The Best Decision

The Best Decision
Emosi yang Membara



Di dalam mobil Hyeon tetap memeluk tubuh Myung, "Lepaskan aku!" ujar Myung sambil berusaha melepaskan pelukan Hyeon. "Biarkan saja, sebentar lagi kita sampai" ucap Hyeon santai.


Sesampainya di Young Entertainment,   "Kau duluan saja" ucap Myung, "Kenapa?" tanya Hyeon heran. "Apa kau tidak melihat?, lobi sangat rame sekarang" ujar Myung sedikit emosi. "Lalu kenapa kalau rame?" tanya Hyeon mengernyitkan keningnya, Hyeon tidak tahu jalan pemikiran Myung.


"Kau ingin kita jadi pusat perhatian" ujar Myung kesal. "Aku sudah biasa jadi pusat perhatian" Hyeon menjawab dengan santai. "Kau duluan saja!" perintah Myung lagi sambil melihat ke arah lobi. Hyeon keluar dari mobil dan menunggu Myung membuka pintu mobilnya namun tidak ada tanda tanda Myung akan bergerak. Hyeon menggeram melihat kelakuan Myung.


Hyeon langsung membuka pintu mobil di sebelah Myung dan menggendong Myung, "Turunkan aku!" ucap Myung sambil memberontak. Hyeon mulai berjalan, baru beberapa langkah mereka sudah menjadi pusat perhatian.


Myung masih memberontak di dalam gendongan Hyeon, "Diamlah! Nanti kau bisa jatuh" ujar Hyeon menggertakan giginya. Myung takut melihat ekspresi Hyeon, Myung tidak lagi memberontak. Mereka masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan di ikuti oleh asisten Han yang membawakan tas Myung.


Ting! Bunyi lift berdenting dan mereka keluar dari lift, asisten Han langsung membuka pintu ruangan Hyeon.


Mereka segera masuk ke dalam dan Hyeon mendudukkan Myung di sofa. "Apa kau tidak ingin istirahat di dalam?" Hyeon duduk di samping Myung. "Aku belum mengantuk dan aku tidak capek" ujar Myung ketus sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Myung masih kesal kepada Hyeon.


Hyeon memperhatikan ekspresi Myung yang kesal kepadanya, mereka terdiam cukup lama "Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" Hyeon memulai pembicaraan. "Hyeon-ah aku tidak mau publik mengetahui tentang pernikahan kita nanti" jawab Myung datar.


"Tidak mau, aku akan menyewa seluruh kamera di negara ini" ucap Hyeon tegas. "Kita tidak jadi menikah kalau begitu" ucap Myung santai. Gigi Hyeon bergemelatuk menahan emosi. "Aku akan tetap menyewa seluruh kamera" Hyeon tetap kekeuh.


"Kita...Tidak... Jadi... Menikah" ujar Myung menekankan kata katanya. "Jika publik tidak tahu tentang pernikahan kita maka aku akan tetap di cap  sebagai gay" ujar Hyeon emosi. "Oh! Jadi kau ingin menikah dengan ku hanya karena ingin melepaskan status gay mu itu" jawab Myung tak kalah emosi.


"Bukan begitu maksudku, kau tidak akan mengerti" ucap Hyeon. "Ya aku tidak akan mengerti, cari saja wanita lain" Myung mengatakan dengan lugas sambil memalingkan wajahnya.


"Aku tidak bisa" jawab Hyeon datar. "Kenapa tidak bisa? Di luar sana banyak sekali yang ingin menikah dengan mu kau tinggal tunjuk salah satu, dengan begitu status gay mu akan hilang" Myung mulai emosi lagi.


"Aku tidak bisa menikah dengan wanita yang tak bisa ku sentuh" Hyeon berteriak kesal. "Kau pikir aku wanita murahan yang bisa kau sentuh?" tanya Myung dengan wajah emosi. "Kau bukan wanita murahan" jawab Hyeon lembut. Myung mendecih mendengar jawaban Hyeon.


"Aku ingin pernikahan yang sederhana dan hanya orang terdekat yang diundang" ucap Myung. "Mulai lagi" Hyeon mengacak rambutnya frustasi. "Kalau tidak mau kau menikah saja sendiri" Myung mengatakan dengan santai. "Myung-ah" Hyeon tidak percaya dengan permintaan Myung.


"Kau pikir aku tidak bisa membiayai pernikahan kita?" tanya Hyeon mulai emosi lagi. "Apa kau pernah mendengar aku mengatakan kalau kau miskin?" tanya Myung balik. "Oh! Aku tahu kau malu menikah dengan seorang gay" Hyeon menyimpulkan seenak jidatnya. "Jika aku malu menikah dengan gay aku tidak akan menerima pernikahan ini" balas Myung dingin.


Hyeon tampak berpikir keras, keduanya terdiam cukup lama. "Baiklah kita tidak akan mempublikasikan pernikahan kita, tapi aku tidak ingin pernikahan yang sederhana" Hyeon mengucapkan dengan tegas. "Terserah" balas Myung cuek.


"Besok kita fitting gaun" ucap Hyeon. "Hem" ujar Myung sambil memejamkan matanya.


Hyeon duduk di kursi kekuasaan nya, namun bunyi HP berdering menandakan ada panggilan masuk, Hyeon langsung mengangkat panggilan itu.


"Eomma" ucap Hyeon.


"Undangan pernikahan mu sudah selesai nanti akan di antarkan kepada mu, kau lihat sampelnya nanti" ujar Jung Hye di seberang telepon.


"Hem" jawab Hyeon datar.


"Di mana Myung?" tanya Jung Hye.


"Itu duduk di sofa" jawab Hyeon.


"Baiklah, eomma tutup teleponnya" ucap Jung Hye.


Tiba tiba pintu diketuk dan masuklah asisten Han, "Tuan ini contoh undangan pernikahan yang sudah di pesan nyonya Jung" ucap Hyeon sopan.


"Letakkan disana!" perintah Hyeon. "Saya permisi tuan" asisten Han menundukkan kepalanya. "Hem" jawab Hyeon datar.


Hyeon berjalan ke dekat sofa dan melihat sampel undangan, "Myung-ah lihatlah ini undangan pernikahan kita sudah selesai" ucap Hyeon. Myung tidak merespon. Hyeon menghela napas.


"Myung-ah" ucap Hyeon lagi, "Apa kau marah padaku?" tanya Hyeon namun Myung tetap tidak merespon. Terdengar napas Myung yang teratur menandakan Myung tengah tertidur, "Kau tidur?" tanya Hyeon.


Hyeon menggoyangkan lengan Myung dengan pelan, Myung tersentak kaget, "Kau bilang tidak mengantuk" ucap Hyeon mengejek. Myung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Hyeon menggendong Myung dan meletakkan nya di dalam kamar pribadinya. "Istirahatlah! Aku diluar" ucap Hyeon. Myung mengangguk.


Hyeon kembali ke luar dan tenggelam dalam kegiatannya. Tiba tiba Seung Ki dan Ye Jun masuk. Mereka memang terbiasa masuk tanpa mengetuk pintu.


"Undangan siapa ini Hyung?" tanya Seung Ki begitu mereka duduk di sofa, Ye Jun merebut undangan itu dari tangan Hyeon, seketika Ye Jun menegang melihat nama yang tertera di sana, "Aku mau lihat!" ucap Seung Ki merebut undangan itu kembali.


"Hyung kau akan menikah dengan Myung noona?" tanya Seung Ki penasaran. "Hem" jawab Hyeon tanpa mengalihkan pandangannya.


Ye Jun benar benar terpukul mendengar jawaban Hyeon. "Aku sudah menduga, bukankah mereka cocok, benar kan Ye Jun hyung?" Seung Ki menanyakan pendapat nya.


Ye Jun tenggelam dalam lamunannya, "Ye Jun hyung" ucap Seung Ki sambil menggamit lengan Ye Jun.


Ye Jun terlonjak kaget, "Ye Jun Hyung apa kau baik baik saja?" tanya Seung Ki. Ye Jun mengangguk. "Bukankah mereka berdua cocok?" tanya Seung Ki mengulang pertanyaan nya. "Hah? Iya mereka berdua sangat cocok" jawab Ye Jun datar.


"Hyeon-ssi selamat! Jaga dia baik baik!" ujar Ye Jun, Hyeon melirik Ye Jun sekilas "Ada yang aneh dengan Ye Jun" batin Hyeon. "Tanpa kau bilang aku juga akan menjaganya dengan baik" ucap Hyeon.


"Aku ingin pulang ke rumahku sebentar" ucap Ye Jun. "Aku ikut dengan mu" Seung Ki menahan lengan Ye Jun. "Kali ini tidak usah ikut, aku ingin sendiri" ucap Ye Jun sedih.


Seung Ki menemukan sosok Ye Jun yang lain, di matanya tergambar kesedihan yang mendalam. "Hati hati" ucap Seung Ki melepaskan tangan Ye Jun. Seung Ki penasaran dengan Ye Jun. Ye Jun tidak pernah menampilkan ekspresi nya meskipun ia senang atau sedih, namun kali ini ia melihat sosok Ye Jun yang rapuh.


Seung Ki mengambil kertas kertas lirik lagu dan mempelajari nya.


Sementara itu Ye Jun tidak dapat menahan tangisnya, Ye Jun melajukan  mobilnya menuju rumah. Sesampainya di rumah Ye Jun langsung duduk di sofa, Ye Jun tidak menyangka Myung akan menikah dalam hitungan hari.


"Bagaimana ini?" ujar Ye Jun frustasi sambil mengacak acak rambutnya.


Ye Jun mengambil HP nya, Ye Jun mengetik sesuatu di sana,


To : Ahjussi


Aku sudah menemukan nya, dia makin cantik


Ye Jun langsung menekan tombol send, setelahnya Ye Jun pergi ke mini bar yang terletak di bawah tangga rumahnya. Ye Jun menenggak martini yang tersedia di sana.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂