
Al sudah bersiap - siap untuk tidur. Bahkan dia sudah berbaring di kasur. Tetapi sebelum Al memejamkan matanya, seseorang mengetuk pintu kamar Al.
*tok* *tok* *tok*
"Tunggu sebentar !"teriak Al.
Al pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Ternyata yang mengetuk pintunya adalah pangeran Alfin. Al yang penasaran mengapa pangeran sampai mendatangi kamarnya pun bertanya.
"Pangeran, apa pangeran ada keperluan dengan saya ?"tanya Al dengan sopan.
"Bisakah kau tidak menggunakan bahasa formal ?"kata pangeran Alfin sembari memutarkan kedua bola matanya.
"Bisa pangeran."kata Al.
"Panggil saja Alfin, tidak usah memakai kata pangeran."ucap pangeran Alfin.
"Tapi-"Al ingin protes tetapi gagal.
"Tidak ada tapi - tapian !"kata pangeran Alfin dengan tegas.
"Baiklah, ada apa kau kemari ?"Al pun membuang semua ke formalannya.
"Sebelum aku menjawabnya, apa aku boleh masuk ?"tanya pangeran Alfin.
"Astaga, aku lupa. Silahkan masuk Alfin."kata Al sembari membuka jalan.
"Terima kasih."
Al dan pangeran Alfin pun masuk dan duduk di sofa yang ada dikamar Al.
"Jadi ?"kata Al membuka percakapan.
"Jadi, kedatanganku kesini bertujuan untuk membicarakan sesuatu denganmu."ujarnya.
"Tentang apa ?"tanya Al dengan menaikkan satu alisnya.
"Apa kau ingin bergabung dengan PPR ?"kata pangeran Alfin.
"Apa ? PPR ? Apa itu ?"tanya Al kebingungan karena baru mendengar istilah itu.
"PPR atau singkatan dari Perkumpulan Para Reinkarnator atau juga bisa di sebut dengan The Assemble Of Reincarnators yang disingkat menjadi TAOR."jelasnya.
"Kenapa kau mengajakku untuk bergabung ?"tanya Al.
"Karena kau harus bergabung dengan kami."jawab pangeran Alfin.
"Kenapa harus ?"tanya Al lagi.
"Karena kau seorang reinkarnator."jawab pangeran Alfin lagi.
"Kenapa aku ?"sekali lagi Al bertanya.
"Kenapa kau terus bertanya ?"pangeran Alfin bertanya balik kepada Al.
"Karena aku bingung ?"Al terlihat ragu dengan ucapannya sendiri.
"Kenapa nada bicaramu terdengar seperti tidak yakin ?"tanya pangeran Alfin.
"Bisakah kita tidak bertanya dengan awalan kata 'kenapa' dan jawaban 'karena' ? Aku sudah muak mendengarnya."ucap Al.
"Baiklah, kau ada benarnya juga."pangeran Alfin pun membenarkan ucapan Al.
"Aku akan jelaskan mengapa kau harus bergabung. Jadi, seperti namanya. PPR hanya bisa dimasuki oleh orang - orang tertentu saja. Lebih tepatnya hanya bisa dimasuki oleh para reinkarnator."ucap pangeran Alfin menjelaskan.
"Reinkarnator adalah orang - orang yang dihidupkan kembali dari kematian oleh dewa dengan memiliki ingatan dari kehidupannya yang lama."jelasnya lagi.
"Sebenarnya perkumpulan kami hanya menerima reinkarnator tertentu saja. Jadi, ada pula para reinkarnator yang tidak bisa memasuki perkumpulan kami."tambah pangeran Alfin.
"Kalau begitu, kenapa kau memilihku ?"tanya Al.
"Itu karena kau adalah seorang reinkarnator dari bumi."jawab pangeran Alfin.
Tiba - tiba Al terlihat terkejut dengan sesuatu.
"Tunggu, tunggu. Jadi maksudmu..."Al menjeda ucapannya di akhir kata.
"Ya, yang kau pikirkan itu benar. Kami adalah reinkarnator dari bumi. Sama sepertimu, Al."kata pangeran Alfin.
"Ternyata ada juga orang bumi yang dihidupkan kembali di dunia ini."Al menjadi senang mendengar ucapan Alfin karena dia tidak menjadi satu - satunya orang bumi di Starus.
"Jadi, aku tanya sekali lagi. Apakah kau mau bergabung dengan perkumpulan kami ?"sekali lagi pangeran Alfij memastikan jawaban kepada Al.
"Tentu saja !"jawab Al dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu kita lanjutkan besok. Sudah terlalu larut untuk seorang pangeran sepertiku berkeliaran di istana."kata pangeran Alfin sembari berjalan menuju pintu keluar.
"Baiklah, sampai nanti."ucap pangeran Alfi di luar kamar
"Ya, sampai nanti."ucap Al.
Al pun berbaring kembali di kasur dan segera memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, dengkuran halus terdengar yang berasal dari Al.
------------------------------
Keesokan harinya saat Al baru saja selesai berpakaian, Al didatangi oleh pangeran Alfin ke kamarnya.
Kali ini tujuannya datang adalah untuk mengajak Al pergi menuju tempat perkumpulan para reinkarnator.
Mereka berdua berjalan menuju kamar pangeran Alfin. Sesampainya dikamar, pangeran Alfin terus berjalan diikuti oleh Al dan membuka pintu lemari lalu memasukinya.
Al yang bingung terus mengikuti dan masuk ke dalam lemari. Saat Al sibuk menyibakkan baju untuk membuka jalan, al dikejutkan dengan pintu lemari yang tertutup sendiri membuat pandangannya menjadi gelap gulita.
Dari sela - sela baju Al melihat cahaya kekuningan. Al pun menyibakkan baju mencoba untuk membuka jalan. Setelah jalan sudah terbuka, Al melihat pangeran Alfin yang sedang mebawa dua obor. Pangeran Alfin menyodorkan satu obor ke Al.
Mereka pun melewati lorong gelap yang menurut pangeran Alfin merupakan lorong rahasia yang hanya diketahui oleh PPR dan pangeran Alfin sendiri.
Karena gelapnya lorong rahasia itu, Al dan pangeran Alfin membawa dua buah obor yang dibawa masing - masing.
Akhirnya dikejauhan Al bisa melihat setitik cahaya yang merupakan ujung lorong setelah berjalan selama tiga puluh menit. Setitik cahaya itu semakin besar seiring dengan langkah Al dan pangeran Alfin yang mendekat.
Hingga lima menit kemudian mereka telah sampai diujung lorong dan melihat sebuah ruangan kecil setinggi dua meter dengan lebar lima meter. Ada sebuah pintu terbuat dari besi di salah satu sisi dinding.
Pangeran Alfin berjalan menuju pintu itu dan menyentuhnya, lalu pangeran Alfin membaca sebuah mantra.
"Ostium opens ad beatitudinem."
Dari tangan pangeran Alfin yang memegang pintu keluar cahaya berwarna perak. Pintu besi itu seakan - akan menyerap cahaya perak itu dan membentuk sebuah rune sihir.
Semakin lama rune sihir itu memudar dan menghilang seiring dengan cahaya perak ditangan pangeran Alfin yang semakin redup.
Pangeran Alfin mendorong pintu itu. Pintu pun terbuka menampakkan pepohonan yang sangat rindang hingga hanya sedikit cahaya matahari saja yang dapat menembus kedalamnya.
Mereka berjalan lurus ke depan selama beberapa menit menembus lebatnya pepohonan hutan. Al sangat kesulitan untuk berjalan karena banyak sulur yang melilit tubuhnya sehingga menyulitkannya untuk bergerak, sementara jaraknya dengan pangeran Alfin semakin merenggang.
Tiba - tiba angin dingin berhembus dengan kencang membuat obor yang dipegang Al menjadi padam. Sedangkan pangeran Alfin sudah berjalan jauh didepan meninggalnya.
Tidak memiliki pilihan yang lain, Al segera membuang obor yang telah padam itu. Lalu Al mengeluarkan api hijau di seluruh tubuhnya untuk dijadikan penerangan.
Sekaligus membakar semua sulur yang melilitnya.
Setelah itu Al memfokuskan pandangannya ke arah pangeran Alfin yang berada jauh didepan. Tiba - tiba Al menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya dan muncul tepat di depan pangeran Alfin.
Pangeran Alfin terkejut dengan Al yang muncul di hadapannya secara tiba - tiba hingga pangeran Alfin menjatuhkan obornya yang membuat rumput yang terkena api terbakar.
Api dengan cepat meluas membakar pepohonan. Al menjadi panik sedangkan pangeran Alfin berjongkok, tangannya memegang tanah dan membaca mantra.
"Ice elementum : Rigéscunt."
Es dengan cepat membekukan sekeliling mereka hingga jarak lima meter. Api yang membakar rumput dan pohon membeku membentuk lidah api yang beku.
Lalu semua es mencair membuat genangan air yang dengan cepat meresap kedalam tanah. Pangeran Alfin berdiri dengan raut wajah yang nampak kesal.
"Bisakah kau tidak muncul di depanku secara mengejutkan ? Kau hampir saja membuat hutan ini terbakar !"
"Y-ya, aku minta maaf. Lagi pula kenapa kau meninggalkanku yang sedang terjebak sulur tanaman ?!"
"Aku tidak tahu kalau kau sedang kesulitan..."
Lalu mereka pun berjalan kembali. Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di depan sebuah rumah yang sangat sederhana.
Mereka memasuki rumah itu. Samar - samar Al mendengar suara orang yang sedang bercanda di dalam rumah. Semakin dalam mereka masuk rumah, semakin terdengar jelas juga suara - suara itu.
Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah ruangan yang terdapat sepuluh orang, lima perempuan dan lima laki - laki. Ruangan tiba - tiba menjadi sunyi senyap saat mereka menyadari kehadiran Al dan pangeran Alfin.
"Apa dia orang yang kau bicarakan itu, Alfin ?" tanya salah satu laki - laki yang memiliki rambut berwarna merah dengan iris mata yang senada. Dia terlihat berumur sekitar 22 tahun.
"Begitulah."jawab pangeran Alfin dengan acuh tak acuh.