The Best Decision

The Best Decision
Putus



"Rupanya aku yang salah ya" ujar Myung dengan nada tercekat menahan tangis. "Aku tidak menelepon mu karena aku takut mengganggu mu, kau kan seorang artis, aku pikir kau sibuk, aku tidak datang ke ulang tahun mu karena ibuku meninggal, kau bahkan tidak pernah tau kalau ibuku sudah meninggal" ucap Myung berkaca kaca.


Hyeon menarik Myung ke dalam pelukannya, Sang Hee kaget melihat kedekatan Myung dan Hyeon, Sang Hee merasa bersalah karena menyalahkan Myung tanpa tahu alasan Myung.


"Apa karena pria ini kau tidak mau kembali kepada ku?" tanya Sang Hee. Myung menatap heran ke arah Sang Hee, "Ayo pulang" ajak Hyeon lembut, Myung berdiri dari tempat duduknya, "Myung-ah kita bahkan belum putus" ucap Sang Hee mengingatkan status mereka, "Mulai sekarang kita putus" ucap Myung mantap.


"Myung-ah" ucap Sang Hee. "Jangan hubungi aku lagi" ujar Myung dingin. Hyeon menarik pinggang Myung dan membawanya pergi dari hadapan Sang Hee.


Sang Hee membenamkan wajahnya di kedua tangannya, meratapi kesalahan yang sudah dia perbuat kepada mantan kekasih yang paling ia sayangi dan cintai.


Di dalam mobil Myung hanya melamun sambil melihat ke jendela mobil, kata kata Sang Hee kembali berputar di kepalanya, tanpa terasa mata Myung berkaca kaca, Myung merasa sesak, Myung merasakan luka yang mendalam di hatinya, luka yang lama saja bahkan belum sembuh, Sang Hee sudah menambah luka baru  seakan ingin menghukum Myung yang tidak pernah memerhatikan nya.


"Myung-ah, apakah kau ingin makan lagi?" tanya Hyeon mencoba membuka pembicaraan. "Bukankah kita sudah makan tadi" jawab Myung bergetar menahan tangis, Myung tidak ingin Hyeon melihatnya menangis.


Hyeon menghela napas, "Menangislah! Disini hanya ada kita, aku tidak akan memberitahu orang lain" ucap Hyeon, seketika pertahanan Myung runtuh, tangisnya pecah, Hyeon menepikan mobilnya.


Hyeon merengkuh tubuh Myung dan membawanya ke dadanya, Myung menangis tersedu sedu.


Setelah puas menangis, Myung menjauhkan dirinya dari Hyeon dan menghapus sisa air matanya dengan tisu.


Hyeon mengemudikan mobilnya kembali, Hyeon membawa Myung pulang. Sesampainya di penthouse Hyeon melirik Myung yang terlelap, Hyeon menggendong tubuh Myung dan membawanya ke kamar nya, Hyeon meletakkan Myung dengan lembut, seakan takut Myung akan terbangun dari tidurnya.


Hyeon pergi ke ruang kerjanya dan mengambil laptop, Hyeon pun tenggelam dalam kesibukannya.


Keesokan harinya, Hyeon terbangun namun ia enggan untuk duduk, Hyeon memperhatikan Myung yang asyik menggeliat, Hyeon memeluk Myung dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Myung membuat sang empunya tersentak.


Myung melepaskan tangan Hyeon, Myung duduk dan pergi ke kamar mandi menjalani ritualnya, Setelah mandi Myung memakai short dress warna biru gelap di padukan dengan high heels senada. Myung juga tak lupa memakai make up tipis sehingga tetap terlihat natural.


"Kau mau kemana?" Hyeon memperhatikan Myung dari atas hingga bawah, "Aku akan pergi duluan" Myung menjawab dengan santai. "Kau mau jalan kaki?" Hyeon sedikit kesal, "Aku jalan kaki sampai di depan gerbang, setelah itu aku akan naik taksi" Myung menjawab dengan lugas.


Hyeon buru buru keluar dari kamar dan menghampiri penjaga gerbang sedangkan Myung mengikuti dari belakang, "Jangan ada satupun yang membuka pintu gerbang kecuali jika aku yang menyuruh" ucap Hyeon tegas. "Baik tuan" penjaga gerbang menundukkan kepalanya.


Myung terbelalak dengan perbuatan Hyeon, "Aku tidak bisa pergi bersama mu" Myung sedikit emosi. "Kenapa tidak bisa?" tanya Hyeon santai. "Tunggu aku sebentar!" Hyeon melangkah pergi.


"HYEON" teriak Myung dari luar sambil menghentakkan kakinya, Penjaga gerbang menahan tawa melihat kelakuan lucu Myung, "Jangan hentakkan kakimu!" ucap Hyeon setengah emosi. Myung makin menghentakkan kakinya kuat, Hyeon langsung berjalan menuju Myung namun Myung tetap menghentakkan kakinya tanpa memerdulikan pergelangan kakinya yang memerah.


Tiba tiba Myung merasa nyeri pada pergelangan kakinya, lalu Bruk! Myung terjatuh di lantai. Myung mencoba berdiri namun gagal.


Hyeon menggendong Myung ala bridal style dan meletakkan Myung di sofa, Hyeon berlutut dan meletakkan kaki Myung di atas pahanya, Myung menarik kakinya namun kalah cepat dengan Hyeon.


Hyeon membuka high heels Myung, terlihat kaki Myung memerah, "Sudah ku bilang jangan di hentakkan" Hyeon  berdecak. Myung hanya diam tak mau menanggapi perkataan Hyeon yang menurutnya benar. Hyeon mengambil kotak P3K dan mengobati kaki Myung.


"Coba berdiri!" perintah Hyeon setelah mengobati kaki Myung.


"Tunggu disini sebentar, aku mandi di atas" Hyeon berjalan menuju kamarnya, Myung hanya memperhatikan punggung Hyeon dari belakang.


Setelah selesai mandi Hyeon memakai kemeja yang senada dengan dress yang di pakai Myung, Hyeon berjalan menuruni tangga sambil menenteng flatshoes, Myung tidak menyadari kedatangan Hyeon, Myung asyik dengan lagu yang didengar nya.


"Kau bisa berjalan sendiri kan, kau sudah besar" ucap Hyeon meledek. "Iya aku bisa jalan sendiri" jawab Myung ketus. "Ayo" ucap Hyeon lagi, "Bisakah hari ini aku libur?" tanya Myung sedikit memelas. "Tidak" jawab Hyeon telak.


"Memohonlah kepadaku maka aku akan menggendong mu" ujar Hyeon. "Tidak terima kasih" balas Myung. "Cepatlah! Kita bisa terlambat" ujar Hyeon tak henti mengejek Myung.


Tiba tiba asisten Han datang dengan wajah keheranan, dahinya berkerut ringan. "Asisten Han bisakah kau membantu ku berjalan" Myung mencoba mencari bantuan.


"Tidak ada satupun yang boleh membantunya" ucap Hyeon lantang, "Maaf Myung-ssi aku tidak bisa membantu, aku tidak bisa membawa yang berat berat" ucap asisten Han sopan. "Apa kau pikir aku ini berat?" tanya Myung dengan emosi. Myung melihat ke arah Hyeon yang sedang menahan tawa yang terancam keluar dari mulut nya.


"Tidak nona" ucap asisten Han sambil menahan senyum. "Lalu apa maksud mu? Atau jangan-jangan kau hamil sehingga tidak bisa membawa yang berat berat" ujar Myung tampak berpikir. Hyeon tertawa melihat interaksi mereka.


Myung menatap Hyeon dengan tatapan yang memelas sekaligus menyedihkan membuat siapapun ingin menolong dan tidak akan membiarkan nya sendirian.


Astaga! Mata itu, kenapa dia menunjukkan ekspresi seperti itu.


Hyeon langsung berlutut dan memakaikan flatshoes yang ia bawa ke kaki Myung dan menggendong tubuh Myung, Hyeon meletakkan


Myung di dalam mobil setelahnya Hyeon duduk di samping Myung. Sedangkan asisten Han duduk di belakang kemudi.


"Han kita kerumah sakit dulu!" ujar Hyeon sambil memandangi wajah Myung. Asisten Han merasa senang melihat tuannya yang begitu perduli dengan Myung.


Sesampainya di rumah sakit Hyeon mengitari mobil dan membuka pintu di sebelah Myung.


Hyeon sedikit menunduk dan Myung reflek melingkarkan tangannya dileher Hyeon, "Aku hanya ingin menunduk" ujar Hyeon menggoda Myung. "Ayolah bukankah kita akan latihan" balas Myung dengan nada yang imut. Hyeon tersenyum lebar mendengar ucapan Myung.


Hyeon membawa Myung masuk ke dalam rumah sakit dan langsung di periksa dokter. Setelah selesai diperiksa mereka menuju ruangan dokter itu. "Nona ini hanya cedera ringan, hanya perlu usapkan salep ini secara teratur, aku rasa besok juga akan sembuh" ucap dokter dengan sopan.


"Apa dia tidak di rawat?" tanya Hyeon dingin. "Tidak tuan Hyeon" jawab dokter sopan. "Tuan lagi, kenapa semua orang memanggil dia tuan?" gumam Myung nmaun bisa di dengar oleh Hyeon dan dokter itu. "dokter tidak perlu panggil tuan, panggil saja Hyeon-ah" ucap Myung tiba tiba.


Hyeon menatap tajam ke arah Myung,  namun Myung malah menjulurkan lidahnya, "cobalah dokter!" paksa Myung, dokter itu menggelengkan kepalanya kuat.


Myung menghela napas berat, "Tuan Hyeon" ejek Myung, Hyeon menatap Myung dengan tatapan geli, Dokter itu menatap Myung dengan tatapan takjub, baru pertama kali dia melihat gadis yang berani mengejek Hyeon, tiba tiba muncul ide jahil di kepala Hyeon.


Hyeon segera melangkahkan kakinya, namun tangannya di tahan oleh Myung, "Jangan tinggalkan aku disini!" ucap Myung sambil merengek. Hyeon tersenyum puas melihat Myung yang merengek kepadanya.


Hyeon mengangkat tubuh Myung lagi, "Terima kasih dokter" teriak Myung di balik dada bidang Hyeon dan di balas anggukan oleh dokter itu.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂