
Keesokan harinya Hyeon terbangun, namun Hyeon merasakan sesuatu menindih dadanya, Hyeon pun membuka matanya, Hyeon baru sadar ternyata semalam Hyeon tidur bersama seorang wanita. Hyeon tidak mau membangunkan Myung, Hyeon memindahkan kepala Myung dengan hati hati.
Hyeon membuka pintu kamar dengan pelan, Hyeon pergi ke kamarnya, Hyeon mandi di kamarnya. Selesai mandi Hyeon memakai setelan kantornya. Hyeon turun kebawah untuk sarapan bersama gadis cantik yang sudah tidur bersamanya.
Myung terbangun dari tidurnya. Myung merasakan pusing yang luar biasa. Myung terkejut, Myung merasa kalau Dia tidak berada di kamarnya. Lalu Myung melihat bajunya, Myung tampak berpikir.
Tiba tiba pintu diketuk, lalu masuklah seorang pelayan perempuan "Nona silakan mandi terlebih dahulu, nona sudah ditunggu tuan di meja makan" ucap sang pelayan dengan sopan.
Myung pun mengangguk, Myung ingin menanyakan sesuatu kepada pelayan itu, namun pelayan itu mengatakan " Nona setelah mandi nona pakai dress ini saja, tuan sudah membelikan dress ini khusus untuk nona, kalau nona ingin bertanya silakan tanya nanti kepada tuan" pelayan itu pun berlalu dari hadapan Myung.
Myung pun bergegas mandi, Myung sangat penasaran dengan tuan pelayan itu.
Myung juga ingin memastikan bahwa dia masih perawan. Kalau memang Myung tidak perawan lagi, Myung berharap yang merebut keperawanan nya itu adalah pemuda tampan yang kaya raya serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Myung tidak ingin diperawani oleh kakek kakek tua. Oh! Membayangkan nya saja sudah membuat Myung bergidik ngeri.
Namun dari semua itu Myung lebih berharap jika dia masih perawan, setelah selesai mandi Myung memakai dress yang sudah disiapkan oleh pelayan itu. Selesai berpakaian Myung mematut dirinya di cermin, Myung melihat jika dress itu sangat cocok untuk ukurannya. Hal itu membuat Myung tambah penasaran akan sosok Si Tuan.
Myung keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga, dari kejauhan Myung melihat sosok pria yang tampan yang sedang duduk di salah satu kursi di meja makan, pria itu tengah memainkan HP nya, saking fokusnya Hyeon tidak menyadari kedatangan Myung, namun Hyeon tersadar ketika kepala pelayan menyapa Myung.
"Selamat pagi nona! Silahkan duduk disini nona! " ucap kepala pelayan itu sambil menarik kursi.
Hyeon mempunyai kebiasaan buruk ketika hendak makan, Hyeon tidak ingin orang duduk berdampingan dengannya, harus ada jarak minimal satu kursi di sebelah kiri dan satu kursi di sebelah kanan, kecuali makan untuk bisnis perusahaan.
Myung hanya memperhatikan kepala pelayan itu tanpa merespon sedikitpun. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Hyeon, diam diam Hyeon kagum dengan kecantikan Myung, Myung terlihat cantik meskipun tanpa make up. Myung memang tidak memakai make up karena Hyeon tidak menyediakan make up untuknya.
"Nona silakan duduk!, tuan sudah dari tadi menunggu nona" ucap kepala pelayan tadi.
Myung tetap tidak bergeming, Hyeon menatap tajam ke arah Myung.
"Jangan menghabisi waktuku! " ucap Hyeon dingin.
"Aku tidak mau duduk di sana" balas Myung dengan sedikit merajuk.
Kepala pelayan tidak mampu melihat ke arah Myung karena takut jika tuan nya akan meledak. Tidak ada yang berani melawan perintah tuan nya. Tuannya akan menghukum mereka jika berani melawan bahkan wanita sekalipun.
Myung berjalan mendekati Hyeon, namun Hyeon tetap diam di kursinya, tidak ada tanda tanda penolakan dari Hyeon.
Hal itu membuat kepala pelayan terkejut, kepala pelayan itu mengira tuannya akan murka.
"Aku ingin membicarakan hal yang bersifat pribadi, aku tidak ingin orang lain mendengarnya, ini rahasia kita berdua" ucap Myung sambil berbisik kepada Hyeon.
Hyeon menarik kursi di sampingnya dan membiarkan Myung duduk di sana.
Melihat respons tuannya artinya nona cantik itu dalam situasi aman, kepala pelayan itu tersenyum tipis melihat interaksi tuannya dan nona cantik itu.
Para pelayan menghidangkan makanan untuk Hyeon dan Myung.
"Habiskan sarapanmu dulu baru kita bicara" ucap Hyeon dengan tegas.
Myung mengangguk, Myung merasa heran kenapa hanya sup yang dihidangkan di depannya, sementara semua hidangan di sajikan di depan Hyeon.
"Silakan makan tuan dan nona!" ucap kepala pelayan.
Hyeon mulai makan tapi tidak dengan Myung.
Myung merasa tidak adil dengan pembagian makanannya.
"Apa begini caramu menghormati tamu? " tanya Myung sedikit ketus.
Hyeon hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan makannya.
"Aku tidak akan makan jika tidak diberi menu yang lain" ucap Myung merengek kepada Hyeon sambil menarik narik ujung jas yang dipakai Hyeon.
Hyeon menatap Myung dengan tatapan geli, hal itu membuat Myung semakin cemberut.
"Kamu harus makan sup terlebih dahulu karena kamu mabuk berat semalam, jika kamu makan menu yang lain itu tidak akan mengurangi rasa pusing akibat alkohol itu" ucap Hyeon berusaha menjelaskan kepada Myung.
Kepala pelayan terkejut karena ini pertama kalinya tuannya itu berbicara panjang dengan orang lain selain urusan bisnis.
Myung pun mengambil sendok dan garpu yang telah disediakan dan mulai memakan supnya dengan wajah yang ditekuk.
Ditengah asiknya makan tiba tiba asisten Han datang.
"Silakan sarapan dulu! " ucap Hyeon kepada asisten Han. Asisten Han duduk di hadapan mereka berdua. Pelayan mulai menghidangkan makanan untuk asisten Han.
Myung mencegah pelayan itu, "Berikan paman itu sup saja!" celetuk Myung mencoba memprovokasi Hyeon.
Semua yang berada di ruangan itu sudah berkeringat dingin, takut jika tuan Hyeon akan marah besar karena ada yang berani memprovokasi tuan Hyeon, namun hal itu hanya sebentar.
Tawa Hyeon pecah ulah ucapan seorang wanita yang cantik yang sedang makan di sampingnya. Asisten Han hanya tersenyum tipis karena perkataan Myung itu. Asisten Han merasa jika tuannya mulai menaruh hati kepada Myung, namun asisten Han tidak ingin mengutarakan pemikiran nya itu biarlah waktu yang akan menjawab.
Semua yang ada di ruangan itu bernapas lega mendengar tawa tuan Hyeon itu.
Pelayan tetap menghidangkan makanan untuk asisten Han, tanpa mengindahkan ucapan Myung. Asisten Han mulai makan bersama dengan Hyeon dan Myung.
Setelah selesai makan Myung memutar arah duduknya ke arah Hyeon.
"Jika aku bertanya kamu harus menjawab dengan jujur tanpa bertele tele" ucap Myung memulai percakapan.
"Hem" ucap Hyeon tanpa mengalihkan pandangannya dari gadgetnya.
"Siapa namamu?" tanya Myung mulai menginterogasi. Hyeon mengalihkan pandangan nya dari gadget kepada Myung.
"Apakah itu pertanyaan yang bersifat pribadi?" tanya Hyeon balik dengan nada yang mengejek.
"Aish! bukankah sudah ku katakan jangan bertele tele, waktu ku tidak banyak" jawab Myung sedikit kesal.
Hyeon tersenyum tipis mendengar balasan dari Myung. Hyeon baru sadar jika wanita yang disampingnya itu tidak merasa takut dan juga tidak memuja Hyeon seperti wanita wanita yang lain.
"Namaku Lee Young Hyeon" ucap Hyeon dengan nada datar.
"Bagaimana aku memanggil namamu agar kita tidak canggung jika bertemu di luar?" tanya Myung.
"Terserah" balas Hyeon cuek sambil menyesap teh yang baru diseduhkan oleh pelayannya.
"Hyeon-ah! Apa tidak masalah?" tanya Myung dengan wajah berseri.
Hyeon tersedak oleh teh tadi, seumur hidup Hyeon, dia tidak pernah dipanggil seperti itu, dia hanya dipanggil tuan semenjak kecil.
Myung terkejut melihat respons Hyeon, "Apa kau tidak suka dengan panggilan itu? Bagaimana kalau aku memanggil mu tuan? Supaya terdengar sama dengan yang lain" ucap Myung kembali dengan wajah yang bersalah.
"Aku kan sudah bilang terserah" jawab Hyeon. Myung mendecih mendengar jawaban Hyeon.
"Baiklah, pertanyaan yang lain, siapa yang mengganti bajuku? " tanya Myung melanjutkan sesi wawancara nya.
BERSAMBUNG 🙂🙂🙂