The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 30 : Rank B Adventure



Author's pov


Saat ini, Arthur, Sierra dan Alice sedang menjalankan quest tingkat B. Ya, saat ini tingkat petualang mereka sudah berada di rank B hanya dalam waktu tiga minggu saja.


Waktu yang sangat singkat untuk menaikan tingkatan di serikat petualang. Mereka juga sangat terkenal karena kelompok mereka adalah kelompok tercepat dalam menjalankan quest.


Bayangkan saja, saat mereka masih berada di rank F, dalam sehari mereka bisa menyelesaikan sebanyak enam sampai sembilan quest. Begitu pun di saat mereka masih berada di rank E, D dan C.


Sekarang, mereka tengah menjalankan quest tingkat B yang ke tujuh untuk hari ini, yaitu membasmi sekawanan fire bull yang sering menggangu para petani. Fire bull adalah banteng besar setinggi tiga meter berbulu merah dengan napas yang dapat mengeluarkan api seperti para naga


Fire bull sangat agresif dan akan menyerang apa saja yang ada di dekatnya jika sedang merasa terganggu. Monster ini hidup secara berkelompok untuk mencari makan.


Kelompok fire bull berisi sekitar lima sampai delapan ekor. Walaupun fire bull ini termasuk ke dalam monster ganas, tetapi makan mereka adalah tumbuhan. Atau dengan kata lain mereka merupakan monster herbivora.


Karena monster ini sangat ganas dan berbahaya, serikat petualang memasukkan monster ini ke dalam monster tingkat B.


Setelah mereka mengambil quest itu, mereka langsung berangkat menuju desa Greender. Disana lah mereka akan menjalankan quest.


Desa Greender terletak di luar tembok kota, dekat dengan hutan Grad. Karena letaknya itulah desa Greender sering dimasuki dan diganggu oleh monster.


Arthur dan yang lainnya berjalan menuju gerbang timur kota. Selama diperjalanan, mereka sesekali disapa oleh orang - orang. Mereka pun membalas semua sapaan itu.


Tiga puluh menit kemudian, Arthur, Sierra dan Alice sudah sampai di gerbang timur yang dijaga oleh beberapa prajurit.


"Apa kalian akan pergi menjalankan quest lagi, tuan Arthur ?"tanya salah satu prajurit yang menjaga gerbang.


"Ya, kali ini kami akan pergi ke desa Greender untuk membunuh beberapa fire bull yang mengganggu para petani disana."jawab Arthur.


"Baiklah, silahkan lewat tuan dan nona - nona..."kata prajurit itu mempersilahkan Arthur dan yang lainnya untuk lewat.


"Terima kasih, tuan Marco."ucap Sierra sembari tersenyum kepada prajurit itu yang bernama Marco.


"Sama - sama."jawab Marco membalas senyuman Sierra.


Setelah melewati gerbang, mereka bertiga berjalan di jalan yang menuju ke arah desa Greender. Sesekali mereka berpapasan dengan kereta kuda maupun orang - orang yang berjalan menuju kota Grayn.


Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di depan gerbang masuk desa Greender. Mereka pun masuk ke dalam desa.


Di dalam, mereka langsung di sambut oleh para warga. Karena mereka harus bertemu dengan kepada desa, mereka bertiga pun bertanya kepada salah satu warga.


"Tuan Gordon sedang ada di rumahnya, tuan. Saya akan mengantar anda sekalian ke rumah tuan Gordon. Mari, tuan... Ikuti saya..."jawab pria paruh baya yang ditanyai oleh Arthur dan yang lainnya.


Mereka pun berjalan menuju rumah kepala desa dengan diantar oleh salah satu warga. Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah rumah yang paling besar di desa itu.


Dari rumah itu keluar seorang pria paruh baya. Dia pun mempersilahkan Arthur, Sierra dan Alice untuk masuk kedalam rumahnya.


Sesampainya mereka di dalam, mereka duduk di ruang tamu. Pria paruh baya itu pun memperkenalkan dirinya.


"Selamat datang di desa Greender,tuan petualang. Perkenalkan nama saya adalah Gordon, kepala desa Greender. Sebelumnya, saya mengucapkan banyak - banyak terima kasih karena kalian mau mengambil quest yang telah ku buat sebulan yang lalu..."ucap kepla desa Greender yang bernama Gorgon.


"Anda jangan terburu - buru berterima kasih kepada kami, tuan Gordon. Kami bahkan belum menyelesaikan questnya."ucap Alice sembari tersenyum ramah.


"Baiklah. Jadi, dimana fire bull yang sering mengganggu itu ?"tanya Arthur tanpa basa - basi.


"Monster itu sering muncul di kebun desa ini yang ada di sebelah utara desa. Ada tujuh ekor yang datang. Salah satu dari monster itu memiliki tubuh yang lebih besar dari yang lainnya. Kurasa itu adalah pemimpin dari kelompok monster itu."ucap kepala desa menjelaskan.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya tuan Gorgon. Kami akan berangkat kesana sekarang."ucap Arthur sembari bangkit dari duduknya dan diikuti oleh Alice dan Sierra.


"Baiklah, kalian harus hati - hati. Pemimpin kelompok monster fire bull biasanya lebih agresif dan juga lebih berbahaya."kata kepala desa sebelum Arthur dan yang lainnya berangkat.


Mereka bertiga hanya menganggukan kepala saat kepala desa memperingati mereka. Lalu Arthur dan yang lainnya pun berangkat menuju kebun di sebelah utara desa.


Sesampainya mereka di kebun, mereka tidak menemukan tanda - tanda adanya fire bull. Sepertinya para fire bull itu belum mendatangi desa Greender lagi.


"Perangkap apa yang akan kita gunakan ?"tanya Alice.


"Menurutku kita buat lubang jebakan saja."jawab Sierra.


"Tidak, tidak, tidak. Menurutku lebih baik kita menggunakan jaring saja."kata Alice tidak setuju dengan saran Sierra.


"Perangkap jaring tidak cocok digunakan untuk menjebak fire bull, tubuh mereka terlalu besar. Lagi pula fire bull memiliki kekuatan api, mereka bisa saja membakar jaring perangkap yang kita gunakan."kata Sierra menolak saran dari Alice.


"Jadi, lebih baik kita membuat lubang jebakan saja. Kita bisa merangkap beberapa fire bull."tambah Sierra.


"Tapi, butuh berapa besar dan dalam ? Bukankah kau sendiri yang bilang jika fire bull itu sangat besar ?"tanya Alice yangb membuat Sierra berpikir ulang


"Benar juga."


"Apa kau ada ide Arthur ?"tanya Sierra kepada Arthur yang dari tadi hanya diam saja.


Arthur yang ditanya segera berpikir sembari memegang dagunya. Tidak butuh waktu lama, Arthur telah menemukan sebuah ide yang segera memberitahu Alice dan Sierra.


"Hmm... Aku rasa tidak ada cara lain selain menyerang mereka langsung..."ucap Arthur.


"Apa kau gila ! Kita bisa saja mati jika kita menyerang fire bull langsung !"kata Alice membelalakkan matanya, begitu juga dengan Sierra. Mereka berdua terkejut dengan saran yang diajukan oleh Arthur.


"Apa kalian lupa, Kita itu bukan manusia yang tidak bisa menggunakan sihir !"ucap Arthur dengan nada malas.


"Hehehe.... Terlalu lama berbaur dengan manusia membuat aku lupa kalau aku bukanlah manusia..."ucap Alice sembari menggaruk krpalanya yang tidak gatal.


"Tapi... Bagaimana kalau ada yang melihat kita menggunakan sihir ? Bukankah itu sangat berbahaya bagi hidup kita ?"kata Sierra.


"Kita akan menggunakan barrier transparan untuk mencegah adanya manusia yang masuk ke kebun ini. Untuk masalah barrier kalian serahkan saja padaku."kata Arthur.


"Apa kau yakin ? Kau akan membutuhkan banyak sekali mana untuk membuat barrier yang mengelilingi kebun yang sangat luas ini..."ucap Alice tidak yakin dengan perkataan Arthur.


Sierra pun berpikir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Alice. Mereka berdua khawatir jika Arthur tidak mampu membuat barrier yang menghalangi mereka.


"Kalian tenang saja, aku sangat percaya dengan kekuatanku... Kalian berdua tunggulah disini sebentar, aku akan mulai membuat barriernya."ucap Arthur, lalu dia pun berjalan menjauh dari Alice dan Sierra.


Disaat Arthur telah menemukan tempat yang menurutnya sempurna, dia mulai mengalirkan mana yang ada di tubuhnya ke kedua lengannya. Lalu mengeluarkan mananya keluar.


"Obice!"


Setelah Arthur mengucapkan kata itu, benang mana berwarna merah keluar dari setiap ujung jari di kedua lengannya, kemudian benang mana itu mulai bersatu dan menyebar membentuk dinding kaca berwarna merah di depan Arthur.


Dinding kaca itu terus membesar ke samping dan membentuk sebuah dinding seperti dinding kota. Semakin lama dinding kaca itu semakin memudar dan menjadi transparan hingga akhirnya menghilang seluruhnya, seakan - akan tidak pernah terjadi apapun.


Setelah itu Arthur pun berjalan kembali menuju tempat Aluce dan Sierra berada.


____________________________________________


Note : kalau jumlah like di setiap chapter minimal lewat dari angka 20 like, author bakal up 10 chapter :) itu pun kalau disetiap chapter likenya ada di atas 20...


Jangan lupa dukung author dengan cara like, vote, rate, tip dan saran & komen supaya author tambah semangat untuk update cerita :)


Jangan pernah bosan untuk menunggu update-an cerita ini ya (:


Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati :)


See you in the next chap :v


CapricornDS089