
Setelah terbang selama beberapa menit, Will akhirnya telah sampai di tempat di mana yang lainnya berada.
"Will, apa Sierra baik - baik saja ?"tanya Alice khawatir.
Will yang menggendong Sierra hcnya menatap Alice dengan tatapan tajam.
"Diamlah, ****** !!!"ucap Will datar dan dingin.
Alice yang mendengar ucapan kasar dari Will menautkan kedua alisnya sebelum kemudian dia berseru dengan marah.
"APA MAKSUDMU MEMANGGILKU ******, WILL !!!"ucap Alice yang marah.
"Aku tahu apa yang telah kau lakukan sebelumnya."balas Will yang masih menatap Alice dengan tajam lalu menatap Sierra dan kemudian Arthur yang tidak bernyawa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Alice pun kebingungan dengan maksud perkataan Will. Dengan nada kebingungan dia pun bertanya kepada Will yang kini berjalan menghampiri Brian yang ada di belakangnya.
"Apa maksudmu !?"tanya Alice.
"Kau mungkin bisa membodohi yang lain, tapi jangan harap kau bisa membodohiku ! Kau hanyalah seekor ****** yang tidak memiliki otak !"Will pun menghentikan langkahnya dan berbicara tanpa membalikkan badannya maupun menengokkan kepalanya ke pada Alice.
"Cih...memangnya apa yang telah ku perbuat !?"
Tanpa mendengarkan ucapan Alice, Will melanjutkan langkah kakinya mendekati Brian yang sedari tadi memperhatikan perdebatan kecilnya dengan Alice.
"Brian, tolong kau perkecil tubuh Arthur lalu simpan di sini. Setidaknya tubuhnya tidak akan bisa membusuk di dalam sana."ucap Will sembari menyerahkan sebuah kotak kayu yang dihiasi kristal hijau di penutupnya.
Kotak kayu itu merupakan alat sihir yang membuat benda yang ada di dalamnya tidak akan mengalami kerusakan apapun, bahkan jika itu telah disimpan selama berabad - abad karena telah dilengkapi oleh sihir penghenti waktu.
"B-baik !"
Brian pun menerima kotak kayu itu lalu berjalan menghampiri tubuh Arthur yang tergeletak tidak jauh darinya.
Sedangkan Alice terlihat sangat marah karena dirinya seperti tidak dianggap dan diabaikan.
"JANGAN ABAIKAN AKU, ****** !!!"
Lalu Brain pun membakar tubuh Arthur dengan api Phoenixnya untuk memperkecil ukurannya lalu menaruhnya didalam kotak kayu yang dibuat oleh Will.
"Lebih baik kita ke istanaku untuk mengistirahatkan Sierra."ucap raja Escanor.
"Baiklah."jawab Will.
Raja Escanor pun naik ke punggung salah satu pengawalnya yang telah merubah wujudnya menjadi Naga lalu mulai mengepakkan kedua sayapnya terbang ke langit diikuti oleh Will dan yang lainnya.
---------------------------------
Satu jam kemudian.
Setelah mereka terbang selama satu jam tanpa henti, akhirnya mereka telah sampai di istana para Naga.
Mereka pun mendarat di sebuah tanah lapang yang ada di samping istana dan segera disambut oleh puluhan orang dengan pakaian pelayan dan juga para prajurit yang berdiri di sepanjang jalan menuju istana.
"Selamat datang kembali, yang mulia raja Escanor."
Salah satu prajurit dengan zirah berwarna hitam legam yang menempel ditubuhnya berjalan mendekati raja Escanor, lalu berlutut di hadapannya sembari menunduk. Diikuti oleh semua orang yang ada.
"Selamat datang kembali, yang mulia raja Escanor."
"Ya, terima kasih atas sambutannya jendral. Kau boleh mengangkat kepalamu. Tolong kau siapkan empat kamar untuk para tamuku dan panggilkan tabib istana untuk menemuiku di kamar."ucap raja Escanor sembari menatap sang jendral.
"Baik, yang mulia. Saya undur diri."jawab jendral itu yang kemudian pergi dari hadapannya.
Lalu raja Escanor, Will dan yang lainnya pun berjalan masuk ke dalam istana diikuti oleh puluhan pelayan yang berjalan di belakang mereka.
"Kalian beristirahatlah dulu di kamar yang telah disiapkan oleh para pelayanku. Aku harus menyembuhkan lukaku terlebih dahulu."ucap raja Escanor. Dia pun berjalan ke kamarnya untuk menyembuhkan lukanya yang didapat dari pertarungan. sebelumnya
Will dan Brian hanya menganggukkan kepalanya kemudian pergi mengikuti pelayan yang akan mengantarkan mereka ke kamar masing - masing.
Sedangkan Alice langsung pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun diikuti oleh pelayan yang akan mengantarnya ke kamar.
Alice dan yang lainnya berpisah di persimpangan lorong karena kamarnya yang terpisah dari yang lainnya.
Saat ini Will yang sedang menggendong Sierra dan Brian sedang mengikuti pelayan yang berjalan di hadapan mereka.
"Will..."panggil Brian tanpa menatap Will.
"Apa ?"tanya Will yang hanya menolehkan kepalanya sedikit.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu ?"tanya Brian.
"Kau bisa langsung bertanya tanpa meminta izin kepadaku terlebih dahulu, Brian. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan ? "Ucap Will sembari tersenyum.
Ekspresi Brian berubah menjadi serius saat dirinya menatap Will lamgsung.
"Entah mengapa setelah aku meninggalkan kalian di gerbang desa sikapmu kepada Alice terlihat sangat berbeda. Itu terbukti saat kejadian tadi. Apa terjadi sesuatu dengan kalian berdua ?"ucap Brian dengan serius.
"Kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi sebentar lagi."jawab Will yang mulai menampilkan seringai menyeramkan.
"Tapi-"
"Bersabarlah !"
"Baiklah."
Tanpa mereka berdua sadari, mereka telah sampai di depan kamar yang telah di siapkan untuk mereka.
"Tuan, ini adalah kamar untuk nona Sierra. Sedangkan di sebelahnya adalah kamar untuk tuan William."ucap pelayan itu sembari berdiri di samping pintu.
"Untuk tuan Brian, mari ikuti saya karena kamar anda ada di sebelah sana."lanjutnya.
"Sebelum itu, bisakah kau membukakan pintu kamar ini ?"ucap Will kepada pelayan itu.
"Maafkan saya tuan, saya akan membantu anda mengangkat nona Sierra."ucap pelayan itu sembari menghampiri Will untuk membantunya tetapi segera dihentikan oleh Will.
"Tidak perlu, bukakan saja pintunya. Aku sendiri yang akan membaringkannya di kasur."ucap Will.
"Baik, tuan.."
Setelah membukakan pintu itu, Will segera memasukinya dan membaringkan Sierra di tempat tidur dengan perlahan. Sedangkan Brian dan pelayan itu berjalan pergi dan hilang dari pandangan, berbelok di persimpangan lorong.
Setelah membaringkan Sierra, Will pun berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Sierra dan berjalan memasuki kamarnya yang ada di sebelah kamar Sierra.
Will pun membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap langit - langit kamar.
Lalu Will mengaktifkan telepatinya dan mulai menghubungi raja Escanor yang sedang berada dikamarnya bersama tabib istana, istri dan kedua anaknya.
'Escanor.'panggil Will di dalam telepatinya.
Raja Escanor yang sedang diobati mendengar panggilan Will di dalam pilirannya segera membalas.
'Ada apa, Will ? Apa kau membutuhkan sesuatu ?'tanya raja Escanor.
'Tidak. Aku hanya ingin memberi tahu kalau rencana 'itu' akan dilakukan malam ini !'ucap Will dengan serius.
Ekspresi raja Escanor yang awalnya biasa saja berubah menjadi lebih serius.
'Apa kau yakin ? Aku memang telah merantainya dengan rantai sihir di ruangannya. Tapi.... Apa tidak terlalu cepat ?'tanya raja Escanor yang memastikan ucapan Will sebelumnya tidak sedang bermain - main.
'Menurutku lebih cepat kita melakukannya maka akan semakin baik.'balas Will dengan dingin.
Raja Escanor hanya bisa menghela napas pasrah karena Will berkata dingin kepadanya. Dirinya tahu ketika Will sudah berbicara dengan dingin, itu artinya dia sedang dalam keadaan serius dan tidak akan ada siapa pun yang bisa merubah keputusannya jika sedang dalam kondisi ini.
'Huh.... Baiklah kalau itu yang kau mau. Aku akan menyiapkan semua keperluannya.'ucap raja Escanor.
'Ya.'jawab Will dengan singkat.
Setelah memutuskan telepatinya, Will pun menutup kedua matanya dan mulai tertidur untuk mengumpukan tenaganya untuk rencana yang akan dilakukan malam ini.
_______________________________
Note : Author bingung, kenapa banyak yang promo novel di sini ? emang apa untungnya sih ? yang like sama vote novel ini aja rata - rata cuma 3 orang. emang sih author ga masalah, tapi apa untungnya ? author bener - bener bingung sekaligus aneh sendiri ngeliat orang lain ngepromoin novelnya disini padahal menurut author itu gaakan ada untungnya.