hutan yang masih termasuk ke dalam wilayah kerajaan Lightner, surganya para Witch dan Wizard.
Brian cukup beruntung karena tidak ada halangan yang menghalanginya selama perjalanannya setelah kejadian penyerangan lima ekor Leviadon dan kunjungan ke kerajaan Black Sea sehingga perjalanannya menjadi lancar tanpa kendala.
Saat ini Brian yang sudah dalam wujud manusianya sedang berjalan menyusuri jalan setapak untuk pergi menemukan kota atau pun desa agar dirinya bisa mengistirahatkan badannya yang kelelahan karena terbang selama hampir satu bulan penuh tanpa henti.
Setelah berjalan selama hampir satu jam, akhirnya Brian menemukan sebuah kota kecil yang bisa dijadikan tempat beristirahat sementara.
Dengan cepat Brian pun melangkahkan kakinya menuju gerbang masuk kota yang dijaga oleh dua orang Wizard.
Brian pun dihentikan oleh kedua Wizard itu sebelum memasuki kota untuk menanyai identitas dirinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Brian pun mengeluarkan sebuah gulungan identitas yang hanya dimiliki para Naga saja.
Brian mengetahui jika kerajaan Lightner dan para penyihir bersifat netral sehingga dirinya tanpa ragu mengeluarkan identitas aslinya tanpa ditutup - tutupi.
Salah satu Wizard penjaga gerbang itu pun mengambil gulungan identitas ditangan Brian dan membacanya
Setelah beberapa saat Wizard itu pun mengalihkan perhatiannya kepada Brian dan memandangnya dari atas ke bawah.
"Kau... Ikut denganku."ucap penyihir lelaki itu sembari menyerahkan gulungan identitas ke tangan Brian.
Brian pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti Wizard di depannya menuju ke suatu ruangan.
Sesampainya Brian dan Wizard penjaga itu di suatu ruangan, Brian pun dipersilahkan untuk duduk di sebuah kursi yang saling berhadapan dengan kursi yang ditempati oleh penyihir itu. Satu - satunya hal yang menjadi pemisah diantara mereka hanyalah sebuah meja yang diatasnya terdapat sebuah bola kristal bening.
Bola kristal bening itu merupakan sebuah benda yang bisa mendeteksi kebohongan dari seseorang yang menyentuhnya. Jika seseorang yang menyentuh bola itu berbohong maka bola kristal itu akan memancarkan cahaya merah darah dan tidak akan menimbulkan reaksi apapun jika orang itu berkata jujur.
Dengan ekspresi serius, Wizard penjaga itu pun menyuruh Brian untuk meletakkan salah satu tangannya di atas bola kristal dan memulai mengintrogasi Brian.
" jadi, apa tujuanmu datang ke kota Red Feather ?"
"Aku datang ingin menemui seseorang. Dan instingku mengatakan dia berada di suatu tempat di kerajaan Lightner."
"Jika kau bertanya alasannya, itu karena aku ingin meminta bantuannya karena kami membutuhkan kekuatannya untuk suatu hal yang sangat penting."
Brian pun memberikan jawaban yang jujur tanpa ditutup - tutupi kecuali bagian dirinya yang ingin mencari keberadaan dari reinkarnasi Green Phoenix. Penyihir kerajaan Lightner memang bisa dipercaya, tetapi Brian tidak begitu mempercayai mereka sehingga dirinya menutupi identitas seseorang yang ingin ditemuinya untuk menghindari masalah yang mungkin akan terjadi di masa depan.
Satu hal yang tidak diketahui Brian saat ini adalah orang yang saat ini sedang dicarinya, yaitu reinkarnasi Green Phoenix merupakan salah seorang yang sangat terkenal berkat penemuan hebatnya bersama pangeran Alvin. bahkan kini dikerajaan Lightner tidak ada yang tidak mengetahuinya.
Jika saja dirinya memberitahu siapa yang ingin ditemuinya, mungkin Wizard didepannya akan memberitahu lokasi dari reinkarnasi Green Phoenix karena kerajaan Lightner sudah memberitahu identitas asli Al sebagai reinkarnasi Green Phoenix kepada seluruh warganya.
Dan hal itu bisa saja membantunya untuk mempercepat waktunya mencari reinkarnasi Green Phoenix.
Setelah mendengar jawaban Brian dan tidak ada reaksi dari bola kristal, Wizard itu pun melanjutkan memberi pertanyaan.
"Siapa yang kau maksudkan dengan kami ?"
Brian terdiam sejenak. Memikirkan jawaban yang akan diberikan. Dirinya menjadi ragu untuk memberitahu. Lalu setelah menghembuskan napasnya sejenak dirinya pun memberikan jawabannya.
"Kedua temanku dan kedua belas Highest Elemental Spirit..."