The Best Decision

The Best Decision
Tempat Penampungan



"Ma... Ma... Mau apa kau?" tanya Myung dengan gagap. Hyeon menggertakkan giginya.


"Kenapa kau tidak pernah memerhatikan keselamatan mu?" tanya Hyeon dengan tenang, Myung gemetar mendengar suara Hyeon. Myung melemparkan pandangan nya ke arah lain agar tidak melihat Hyeon.


"Tatap aku!" perintah Hyeon masih dengan nada yang tenang, Myung menundukkan kepalanya, "Kau tidak mau menjawab pertanyaan ku?" tanya Hyeon dengan suara sedikit naik. Myung tersentak kaget mendengar Hyeon. Bibir Myung terkatup rapat.


Hyeon menghela napas berat "Kenapa ha?" tanya Hyeon dengan nada yang lembut, "Karena ada kau" ucap Myung spontan. Hyeon menghela napas pasrah dan berjalan meninggalkan Myung.


Myung mengejar Hyeon, "Masalahnya jika tidak ada aku" ucap Hyeon. "Kau harus menjaga keselamatan mu sendiri, kau adalah istri seorang mafia, kau tau betul resikonya Myung-ah" Hyeon mencoba menasehati Myung dengan lembut.


"Istri?" tanya Myung dengan nada mengejek. "Ck! Bukankah kita akan menikah dalam waktu dua hari lagi?" Hyeon kesal mendengar pertanyaan Myung. "Ah! Dua hari lagi ya? Aku lupa" ucap Myung sambil menepuk jidatnya seakan benar benar lupa.


Hyeon semakin kesal dengan Myung, "Aku akan memasak untuk kita" ucap Myung hendak berdiri namun Hyeon menahan tangan Myung, "Antarkan Bibimbap (makanan korea)  ke penthouse ku!" perintah Hyeon kepada asisten Han melalui ponselnya, Hyeon langsung mematikan panggilan telepon mereka tanpa mendengar balasan dari asisten Han.


"Lepaskan aku!" ucap Myung ketus, Myung ingin memasak sendiri karena di penthouse Hyeon semua peralatan dapur nya sangat lengkap membuvat Myung merasa ketagihan untuk memasak.


Hyeon memang mempunyai koki terkenal di penthouse nya tetapi Hyeon jarang memakan masakan mereka. Hyeon lebih suka menyuruh asisten Han yang mencarikan ia makanan kapan pun Hyeon butuh padahal biasanya asisten Han menyuruh koki di penthouse Hyeon yang memasaknya.


"Ah! Pelit sekali" ucap Hyeon sambil melepaskan tangan Myung. "Kau tidak boleh seenaknya menyentuhku lagi, kita menikah karena memenuhi permintaan ibumu" ucap Myung ketus. "Ck! Siapa bilang karena memenuhi permintaan ibuku?" tanya Hyeon kesal.


Hyeon memang mudah terpancing dengan perkataan yang keluar dari mulut Myung. Entah kenapa Myung berbeda dengan wanita lain. Myung sama sekali tidak takut kepadanya.


Selang beberapa waktu asisten Han datang sambil membawa pesanan Hyeon, asisten Han meletakkan Bibimbap itu di atas meja, Myung merasa ada yang janggal dengan makanan itu. Myung melihat Bibimbap itu hanya satu porsi, itu membuat rasa penasaran bagi Myung.


"Asisten Han kenapa hanya satu?" tanya Myung jengkel. "Aku yang menyuruh nya" ucap Hyeon menengahi. "Aku tidak mendengar kau mengatakan jumlah porsinya, asisten Han kau kan tau jika aku tinggal disini jadi tidak mungkin kau memberi kami satu porsi" ucap Myung emosi.


"Maaf kan aku nona" ucap asisten Han menundukkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah Myung yang gemas, disaat semua wanita ingin makan satu porsi dengan Hyeon dia malah ingin porsi yang lain.


"Kau menertawakan kan ku?" tanya Myung seraya menarik kerah baju asisten Han, Hyeon tersenyum melihat Myung, Hyeon melepaskan tangan Myung dari kerah baju asisten Han dan memindahkannya ke kerah bajunya sendiri. "Aku lah yang salah" ucap Hyeon.


"Kau boleh pergi!" ucap Hyeon kepada asisten Han yang dibalas anggukan oleh asisten Han.


Myung melepaskan tangan nya dari kerah baju Hyeon, Myung duduk di sofa di susul oleh Hyeon. Myung mengambil sumpit dan mulai makan tanpa memedulikan keberadaan Hyeon membuat Hyeon terkekeh senang.


Selesai makan Myung langsung ke kamar, Myung tidak berbicara sepatah katapun kepada Hyeon.


Keesokan harinya Myung bangun lebih awal dari Hyeon, Myung mandi di kamar mandi dan memakai short dress warna putih bersih, Myung mengoleskan make up tipis ke wajahnya. Hyeon terbangun dan terkejut melihat penampilan Myung yang sudah rapi di pagi hari.


"Mau kemana kau?" tanya Hyeon penasaran, "Aku ingin melihat Ye Jun" ucap Myung masih terus menghias dirinya. "Kau tidak perlu memakai make up untuknya" ucap Hyeon kesal, "Lagian dia akan tinggal disini sementara sampai dia sembuh total" ucap Hyeon lagi.


"Benarkah? Aku ingin menjemput nya" ucap Myung antusias. Hyeon menatap tajam ke arah Myung. "Dia sudah di bawah dari tadi malam, kau yang terlalu cepat tidur" ucap Hyeon sambil melangkah ke kamar mandi, Myung berdecak sebal.


Hyeon keluar memakai pakaian santai, Hyeon melihat Myung yang berdiri di dekat pintu kamar. Hyeon tersenyum tipis, Hyeon membuka pintu kamar dengan kartunya.


"Mana kartu untukku?" tanya Myung sebal. "Aku akan berikan setelah kita menikah" ucap Hyeon tegas. "Ck! Berikan saja sekarang" ucap Myung datar. "Aku bilang tidak sekarang" ucap Hyeon sambil mengedipkan matanya.


"Dasar Gay" ucap Myung sambil berlalu dari hadapan Hyeon. Myung berlari menuruni tangga, Myung melihat sekilas Ye Jun duduk di sofa sambil meminum teh. Hyeon menggertak marah melihat Myung yang berlari dari tangga hanya untuk mengejar Ye Jun.


Myung langsung memeluk Ye Jun dari samping membuat Hyeon semakin emosi. "Bagaimana kondisimu?" tanya  Myung setelah melepaskan pelukan nya. "Seperti yang kau lihat, aku sudah lebih sehat setelah kau obati" ucap Ye Jun sambil mencubit kecil hidung Myung.


"Syukurlah!" ucap Myung senang. Hyeon berdehem keras berusaha mengingatkan keberadaan nya dengan Myung.


"Besok kau akan menikah Myung-ah" ucap Ye Jun sedikit sedih. Myung hanya mengangguk membenarkan ucapan Ye Jun.


Tiba-tiba datanglah Seung Ki sambil menyeret kopernya membuat mereka yang ada disana bertanya tanya.


"Aku juga ingin tinggal di sini Hyeon Oppa" ucap Seung Ki. Myung tersenyum mendengar ucapan Seung Ki. "Kau pikir penthouse ku ini tempat penampungan?" tanya Hyeon sebal.


"Bukankah dia juga temanmu?" tanya Myung. "Apa kau pikir aku akan menampung semua temanku sementara mereka punya apartemen sendiri?" tanya Hyeon balik. "Ah! Pemuda pelit ini" ucap Myung berdecak sebal.


"Kau bilang aku pelit?" tanya Hyeon emosi. "Kau saja yang mengakuinya, aku hanya bilang pemuda" ucap Myung mengejek. "Kau!" Hyeon menghampiri Myung, namun Ye Jun menghalangi mereka.


Hyeon kembali ke tempat duduknya. "Mana kamarku?" tanya Seung Ki, "Ayo ku tunjukkan" ucap Myung sambil berdiri dan membawa Seung Ki ke kamarnya.


"Hei! Aku bahkan belum mengizinkannya" ucap Hyeon sambil berteriak. Ye Jun terkekeh melihat tingkah laku Hyeon yang mulai berubah, biasanya Hyeon tak pernah protes terhadap Seung Ki maupun Ye Jun karena Hyeon tidak terlalu perduli kepada keduanya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Hyeon ketus. "Apa kau menyukai Myung?" tanya Hyeon kepada Ye Jun.


Ye Jun menegang seketika dan menggelengkan kepalanya, Ye Jun tak ingin merusak moment kedekatan Hyeon dan Myung yang sebentar lagi akan memasuki jenjang yang lebih serius yaitu pernikahan.


Ye Jun belum pernah melihat Hyeon sedekat ini dengan wanita selain ibunya dan teman masa kecilnya. Meskipun Hyeon dekat dengan teman masa kecilnya itu Tapi Hyeon merasa tidak nyaman jika disentuh.


"Aku tidak percaya" ucap Hyeon datar. "Apa kau cemburu?" tanya Ye Jun memastikan. "Aku? Cemburu? Kau tau betul aku Ye Jun-ah" ucap Hyeon datar.


"Kau kan tau jika kita para mafia tidak boleh jatuh cinta meskipun pernikahan sudah dilakaukan bukan berarti kita punya cinta Ye Jun"


Ye Jun geram mendengar ucapan Hyeon, Ye Jun takut Hyeon menyakiti Myung nantinya.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂