
"Myung-ah, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama, membesarkan anak anak kita, dan melewati masa tua bersama mu, aku ingin memiliki mu seutuhnya dalam suatu ikatan"
Hyeon mengusap air matanya yang jatuh, "Menikah lah dengan ku Myung!" ucap Hyeon berlutut di hadapan Myung. "Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk mu dan menjadi ayah yang baik bagi anak kita" Hyeon membuka kotak beludru yang dia siapkan sebelumnya, "Will you marry with me?" tanya Hyeon sambil tersenyum.
Myung mengusap air matanya yang jatuh berkali kali di pipinya, Myung tidak pernah di beri kejutan seumur hidupnya, "Yes" ucap Myung mengangguk. Hyeon berdiri dan langsung mencium kening Myung lama, Hyeon memasangkan cincin di jari manis Myung dan Myung melakukan hal yang sama pada Hyeon.
Hyeon mengecup bibir Myung sekilas, mereka duduk di kursi sambil menunggu makanan di siapkan, Myung memandangi cincin yang dipakainya. Myung tersenyum bahagia. Hyeon hanya memperhatikan Myung sambil tersenyum. Ah! Dua insan yang tengah bahagia.
Makanan pun datang, mereka makan dalam keheningan hingga hanya suara sendok dan garpu yang berdenting yang memenuhi ruangan.
Selesai makan mereka kembali ke penthouse Hyeon.
Hyeon terbangun dari tidurnya, Hyeon meraba ke sampingnya, tidak ada Myung disana, Hyeon mengedarkan pandangan nya ke sekeliling ruangan, Hyeon melihat Myung yang baru keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe sambil mengeringkan rambutnya. Oh! Pemandangan yang menyejukkan.
Hyeon tersenyum jahil, "Myung-ah ini masih pagi" ucap Hyeon dengan suara serak khas bangun tidur. Myung segera pergi dari hadapan Hyeon, Myung mengambil bajunya di lemari dan memakai nya di kamar mandi. Hyeon terkekeh senang.
Setelah Myung keluar dari kamar mandi Hyeon mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi, terdengar bunyi gemericik air. Selesai mandi Hyeon memakai baju santai, Myung mengernyit heran, "Apa hari ini kita tidak bekerja?" tanya Myung bingung. "Tebakan mu benar, kenapa bisa benar ya" Hyeon tampak berpikir.
Myung melongo melihat perilaku childish Hyeon, "Aku bertanya bukan menebak, apa kau tidak tahu beda pertanyaan dengan tebakan?" tanya Myung kesal. Hyeon mendelik tajam ke arah Myung.
Myung membalas tatapan Hyeon dengan menjulurkan lidahnya ke arah Hyeon, "Aku bisa membuat lidah mu lebih bermanfaat dari ini" ucap Hyeon menggoda Myung yang di balas dengan tatapan tajam oleh Myung.
"Apa kau mau mencoba?" tanya Hyeon sambil berjalan menuju Myung.
Myung berusaha menghindar dari Hyeon namun Myung kalah cepat, Hyeon mengangkat tubuh Myung seperti karung beras, Myung meronta.
Hyeon membawa Myung ke dalam mobil, Hyeon meletakkan Myung di kursi penumpang, Hyeon mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi, mobil mulai berjalan menuju tempat perbelanjaan di pusat kota.
"Kau duluan saja, aku mau memarkirkan mobil dulu" ucap Hyeon, Myung keluar dari mobil dan menunggu Hyeon yang memarkirkan mobil nya.
Hyeon menarik tangan Myung agar mereka berjalan berdampingan, banyak yang memperhatikan mereka namun Hyeon tidak peduli dengan tatapan orang lain terhadap mereka.
Mereka sampai di toko make up, Hyeon menarik tangan Myung agar masuk ke toko itu, Myung hanya mengikuti Hyeon. "Belilah sesukamu!" ucap Hyeon sambil memberikan kartu kredit nya.
Myung hanya melongo mendengar perintah Hyeon. "Kirim kan semuanya ke penthouse ku!" perintah Hyeon ketika melihat Myung tak bereaksi. "Tidak usah semuanya" jawab Myung kesal. Hyeon menarik tangan Myung keluar dari toko itu.
Myung berusaha melepaskan tangannya dari Hyeon namun kalah kuat dari Hyeon. Hyeon menyeret Myung ke toko perhiasan. "Pilih sesuka... " Ucapan Hyeon terpotong oleh bekapan tangan Myung.
"Kau mau menghamburkan uang mu untuk hal yang tidak berguna, ayo pulang" ucap Myung. "Kirimkan ke... " ucapan Hyeon terhenti lagi oleh Myung. "Aku akan memilihnya" ujar Myung ketus. Hyeon tersenyum melihat Myung yang kesal karena ulahnya.
"Kami beli yang ini" ucap Hyeon tak terbantahkan. Hyeon menyerahkan kartu kredit nya kepada pelayan toko sambil mengambil kalung yang di pegang Myung. Hyeon menyuruh Myung berbalik.
Myung mengangkat rambutnya sedikit sehingga memperlihatkan lehernya yang putih dan jenjang. Hyeon menelan ludahnya dengan susah payah.
Myung melihat sekilas ke arah Hyeon yang tidak bergerak sedikit pun. "Hyeon-ah aku sudah pegal" ucap Myung merengek. Hyeon berdehem ringan menghilangkan gugupnya. Hyeon memasangkan kalung di leher Myung.
Myung mengambil kalung yang sama, dan mulai memasangkan kalung ke leher Hyeon.
Hyeon mengerang menahan sesuatu karena Myung menyentuhnya. Myung mempunyai kulit yang halus seperti bayi yang membuat Hyeon bingung dimana Myung melakukan perawatan sehingga punya kulit seperti itu, Myung tampak susah menemukan kaitan kalung itu. "Apa masih lama?" tanya Hyeon dengan suara serak. Myung kaget dan tanpa sengaja menyentuh dada bidang Hyeon membuat Hyeon mendesah ringan.
Myung menarik tangan nya cepat, Hyeon melanjutkan pekerjaan Myung yang tertunda. Pelayan memberikan kartu kredit Hyeon kembali.
Mereka pergi dari toko perhiasan itu. "Ayo kita kesana" Hyeon menarik tangan Myung lagi.
Terdengar bunyi gemuruh dari perut Myung menandakan butuh asupan, Hyeon menghentikan langkahnya, "Ayo" ucap Myung menarik tangan Hyeon. "Ayo makan dulu" ucap Hyeon sambil menarik tangan Myung. "Bukankah kita akan kesana?" tanya Myung tiba tiba. "Aku berubah pikiran" jawab Hyeon. "Aku tidak ingin kau sakit" ucap Hyeon serius.
Myung tersentak mendengar ucapan Hyeon, "Nanti aku tidak jadi menikah, gagal deh malam pertama" ucap Hyeon lagi. Myung mendecih mendengar ucapan Hyeon yang kedua.
Sesampainya di cafe, Hyeon menyampaikan pesanan nya begitu juga dengan Myung. Setelah pesanan mereka datang, mereka langsung makan dengan lahap, tampaknya dua insan ini sangat kelaparan, mereka makan dalam diam, hanya bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring, setelah makan Hyeon merasa ingin mengeluarkan sesuatu, "Aku ingin ke toilet sebentar" ucap Hyeon. Myung mengangguk.
Myung bersenandung kecil melihat orang orang yang lewat, Hyeon memang memilihkan tempat yang dekat dengan kaca, sehingga bisa melihat kegiatan siapapun yang lewat.
"Myung-ah" Myung tegang mendengar suara yang sangat familiar baginya. Sebenarnya Myung belum sanggup bertemu dengan Sang Hee, Myung takut merasa sakit hati lagi karena Myung belum menata hatinya dengan baik, Myung mendongak ke depan, Myung sudah menduga, Sang Hee duduk di depan Myung. "Aku ingin kembali padamu Myung" ujar Sang Hee sedikit memelas.
Myung tidak terpengaruh dengan ucapan Sang Hee, "Sang Hee-ssi, bukankah sudah ada Soo Jin bersama anda" Myung mencoba mencari kesalahan Sang Hee. "Aku sudah memutuskan nya Myung-ah, aku sangat sayang kepadamu" Ujar Sang Hee mencoba segala cara agar Myung kembali kepadanya.
Myung menggelengkan kepalanya, Sang Hee memegang kedua tangan Myung.
Hyeon memperhatikan interaksi mereka, namun tak ingin mengganggu mereka, Hyeon merasakan sesuatu mengimpit dadanya sehingga terasa sesak karena melihat wanitanya yang berbicara dengan orang lain sambil berpegangan tangan. "Apa hubungan Myung dengan pria itu?" gumam Hyeon dalam hati.
Hyeon sudah tidak tahan, Hyeon menghampiri mereka, Myung melepas paksa tangannya dari Sang Hee, Hyeon duduk di samping Myung dan merangkul bahu Myung.
"Myung-ah, aku bosan selama kau trainee makanya aku bersama Soo Jin agar aku tidak bosan sendirian, selama kita pacaran kau tidak pernah menelepon ku duluan, selalu aku yang memulai, bahkan ketika aku ulang tahun aku berharap kau datang agar kita merayakannya, nyatanya kau tidak datang Myung-ah, lalu Soo Jin datang padaku, kami merayakan ulang tahun ku, aku mendapatkan semuanya dari Soo Jin, dia perhatian kepadaku sementara kau tidak pernah memerhatikan ku" keluh Sang Hee.
BERSAMBUNG 🙂🙂🙂