The Best Decision

The Best Decision
Why?



"Huh?" Myung bengong mendengar ucapan Hyeon barusan. "Maaf Myung-ah" Hyeon mengecup puncak kepala Myung. "Untuk?" Myung tak bisa menyembunyikan rasa heran nya, "Untuk yang tadi, aku sudah, sudah, sudah kasar padamu" Hyeon sedikit gugup saat Myung menanyainya.


Myung tersenyum mengejek, "Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Hyeon sambil memicingkan matanya.


"Apa kau tak ingin aku memaafkanmu?" Myung bertanya dengan nada kesal. "Ayo kita pulang sekarang" Hyeon tak menghiraukan pertanyaan Myung dan mulai mematikan komputer dan membereskan meja nya sedikit. "Hei! Aku belum memaafkan mu tuan"


"Aku tau" Hyeon menggendong tubuh Myung, "Lalu?" Myung merasa heran dengan kelakuan Hyeon. "Sampai di sana saja, tidak ada jawaban untuk pertanyaan lalu?" Hyeon membawa Myung ke dalam mobil.


Myung tak mau melepaskan tangannya dari leher Hyeon. "Apa kita tidak akan pulang, sayang?" Hyeon berbisik di telinga Myung. "Tentu saja kita akan pulang" Myung tetap mengalungkan tangannya di leher sang suami.


"Kenapa kau tak mau melepaskan tangan mu ini? Bagaimana caranya aku menyetir?"


"Kau belum menjawab pertanyaan ku tadi"


"Aaaaaaaaa" Myung berteriak karena Hyeon membawa tubuhnya ke kursi kemudi, Hyeon masuk ke dalam mobil sambil menggendong Myung dan sekarang posisi mereka sangatlah intim, Myung duduk di pangkuan Hyeon sementara Hyeon mengemudikan mobil.


"Aku pindah saja" Myung berkata dengan wajah menunduk, "Diam" Myung tak menjawab lagi.


Myung menyentuh pipi Hyeon dengan ragu ragu, membuat si empunya menegang. "Apa dia tidak suka?" batin Myung dan menarik tangannya kembali. Hyeon menepikan mobil mereka.


Tanpa aba aba Hyeon langsung menerjang bibir ranum milik Myung, Hyeon menggigit kecil bibir Myung sehingga Myung membuka mulutnya dan Hyeon bisa leluasa mengabsen seluruh gigi Myung.


Myung menepuk dada bidang Hyeon ketika kapasitas oksigen nya sudah menipis. Hyeon yang menyadari itu melepaskan ciuman mereka dan mengecup pelupuk mata Myung. "Tidurlah!" Myung tersenyum cerah membuat Hyeon terpana.


Myung makin melebarkan senyumannya dan mengecup rahang kuat milik Hyeon membuat Hyeon tersenyum tipis. Seperti ada kupu kupu yang beterbangan dalam perut Hyeon.


Hyeon melajukan mobil nya lagi sementara itu Myung bersandar di dada bidang Hyeon dan memejamkan matanya.


Sesampainya di mansion, Hyeon menggendong Myung ke dalam dan menyuruh kepala pelayan agar memasukkan mobil mereka.


***


Pagi hari Myung melihat suasana mansion sudah sepi, "Apa semua orang sudah pergi?" Myung turun dari king size sambil bergumam dan mandi. Selesai berpakaian, Myung makan sendirian di ruang makan, tiba tiba kepala pelayan lewat.


"Apa semua orang sudah pergi ke kantor?" Myung bertanya di sela sela kegiatan makannya. "Iya nona" kepala pelayan menunduk. "Terima kasih, lanjutkan pekerjaan mu"


Kepala pelayan berlalu dari hadapan Myung. Selesai makan Myung mengambil tasnya dan pergi ke kantor agensinya.


Sesampainya di kantor, Myung di kejutkan dengan para staff yang sibuk membereskan barang barang Myung di ruangannya. "Apa apaan ini? Apa aku di pecat dari agensi ini?" Myung bertanya dengan wajah emosi.


"Myung-ah kau datang?" manajer Kang bertanya dengan nada sedih. "Oppa, kenapa barang ku di kemas seperti itu? Apa aku di pecat?"


"Tidak Myung, manajermu sekarang bukan aku lagi, tapi manajer Han, kata nya tidak boleh memegang artis dua orang sekaligus"


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂