
Brian's pov
Saat ini dihadapan kami ada seorang pria paruh baya yang sudah diikat. Dia adalah doppelganger dan dia masih belum sadarkan diri. Kami berencana untuk mengintrogasinya.
Sudah sekitar 1 jam kami menunggu orang itu sadar. Tetapi tidak ada tanda - tanda orang itu akan sadar.
'Hmm..... Aneh. Kenapa dia belum juga sadar ?'
Aku yang merasa aneh segera saja memperhatikan orang itu lebih seksama. Ternyata setelah aku melihatnya dengan seksama aku melihat mata orang itu yang tertutup bergerak - gerak dan membuka sedikit seakan sedang memperhatikan keadaan sekitar.
Aku yang melihat itu tidak tinggal diam. Aku mengambil kerikil yang ada didekatku lalu menyelimutinya dengan api phoenixku yang berwarna coklat.
Aku membuat kerikil itu menjadi berat. Lebih berat dari pada batu berukuran besar. Tetapi berat itu tidak mempengaruhiku. Karena akulah yang telah menambah berat kerikil itu. Jadi aku tidak terpengaruh oleh sihirku sendiri.
Aku berjalan mendekat kearah doppelganger. Dia terlihat panik saat aku semakin dekat dengannya. Aku semakin dekat hingga akhirnya aku sampai di depannya.
Aku berjongkok mensejajarkan pandanganku dengan wajahnya. Kulihat matanya bergerak dengan gelisah tetapi tetap tidak terbuka. Aku mengulurkan tanganku yang sedang memegang kerikil kedepan dan segera menjatuhkan kerikil itu tepat diatas kakinya.
*krakk*
"Aaaaarrrggghhh ! Apa yang kau lakukan ****** !"
Terdengar suara seperti patahan yang berasal dari kaki diiringi dengan suara teriakan kesakitan dan umpatan dari doppelganger itu. Yah, kurasa tulang keringnya patah karena ditimpa sebuah kerikil kecil.
"Aku ? Oh, aku hanya mematahkan kakimu saja."ucapku enteng.
"******** ! Akan ku bunuh kau !"
"Aaaaarrrrrggggghhhh.... Kakiku !!!"
Doppelganger itu berteriak lebih keras dari sebelumnya. Wajar saja dia berteriak kembali. Kakinya yang patah dicengkram dengan kuat oleh ayahku.
"Tidak boleh ada yang memaki anakku di hadapanku ! Kau mengerti ?!"
Kurasa ayah marah karena aku di maki oleh doppelganger itu. Sedangkan doppelganger itu hanya bisa menganggukkan kepala dengan air mata yang mengucur deras membentuk aliran air.
Seorang pria dewasa sedang menangis bombay tepat dihadapan seorang remaja berumur 16 tahun. Sungguh pemandangan yang sangat aneh. Dan dimulailah sesi introgasi antara keluarga Draxon dengan doppelganger.
Author's pov
"Apa tujuanmu dan ras mu mengacau di desa kami ?"tanya Adam
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut doppelganger. Sedangkan Brian dan yang lainnya hanya memperhatikan.
"Hm ? Kenapa kau diam saja ? Apa kau tidak punya mulut untuk menjawab pertanyaanku ?"tanya Adam lagi dengan penuh penekanan di beberapa kata.
"Aku tanya sekali lagi ! Apa tujuanmu dan ras mu mengacau di desa kami ?"ucapan Adam masih terdengar penuh penekanan di beberapa kata.
Tetap tidak ada jawaban apapun. Doppelganger itu tetap tidak mau membuka mulut juga. Brian pun memikirkan sebuah cara agar doppelganger itu bisa buka mulut. Bukan hanya Brian, tetapi ayah dan ibunya juga sedang memikirkan caranya.
Brian tiba - tiba menyeringai jahat. Dia mulai maju ke hadapan doppelganger. Mendekatkan mulutnya ke telinga doppelganger, membisikkan kata - kata yang membuat doppelganger itu berkeringat dingin.
"Tidak ada. Oh ayah, bukankah seharusnya kita sekarang mengintrogasi dia ?"ucap Brian mengalihkan pembicaraan.
"Oh, ayah lupa. Aku tidak akan mengulangi pertanyaan tadi. Jadi ? Apa jawabanmu ?"pandangan Adam menajam.
"Tujuanku dan ras ku adalah mengambil kristal naga yang ada di desa ini."ucap doppelganger dengan penuh ketakutan.
"Darimana kau mengetahuinya ?"ucap Sarah dengan nada terkejut.
"Kristal naga ? Memangnya untuk apa ?"bingung Adam.
"Untuk mem- aaaarrrrrrgggghh"
Ucapan doppelganger itu terhenti oleh teriakannya sendiri. Dia menggeliat tidak karuan walaupun dalam keadaan badan terikat seakan - akan tubuhnya sedang terbakar.
Adam dan Brian yang dekat dengan doppelganger itu melangkah kebelakang untuk menghindari kejadian yang mungkin terjadi. Doppelganger itu tiba - tiba berhenti bergerak bertepatan dengan Adam dan Brian yang sudah ada di samping Sarah dan Sally.
"A-apa... Apa yang terjadi ?"ucap Adam.
"Dia..... Mati ?"ragu Sarah.
"Tapi... Kenapa ?"ucap Adam lagi.
"Ya aku tidak tahu. Coba kau periksa dia."Sarah menyuruh Adam untuk memeriksa tubuh doppelganger.
"Baiklah. Kalian tetap disini. Jangan ikut mendekat."
Adam melangkahkan kakinya kedepan mendekat kearah doppelganger. Setiap langkahnya penuh dengan kehati - hatian. Adam diam sebentar lalu mulai jongkok dan memeriksa denyut nadi doppelganger.
"Tidak ada denyut nadi. Dia benar - benar mati. Tapi apa yang menyebabkannya mati ?"bingung Adam.
"Mungkin ada sihir kutukan di dalam tubuhnya yang akan aktif bila dia membocorkan sebuah rahasia ?"ucap Brian.
"Mungkin saja."timpal Adam.
"Oh iya, Brian. Kekuatan macam apa yang kau gunakan tadi ?"tanya Sarah.
"Eh... Em... Itu..."Brian tiba - tiba gugup.
"Jawab yang jujur !"pandangan Sarah menajam kepada Brian.
Brian menghela nafas pasrah dan mulai menceritakan tentang jati dirinya yang seorang brown phoenix kepada keluarganya. Dan reaksi keluarganya setelah mengetahui itu semua adalah terkejut sama seperti teman - teman Brian.
*******
Typo bertebaran dimana - mana. Jadi harus hati - hati :)
Jangan lupa like, vote, dan komen bila ada saran dan kritik.
CapricornDS098