
"Jangan pernah bermain main dengan perasaan Hyeon-ssi" ucap Ye Jun dingin. Seung Ki hanya memperhatikan Ye Jun tanpa berniat bertanya, Ye Jun memang terkesan serius, Ye Jun hanya menanggapi hal hal yang menurutnya penting, Ye Jun bahkan sangat jarang bercanda.
Hyeon menggendong Myung dan meletakkan Myung di kamar pribadinya. Ruangan Hyeon dilengkapi dengan kamar, Hyeon sering tidur disana jika terpaksa lembur.
"Jangan pernah memanggil ku oppa lagi" perintah Hyeon kepada Seung Ki.
Seung Ki hanya melihat sekilas ke arah Hyeon. "Manajer Han sebentar lagi akhir tahun, menurut manajer apa kita akan mendapatkan penghargaan?" tanya Seung Ki antusias.
"Aku tidak yakin dengan itu" jawab asisten Han. "Seung Ki-ah kita menciptakan lagu untuk penggemar bukan untuk mendapatkan penghargaan" ujar Ye Jun. Semua yang ada di ruangan itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Ye Jun.
Ponsel asisten Han berbunyi menandakan ada pesan yang masuk,
From : Nyonya Jung
Temui aku di mansion sekarang!!
Asisten Han hanya membaca pesan tersebut. "Tuan aku dipanggil nyonya Jung ke mansion" ucap asisten Han menunduk. "Pergilah" balas Hyeon.
Asisten Han pun pergi dari hadapan mereka, "Ye Jun Hyung, ayo ke gym kita sudah lama tidak workout" ucap Seung Ki tiba tiba. "Ayo" ucap Ye Jun.
Hyeon melanjutkan pekerjaan nya yang menumpuk. tanpa terasa hari sudah sore, Hyeon beranjak dari tempat duduknya, Hyeon ingin pulang, Hyeon menggendong Myung ke mobil, tidak ada orang yang tahu bahwa Hyeon membawa seorang gadis karena orang orang sudah pulang ke rumah mereka masing masing.
Sesampainya Hyeon di rumah, mereka disambut oleh kepala pelayan, "Siapkan makan malam!" perintah Hyeon tegas. Hyeon meletakkan Myung di atas ranjang di kamarnya. Setelah itu Hyeon mandi di kamar mandi.
Myung terbangun dari tidurnya, Myung merasa lapar, Myung mengedarkan pandangan nya ke sekeliling, terlihat warna hitam dan abu abu yang mendominasi. Myung tidak tau siapa pemilik kamar, tiba tiba terdengar bunyi pintu di buka, dan keluarlah Hyeon dari kamar mandi memakai handuk di pinggangnya memperlihatkan otot nya yang kekar serta tubuhnya yang proporsional.
Myung berteriak sambil menutup matanya, Hyeon kaget mendengar teriakan Myung dan bergegas mendekati Myung. "Ada apa?" tanya Hyeon panik. "Cepat pakai baju mu!" ujar Myung setengah berteriak.
Hyeon menyunggingkan senyumnya, "Bukankah kau ingin melihat tubuhku? Aku sudah memberi mu izin" goda Hyeon. "Dasar gay ini" ujar Myung kesal dan setengah berlari ke kamar mandi, "Aku bukan gay" balas Hyeon dari dalam kamar. Terdengar bunyi debuman pintu.
Hyeon memakai baju santai, dan duduk di ranjang menunggu Myung supaya keluar bersama. Sementara di dalam kamar mandi Myung merutuki kecerobohan nya, Myung tidak membawa baju ganti ke kamar mandi, "Bagaimana caranya aku keluar?" tanya Myung dalam hati.
"Ah! Diakan gay, jadi tidak akan ada akibatnya" Myung baru tersadar dari pemikiran nya. Myung memakai handuk yang tersedia di kamar mandi itu dan melilitkan handuk itu ke tubuhnya.
Myung keluar dari kamar mandi dengan melenggang, Hyeon menelan ludahnya dengan susah payah. "Apa kau sengaja menggodaku?" tanya Hyeon dengan suara serak. Myung tidak menyangka Hyeon akan mengeluarkan suara seperti itu, namun Myung menampilkan ekspresi biasa agar Hyeon tidak tahu. "Untuk apa menggoda seorang gay, buang buang waktu" ujar Myung sambil mengibaskan tangannya.
Hyeon mendekati Myung yang perlahan mundur, Hyeon menggendong Myung dan menjatuhkan Myung di atas ranjang, secepat kilat Hyeon menindih Myung, Cup. Hyeon mencium Myung dengan ganas.
Myung mendorong dada Hyeon kuat agar ciuman mereka terlepas namun usaha Myung hanya sia sia, Hyeon semakin gelap mata, Hyeon mengecup leher jenjang Myung dan meninggalkan bekas kepemilikan disana, Hyeon mencium bibir Myung kembali.
Di tengah aktivitas mereka, tiba tiba pintu terbuka, dan masuklah Jung Hye. Seketika ciuman mereka terlepas, Hyeon beranjak dari atas Myung sedangkan Myung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya yang hanya memakai selembar handuk. Hyeon memeluk ibunya sekilas, "Eomma kapan datang? Kenapa tidak memberi tahuku" tanya Hyeon datar.
"Apa begini caramu menyambut ibumu?" tanya Jung Hye balik.
"Eomma tunggu di bawah" ucap Jung Hye sambil tersenyum.
"Hem" jawab Hyeon datar. "Kenapa nada mu datar ketika berbicara dengan ibumu?" tanya Myung penasaran setelah Jung Hye berlalu dari hadapan mereka. "Irama ku memang begitu" jawab Hyeon. Myung hanya mendengus mendengar jawaban Hyeon.
"Mana bajuku?" tanya Myung sambil menengadahkan tangannya. "Kita tidak akan butuh baju Myung-ah" ujar Hyeon menggoda Myung.
"Kau" geram Myung. Hyeon tertawa keras karena berhasil membuat Myung kesal. "Lihat di lemari!" ucap Hyeon setelah berhasil menghentikan tawanya. Myung berjalan ke walk in closet sambil membawa selimut untuk menutupi tubuhnya.
Myung membuka salah satu pintu lemari, alangkah terkejutnya Myung dengan pemandangan yang di suguhkan di depan matanya. Banyak baju wanita bermerek, tas branded, aksesoris dan peralatan untuk kecantikan wanita. Myung mengambil baju tidur berbahan satin, dan memakainya.
Myung mematut dirinya di cermin, "Ah! Leherku akan kelihatan nanti" ucap Myung di dalam hati. "Aku tidak perduli" batin Myung lagi.
Selesai berpakaian Myung keluar dan mengajak Hyeon turun, "Hyeon-ah kenapa banyak sekali baju wanita di lemari mu?" tanya Myung ketika mereka berjalan di tangga. "Aku rasa kau akan sering menginap disini, jadi kau tak perlu membawa baju lagi" balas Hyeon santai.
Myung melongo mendengar ucapan Hyeon. "Dasar Gay Gila" ucap Myung meninggalkan Hyeon. Myung duduk di sofa yang berhadapan dengan Jung Hye.
"Siapa namamu cantik?" tanya Jung Hye lembut begitu Myung datang. "Namaku Kim Byeol Myung nyonya" jawab Myung sopan. "Myung-ah, panggil aku eomma saja!" pinta Jung hye dengan senang.
"Hah?" Myung tidak percaya. "Cobalah!" bujuk Jung Hye. "Iya eomma" Myung mengucapkan eomma dengan lancar. Hyeon tersenyum tipis melihat interaksi ibunya dan Myung. Hyeon memeluk pinggang Myung. Myung tersentak tapi berusaha menampilkan wajah datarnya.
"Myung-ah apa kau akan menginap malam ini?" tanya Jung Hye menatap Myung. "Iya Eomma" jawab Hyeon. Myung menatap tajam ke arah Hyeon dibalas dengan kedipan oleh Hyeon. "Sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Jung Hye lagi. "Ku rasa eomma sudah salah pah.. " perkataan Myung dipotong Hyeon dengan ciuman.
Myung kaget dengan apa yang dilakukan oleh Hyeon di depan ibunya. "Hyeon-ah, kau bisa menyerang nya nanti" ucap Jung hye sambil tersenyum senang.
"Myung-ah" ujar Hyeon dengan suara serak setelah melepaskan ciumannya. Wajah Myung merah mendengar suara Hyeon. "Ah! Eomma harus pergi, silakan lanjutkan di kamar!" ucap Jung Hye sambil berlalu dari hadapan Hyeon dan Myung.
"Apa yang kau katakan kepada ibumu tentang ku?" tanya Myung ketus setelah Jung Hye hilang di balik pintu. "Aku tidak mengatakan apa apa" balas Hyeon tak mau kalah. Myung menghela napas berat. Hyeon menggendong Myung dan membawanya ke ruang makan, "Apa gunanya kakiku jika kau terus menggendong ku" ucap Myung mengejek.
Hyeon hanya tersenyum mendengar ejekan Myung. "Kita sedang latihan, aku rasa kau tidak akan bisa berjalan besok" goda Hyeon. Myung mendecih mendengar godaan Hyeon.
Hyeon meletakkan Myung di salah satu kursi, Hyeon menggeser kursi yang lain ke dekat Myung sehingga jika mereka duduk maka kulit mereka akan bersentuhan. "Aku rasa kau bukan alergi sentuhan tapi alergi jika tidak di sentuh" ujar Myung dengan nada mencemooh.
"Aku orangnya pemilih dalam hal pasangan, seharusnya kau merasa beruntung karena aku mau disentuh oleh tangan mu" ucap Hyeon. "Hah? Kau bahkan bukan tipe ku" balas Myung sarkas.
"Lalu seperti apa tipe mu?" tanya Hyeon penasaran. "Yang pasti dia normal dan tidak gay" jawab Myung sambil menampilkan senyum tulusnya. Hyeon terpaku melihat senyuman Myung, "Kenapa kau melihat ku seperti itu?" tanya Myung heran. "Hah?" tanya Hyeon balik.
"Tampaknya kau terlalu lapar" ucap Myung. Mereka mulai makan.
BERSAMBUNG 🙂🙂🙂