
Keesokan harinya manajer Kang menjemput Myung di apartemen seperti biasa. Sesampainya di Young Entertainment, Myung melihat ke arah lobi perusahaan yang rame, Myung berjalan melewati lobi menuju ruangan nya, tanpa sengaja Myung melihat Hyeon menuju ke arahnya, Myung mempercepat langkahnya.
Hyeon frustasi melihat Myung yang terus menghindar darinya. Hyeon pergi ke ruangan nya, Hyeon menghempaskan benda benda yang ada di ruangan nya, dalam sekejap ruangan nya seperti kapal pecah yang porak poranda dan memprihatinkan.
Hyeon meninju dinding dengan kuat, Hyeon tidak memperdulikan tangannya yang berdarah darah, asisten Han tidak berani masuk ke ruangan Hyeon.
Semua orang tau tentang Hyeon yang mengamuk di ruangan nya, Hyeon baru dua kali mengamuk di perusahaan, Hyeon memang terkenal dengan sosok yang mempunyai kesabaran paling tipis.
Semua orang yang ada di perusahaan itu merasa cemas.
Manajer Kang menggoyangkan lengan Myung yang sedang tiduran di sofa sambil mendengarkan lagu. Myung membuka headset nya, "Kau tidak ikut ke lobi?" tanya manajer Kang kepada Myung.
"Apa yang terjadi?" tanya Myung balik. "tuan Hyeon mengamuk di ruangan nya" jawab manajer Kang. "Biasanya tuan Hyeon akan menghabisi siapa saja yang ada di perusahaan ini jika dia mengamuk" jelas manajer Kang.
"Manajer oppa duluan saja nanti aku menyusul" ucap Myung, "Kenapa?" tanya manajer Kang cemas. "Aku akan pergi ke ruangan Hyeon" jawab Myung sedikit resah. "Kau mau bunuh diri?" tanya manajer Kang setengah membentak.
"Aku rasa dia marah padaku manajer oppa" ujar Myung gugup. "Makanya jangan kesana" ucap manajer Kang sambil menarik tangan Myung. Ketika hendak sampai ke lobi, Myung melepas paksa tangan manajer Kang.
"Myung-ah" ucap manajer Kang mengingatkan. "Aku akan baik baik saja manajer oppa" ujar Myung meyakinkan manajer Kang. "Jika dia ingin membunuh mu, langsung telepon aku! Oke?" ucap manajer Kang gemetar. Myung mengangguk kuat.
Myung setengah berlari menuju ruangan Hyeon, di depan ruangan Hyeon asisten Han mencegah Myung masuk, "Nona, ini sangat bahaya bagi keselamatan nona, lebih baik nona kembali ke lobi" ucap asisten Han mengingatkan.
"Aku yang membuat Hyeon seperti itu Han-nim (panggilan yang paling sopan artinya diatas panggilan -ssi)" ucap Myung merasa bersalah. "Nona bisa membicarakan masalah nona setelah emosi tuan Hyeon turun, sekarang kembali lah ke lobi!" asisten Han tetap mencegah Myung.
"Tidak" ujar Myung tegas. "Myung-ssi, kau belum pernah melihat tuan Hyeon marah" Asisten Han tetap berusaha agar Myung tidak masuk ke ruangan Hyeon. "Tidak, apa kau tidak mengerti apa yang aku ucapkan" ujar Myung emosi. "Masuklah" ujar asisten Han dingin. Myung tampak berpikir, tak bisa dipungkiri wajah Myung menggambarkan ketakutan.
Myung memegang kenop pintu namun asisten Han menepuk pundak Myung, "Apa lagi?" tanya Myung tak sabaran, "Jika tuan Hyeon akan menghabisi nona, telepon aku! Oke?" ucap asisten Han. Myung mendorong pintu ruangan Hyeon, Myung kaget melihat tangan Hyeon yang berdarah darah di tambah ruangan Hyeon yang berantakan.
Penampilan Hyeon juga sudah kusut, Hyeon masih tetap menjatuhkan barang barang yang ada di atas meja kerja nya. "Hyeon-ah" Myung mencoba memanggil Hyeon dengan suara sedikit bergetar.
Myung benar benar takut melihat Hyeon.
Hyeon melihat ke pintu, Myung gemetar melihat mata Hyeon yang memerah menahan emosi. Myung berlari dan memeluk Hyeon dari depan.
Napas Hyeon naik turun, Hyeon berusaha menurunkan emosinya. Hyeon membalas pelukan Myung setelah emosinya mulai turun, Myung semakin mengeratkan pelukannya.
Asisten Han melihat Hyeon dan Myung berpelukan dari pintu, Hyeon menuntun Myung agar tidak terkena pecahan kaca, Hyeon membawa Myung ke kamar pribadinya. Myung masih gemetar melihat tangan Hyeon.
"Dimana letak kotak P3K?" tanya Myung. Hyeon menunjuk laci di samping ranjang. Hyeon duduk di ranjang kemudian di susul Myung yang membawa kotak P3K.
Myung mulai membersihkan luka Hyeon dengan alkohol, Myung begitu telaten mengobati luka Hyeon. Myung memang bercita cita sebagai dokter dari kecil, namun ibunya menginginkan Myung menjadi artis.
Hyeon menatap wajah Myung yang sedang mengobati tangannya. Hyeon tersenyum melihat Myung yang begitu telaten seakan sudah terbiasa mengobati luka. "Apa masih sakit?" tanya Myung mendongakkan kepalanya ke depan. "Hem" jawab Hyeon berdehem menghilangkan rasa gugup nya.
Myung meletakkan kotak P3K itu ke dalam laci kembali, Myung duduk di hadapan Hyeon, Myung merapikan pakaian Hyeon lalu menyisir rambut Hyeon.
Hyeon menarik tengkuk Myung, Cup, Hyeon mencium Myung.
Myung tidak menolak ciuman Hyeon, "Apa yang terjadi?" tanya Ye Jun dan Seung Ki masuk ke kamar pribadi Hyeon. Hyeon melepaskan ciuman mereka, Myung membenamkan wajahnya di dada bidang Hyeon.
"Kami tidak melihat apa apa Noona ( panggilan dari adik laki laki kepada kakak perempuan)" ucap Seung Ki duduk di sudut ranjang sementara Ye Jun keluar dari kamar pribadi Hyeon dan menolong asisten Han membereskan kekacauan yang telah dibuat oleh Hyeon.
Muka Myung merah mendengar pernyataan Seung Ki. Hyeon membawa Myung keluar dan menuju lift. Sementara itu Seung Ki menyusul Ye Jun.
Ketika Hyeon dan Myung lewat di lobi banyak yang membelalakkan matanya melihat Hyeon yang begitu posesif memeluk pinggang Myung sambil berjalan seakan tak membiarkan Myung menjauh walau satu senti.
Hyeon membawa Myung ke penthouse nya, "Aku ingin mandi!" ucap Hyeon, Myung mengangguk.
Myung menunggu Hyeon di sofa ruang tamu, Di tengah asyiknya melamun, Myung tersentak karena sepasang tangan memeluk pinggang Myung dari samping, Myung melihat sekilas ke arah Hyeon.
Hyeon tampak rapi, ketampanan nya makin bertambah, Hyeon memakai kemeja warna hijau gelap dan lengan yang di gulung sampai siku. "Aku ingin membawa mu ke sebuah tempat" ucap Hyeon dengan lembut, "Aku... Aku... Aku mandi dulu" ucap Myung gugup karena tertangkap memerhatikan Hyeon.
Hyeon tersenyum tipis melihat Myung.
Myung beranjak dari tempat duduknya, Myung mandi di kamar Hyeon, setelah mandi Myung memoles sedikit wajah nya dengan make up, Myung memakai short dress warna hijau gelap dipadukan dengan high heel warna senada, Myung seperti model profesional dalam hal fashion.
Myung turun ke bawah, Hyeon tersenyum melihat penampilan Myung, Hyeon merasa semua pakaian yang dia beli cocok di tubuh Myung, Hyeon melihat pakaian yang dipakai nya dan Myung bergantian, Hyeon tersenyum tipis melihat pakaian mereka yang begitu serasi.
Myung menggandeng tangan Hyeon karena Hyeon melamun, "Kau lama sekali" ucap Myung cemberut. Hyeon membuka pintu mobil nya dan menyuruh Myung masuk, Myung sedikit kaget dengan perlakuan Hyeon namun Myung tetap masuk ke dalam mobil Hyeon.
Hyeon menghentikan mobil nya di tempat pemakaman ayahnya, Myung sedikit heran, "Ayo" ucap Hyeon.
Hyeon turun dari mobil di susul Myung. Hyeon berjalan ke pemakaman ayahnya di ikuti Myung di belakang nya, "Appa ( ayah dalam keadaan tidak formal) aku membawa seorang gadis cantik" Hyeon terduduk disana, "Appa dia begitu keras kepala" Hyeon sedikit tersenyum mendengar ucapan nya sedangkan Myung terbelalak mendengar ucapan Hyeon. "Appa hanya dia satu satunya wanita yang bisa ku sentuh selain eomma" Hyeon melanjutkan ucapannya.
"Appa aku ingin menikahinya, aku berharap Appa setuju dengan pilihan ku, doakan aku dari sana! semoga ini menjadi keputusan terbaik" Hyeon beranjak dari sana setelah merasa selesai menyampaikan isi hatinya. Myung mengekori Hyeon dari belakang, mereka masuk ke dalam mobil lagi.
"Myung-ah, ibu ku punya penyakit jantung, hidup nya tidak lama lagi Myung, aku ingin memenuhi keinginan terakhir nya" ucap Hyeon sedih. Myung kaget melihat Hyeon yang nampak rapuh. "Hyeon-ah" panggil Myung lembut.
Hyeon melajukan mobilnya ke salah satu restoran terkenal, Hyeon membawa Myung ke dalam lift dan memencet tombol teratas, Hyeon membawa Myung ke rooftop, Myung kaget melihat pemandangan yang disuguhkan di depan matanya.
Terdapat dua tempat duduk yang berhadap hadapan, bunga mawar yang berserakan di lantai membentuk simbol hati, serta lilin lilin kecil menambah kesan romantis.
BERSAMBUNG 🙂🙂🙂