The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 15 : Three Headed Snake



Al's pov


Tidurku terganggu oleh cahaya matahari yang menyinari wajahku. Aku pun terbangun dari tidur dan mendudukkan badanku. Ku edarkan pandanganku kesekeliling. Ternyata ini semua bukan mimpi. Nyatanya aku bangun dari tidurku di dalam hutan yang kemarin dan bukannya di dalam kamarku.


Aku melihat kearah tempat Winston tidur. Dan aku tidak menemukan siapapun. Sepertinya dia bangun terlebih dahulu daripada aku.


Lalu aku melihat tempat api unggun semalam. Terlihat api sudah mati hanya menyisakan abu dan arang dari kayu yang terbakar.


Aku berdiri dari dudukku dan berkeliling mencari keberadaan Winston. Saat ini hanya Winstonlah yang ku kenal di dunia yang aneh ini. Aku mencarinya tidak jauh dari tempatku tadi. Itu karena aku tidak mau tersesat di tempat yang aku tidak ketahui.


*DDUUAARR*


tiba - tiba aku mendengar suara ledakan dan terdapat asap hitam yang membumbung dari kejauhan yang terlihat olehku. Burung - burung beterbangan menjauhi asal suara ledakan.


Aku yang panik segera berlari mendekati asap hitam itu. Dengan aku menuju kearah asap hitam itu mungkin aku akan bertemu lagi dengan Winston.


Aku semakin dekat dengan sumber asap itu. Aku sudah bisa melihat jalan setapak yang mengarah ke asap itu. Kurasa ada sebuah desa yang terbakar.


Tidak lama kemudian aku melihat sebuah gerbang yang terbuat dari kayu yang sebagiannya telah hancur. Aku pun memasuki gerbang dan segera saja aku disambut dengan kekacauan. Terlihat banyak sekali orang - orang yang berlarian kesana kemari menyelamatkan diri. Rumah - rumah banyak yang terbakar. Bukan hanya itu. Aku juga melihat banyak orang yang terluka maupun yang sudah kehilangan nyawanya ? Entahlah aku tidak tahu karena mereka tergeletak di jalanan dan tidak bergerak. Aku berlari menghampiri seorang kakek tua yang terluka. Dia terjatuh saat aku berada di depannya tetapi sempat ku tangkap. Aku pun membantunya berdiri.


"Terima kasih nak."ucap kakek itu.


"Tidak masalah kek. Apa yang telah terjadi kakek ?"ucapku.


"Desa telah diserang oleh seekor monster ular berkepala 3."


"Dimana monster itu ?"


"Jangan nak. Kau masih muda. Masih banyak yang harus kau capai. Jangan melawan monster itu. Kau bukan tandingan monster itu. Lebih baik kita menyelamatkan diri saja.."kakek itu terlihat khawatir setelah aku menanyakan keberadaan monster ular itu.


"Tapi-"


*GGRRRRAAAAA*


Ucapanku terpotong oleh sebuah raungan hewan buas diiringi dengan munculnya seekor ular raksasa berkepala 3 di hadapan kami.


"Oh tidak. Monster itu ada di sini ! Cepat nak, kita lari menyelamatkan diri !"kakek itu semakin panik.


Aku membelalakkan mata terkejut dengan wujud dari ular yang di bicarakan oleh kakek itu. Bagaimana aku tidak terkejut kalau ukurannya itu tidak masuk akal.


Bayangkan saja di depanmu ada ular dengan badan sebesar rumah tingkat dua dan panjangnya sekitar 25 meter serta tinggi jika ular itu saat menegakkan kepalanya sekitar 10 meter. Jadi total panjang ular itu adalah 35 meter. Ditambah ular itu memiliki 3 kepala yang sama besarnya dengan tubuhnya.


Siapa yang mau percaya dengan omonganku ? Bahkan aku sendiri yang melihatnya secara langsung masih tidak percaya. Di Bumi saja tidak ada ular sebesar itu. Bahkan jika dibandingkan dengan ular titanoboa. Kuyakin ular itu akan langsung di lahap oleh ular dihadapanku ini.


Lamunanku di hentikan oleh suara teriakan kakek.


"Awas ! Dia akan menyemburkan api di dalam mulutnya !"teriak kakek itu semakin panik dan semakin takut.


Lalu aku menengok ke arah kakek itu sebentar dan kembali menekok ke arah ular itu lagi. Benar saja perkataan kakek itu.


Terlihat ketiga kepala ular itu membuka dan ada titik kecil berwarna orange yang semakin lama semakin membesar. Tidak lama kemudian keluar api yang ada di mulutnya ke arah kami berdua. Reflek aku memeluk kakek di sebelahku untuk melindunginya sembari menutup mata berharap agar aku tidak menerima rasa sakitnya. Walau aku tahu bahwa perbuatanku itu sia - sia.


1 detik


2 detik


3 detik


..........


Hingga detik ke sepuluh aku tidak merasakan panasnya api yang membakar tubuhku. Lalu seseorang menepuk pundakku dibarengi oleh suara yang sudah ku kenal.


"Hey ! Kenapa kau meninggalkan ku dihutan sendirian ? Padahal kan aku hanya pergi mengambil buah - buahan untuk sarapan kita berdua."


"Winston ! Syukurlah aku bisa bertemu denganmu lagi..."


"Kakek, lebih baik kau pergi saja dari sini. Diluar desa ada pengungsian. Kau bisa pergi kesana. Untuk masalah monster itu biar aku dan temanku ini yang menyelesaikannya."


"Baiklah nak. Kalian harus berhati - hati. Semoga dewa membantu kalian berdua."


Lalu kakek itu pergi dari tempat ini menuju pengungsian yang ada di luar desa.


"A-apa maksudmu ?"tanyaku panik.


"Kau pasti tahu apa maksudku kan ?"ucapnya santai.


"Tapi bagaimana aku bisa melawannya ? Sedangkan aku saja tidak memiliki senjata yang bisa melukainya."


"Kau kan mempunyai sihir."ucapannya terlalu santai.


"Itu mudah. Hanya harus membayangkan saja."


"Itu pasti sulit."pesimisku.


"Belum juga dicoba sudah bicara sulit. Pesimis sekali kau ini."


"Kalau begitu akan ku jelaskan dengan singkat. agar kau bisa mengeluarkan sihir. Aku hanya bisa menjelaskannya sekali saja karena pelindung yang kubuat akan hancur. Jadi kau harus mendengarkan penjelasanku baik - baik."


Setelah mendengar perkataan Winston tentang adanya pelindung aku pun mengalihkan pandangan menuju ular itu. Terlihat ada sebuah pelindung seperti balon yang transparan tetapi terlihat kuat. Banyak terdapat retakan - retakan di pelindung itu.


"Baik."


"Fokuskan pikiranmu pada tubuhmu. Rasakan aliran yang ada di tubuhmu lalu coba kendalikan ke seluruh tubuhmu. Lalu lihatlah perubahannya."


Pelindung yang dibuat Winston pun akhirnya hancur seluruhnya.


"Baiklah aku akan menahannya sebentar. Kau lakukan apa yang aku jelaskan tadi."


Lalu Winston berlari menuju monster itu untuk melawannya.


"Tapi, tapi, tapi..... Itu... Terlalu singkat..."ucapanku memelan di akhir.


Aku tidak memiliki pilihan lain selain melakukan apa yang dijelaskan oleh Winston.


Aku pun menutup mataku agar lebih fokus. Ku hembuskan nafas perlahan. Aku memfokuskan pikiranku ke dalam tubuhku. Aku mencari aliran yang ada di tubuhku. Lalu kurasakan sebuah aliran yang terasa hangat. Aku mencoba mengendalikannya untuk mengalir ke seluruh tubuhku. Mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Setelah berhasil mengendalikannya aku merasakan adanya perubahan pada tubuhku. Aku merasakan tubuhku menjadi lebih ringan. Luapan energi yang tidak bisa ku jelaskan. Energi itu serasa ingin meledakkan tubuhku tetapi disaat yang bersamaan aku merasakan perasaan yang sangat nyaman.


Aku pun membuka mata dan melihat perubahan yang terjadi pada tubuhku. Betapa terkejutnya aku saat aku melihat kondisi tubuhku. Kini tubuhku bukanlah tubuh seorang manusia. Badanku penuh dengan bulu unggas berwarna hijau. Kakiku berubah menjadi kaki burung. Tanganku pun ikut berubah menjadi sayap burung berwarna hijau. Dan kurasa kepalaku juga ikut berubah. Tidak hanya itu. Tubuhku juga dibaluti oleh api berwarna hijau.


Aku terkagum - kagum dengan wujudku ini. Wujud seekor burung yang menjadi lambang keabadian. Aku yang masih mengagumi diriku dikejutkan oleh teriakan Winston yang memanggilku.


"AL ! Cepat bantu aku !"


"BAIK !!! AKU AKAN SEGERA KE SANA..."balasku dengan teriak juga.


Tanpa basa - basi lagi aku terbang menghampiri Winston yang sedang melawan monster ular. Entah bagaimana caranya aku bisa terbang menggunakan sayap. Padahal sebelumnya aku tidak pernah mempunyai sayap. Mungkin ini karena wujudku yang sekarang merupakan seekor burung.


Setelah aku dekat dengan Winston aku segera ikut menyerang monster itu dengan cara mencakar tubuhnya menggunakan kakiku dan berhasil memberikannya luka yang cukup dalam. Ular itu berteriak kesakitan.


Ekor ular itu menyerangku. Untungnya aku sempat menghindar sehingga ekor itu menghantam tanah. Aku pun menyerangnya lagi. Kali ini aku menyerang bagian mata dari kepala sebelah kanan. Satu mata berhasil ku hancurkan. Aku tidak sempat menghancurkan mata yang satu lagi dikarenakan kepala tengah menyemburlan api ke arahku.


Winston tidak tinggal diam. Dia menyerang dengan sihir dan mengenai mata kepala kanan yang satunya lagi. Satu kepala sudah buta. Tinggal dua kepala lagi.


Hal yang tidak terduga terjadi. Kepala ular sebelah kiri menggigit kepala sebelah kanan hingga putus dan menelannya bulat - bulat. Kejadian itu membuat aku dan Winston terkejut. Sekarang tersisa dua kepala lagi.


Setelah memutuskan salah satu kepalanya. Kedua kepala yang tersisa membuka mulutnya kearah kami dan menyemburkan api dari mulutnya. Aku segera terbang menghindar. Dan Winston membuat perisai seperti sebelumnya.


Setelah mulut monster itu tidak mengeluarkan api lagi aku segera melesat maju mencakar tubuh ular itu. Winston juga tidak tinggal diam. Dia menyerang menggunakan sihir telekinesis dan mengendalikan benda - benda di sekitar untuk menyerang monster itu.


Sedikit demi sedikit tubuh monster itu dipenuhi oleh luka tetapi tidak terlihat tanda - tanda bahwa monster itu akan tumbang.


"Kenapa monster itu belum juga mati ?"ucapku.


"Kita harus menyerang inti monster itu ! Kau serang lagi dipangkal kepalanya. Pasti inti monster itu ada di sana..."jawabnya.


"Baiklah."


Aku segera melesat menuju pangkal dari kedua kepala monster ular itu. Saat sudah dekat ku arahkan cakarku untuk mencakar bagian itu. Tetapi sebelum aku mendaratkan cakaranku, monster itu menyerangku lagi menggunakan ekornya.


Aku yang belum sempat menghindar terkena pukulan ekor monster itu hingga terpental kebelakang dan berhenti ketiga tubuhku menabrak bangunan rumah.


Tubuhku menjadi lemas. Ku lihat Winston yang sedang melawan monster itu juga ikut terpental setelah menerima pukulan dari ekor ular itu.


**GGRRAAAA


*******


Jangan lupa like, vote, dan komennya karena author butuh saran kalian.


Jangan pernah bosan untuk menunggu update-an cerita ini ya (:


Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati :)


See you in the next chap :v**


CapricornDS089