The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 20 : Braston Kingdom



Author's pov


"Perkenalkan, namaku Sanny von Braston. Putri dari Kerajaan Braston."ucapnya memperkenalkan diri.


"Salam putri, namaku Winston sedangkan orang di sebelahku adalah Al."jawab Winston.


"S-salam, p-putri."gugup Al.


"Oh iya, sebelumnya kalian berdua tidur dimana ? Bukankah tempat ini jauh dari desa ?"tanya Putri Sanny.


"Kami tidur tidak jauh dari sini. Kami tidur dibawah pohon."jawab Winston.


"Memangnya tujuan kalian ke mana ?"tanya Putri.


"Ke Kerajaan Braston, putri."jawab Winston lagi.


"Baiklah putri, kami mohon undur diri. Kami ingin ke tempat kami tadi."kata Winston.


"Mengapa kalian tidak beristirahat saja di sini bersama kami ? Lagi pula tujuan kita sama kan ?"ucap putri


"Baiklah, jika putri tidak keberatan. Kami akan mengambil barang kami yang tertinggal dan kembali lagi kesini. Permisi, putri..."kata Winston.


Lalu Al dan Winston pergi dari tempat itu menuju tempat istirahat mereka untuk mengambil barang mereka yang sengaja di tinggalkan. Sesampainya di sana, Al melihat tupai yang mengikutinya sedang duduk di atas tas yang sebelumnya di bawa Winston.


Tupai itu segera berlari menghampiri Al setelah dia melihat kedatangannya dan menaiki tubuh Al lalu duduk di kepalanya. Al yang tidak menyangka bahwa tupai itu masih saja mengikutinya mulai memikirkan nama yang cocok untuknya. Sedangkan Winston mengambil tasnya.


"Tidak ku sangka kau masih mengikutiku tupai kecil. Bagaimana kalau aku memberimu nama ?. Hmm, nama apa yang cocok untukmu ?"ucap Al


Lalu Al memikirkan sebuah nama yang cocok untuk tupai itu.


"Hm..... Bagaimana kalau Little ? Apa kau menyukainya ?"


Tupai itu menjawab dengan menggosokkan kepalanya ke rambut Al.


"Ayo kita kembali kesana, Al."


"Baik..."


Lalu mereka berjalan kembali menuju tempat rombongan prajurit beristirahat. Sesampainya di sana, mereka melihat para prajurit yang sedang membangun tenda. Lalu mereka dihampiri oleh prajurit yang tadi berbicara dengan mereka.


"Tuan, mari ikuti saya. Saya akan menunjukkan tenda yang akan tuan tempati."


""Baik!""


Lalu mereka berdua dipandu oleh prajurit itu menuju tenda yang akan mereka tempati. Akhirnya mereka telah sampai di depan sebuah tenda yang tidak berbeda jauh dari tenda yang lainnya.


"Ini adalah tenda yang akan tuan - tuan sekalian tempati. Kalau begitu saya permisi."


"Baiklah, terima kasih."


Lalu mereka berdua memasuki tenda itu dan merebahkan badan bersiap untuk tidur. Tidak lama kemudian mereka pun menutup mata dan tertidur.


------------------------------------


Keesokan paginya mereka terbangun dan keluar dari tenda. Di luar mereka melihat para prajurit sudah melakukan aktivitasnya masing - masing.


Terlihat juga putri Sanny yang sedang berjalan ke arah mereka berdua. Al yang melihat putri Sanny menghampirinya mulai merasa panas di wajahnya.


"Selamat pagi, tuan Al dan tuan Winston. Apa tidur kalian nyenyak semalam ?"


"S-s-selamat p-pagi, p-put-ri.."


"Selamat pagi juga, putri. Tenang saja putri, semalam kami tidur sangat nyenyak."


"Oh, syukurlah..."


"Baiklah, kalau begitu mari kita sarapan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan."


"Baik, putri."


Lalu putri Sanny pun berjalan pergi dan diikuti oleh Al dan Winston. Selama berjalan Winston selalu memperhatikan wajah Al yang memerah. Karena penasaran, Winston pun menanyakannya langsung kepada Al.


"Hey Al ! Mengapa wajahmu merah ? Apa kau sedang tidak enak badan ?"bisik Winston ke dekat telinga Al.


"Entahlah, sepertinya aku telah jatuh cinta dengan putri Sanny. Apa dia juga menyukaiku ya ?..."balas Al sembari berbisik juga.


"Kau jangan terlalu berharap. Kau itu hanyalah seorang rakyat jelata. Mana mungkin putri Sanny yang sangat cantik itu menyukaimu."kata Winston.


"Ucapanmu jahat sekali Winston..."ucap Al


"Yah, itulah kenyataannya."kata Winston sembari mengedikkan bahu.


"Huh."


"Hm ? Mengapa kalian berdua berbisik - bisik ?"tanya putri Sanny.


"Tidak apa - apa putri. Tadi Al hanya bertanya kepadaku mengapa orang yang sangat penting seperti putri Sanny berada di tengah hutan yang jauh dari kerajaannya."ucap Winston dengan penuh kebohongan di setiap kata - katanya.


"Benarkah Al ? Mengapa tidak menanyakannya langsung kepadaku ? Yah, sebenarnya aku sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke Kerajaan Grayn di benua Morphis."jawab putri.


"Bukankah itu sangat jauh ?"tanya Winston.


"Iya, kau benar. Tapi mau bagaimana lagi. Ini demi masa depan kerajaanku."ucapnya dengan lesu.


"Maaf, aku dilarang memberitahukan kepada orang yang bukan termasuk keluarga Kerajaan Braston."ucapnya sembari memalingkan wajah.


"Oh..."kecewanya karena tidak mendapat jawaban.


Akhirnya mereka telah sampai di tempat sarapan. Mereka semua memakan makanan yang di sediakan. Jika kalian bertanya - tanya kemana tupai kecil yang selalu mengikuti Al, jawabannya adalah tupai itu saat ini sedang ikut makan bersama mereka. Lebih tepatnya tupai itu sedang memakan buah berry di atas kepala Al.


Setelah menyelesaikan sarapan kami semua segera membereskan tenda - tenda dan memasukkannya ke dalam kereta kuda yang di khususkan untuk membawa barang - barang. Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Braston Kingdom.


------------------------------


Seminggu kemudian di kejauhan mereka sudah bisa melihat tembok pembatas Kerajaan Braston. Mereka pun mempercepat jalan mereka agar lebih cepat sampai.


Akhirnya mereka telah sampai di depan gerbang. Tetapi mereka tidak bisa langsung masuk karena mereka harus mengantri untuk di periksa terlebih dahulu.


Setelah mengantri selama 30 menit kini giliran mereka untuk di periksa.


"Berhenti !"


Kereta kuda pun berhenti.


"Apa yang ada di dalam kereta kuda itu ?"


"Di dalam ada tuan putri Sanny Von Braston..."


"Tunjukkan buktinya !"


Lalu kusir itu pun mengeluarkan medali yang hanya di miliki keluarga kerajaan. Setelah prajurit penjaga melihat medali itu, mereka segera menundukkan kepala.


Mereka pun melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju ke istana. Di sepanjang perjalanan Al yang penasaran segera mengeluarkan kepalanya dari jendela kereta kuda.


Terlihat ekspresi penuh kekaguman yang tersirat di wajahnya dan tidak henti - hentinya dia menyebutkan kaya 'woow' dan 'waah'.


Perjalanan dari gerbang istana membutuhkan banyak waktu. Bahkan setelah 1 jam mereka belum juga melihat gerbang istana.


Setelah menempuh jarak selama 3 jam akhirnya mereka bisa melihat sebuah bangunan yang sangat besar walaupun di lihat dari kejauhan.


Mereka pun akhirnya memasuki gerbang istana. Mereka masih harus menempuh jarak selama 10 menit agar bisa sampai di depan istana.


Sesampainya di istana mereka di sambut oleh para prajurit dan pelayan. Putri Sanny, Al dan Winston turun dari kereta kuda dan segera masuk ke dalam istana.


Di dalam terlihat banyak sekali ornamen - ornamen yang menurut Al sangat kuno tetapi bernilai seni yang sangat tinggi.


Tidak lama mereka berjalan, mereka berhenti di depan pintu yang sangat besar sekaligus megah terbuat dari emas dan di jaga oleh dua orang prajurit di masing - masing samping pintu. Pintu itu dibukakan oleh prajurit hingga Al dan Winston tahu bahwa ruangan yang akan dimasukinya adalah ruang tahta.


Mereka bertiga masuk dan terlihat di singgahsana terdapat seorang laki - laki berumur 40 tahun yang memakai mahkota kerajaan didampingi oleh seorang perempuan berumur sama seperti laki - laki di sebelahnya.


Mereka berdua adalah raja dan ratu dari Braston Kingdom. Raja Ferdynand von Braston dan Ratu Fanya Brasta.


"Hormat hamba, ayahanda, ibunda."ucap putri Sanny sembari menundukkan badan diikuti oleh Al dan Winston.


"Selamat datang kembali putriku. Siapa mereka berdua Sanny ?"ucap raja.


"Mereka adalah Al dan Winston, ayah. Mereka telah menyelamatkanku saat rombongan kami di serang oleh bandit kabut berdarah."kata Sanny


"APA !? Apa kau baik - baik saja ? Kau tidak terluka kan ?"ratu terlihat sangat khawatir dengan perkataan anaknya.


"Tidak ibunda, aku tidak apa - apa. Itu semua berkat mereka berdua."ujar Sanny.


"Benarkah ? Bisakah kau jelaskan kronologinya ?"tanya ratu.


"Itu benar yang mulia. Saat itu kami sedang beristirahat saat  malam, tapi kami terbangun karena mendengar suara pertarungan tidak jauh dari tempat kami. Karena penasaran kami pun memeriksa siapa yang melakukan pertarungan di tengah malam. Dan kami melihat rombongan tuan putri yang sedang melawan bandit. Karena kami melihat rombongan tuan putri sedang terdesak kami pun akhirnya ikut melawan para bandit yang menyerang. Lalu saat semua bandit telah di kalahkan tuan putri mengajak kami ikut bersamanya karena tujuan kami sama yaitu kerajaan Braston."jelas Winston.


"Baiklah, saya mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan putriku."ucap raja kemudian memanggil seorang prajurit.


"Prajurit ! Ambilkan 100 koin emas."kata raja.


"Baik yang mulia."jawab prajurit itu.


Prajurit itu pun keluar dari ruang tahta menuju ruang harta kerajaan.


"Aku akan memberi kalian berdua imbalan yang setimpal."kata raja kepada Winston dan Al.


"Itu tidak perlu yang mulia. Kami tidak mengharapkan imbalan apapun."tolak Winston dengan halus.


Lalu prajurit itu kembali lagi dengan membawa sekantung penuh uang di tangannya dan menyerahkannya ke raja.


"Tidak usah menolak, ini sebagai tanda terima kasih karena telah menyelamatkan putriku."ucap raja.


"Baiklah kalau yang mulia memaksa. Kami akan menerimanya."kata Winston.


Sebelum raja menyerahkan kantung itu tiba - tiba pintu terbuka lebar memperlihatkan lelaki berumur sekitar 19 tahun dengan armor yang menyelimuti seluruh tubuhnya kecuali kepala sehingga memperlihatkan wajahmya yang lumayan tampan dengan rambut berwarna coklat.


"Tunggu dulu ayahanda."ucapnya.


"Mengapa kau kemari Felix ? Apa kau ada keperluan ?"tanya raja.


"Aku dengar adikku telah pulang dengan membawa rakyat jelata."jawab pangeran Felix.


**********