The Reincarnation Of A Phoenix

The Reincarnation Of A Phoenix
Chapter 11 : Doppelganger



Brian's pov


Sinar matahari belum menampakkan dirinya. Walaupun demikian, aku sudah mulai bersiap - siap untuk pergi dari desa. Akhirnya waktu yang ku tunggu - tunggu selama ini datang juga.


Aku mengambil tas kulit yang berisi barang bawaanku. Setelah itu aku membuka pintu kamarku dengan perlahan hingga terbuka sedikit. Aku melongokkan kepalaku. Setelah memastikan keadaan rumah aman. Aku menutup pintu lagi dan menuju ke arah jendela kamar yang terbuka.


Aku keluar lewat jendela. Setelah diluar aku melompat ke atap rumah tetanggaku yang berada di jangkauan ku.


Aku berjalan dengan perlahan agar tidak terjatuh kedalam rumah. Lalu aku melompat lagi menuju atap yang lain. Begitu seterusnya hingga aku sampai di gerbang desa yang sedang dijaga.


Akan ku ceritakan bagaimana bentuk dari desaku ini. Sebenarnya desa ini tidak jauh berbeda dengan desa yang lainnya. Hanya saja, rumah - rumah di desa ini disusun sedemikian rupa hingga jika dilihat dari atas langit menyerupai labirin.


Kembali ke cerita. Saat ini aku sudah berada di atas tanah. Bukan di atap rumah tetangga satu desaku. Aku tidak mau mengambil resiko ketahuan oleh penjaga gerbang bila aku tetap di atap rumah.


Aku memantau para penjaga gerbang. Menunggu hingga waktu mereka lengah. Sebenarnya hanya ada 6 orang penjaga. Tetapi kekuatan tempurnya sangat hebat.


28 menit aku menunggu aku melihat keenam penjaga itu pergi. Setelah mereka tidak terlihat lagi aku pun memulai aksiku untuk pergi keluar gerbang. Akhirnya setelah menunggu selama hampir 30 menit aku bisa keluar gerbang.


Aku menumbuhkan sayap naga ku lalu terbang melewati gerbang dan aku pun turun kembali saat sudah ada di hutan. Setelah kaki ku menyentuh tanah. Aku menghilangkan sayap naga ku. Lalu aku berjalan menembus lebatnya hutan.


*DDUUAARR*


Author's pov


*DDUUAARR*


Tiba - tiba suara ledakan terdengar diikuti oleh asap hitam tebal yang membumbung tinggi berasal dari desa Dragon Maze. Desa tempat tinggal Brian.


Brian yang mendengar suara ledakan dan melihat asap hitam yang berasal dari desanya panik. Brian segera bergegas kembali ke desanya untuk memastikan keadaan keluarganya baik - baik saja.


Brian berlari, terus berlari tanpa henti. Dia membutuhkan waktu yang lama karena dia sudah jauh dari desa.


Sesampainya di desa. Brian melihat pertarungan antara warga desa dengan warga desa yang lain. Mereka saling menyerang satu sama lain.


Tidak memperdulikan itu semua, Brian segera berlari menuju rumahnya. Disepanjang perjalanan menuju ke rumahnya. Hanya ada kekacauan. Terlihat juga ada beberapa rumah yang terbakar.


Saat Brian sudah berada di depan rumahnya. Tanpa basa - basi dia langsung masuk ke dalam. Brian berlari mengelilingi rumahnya sembari memanggil.


"Ayah !!.... Ibu !!... Dimana kalian ?"


Brian berteriak memanggil ayah dan ibunya tetapi tidak ada jawaban.


"Ayah !!... Ibu !!... Kalian dimana ?"


Sekali lagi Brian berteriak sembari berkeliling rumah.


"Brian ? Apa itu benar - benar kau ?"ucap lelaki dewasa tepat di belakang Brian.


Brian yang mendengar suara di belakangnya berbalik dan melihat lelaki dewasa yang ternyata adalah ayahnya. Brian segera menghampiri ayahnya dan menanyakan keadaan yang sedang terjadi.


"Apa yang terjadi ayah ? Apa desa di serang ? Tapi diserang oleh siapa ? Mengapa aku tidak melihat musuh ? Hanya para penduduk yang saling menyerang satu sama lain."Brian bertanya dengan bertubi - tubi.


"Lebih baik kita pergi ke tempat ibu dan adikmu terlebih dahulu."


Lalu mereka pun pergi ke ruang bawah menuju ke arah tangga bawah yang ada di dapur. Ke arah ruang bawah tanah.


Ayah Brian segera membuka pintu ruang bawah tanah aat mereka sudah sampai.


"Sarah, aku sudah memb-"ucapan ayah Brian terpotong saat melihat ada Brian yang lain berada tepat di samping istrinya.


Keduanya membelalakkan mata terkejut karena melihat ada dua Brian di ruangan itu.


""Siapa kau !?""ucap kedua Brian.


""Doppelganger !!""ucap keduanya lagi.


Kedua Brian mulai berdebat. Tanpa kedua Brian sadari, ayah, ibu, dan adik Brian melangkah menjauh. Mereka berhati - hati karena mereka tidak tahu Brian yang asli dan yang palsu.


"Sarah, apa tadi Brian yang di sebelahmu menanyakan keadaan di desa ?"ucap ayah Brian kepada istrinya.


"Iya, tadi dia menanyakan itu. Tapi belum sempat aku menjelaskan kau datang terlebih dahulu bersama Brian yang lain."balasnya.


"Jadi, yang asli itu yang mana ? Kau tidak bisa merasakan apapun gitu ? Kan Brian anakmu."Ucap ayah Brian lagi.


"Hei !! Anakku, anakmu juga !!"


"Tapi kan kau seorang ayah, jadi kau itu mempunyai semacam insting kebapak-an kan ?"Sarah menirukan ucapan suaminya.


Mereka berdua mulai ikut berdebat. Ruang bawah tanah yang tadinya hening menjadi riuh oleh ucapan mereka berempat. Sedangkan adik Brian yang bernama Sally memutar kedua bola matanya. Jengah karena melihat perdebatan keluarganya .


'Huh, mereka malah memperkeruh keadaan.'gumam Sally.


"Hey ! Berhenti bedebat"ucapan Sally tidak didengar.


"Berhenti !!"


Lagi -lagi ucapannya tidak di dengar. Kesal karena ucapannya tidak didengar membuat dia kesal.


"BERHENTI !!!"akhirnya Sally berteriak.


Sally menendang tanah menyebabkan gempa kecil. Kedua Brian, ayah dan ibunya pun berhenti bedebat dan melihat ke arah Sally.


"Hey sarah, anakmu serem juga kalau marah"ayah Brian berbisik di telinga istrinya.


"Kan sudah ku bilang. Anakku, anakmu juga. Adam !"


"DIAM !!! JANGAN ADA YANG BICARA !!!"Sally membentak orang tuanya.


'Wah nih anak gada akhlaknya banget. Ortu sendiri malah dibentak.'batin salah satu Brian. Sebut saja Brian 1.


"Kau sendiri kan sedang bicara"ucap Brian yang lain. Brian 2.


'Ini lagi, malah bilang gitu. Ya pasti nambah marah lah'batin Brian 1.


"KU BILANG DIAM YA DIAM !!!"Sally lagi - lagi berteriak menyuruh untuk diam.


'Kan bener'batin Brian 1, lagi.


Sally menarik napas agar dirinya menjadi tenang. Setelah tenang Sally pun bertanya kepada Brian 1 dan 2.


"Jadi, kakak yang asli yang mana ?"ucap Sally.


"".......""


Tidak ada jawaban. Kedua Brian hanya diam. Karena memang tadi disuruh diam oleh Sally.


"JAWAB !!!"


Tetapi Sally marah berteriak kembali karena pertanyaannya tidak dijawab.


""K-kakak yang asli. Dia palsu !!""kedua Brian menjawab dengan gugup.


"Hmm..... Kak Rian yang mana ?"Sally bertanya kembali dengan nada lemah lembut.


"Kakak adalah kak Rian dek"ucap Brian 2


'Fix, dia yang palsu'batin Adam, Sarah dan Sally.


Lalu Sally berlari kearah Brian 2 sembari bersenandung. Sedangkan Brian 1 segera menyingkir menjauh dari Brian 2 setelah tahu apa yang akan terjadi dihadapannya.


Sally merentangkan tangan seperti ingin berpelukan. Brian 2 bersiap untuk menerima pelukan dari Sally. Yah, begitulah yang ada dipikirannya.


*dugg*


Brian 2 terpental kebelakang dan menabrak dinding di belakangnya hingga retak membentuk sarang laba - laba setelah perutnya di tendang oleh Sally.


"Yeey, doppelgangernya sudah ketahuan"ucap Sally kegirangan.


Brian 2 yang pingsan berubah menjadi orang lain. Adam yang melihat doppelganger itu pingsang segera mengikatnya sebelum dia sadar.


*******


**Jangan lupa like, vote, dan komennya. Author butuh saran dari para pembaca yang budiman :)


Typo bertebaran dimana - mana. So, kalian harus hati - hati (:


*Salam :


CapricornDS089***