The Best Decision

The Best Decision
Cemburu



Myung kelihatan tetap cantik meskipun sedang tidur. Wajah polosnya itu bak peri yang sedang tidur. Hyeon mengambil gadgetnya dan memfoto Myung yang tengah terlelap. Hyeon tersenyum melihat hasilnya.


Setelah sampai di penthouse Myung terbangun dan langsung keluar dari mobil dan diikuti oleh Hyeon, Myung menuju kamar yang berada di sebelah kamar Hyeon, namun Hyeon menahan tangan Myung dan menyeretnya ke dalam kamarnya. "Aku benar benar mengantuk Hyeon-ah" ucap Myung lemah, "Tidur disini!" ujar Hyeon tak mengalihkan pandangan nya dari wajah Myung.


"Aku di sebelah saja" ucap Myung sembari berjalan menuju pintu, namun kalah cepat dari Hyeon, tangan Hyeon begitu lihai mengunci pintu, alhasil sekarang mereka berdua berada di dalam kamar Hyeon.


Hyeon mendorong tubuh Myung hingga tubuh Myung terpental ke atas ranjang, "Aku sudah bilang aku capek Hyeon" ucap Myung membentak Hyeon.


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggu mu untuk saat ini" ucap Hyeon sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, Myung tidak kuat menahan kantuk lagi, Myung mencari posisi yang nyaman dan tertidur tanpa memedulikan keberadaan Hyeon disana.


Hyeon tersenyum tipis melihat Myung, Hyeon pun berjalan menuju ranjang dan berbaring di sebelah Myung, Mereka tertidur pulas.


***


Keesokan harinya, Hyeon terbangun dari tidurnya, Hyeon meraba tempat tidur di sebelah nya, kosong, itulah satu kata yang ditemukan oleh Hyeon.  "Apa dia pindah ke kamar sebelah?" batin Hyeon.


Hyeon duduk dan mencoba mengumpulkan kesadaran nya, Hyeon berdiri dan berjalan menuju kamar sebelah.


Ceklek


Hyeon tidak menemukan Myung disana, Hyeon mulai panik, Hyeon tergesa gesa ke bawah sambil memanggil nama Myung dengan keras. Semua ruangan yang ada di penthouse nya sudah di periksa kecuali dapur namun dia tak menemukan sosok Myung.


Karena lelah mencari Myung, Hyeon pun merasa haus, Hyeon menuju dapur, di depan pintu Hyeon melihat Myung yang tengah asyik berkutat dengan masakannya. Hyeon berjalan menuju Myung dan langsung memeluk Myung dari belakang. Myung tersentak kaget dengan perlakuan Hyeon.


"Aku sudah mencari mu ke seluruh ruangan ternyata kau ada di sini" ucap Hyeon sambil menopang kan dagunya di pundak Myung. "Lepaskan aku! Aku tidak bisa konsentrasi memasak" ucap Myung sambil mencoba melepaskan pelukan Hyeon.


Hyeon terkekeh, "Apa yang kau masak?" tanya Hyeon, "Aku hanya memasak masakan yang sederhana, ini bukan untuk mu, ini untuk Ye Jun-ssi, dia butuh makanan yang mengandung banyak protein agar tetap seimbang" ucap Myung sambil menjelaskan.


"Kau bahkan tidak pernah memasak untukku" ucap Hyeon dingin seketika. Myung kaget dengan respon Hyeon. "Hyeon-ah, tolong ambilkan aku mangkok yang di atas aku tidak bisa mengambilnya" ucap Myung sambil terus melanjutkan masakannya.


Hyeon tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Hal itu mengundang rasa penasaran bagi Myung, "Hyeon-ah" panggil Myung. "Apa?" tanya Hyeon ketus. "Ada apa denganmu?" tanya Myung heran sambil melihat ke arah Hyeon.


"Menurutmu?" tanya Hyeon dingin, "Aku bukan cenayang Hyeon, aku tidak bisa menebak nya" ucap Myung santai. "Cih! Dasar tidak peka" ejek Hyeon. Myung menjulurkan lidahnya ke arah Hyeon.


"Masakkan aku khimci" ucap Hyeon datar, "Tidak mau, memasak khimci sangat lama" balas Myung tak kalah datar. "Masakkan... Aku... Khimci" ucap Hyeon lagi sambil menekankan kata katanya. Myung mendelik tajam ke arah Hyeon. "Tidak mau" ucap Myung tegas.


"Khimci" ucap Hyeon lagi. "Tidak mau, masak sendiri" balas Myung cuek. "Kau belum pernah memasak untuk calon suami mu, dan kau lebih memilih memasak untuk pria lain dan minta tolong kepada ku untuk membantumu, cih! Apa itu yang dinamakan wanita baik baik" ucap Hyeon.


"Um... Ah... Ak... "Myung gugup seketika. "Aku akan menolong mu jika kau mau memasak khimci untuk ku" ujar Hyeon kekeuh. "Hyeon-ah, memasak khimci butuh waktu yang lama, kita tidak punya banyak waktu, Ye Jun-ssi pasti sudah kelaparan" ujar Myung memelas.


"Khimci" ucap Hyeon dingin lagi, "Kenapa dia sering berbicara dingin kepadaku, apa ini sifat aslinya?" tanya Myung dalam hati. "Sebutkan menu yang lain!" ucap Myung lembut.


"KHIMCI" ucap Hyeon sambil berteriak dan berjalan meninggalkan Myung di dapur dan menuju ke kamarnya untuk mandi dan bersiap siap. Sementara Myung memasak dengan wajah yang ditekuk.


Setelah selesai memasak khimci Myung menyajikan nya di atas meja makan, Hyeon turun sambil memasang dasinya, "Sudah selesai?" tanya Hyeon riang. Myung melongo melihat Hyeon.


"Ayo makan!" ucap Hyeon sambil menarik kursi untuk Myung dan untuknya. Mereka mulai makan dalam keheningan seakan keadaan itulah yang diinginkan untuk saat ini.


Setelah selesai makan Myung pergi ke atas untuk merapikan sedikit penampilan nya dan mengambil slingbag.


Mereka menuju rumah sakit tempat Ye Jun menginap, Myung menenteng makanan di tangannya.


Ceklek


Hyeon membuka pintu kamar VIP itu, perawat itu langsung menuju Myung dengan terburu buru, "Tuan Ye Jun tidak mau makan nona" ucap perawat itu. "Kau bisa pergi biar aku yang mengurusnya" ucap Myung.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Hyeon datar, "Seperti yang kau lihat" jawab Ye Jun sekenanya. Tiba tiba suasana canggung menyelimuti ruangan yang dihuni oleh tiga orang itu.


Myung berdehem ringan untuk menghilangkan canggung, "Ye Jun-ssi kau harus banyak makan makanan yang mengandung protein" ucap Myung, "Tidak perlu terlalu perduli kepadaku" ucap Ye Jun dingin.


"Dia sudah berusaha memasak sendiri untukmu, setidaknya hargai dia" ucap Hyeon dingin, Ye Jun memerhatikan Hyeon yang tengah duduk bersandar dengan wajah cemburu yang tak bisa di sembunyikan.


Ye Jun tersenyum jahil, "Aku ingin di suapkan" ucap Ye Jun manja, Hyeon mendelik tajam ke arah Ye Jun yang dibalas kekehan ringan dari Ye Jun.


"Baiklah!" ucap Myung sambil duduk di samping Ye Jun dan membuka makanan yang ia bawa, dengan telaten Myung menyuapkan makanan ke mulut Ye Jun. Hyeon merasa gerah dengan pemandangan yang di suguhkan didepan matanya, Hyeon berdiri dan berjalan menuju keluar kamar.


Terdengar bunyi debuman pintu yang kuat sehingga membuat Myung terlonjak kaget, Ye Jun tersenyum lebar seakan baru memenangkan suatu tender.


Ye Jun sedikit lega karena Hyeon bisa cemburu kepadanya, dengan artian Hyeon benar benar suka kepada Myung, setidaknya Hyeon tidak akan menyakiti Myung nantinya.


"Kenapa kau menyelamatkan ku?" tanya Ye Jun setelah selesai makan, "Karena aku bukan bagian dari kalian yang sering membunuh manusia yang tidak bersalah" jawab Myung sekenanya.


Ye Jun terdiam mendengar ucapan Myung, "Bukan aku yang membunuh mereka, dan mereka memang bersalah" ucap Ye Jun. "Salah bisa di maafkan, tidak harus dengan pembunuhan" ucap Myung menasihati Ye Jun.


"Kau pikir di dunia mafia ada kata maaf? Tidak Myung, yang ada cuman dibunuh atau membunuh" ucap Ye Jun. "Cih!" ujar Myung. Ye Jun tersenyum mendengar respon Myung. "Myung-ah setelah kau menikah kau harus latihan bela diri, kau kan tahu apa resiko menjadi putri mafia dan istri mafia" ucap Ye Jun. Myung hanya menganggukkan kepalanya.


"Apa Ye Jun oppa sudah merestui pernikahan kami?" tanya Myung antusias.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂