The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 50 : The Mission In Strangeland II



Dua hari kemudian.


Dua hari telah terlewatkan begitu saja. Selama itu pula Brian terus terbang tanpa henti di atas birunya lautan yang membentang di bawahnya.


Setelah melawan lima ekor Leviadon dua hari yang lalu, Brian tidak mendapatkan masalah dari monster yang lainnya.


Tentunya Brian merasa lelah karena telah terbang selama empat puluh delapan jam penuh tanpa henti. Brian saat ini sangat ingin mendarat di daratan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Tetapi selama empat puluh delapan jam itu, dirinya belum menemukan sebuah pulau atau daratan yang bisa dia singgahi. Hanya lautan dan lautan saja yang ditemuinya selama ini.


Tubuhnya terasa lemas karena tidak makan dan minum selama dua hari.


Rasa kantuk dan lelah yang sangat besar menyerang Brian. Matanya mulai memberat karena rasa kantuk. Terbangnya mulai tidak stabil hingga hampir jatuh beberapa kali.


'Aku sudah.....tidak....kuat.....lagi."


Perlahan - lahan matanya mulai menutup yang membuat Brian terjun ke bawah karena tidak lagi mengepakkan sayapnya.


Angin yang sangat kencang menerpa wajah Brian, berhasil menyadarkannya kembali. Brian mencoba untuk menstabilkan tubuhnya kembali. Tetapi terlambat, jarak antara Brian dengan permukaan laut kini hanya tersisa beberapa meter saja.


Brian pun akhirnya tenggelam ke dalam laut. Tubuhnya yang lelah membuat dirinya tidak bisa berenang ke permukaan dan terus jatuh ke dasar laut yang sangat dalam.


Oksigen di paru - parunya menipis dan matanya mulai memberat. Perlahan - lahan matanya mulai menutup. Sebelum menutup sepenuhnya, Brian merasa melihat siluet seseorang yang menghampirinya.


Pandangan Brian menghitam sepenuhnya tak sadarkan diri sehingga dirinya belum sempat memastikan siapa siluet orang yang menghampirinya.


---------------------------


Beberapa saat kemudian Brian akhirnya membuka kedua matanya. Brian pun mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya yang terlihat sangat asing baginya.


Brian pun bangkit dari tidurnya dan mendudukkan diri.


"Aku....dimana...?"


Brian pun sekali lagi mengedarkan matanya ke sekeliling. Pandangan Brian terhenti saat melihat sebuah pintu yang sepertinya merupakan pintu untuk keluar dari ruangan itu.


Brian berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah pintu itu lalu membukanya. Pintu itu pun terbuka, menampilkan sebuah lorong yang dipenuhi oleh lumut yang menempel di dinding.


Berjalan di lorong tersebut, Brian meninggalkan ruangan yang di tempati sebelumnya.


Di sepanjang Brian berjalan di lorong hanya terdapat tembok - tembok yang di penuhi oleh lumut. Brian pun mulai merasa kelelahan setelah berjalan selama lima belas menit.


"Tempat apa ini ?"


*kruuk*


Brian memegangi perutnya yang berbunyi.


"Ugh....aku sangat lapar. Lagi pula dimana tas ku ?"


"Aku ingin makan sesuatu untuk mengisi perutku yang sudah kosong selama dua hari."


"Kalau begitu, kenapa tidak ikut dengan ku saja ke ruang makan ?"


Brian pun terkejut dan membalikkan badannya lalu memasang sikap waspada saat ada seseorang di belakangnya. Walaupun Brian tidak yakin bisa bertarung dengan kondisi tubuhnya yang kelelahan dan kelaparan.


Di hadapannya kini terdapat seorang gadis dengan rambut berwarna biru tua dan mata dengan warna yang senada. Terdapat sisik - sisik ikan di wajah cantiknya yang menjelaskan bahwa gadis itu bukan berasal dari ras Manusia. Gadis itu menggunakan gaun berwarna biru laut yang membuat dirinya terlihat sangat anggun.


"Siren ? Siapa kau !?"


"Perkenalkan, namaku adalah Erika Fransisca Vi Cornelius. Putri kerajaan Black Sea."


Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan anggun sembari mengangkat kedua ujung gaunnya. Aura kebangsawanannya terpancar jelas keluar darinya.


"Jadi aku saat ini ada di kerajaan Black Sea ?"


"Iya."


"Tapi....bagaimana bisa ?"


"Aku akan menjelaskannya nanti. Untuk saat ini lebih baik kita pergi ke ruang makan. Kau belum makan selama dua hari, bukan ? Tapi sebelum itu, Siapa namamu ?"


"Brian. Brian Draxon."


Brian hanya memperkenalkan namanya saja tanpa memberi tahu latar belakangnya. Sedangkan putri Erika hanya menganggugkan kepalanya lalu mengajak Brian untuk pergi ke ruang makan.


"Jadi, Ayo kita pergi ke ruang makan, Brian."


"Ya, baiklah."


Lalu putri Erika pun menceritakan awal mula Brian berada di kerajaan Black Sea. Selama putri Erika menjelaskan, Brian hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa dirinya paham dengan penjelasan putri Erika.


"Yah, begitulah."


Tidak terasa ternyata mereka telah sampai di ruang makan. Di ruangan itu sudah terdapat seorang pria paruh baya dan seorang wanita paruh baya yang sepertinya sepasang suami istri serta seorang gadis yang terlihat lebih tua dari pada putri Erika.


Wajah wanita paruh baya dan gadis itu terlihat sedikit mirip dengan wajah putri Erika yang berada di samping Brian. Dilihat dari manapun ketiga orang yang kini sedang duduk di meja makan merupakan raja dan ratu serta putri mahkota kerajaan Black Sea.


Penampilan mereka sama seperti putri Erika. Wajah mereka bersisik ikan. Bukan hanya mereka saja, tetapi semua orang yang ada di kerajaan itu memiliki sisik ikan di tubuh mereka yang menjadi ciri khas dari seorang Siren.


Brian pun langsung melakukan penghormatan kepada sepasang suami istri didepannya. Mau bagaimana pun kedua orang dihadapannya merupakan seorang raja dan ratu suatu kerajaan.


"Hormat hamba, yang mulia raja, yang mulia ratu dan yang mulia putri mahkota."ucap Brian sembari menundukkan sedikit kepalanya.


Tindakan Brian yang dianggap tidak melakukan penghormatan dengan benar membuat para prajurit yang ada di sana menodongkan senjata mereka. Tetapi dengan cepat raja kerajaan Black Sea menghentikan para prajurit dengan mengangkat satu tangannya.


Para prajurit pun kembali ke posisi semulanya masing - masing.


"Apakah kau seseorang yang telah diselamatkan oleh salah satu prajurit putri ku ?"tanya sang raja kepada Brian dengan tatapan penuh selidik.


"Benar yang mulia. Sebelumnya saya telah diselamatkan oleh salah satu prajurit disaat saya hampir tenggelam di laut."


Para prajurit kembali menodongkan senjata mereka ke arah Brian. Mereka geram kepada Brian yang telah menjawab pertanyaan raja mereka dengan perkataan yang dianggap kurang sopan.


Tetapi lagi - lagi sang raja menghentikan para prajurit itu. Para prajurit itu tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah raja mereka.


Sedangkan Brian, dirinya tidak melakukan apapun dan tetap diam di tempat. Di matanya dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun baik dari perkataannya maupun dari tindakannya.


"Jadi, bag-"


Perkataan sang raja dihentikan oleh dehaman sang ratu yang berada disampingnya.


"Ekhem.... Sudah cukup, sayang. Lebih baik kita makan terlebih dahulu. Aku yakin kau pasti kelaparan, bukan ?"ucap ratu kepada Brian sembari tersenyum.


Raja hanya bisa tersenyum getir saat perkataannya di sela oleh istrinya.


"Baik, yang mulia ratu. Saya mengucapkan terima kasih banyak atas kebaikan yang mulia raja dan yang mulia ratu yang telah membiarkan saya makan bersama dengan keluarga kerajaan Black Sea."ucap Brian.


"Tidak apa - apa. Kau tidak perlu terlalu formal kepada kami."


"Baik, yang mulia."


Lalu putri Erika pun duduk di kursi makan. Diikuti oleh Brian yang duduk di kursi yang telah disiapkan pelayan sebelumnya.


Tidak lama kemudian para pelayan memasuki ruang makan dengan membawa berbagai macam makanan yang semuanya terbuat dari hasil laut seperi sup ikan, cumi bakar, kerang goreng, bahkan ada minuman jus yang terbuat dari rumput laut dan masih banyak lagi.


Brian dan keempat anggota kerajaan itu pun memakan makanan yang telah di sediakan.


-----------------------------------


Dua puluh menit kemudian.


Dua puluh menit kemudian, mereka pun selesai makan. Pada awalnya setelah selesai Brian akan langsung pergi dari kerajaan Black Sea setelah dirinya mendapatkan kembali tasnya yang disimpan oleh putri Erika.


Tapi Raja dan ratu menahannya untuk pergi karena ingin menanyakan sesuatu kepada Brian.


Brian pun tidak memiliki pilihan lain selain duduk kembali.


"Jadi, apa tujuanmu datang ke kerajaanku ?"ucap raja memulai pembicaraan.


Ratu dan kedua anaknya menepuk dahi pelan setelah mendengar pertanyaan dari raja.


"Maaf, bukan saya yang datang ke kerajaan ini tapi pengawal putri anda yang membawaku ke sini."jawab Brian datar.


Raja hanya tersenyum canggung dengan perasaan malu memenuhi tubuhnya saat menyadari dirinya telah salah berbicara.


Untuk menghilangkan rasa malu yang cukup besar, raja pun berdeham dan kembali bertanya.


"Ekhem.... Maaf, aku ganti pertanyaannya. Siapa kau sebenarnya ? Aku rasa kau bukanlah orang yang sesederhana penampilanmu."ucap raja penuh selidik.


Senyum miring terpatri di wajah Brian. Lalu dia pun berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya tanpa menutup - nutupi identitas aslinya.


"Perkenalkan. Namaku Brian Draxon. Seorang dari ras Naga sekaligus reinkarnasi dari Brown Phoenix, sang Alteration Flame."ucap Brian yang kemudian memunculkan api coklatnya di seluruh tubuhnya sehingga kini Brian tampak seperti terbakar hidup - hidup.


_____________________________________


Note : Untuk update chapter selanjutnya, author bakal publis saat like di chapter 1 s/d 50 mencapai minimal 20 like perchapter. Jadi, mulai sekarang update-an novel ini tergantung dari kalian para pembaca. kalau like di setiap chapter masih kurang dari 20 like author ga bakal update chapter baru :)


Ga susah kok. cuma satu kali klik jempol doang :)