The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 21 : The Arrogant Prince



Author's pov


"Kenapa kau membawa rakyat jelata ke dalam istana Sanny ?"tanya Pangeran Felix.


"Mereka telah menyelamatkanku dari serangan bandit kak, ak-"ucapan puteri sanny terpotong oleh Pangeran Felix.


"Heh ? Mana mungkin rakyat jelata bisa melawan bandit ? Atau jangan - jangan mereka berdua juga bandit ?"ucap pangeran Felix dengan arogan.


"Cukup Felix, Sanny. Tidak boleh ada yang berdebat di ruang tahta."kata raja.


"Tapi ayahanda Sanny-"sebelum menyelesaikan perkataannya, raja segera memotong perkataannya dengan pertanyaan yang membuat pangeran Felix menundukkan kepalanya.


"Apa kau ingin sebuah hukuman Felix ?!"


"Maaf, ayahanda."


"Lebih baik kau keluar dari ruang tahta sekarang juga !"titah raja.


"Baik, ayah."jawabnya.


Lalu Felix pun berjalan keluar. Matanya menatap ke arah Winston dan Al. Tatapan yang merendahkan mereka berdua.


Pintu pun tertutup dan pangeran Felix sudah keluar dari ruangan.


"Maafkan perkataan anakku. Terkadang dia akan bersikap arogan"ucap ratu.


"Tidak apa yang mulia ratu. Kami memakluminya."ucap Winston.


"Baiklah. Terimalah uang ini sebagai bentuk terima kasih kami karena telah menyelamatkan putri kami."ucap raja sembari menyerahkan kantong berisi koin emas kepada Winston.


Winston pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih kepada raja dan ratu.


"Terima kasih yang mulia raja dan ratu."ucap Winston.


"Terima kasih yang mulia raja dan ratu."ucap Al mengikuti perkataan Winston.


"Sama - sama."jawab ratu dan raja.


"Maaf yang mulia. Kami mohon undur diri."ucap Winston


"Oh, apa kalian akan segera pergi ?"tanya raja.


"Iya yang mulia. Kami harus mengisi kembali perbekalan kami untuk perjalanan."jawab Winston.


"Bukankah kalian terlalu tergesa - gesa ? Mengapa kalian tidak singgah dulu di sini untuk beberapa hari ?"kata raja.


"Bukannya kami ingin menolak tawaran yang mulia. Tetapi kami tidak ingin merepotkan yang mulia."jawab Winston.


"Tentu tidak. Jadi, apa kalian akan singgah dulu disini ? Aku memaksa."ucap raja.


Al dan Winston saling berpandangan sejenak. Mereka pun saling menganggukkan kepala dan menatap raja kembali.


"Baiklah yang mulia. Kami akan singgah dulu di sini. Ya, tidak ada salahnya juga kami menunda perjalanan kami untuk sementara waktu."kata Winston. Al pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Pilihan bagus. Pelayan !"ucap raja dan raja memanggil seorang pelayan.


"Yang mulia."ucap pelayan itu sembari menundukkan kepalanya.


"Antarkan mereka menuju kamar tamu."


"Baik yang mulia. Tuan - tuan sekalian mari ikuti saya."


"Kami mohon undur diri yang mulia."


Raja hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Winston dan Al pun pergi dari ruang tahta itu menuju ke kamar tamu yang akan mereka tempati dipandu oleh seorang pelayan.


Mereka berjalan di lorong istana yang di dindingnya penuh dengan ukiran - ukiran yang menggambarkan sekelompok burung dan sekelompok makhluk yang bentuknya sangat aneh sedang saling berhadapan seakan - akan mereka sedang melakukan persiapan perang.


Al terus memandang ke arah ukiran itu sedangkan Winston yang berada di sebelahnya tidak memperhatikan apapun dan hanya memandang ke depan seakan - akan dia tidak melihat ukiran aneh yang ada di sepanjang lorong itu.


'Makhluk apa yang sedang berhadapan dengan burung itu ?'ucap Al di dalam hati dengan penuh tanda tanya.


Al mengalihkan perhatiannya ke arah Winston dan ingin menanyakan perihal ukiran yang dilihatnya, tetapi segera dia urungkan karena mereka sudah ada di ujung lorong dan menaiki tangga yang menuju ke lantai dua istana.


"Hey Al. Kenapa semenjak kita menginjakkan kaki di kerajaan Braston kau lebih banyak diam ? Tidak seperti saat kita di dalam hutan."tanya Winston.


"Aku tidak pernah sekalipun bertemu dengan orang yang sangat penting."jawab Al dengan singkat diikuti dengan wajahnya yang nampak lelah.


"Oh, jadi itu sebabnya kau dari tadi diam."kata Winston


"Iya. Ngomong - ngomong kita akan tinggal di sini berapa hari ? Bukankah perjalanan kita masih sangat panjang ?"tanya Al.


"Kita hanya akan tinggal 2 hari saja. Cukup untuk memulihkan tenaga kita yang terkuras karena melakukan perjalanan berhari - hari."jawab Winston.


"Oh..."


Lalu mereka pun sampai di sebuah lorong yang terdapat banyak sekali pintu.


"Baiklah tuan Al kamar anda ada di sebelah sana."ucap pelayan itu sembari menunjuk sebuah pintu yang ada di dekat mereka.


"Dan untuk tuan Winston kamar anda ada di sebelah situ."ucap pelayan itu lagi sembari menunjuk ke arah pintu yang ada di seberang kamar Al.


"Baiklah jika ada yang dibutuhkan segera panggil saya. Saya permisi."ucap pelayan itu.


"Baiklah terima kasih..."kata Al.


"Sama - sama tuan."jawabnya.


Setelah itu pelayan itu pun pergi dari sana. Lalu Al dan Winston pun memasuki kamar mereka masing - masing dan merebahkan diri mereka di kasur yang sangat empuk.


*tok* *tok* *tok*


"Siapa ?"


"Ini saya tuan. Anda sudah ditunggu oleh yang mulia raja di ruang makan untuk makan malam."


"Baiklah, aku akan segera keluar."


Lalu Al pun berjalan menuju pintu dan membukanya. Dia melihat pelayan yang tadi mengantarkannya dan juga Winston yang ada di sebelah pelayan itu.


Lalu mereka pun berjalan menuju ke ruang makan. Sesampainya di sana keluarga kerajaan sudah duduk di tempatnya masing - masing. Termasuk pangeran Felix yang menatap rendah mereka.


Mereka berdua pun duduk di kursi di samping putri Sanny. Para pelayan memasuki ruang makan dengan membawa banyak sekali hidangan mewah dan menaruhnya di atas meja.


Mereka pun memakan makan yang ada di atas meja. Selama makan hanya ada suara dentingan sendok. Karena aturan kerajaan yang dimana jika seseorang berbicara saat makan dianggap tidak sopan.


Setelah selesai makan, barulah mereka diperbolehkan berbicara.


"Bagaimana... Apakah kalian suka dengan makanan yang dihidangkan ?"tanya raja.


"Iya, yang mulia. Bahkan kurasa ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan."jawab Winston dengan sedikit kebohongan. Nyatanya dia sudah sering memakan masakan mewah dikerajaan Lightner karena dia merupakan seorang jendral disana.


"Hahaha... Kau terlalu berlebihan."ucap raja.


"Hahaha... Seharusnya kalian berterima kasih kepada ayahku karena kalian yang hanya seorang rakyat jelata diperbolehkan makan malam bersama keluarga kerajaan."kata pangeran Felix dengan arogan sembari menatap rendah kearah Al dan Winston.


Tiba - tiba suasana menjadi sunyi.


"Felix ! Jaga ucapanmu !"ucap raja memperingati anaknya.


"Bukankah aku benar.... Rakyat jelata ?"ucap pangeran Felix.


Al terlihat menahan amarahnya. Matanya menatap dengan dingin ke arah pangeran Felix.


"Felix ! Cukup !"ucap ratu.


Pangeran Felix tidak mendengarkan perkataan ibunya. Dia melihat Al yang menatapnya dingin mulai menyeringai.


"Kanapa ? Apa kau tidak terima dengan ucapanku ? Rakyat jelata."kata pangeran Felix sembari berdiri dari duduknya.


Al yang tidak tahan dengan ucapan pangeran Felix yang memanggilnya dengan sebutan rakyat jelata. Dan dengan nada marah Al pun berkata.


"Sekali lagi kau menyebutku dan temanku rakyat jelata aku akan-"kata Al sembari berdiri dari duduknya. Tetapi sebelum menyelesaikan ucapannya, perkataannya segera dipotong oleh pangeran Felix.


"Akan apa..."pangeran Felix tambah merendahkannya.


"T-tunggu, t-t-tuan Al. A-ak-aku mohon m-maafkan kakakku. Ayah !?"ucap puteri Sanny dan memanggil ayahnya.


Winston yang tidak menyangka bahwa Al akan semarah ini mencoba menenangkannya.


"H-hey Al. Tenangkan dirimu !"


Lalu puteri Sanny pun menghampiri ayahnya dan membisikkan sesuatu kepada ayahnya. Tiba - tiba wajah raja memucat, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan putrinya. Tetapi karena perkataan itu berasal dari mulut putrinya sendiri dia mau tidak mau harus mempercayainya.


"T-tuan Al. Aku mohon maafkan perkataan anakku."


"Ayah, mengapa kau harus meminta maaf kepada rakyat jelata ? Kau adalah seorang raja."


Tiba - tiba suasana di dalam ruangan mencekam.


"Cukup ! Aku mentangmu berduel satu lawan satu di arena koloseum."ucap Al.


"Hahahaha... Aku tidak mungkin melawan seseorang yang lemah."kata pangeran Felix meremehkan.


"Kenapa ? Kau takut ?"Al menyeringai yang membuatnya menjadi seperti penjahat.


"Aku tidak pernah takut kepada orang yang sangat lemah sepertimu !"emosi pangeran Felix terpancing oleh perkataan Al.


Tiba - tiba dari tubuh Al keluar api berwarna hijau yang sangat panas.


"Baiklah. Pagi hari esok, kita akan bertarung hidup dan mati di koloseum. Jika kau tidak datang aku akan menghancurkan kerajaan ini hingga rata dengan tanah..."ucap Al dan beranjak pergi dari sana.


Kekacauan di ruangan itu memancing sekelompok prajurit untuk datang memeriksa keadaan keluarga kerajaan agar tetap aman.


"Winston. Kita pergi dari sini !"kata Al kepada Winston.


"B-baik."


Tetapi sebelum mereka melangkahkan kakinya. Sekelompok prajurit menghadang mereka. Al yang tidak ingin membuang - buang waktu lagi mengibaskan tangannya kearah sekumpulan prajurit dan dari kibasannya itu muncul api hijau panas membentuk bulan sabit yang menghempaskan para prajurit ke dinding hingga tidak sadarkan diri.


Mereka pun akhirnya meninggalkan istana dan berjalan menuju kota dan mencari penginapan. Sedangkan di istana mereka yang menyaksikan kekuatan Al mengalami syok berat, terutama pangeran Felix.


Pangeran Felix semakin syok dan ketakutan setelah raja dan puteri Sanny menceritakan apa yang telah dilakukan Al saat mereka melawan bandit kabut berdarah. Bandit yang satu orangnya saja dibutuhkan lima puluh prajurit kerajaan mereka untuk mengalahkannya.


Dan Al hanya membutuhkan waktu dua puluh menit untuk mengalahkan empat puluh orang dari kelompok mereka. Walaupun dia dibantu oleh Winston.


****************


*jangan bosan menunggu update dari author ya :)


author juga butuh dukungan dari kalian dengan cara like, komen dan vote.


typo bertebaran di mana - mana. so, kalian harus hati - hati.


see you in the next chap :v


CapricornDS089*