
"Myung-ah, maafkan aku, tapi aku benar benar tidak pernah merebut Kim dari ibumu" ucap Yun Dae tapi masih berlutut. "Ajumma berdiri!" ucap Ye Jun yang semakin emosi.
"Kenapa kau yang emosi Ye Jun-ssi?" tanya Myung dengan wajah yang tenang. Hyeon tersenyum simpul melihat Myung yang bisa melawan dua orang sekaligus meskipun hanya dalam bentuk kata kata. Hyeon juga merasa bangga dengan Myung, setidaknya Myung bisa mengulur waktu jika terjadi hal hal yang tidak diinginkan sampai nanti Hyeon akan menolongnya.
"Apa kau tidak punya nurani?" tanya Ye Jun membentak Myung namun hanya dibalas kekehan ringan dari Myung. Ketua Kim melengkungkan bibirnya simetris sehingga tampak senyum yang merekah sempurna dari bibirnya. "Buah yang jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya" batin ketua Kim.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Myung menoleh ke arah Hyeon seakan meminta jawaban, Hyeon menggelengkan kepalanya menandakan persetujuan untuk Myung. "Kau bertanya tentang nurani? Siapa sebenarnya diantara kita yang tidak punya nurani?" Myung masih tetap mengontrol emosinya sehingga kata kata yang keluar masih dalam mode yang tenang.
"Kau bahkan membiarkan orang yang lebih tua dari mu berlutut kepadamu, cih apakah itu adalah seseorang yang punya nurani? Kau pikir kau adalah Tuhan yang bisa mengampuni kesalahan seseorang" Ye Jun menjawab dengan emosi. Myung tertawa keras mendengar ucapan Ye Jun hal itu membuat Ye Jun semakin geram.
"Ajumma maaf kan aku yang tidak punya nurani ini" ujar Myung pura pura merasa bersalah sambil membimbing Yun Dae agar lekas berdiri. "Katakan apa saja yang kau inginkan, aku akan mengabulkan nya, tapi maafkan kesalahan ajumma" ujar Ye Jun setelah emosinya sedikit turun.
"Benarkah?" tanya Myung dengan antusias. "Tentu saja" ujar Ye Jun. Myung tersenyum menyeringai ke arah Ye Jun.
Seung Ki benar benar kaget dengan apa yang dilihatnya, seakan Myung mempunyai kepribadian ganda. Seung Ki tidak pernah melihat Myung seperti ini sebelumnya.
"Hanya satu yang aku inginkan di dunia ini" ujar Myung dengan nada sedih. "Kembalikan ibuku seperti sedia kala!" Myung mengatakan nya dengan lantang. "Aku tidak bisa" ucap Ye Jun lembut. "Kenapa? Bukankah kau akan mengabulkan keinginan ku, aku sudah mengatakan nya" tanya Myung dengan tenang.
"Jangan meminta hal yang mustahil Myung-ah" ucap Ye Jun mulai emosi lagi. "Apanya yang mustahil?" tanya Myung pura pura bingung dengan perkataan Ye Jun. "Aku, Tidak, Bisa" Ye Jun menekankan setiap kata yang diucapkannya dengan emosi.
"Jika kau tidak bisa mengabulkan keinginan ku, berhentilah bertanya hal hal yang konyol Ye Jun-ssi, kau pikir kau adalah Tuhan yang bisa mengabulkan semua keinginan hambanya?" Myung menjawab dengan santai.
"Baiklah katakan yang lain" Ye Jun masih bernegosiasi dengan Myung.
Myung tersenyum cerah, Myung merasa sakit hati mendengar semua yang dikatakan oleh Ye Jun semenjak tadi jadi Myung ingin membalas sedikit. "Hanya sedikit kok" batin Myung.
"Ye Jun-ssi, datanglah ke pernikahan ku, restui kami, sudah itu saja" ucap Myung sambil tersenyum sinis. Ye Jun mendadak menegang mendengar permintaan Myung.
"Keluar kalian semua dari sini!" ujar Ye Jun dingin, tanpa pikir panjang mereka meninggalkan Ye Jun yang terbaring di ranjang sana, namun disana masih Myung masih setia menanti jawaban Myung.
Di dalam hanya tinggal mereka berdua, tiba tiba HP Myung berdenting, ternyata Hyeon mengiriminya pesan singkat.
From : Hyeon Oppa
Kami ke kantin dulu, selesaikan masalah kalian dengan cepat ๐๐
Myung bergidik ngeri melihat emotikon yang dikirim oleh Hyeon kepada nya.
"Apakah kau akan mengabulkan permintaan ku?" tanya Myung dengan tenang. "Kenapa tidak keluar?" bentakย Ye Jun dengan sedikit keras.
Ye Jun menjangkau tangan Myung dan menyatukan jari jari mereka, "Maaf kan aku Myung-ah" ucap Ye Junย dengan lembut. "Aku akan memaafkan mu dengan syarat restui kami" ucap Myung.
Ye Jun menghela napas berat, "Kau tahu betul siapa aku Myung-ah, aku tidak akan bisa merelakan kamu ke tangan orang yang lain" ucap Ye Jun dengan tegas.
"Tampaknya Ye Jun oppa belum mengerti ya, Oppa tidak pernah mencintaiku, itu hanya suatu rasa yang membuat oppa ingin melindungi ku, bukan rasa cinta oppa" ujar Myung mencoba menjelaskan kepada Ye Jun.
Ye Jun melepaskan tangannya dari Myung dengan kasar. "Aku mencintai mu Myung-ah, kenapa kau tidak pernah percaya dengan kata-kata ku?" tanya Ye Jun frustasi. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui kalian" ucap Ye Jun dengan tatapan yang mematikan.
" Ye Jun Oppa, lupakan cinta oppa itu, aku tidak ingin membuat oppa semakin sakit hati, masih banyak wanita yang lebih baik dari aku di luar sana" ujar Myung.
"Tidak, jika aku bisa melupakan rasa cinta itu, aku sudah melakukan nya semenjak dulu Myung-ah" Ye Jun tetap gigih dengan ucapan nya.
Myung menghela napas, "Kau harus menerima kenyataan Oppa, aku akan menikah" ucap Myung datar. "Kau tidak pantas menikah dengan gay Myung-ah, dia bahkan tidak mencintai mu" ucap Ye Jun masih ingin mempengaruhi keputusan Myung. "Justru karena dia gay makanya aku mau oppa, dengan begitu kami tidak akan melakukan apapun, aku juga belum mencintai nya oppa" Myung mengatakan nya dengan tegas.
"Myung-ah" ucap Ye Jun dengan tatapan memelas. "Tidak oppa, kau adalah sepupu ku, tidak mungkin kita bisa bersama" Myung mengingatkan Ye Jun. "Sepupu apanya? Bibi ku adalah ibu tiri mu bukan ibu kandung mu Myung-ah" Ye Jun masih berusaha untuk meruntuhkan pertahanan Myung.
"Tidak oppa, kau adalah sepupu ku" jawab Myung kekeuh. "Aku mau pergi menyusul Hyeon, aku lapar, jaga diri oppa" Myung berlalu dari hadapan Ye Jun.
Ye Jun meratapi kepergian Myung dari ruangannya, Ye Jun merasakan sakit hati lagi setelah Myung mengatakan dengan mulutnya sendiri. Seakan ini adalah mimpi buruk yang tidak pernah diinginkan oleh Ye Jun.
Ye Jun menangis histeris meratapi nasibnya, Cinta bertepuk sebelah tangan, Oh! Miris sekali.
Ye Jun terdiam cukup lama menyatukan kepingan puzzle yang baru saja terjadi. "Apa gunanya aku hidup jika kita tidak bersama" Ye Jun berkata dengan lirih. Ye Jun tampak lesu seakan kehilangan semangat untuk hidup.
Ye Jun melepaskan infus yang ada di tangannya, Ye Jun mencari benda yang bisa untuk mengakhiri hidupnya, Ye Jun mulai mencari, ditengah fokusnya mencari benda, Ye Jun merasakan pusing yang luar biasa disertai dengan rasa mual yang membuncah, Ye Jun muntah, tidak lama Ye Jun mulai menegang dan tangannya tidak bisa digerakkan, Ye Jun kejang kejang.
Pengawal yang melihat kejadian itu langsung bergegas memapah Ye Jun kembali ke atas ranjang, dan pengawal yang lain memanggil dokter agar memeriksa keadaan Ye Jun.
Tak lama kemudian datanglah dokter beserta Yun Dae serta ketua Kim. Sedangkan Myung masih makan bersama Hyeon di kantin rumah sakit.
Dokter segera memeriksa keadaan Ye Jun yang semakin melemah, setelah dokter memeriksa Ye Jun, "Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Yun Dae dengan raut wajah cemas. "Racun alkohol yang di dalam tubuhnya semakin menyebar, jika terlalu lama itu akan menyebabkan jantungnya berhenti" jawab dokter sopan.
"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Yun Dae lagi, "Kita harus melakukan cuci darah" jawab dokter. "Lakukan sekarang!" perintah ketua Kim dengan tegas. "Maaf kan kami ketua, dokter spesialis bagian itu sedang mengurus pasien VIP di luar kota" dokter menunduk dengan takut takut. Badannya bergetar hebat karena takut kepada ketua Kim.
BERSAMBUNG ๐๐๐