
Mereka pun mulai menjalankan tugasnya masing - masing.
Al dan Bima berjalan menuju ke ruangan yang lain. Anna mulai berkonsentrasi untuk membuat besi berkualitas tinggi. Dan kelompok pangeran Alfin, mereka mulai berjalan melewati sihir gate dari Feylin dan mulai berpencar saat sudah sampai di gunung Eternal Winter untuk mencari kristal mana es.
Al's pov
Saat ini aku bersama dengan Bima sedang berdiskusi tentang bentuk dari lemari pendingin yang nanti akan dibuat.
"Jadi, model seperti apa yang akan kita buat ?"tanya Bima.
"Aku tidak tahu. Yang mana yang lebih baik, dua pintu atau satu pintu ?"ucapku.
"Kurasa keduanya."jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu kita akan membuat kedua model itu."ucapku sembari duduk di lantai kayu.
"Pertama - tama siapa yang akan menggambar ?"tanya Bima yang mengikutiku duduk di lantai.
"Aku tidak bisa menggambar."ucapku.
"Baiklah - baiklah. Aku yang menggambar."ucapnya sembari menghembuskan nafas lelah.
Bima mulai menggambar di sebuah kertas. Pertama Bima menggambar sebuah persegi panjang dengan panjang 13 cm dan lebar 7 cm. Lalu menulis keterangan 4x di pinggir gambarnya.
Lalu Bima menggambar lagi. Kali ini dia menggambar sebuah persegi dengan panjang 7 cm dan lebar 7 cm. Dan menulis keterangan 2x di pinggir gambarnya.
Bima memberikan keterangan perbandingan ukuran di bagian paling bawah sebelah kanan dengan menulis 1cm:10cm. Itu artinya lemari es yang akan dibuat oleh mereka memiliki tinggi 130 cm dan lebar 70 cm.
"Menurutmu dimana tempat yang cocok untuk menyimpan kristal mana esnya ? Diatas, disamping, atau dibawah ?"tanyanya.
"Menurutku disamping. Itu lebih memudahkan untuk mendinginkan semuanya secara merata."aku menjawab pertanyaannya dengan pendapatku sendiri.
"Baiklah."ucapnya.
Lalu Bima menggambar persegi panjang dengan panjang 13 cm dan lebar 7 cm seperti yang tadi. Bedanya kali ini Bima menambahkan sebuah gambar lingkaran di tengah - tengah persegi dan persegi itu diarsir sehingga membentuk seperti kawat yang menopang bulatan itu. Lalu Bima memberi keterangan 'bagian pinggir kanan' di pinggir gambar.
"Lalu untuk bagian pinggir pintunya, kita akan menggunakan magnet yang di lapisi karet."ucapku sembari menunjuk persegi panjang di bagian pinggirnya.
"Oh, kau benar. Terima kasih Al."ucapnya berterima kasih.
"Sama - sama."jawabku.
Bima pun menggambar balok yang membentuk seperti lemari es. Lalu menggambar lagi sebuah balok di sampingnya. Kali ini membentuk seperti sebuah lemari es yang sedang terbuka yang memperlihatkan bagian dalamnya.
"Akhirnya, model pertama selesai. Lalu model yang kedua..."ucap Bima.
Lalu kami pun membuat model lemari es yang kedua. Model yang kedua ini sama seperti model yang pertama. Tapi bedanya kali ini kami menambahkan satu lagi pintu.
Akhirnya kedua model lemari pendingin sudah selesai. Kami pun kembali ke ruangan yang ada Anna di dalamnya.
Sesampainya kami di sana, kami sudah disambut oleh tumpukan besi yang sangat banyak hingga hampir memenuhi ruangan. Terlihat Anna yang sedang duduk di tengah - tengah tumpukan besi.
Kami pun menghampiri Anna yang masih saja berkonsentrasi untuk membuat lempengan - lempengan besi yang lain.
"Hei Anna, bukankah ini sudah terlalu banyak ?"tanya Bima yang memecah konsentrasi Anna.
"Menurutku ini masih kurang, Bima."jawab Anna.
"Berapa ukuran lempengan besi yang kau buat ini Anna ?"tanyaku sembari mengelus permukaan lempengan besi didekatku.
'Permukaannya sangat halus. Lempengan ini sangat tipis tapi terlihat kuat. Hmm... Kurasa satu lembar besi ini memiliki berat 3 kg.'ucapku dalam hati.
"Aku rasa 2×2 meter, kenapa ? Apa ukurannya kurang ?"kata Anna sembari memasang raut wajah panik.
"Tidak, itu sudah cukup. Bahkan ada lebihnya. Oh, Anna. Kurasa ini sudah cukup, jadi kau jangan membuat lempengan besi yang lain."ucapku menenangkan Anna yang panik.
"Baiklah."kata Anna.
"Jadi, akan kita taruh dimana besi - besi ini ? Kita tidak mungkin menyimpan besi - besi ini disini kan ?"tanya Bima sembari memegang dagunya.
"Kau benar, kurasa kita taruh saja di halaman depan."jawab Anna.
"Aku punya satu pertanyaan."ucapku.
""Apa ?""tanya Anna dan Bima berbarengan.
"....."mereka berdua hanya saling berpandangan tanpa menjawab pertanyaan.
Alfin's pov
Saat ini kami sedang berjalan di hamparan salju di gunung Eternal Winter. Karena gunung ini sangat luas serta kristal mana es yang tersebar di seluruh wilayah gunung ini, kami memutuskan untuk berpencar dan mencari kristal mana es sendiri - sendiri.
Rain, Kay, dan Cristina, mereka berpencar ke arah kanan. Lalu Rein, Rin dan Feyling, mereka berpencar ke arah kiri. Sedangkan aku, Reni dan Julius berpencar ke arah depan atau puncak gunung.
Kami semua berpencar ke segala arah dan akan berkumpul kembali di titik awal kami berpencar.
Masing - masing dari kami membawa sebuah tas penyimpanan berkapasitas 10×10 meter² semacam inventory jika didalam game.
Aku terus berjalan menuju ke puncak gunung dengan berhati - hati sembari melihat kanan dan kiri.
Di kejauhan aku melihat sesuatu yang memantulkan cahaya diantara tumpukan salju. Aku segera berlari menghampiri sesuatu itu karena benda itu yang kami cari.
"Jackpot !"ucapku kegirangan saat sudah sampai di benda yang memantulkan cahaya.
Akhirnya aku menemukan kristal mana es. Dan ukurannya pun cukup besar, sebesar paha atasku.
Kristal mana es berbentuk seperti kristal biasa lainnya. Yaitu berbentuk lonjong dengan ujungnya yang lancip seperti limas.
Kristal mana es ini berwarna biru langit yang transparan. Sesuai dengan namanya, kristal ini mengeluarkan hawa yang sangat dingin. Hawa dingin yang dikeluarkan krisral ini lah yang akan kami butuhkan.
Karena bagian bawah kristal mana es ini terkubur di salju, aku pun mencairkan salju yang ada di sekitaran kristal itu agar memudahkanku untuk mengambilnya.
Aku menarik kristal itu menggunakan kedua tanganku, tetapi kristal itu tidak bergerak sedikitpun. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin saja kristal itu masih tertancap dalam.
Jadi aku memutuskan untuk mencaikan kembali salju dan es yang ada di sekitar kristal. Setelah cukup dalam aku mencairkan esnya, aku mencoba mencabutnya kembali.
Tetapi tetap saja, kristal itu tidak bergerak sama sekali. Karena penasaran, aku mengendalikan air dari lelehan salju dan es yang aku cairkan yang menutupi lubang di dekat kristal untuk menjauhkannya.
Betapa terkejutnya aku mengetahui kalau kristal yang ada di hadapanku ini lebih besar dari yang aku kira.
Lalu aku pun melelehkan salju lebih luas lagi dan membuang air lelehan salju ke bawah. Pantas saja tiba - tiba aku merasakan suhu ekstrim saat aku tiba di dekat kristal mana es yang mencuat keluar.
Dan ternyata saat ini aku sedang di kelilingi oleh kristal mana es yang sangat banyak. Bahkan saat ini aku sedang berdiri diatas kristal mana es yang menghubungkan semua kristal mana es yang ada di sekitarku ini.
Melihat aku yang sedang berada di tengah - tengah hamparan kristal mana es yang saling terhubung, aku dengan cepat memfokuskan manaku di tangan kananku.
Setelah mana yang terkumpul di tangan kananku cukup banyak, aku segera mengepalkan tinjuku dan memukulkannya ke kristal mana es yang sedang ku injak yang membuat kristal mana es itu retak.
Retakan itu semakin menyebar seperti sarang laba - laba hingga tidak lama kemudian semua kristal mana es pecah menjadi serpihan - serpihan kecil sebesar telapak tanganku yang berserakan dimana - mana.
Lalu aku mengucapkan mantra elemen bayangan untuk mengambil dan mengumpulkan semua kristal mana es yang berserakan di hamparan salju.
"Elemen bayangan : sulur bayang."
Setelah mengucapkan mantra itu, bayanganku membesar dan membentuk sepertu sulur - sulur yang sangat banyak dan mengambil semua kristal mana es yang ada di sekitarku.
Aku mengeluarkan tas penyimpanan dan mengendalikan sulur bayanganku untuk menaruh semua kristal mana es itu di tas penyimpanan.
Sepuluh detik kemudian, di sekitarku kini telah bersih dari semua serpihan kristal mana es. Yang tersisa kini hanya hamparan salju putih dan sebuah lubang besar yang menjadikan aku sebagai pusatnya.
Saat ini tas penyimpanan yang kubawa hampir penuh. Jadi, aku memutuskan untuk kembali ke titik awal kami berpisah.
Saat sampai di titik yang kami sepakati sebelumnya, aku tidak menemukan yang lainnya di sini. Sepertinya mereka masih mencari kristal mana es.
Tiga puluh menit kemudian, dari arah depan Reni dan julius telah kembali dan berjalan menghampiriku yang sedang duduk di hamparan salju. Lima menit kemudian, Rain, Kay dan Cristina juga datang dari arah kanan. Disusul oleh Rein, Rin dan Feyling datang dari arah kiri.
Setelah memastikan semuanya telah berkumpul, Feylin membuat gate. Mereka semua pun memasuki gate itu satu - persatu dan akhirnya mereka telah sampai di rumah tempat mereka berkumpul.
_____________________________________________
Jangan lupa dukung author dengan cara like, vote, rate, tip dan saran & komen supaya author tambah semangat untuk update cerita :)
Jangan pernah bosan untuk menunggu update-an cerita ini ya (:
Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati :)
See you in the next chap :v
CapricornDS089