The Best Decision

The Best Decision
Bertemu Kembali



Sesampainya di General Hospital, mereka langsung menuju ruangan tempat Ye Jun di rawat.


Myung melihat seseorang yang tampak familiar tengah berdiri di samping ranjang Ye Jun, Myung menegang. Hyeon mengernyit heran melihat Myung yang berdiri tegak seperti melihat hantu.


Hyeon menarik tangan Myung dengan kuat agar lekas masuk ke ruangan Ye Jun. Myung menahan kakinya agar tidak jadi masuk, "Ada apa dengan mu?" tanya Hyeon heran. "Aku ingin... Aku ingin... Aku ingin pulang iya aku ingin pulang, aku tidak jadi ikut" Myung berbalik hendak meninggalkan Hyeon.


Namun Hyeon menahan tangan Myung dan menggendong tubuh Myung sampai ke dalam ruangan Ye Jun.


Seketika semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatap mereka dengan tatapan yang berbeda di ikuti oleh Seung Ki di belakang.


Ada tatapan yang terkejut, senang, terharu bahkan terluka.


"Ye Jun Hyung, apa yang terjadi?" tanya Seung Ki sambil duduk di samping ranjang Ye Jun. "Turunkan aku!" ujar Myung malu. Hal itu tak pernah luput dari pandangan Ye Jun.


"Tidak ada apa apa Seung Ki-yah, aku hanya baru melihat orang yang paling ku cintai setelah sekian lama tidak bertemu, namun tak satupun kata yang keluar dari mulutnya sekalipun dia sudah melihat kepadaku" ujar Ye Jun sembari melihat ke arah Myung.


Myung sadar kalau Ye Jun tengah melihat ke arahnya semenjak masuk namun Myung pura pura tidak tahu. Myung merasa tidak nyaman dengan tatapan Ye Jun.


"Ah! Hyung patah hati" Seung Ki tersenyum simpul. "Siapakah wanita yang beruntung itu Hyung? Bolehkah aku berkenalan dengannya?" Seung Ki antusias dengan berita yang baru didengar nya.


"Sebentar lagi dia akan menikah Seung Ki-yah" Ye Jun menitikkan air mata nya namun langsung di seka secepat mungkin agar tak ada satupun yang menyadarinya.


Hanya ada satu orang yang melihatnya yaitu pria yang tengah berdiri di samping ranjang nya.


"Kau tidak mencintainya Ye Jun-ah" suara tegas itu seakan memberi peringatan bahwa ada orang lain disini.


"Ketua Kim" Hyeon terlonjak kaget karena baru menyadari ternyata ada ketua Mafia di sana.


"Lama tidak bertemu" ujar Kim Eun Kyung dengan senyum yang mengerikan.


"Ketua Kim aku ingin mengundang mu ke acara pernikahan ku" ucap Hyeon datar. Myung kaget dengan ekspresi datar yang ditunjukkan oleh Hyeon kepada ayahnya, ya Kim Eun Kyung adalah ayah kandung Myung yang menghilang entah kemana namun sekarang muncul lagi dihadapan Myung.


"Tentu saja, kau harus mengundangku, tidak baik jika aku tidak mengetahuinya, aku pasti datang, Hmm apa kau sudah mendapat restu dari orangtuanya? " tanya Kim Eun Kyung dengan sarkas. "Apa maksudmu?" tanya Hyeon heran.


"Aboeji (ayah dalam keadaan formal)" ucap Myung ketus.


"Tidak perlu seformal itu Myung-ah" ucap Kim Eun Kyung dengan senyum misterius. "Apa kau kenal dengan ketua Kim?" tanya Hyeon kaget. Myung mengangguk "Dia ayahku" ucap Myung berbisik.


"Kau bahkan tidak memperkenalkan aku kepada calon menantu ku ini?" tanya Kim Eun Kyung kepada Myung.


"Tidak perlu datang ke pernikahan ku" Myung mengatakan nya dengan lantang.


Kim Eun Kyung tergelak melihat putri nya yang hanya satu itu. "Bagaimana mungkin Appa tidak datang Myung-ah, Appa akan mengantarkan mu ke depan altar, itu adalah hari yang sangat berharga bagi orang tua, melihat putrinya akan diambil alih oleh pria lain sebagai tanggung jawab" Kim Eun Kyung menunduk sedih.


"Apa kau masih marah kepada paman kim?" tanya Ye Jun kepada Myung.


"Dia sangat menyesal semenjak kami pergi dari kehidupan mu dan ibumu" ucap Ye Jun mencoba menjelaskan keadaan ketua Kim kepada Myung.


"Apa kau tahu apa yang aku rasakan ketika orang yang paling ku cintai pergi?" bentak Myung kepada Ye Jun.


Seung Ki dan Hyeon hanya memperhatikan dan tak ada niat untuk menginterupsi.


Seung Ki terbelalak melihat Ye Jun yang bicara lembut kepada Myung begitu juga dengan Hyeon.


"Apa kau tahu keadaan ibuku ketika kalian pergi meninggalkan kami? Apa kau tahu bahwa ibuku terserang penyakit gejala panik? Apa kau tahu aku sering di olok olok anak haram karena tidak pernah membawa ayahku ketika mengambil raportku" Myung mulai menangis, air matanya yang ia tahan semenjak tadi meluncur bebas.


Myung terisak mengingat kisahnya yang pilu ketika sang ayah tercinta meninggalkan mereka. Myung merasa sesak mengingat kenangan yang buruk itu.


Hyeon merengkuh tubuh Myung kedalam pelukannya.


Setelah dirasa Myung sudah diam, Hyeon melepaskan pelukan nya, "Myung-ah, appa tidak mau para musuh appa melukaimu" Kim Eun Kyung memulai percakapan lagi. Ketua Kim tidak ingin meninggalkan putrinya lagi.


"Bukankah ada Appa yang akan melindungi ku?" tanya Myung lemah, Kim Eun Kyung tersenyum lebar mendengar ucapan Myung. "Myung-ah, apa kau tahu paman mempunyai banyak musuh dimana mana, lagipula paman tidak mungkin bersamamu selama 24 jam penuh" Ye Jun mencoba menolong ketua Kim.


"Appa" Myung memanggil ketua Kim, "Huh?" Ketua Kim tersenyum tipis mendengar panggilan Myung yang tidak formal lagi kepadanya.


"Kemarilah! Putri ku" ucap ketua Kim seraya memebentangkan kedua tangannya seolah meminta pelukan. Myung berjalan mendekati ketua Kim dan memeluk nya dengan erat.


Rasa rindu yang membuncah bisa mengalahkan egonya yang tinggi. Semuanya tersenyum melihat adegan yang sedang disuguhkan di depan mata mereka termasuk Hyeon.


"Kapan kau akan menikah?" tanya ketua Kim setelah melepaskan pelukan mereka, "Aku rasa sekitar empat hari lagi appa" Myung menjawab dengan lugas, "Appa... restui kami" Myung mengucapkan nya ragu ragu.


Ye Jun merasa sedih lagi mendengar ucapan Myung.


"Pasti, appa pasti akan merestui kalian" ketua Kim tersenyum lebar.


"Ah! Aku jadi lupa, kami kesini ingin melihat kondisi Ye Jun" ucap Myung kemudian seakan baru tersadar tujuan utama mereka datang ke rumah sakit itu.


"Ya" ucap Hyeon seraya menarik Myung agar mendekat kepadanya, Myung menatap tajam ke arah Hyeon yang dibalas senyum memelas dari Hyeon.


Ye Jun memalingkan wajahnya ke arah jendela agar tidak melihat adegan romantis yang ditunjukkan oleh Hyeon kepada nya, tak lama kemudian datanglah Choi Yun Dae (Istri Ketua Kim).


"Kau datang?" tanya ketua Kim, Yun Dae menganggukkan kepalanya, "Myung-ah" sapa Yun Dae kemudian.


"Iya, ajumma" balas Myung sopan. "Panggil aku ibu saja" ujar Yun Dae dengan lembut. Myung tertawa sinis mendengar permintaan Yun Dae, "Kau tahu seribu orang wanita tak akan bisa menggantikan ibuku meskipun kalian mirip" Myung berkata dengan nada dingin membuat  Yun Dae semakin merasa bersalah.


"Bibi tidak bersalah Myung-ah" Ye Jun menengahi, "Jadi kau pikir ibuku yang salah?" Myung semakin mengeraskan tawanya, namun mereka yang mendengar akan mengetahui makna dari tawa yang sedang menggelegar di ruangan itu.


"Aku tidak pernah menyangka di dunia mafia sialan kalian itu para korban adalah pelaku yang sebenarnya" Myung mengatakan nya sambil melihat dengan tatapan tajam ke arah Ye Jun.


"Maaf kan aku!" ujar Yun Dae sambil berlutut di hadapan Myung. "Bibi jangan lakukan itu" Ye Jun mencoba tegak untuk menghentikan bibinya namun dicegah oleh ketua Kim.


"Apa yang paman lakukan?" ucap Ye Jun kemudian, "Biarkan bibi mu yang menyelesaikan nya" ketua Kim berbicara dengan lantang.


"Kenapa berlutut kepadaku ajumma?"  tanya Myung dengan wajah heran, "Kenapa berlutut kepada pelaku? Harusnya ibuku yang minta maaf kepadamu" ucap Myung lagi.


"Myung-ah, maafkan aku, tapi aku benar benar tidak pernah merebut Kim dari ibumu" ucap Yun Dae tapi masih berlutut. "Ajumma berdiri!" ucap Ye Jun yang semakin emosi.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂