The Best Decision

The Best Decision
Perdebatan



Ye Jun geram mendengar ucapan Hyeon, Ye Jun takut Hyeon menyakiti Myung nantinya.


"Kau pikir pernikahan itu mainan?" tanya Ye Jun dengan marah hal itu terlihat dari wajahnya yang tegang. "Apa aku mengatakan seperti itu? Aku menikah dengannya karena permintaan ibuku" ujar Hyeon santai tanpa merasa bersalah sedikutpun.


"Jika kau tak ingin serius dengannya jangan pernah sentuh dia, kau boleh menyentuhnya setelah kau merasakan jatuh cinta kepadanya" ucap Ye Jun sambil membuang pandangannya ke arah lain. "Ada apa denganmu? Seharusnya yang cemas adalah Myung bukan kau" ucap Hyeon mengejek.


"Jangan pernah mempermainkan perasaan" ucap Ye Jun menasehati Hyeon. "Kau bicara seperti sudah berpengalaman saja, Ck! Myung tidak mempermasalahkan hal itu" ucap Hyeon.


"Jaga dia baik baik, jika kau lengah aku akan menjadi orang pertama yang akan merebutnya darimu" ucap Ye Jun sembari berlalu dari hadapan Hyeon. "SIALAN" ucap Hyeon sambil meninju sofa yang ada di sampingnya.


"Jika kau butuh sesuatu kau bisa memanggilku! Kamarku ada diatas" ucap Myung kepada Seung Ki yang dibalas anggukan oleh Seung Ki.


Mereka duduk di sofa tadi, suasana terasa menegangkan, Hyeon tampak seperti seorang iblis yang ingin memakan mangsanya. Myung melirik Hyeon pelan pelan. Seung Ki bergidik ngeri menatap Hyeon.


"Kemana perginya Ye Jun?" tanya Myung kepada Hyeon namun bukannya jawaban yang didapatkan oleh Myung melainkan tatapan mematikan.


"Aish! Jangan tatap aku seperti itu, aku hanya bertanya" ucap Myung sambil melihat lihat ke arah kamar Ye Jun. "Aku tidak suka kau bertanya" ucap Hyeon dingin. Myung tidak menggubris ucapan Hyeon lagi.


Mereka semua diam, suasana terasa canggung, Seung Ki tak berani mengeluarkan suara. Tiba tiba terdengar bunyi gemuruh dari perut Myung menandakan butuh asupan. Sontak Hyeon melihat ke arah Myung.


Myung berdiri dari tempat duduknya, "Mau kemana?" tanya Hyeon sambil mengambil ponselnya dan mendial nomor asisten Han. "Aku tidak suka kau bertanya" ucap Myung ketus.


Seung Ki tampak menahan tawa, "Kau balas dendam?" tanya Hyeon sambil memegangi tangan Myung agar tidak pergi darinya. "Halo, antarkan sarapan pagi untuk empat orang!" perintah Hyeon. "Baik tuan" balas di seberang telepon. Hyeon langsung memutuskan panggilan telepon mereka.


Myung kembali duduk di sofa sambil menyilangkan tangannya di depan dada. "Apa gunanya peralatan dapur jika tidak pernah dipakai, Ah! Buang buang uang saja" celoteh Myung ringan namun masih bisa didengar oleh Hyeon.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Hyeon, "Aku tidak mengatakan apa apa" jawab Myung datar.


"Seung Ki-yah, besok aku akan menikah, tapi hingga hari ini aku bahkan belum dapat kartu kamarku, kau beruntung sekali, kau bahkan tidak menikah dengannya tapi sudah mendapatkan kartu itu" ucap Myung memprovokasi Hyeon.


Hyeon melirik tajam ke arah Myung, "Jangan melihat ku seperti itu Seung Ki-yah, aku tidak takut denganmu" ujar Myung menyindir Hyeon. "Kau menyindir ku?" tanya Hyeon setengah membentak. "Kau merasa ya? Aku tidak bermaksud menyindirmu" ucap Myung sambil menampilkan senyum mengejek.


"Cih" Hyeon berdecih mendengar ucapan Myung. Selang beberapa waktu asisten Han datang sambil membawa sarapan, "Letakkan di meja makan!" perintah Hyeon.


Kepala pelayan mengambil alih pekerjaan asisten Han. "Aku akan memanggil Ye Jun dulu" ucap Myung sambil berdiri, "Tidak perlu, dia akan datang sendiri" ucap Hyeon sambil menahan tangan Myung. "Kalau begitu aku akan menunggunya keluar" ujar Myung sambil duduk kembali.


"Ah! Gadis ini" ucap Hyeon sambil menghela napas pasrah, "Ah! Gay ini" balas Myung sambil menghela napas juga. Hyeon melingkarkan tangannya di lutut Myung dan menggendong Myung ke meja makan diikuti oleh Seung Ki. "Sudah kuduga" ucap Myung sambil mengalungkan tangannya di leher Hyeon.


Setelah sampai di meja makan Hyeon mendudukkan Myung di samping kursinya, disusul oleh Seung Ki di seberang meja, tak lama datanglah Ye Jun. Mereka mulai makan dalam keheningan.


Setelah makan tiba tiba aura menyeramkan menguar dari tubuh Hyeon, "Ye Jun-ssi makan yang banyak, kau butuh energi yang lebih" ucap Myung kepada Ye Jun.


"Hyeon-ah, kemana kita hari ini?" tanya Myung begitu ia sadar ternyata ada Hyeon disana, "Ke kamar" ucap Hyeon spontan. "Aish! Gay, aku serius" ucap Myung santai.


"Apa? Kau barusan memanggilku Gay?" tanya Hyeon sambil mengernyitkan keningnya. "Apa aku memanggilmu begitu?" tanya Myung pura pura merasa bersalah, "Cih" Hyeon berdecih melihat Myung. "Maaf kan aku" ucap Myung sambil mengatupkan kedua tangannya.


Hyeon berjalan meninggalkan mereka di ruang makan. Mereka bertiga tertawa melihat Hyeon yang kalah melawan perkataan Myung.


"Ye Jun oppa, apa terjadi sesuatu?" tanya Myung dengan wajah yang khawatir, "Tidak" ucap Ye Jun sambil menampilkan senyum tulusnya. "Ye Jun Hyung, kau semakin tampan saja setelah keluar dari rumah sakit" ujar Seung Ki menggoda Ye Jun.


"Aish! Kau ini, aku bukan gay jadi aku tidak akan terpengaruh oleh ucapan mu" ujar Ye Jun kesal. Myung tertawa geli melihat pertengkaran manis antara Seung Ki dan Ye Jun.


"Ye Jun oppa, ayo kita main catur, sudah lama kita tidak bermain bersama" ajak Myung antusias, Ye Jun tersenyum, "Ayo, kau boleh meminta tolong kepada Seung Ki" ucap Ye Jun bercanda. "Aku akan mengalahkan mu sendiri tanpa bantuan siapapun" ujar Myung kesal.


"Aku rasa kau tidak akan bisa mengalahkan ku" ujar Ye Jun sambil mengacak acak rambut Myung.


Mereka menuju ruang tamu, Myung pergi ke kamar atas, Myung teringat dia pernah melihat catur dikamar nya dan Hyeon.


Myung mencoba membuka pintu kamar tapi tidak bisa, Myung menuju ke ruang kerja Hyeon.


Tok tok tok


"Masuk!" ucap Hyeon dari dalam. Myung langsung membuka pintu.


Ceklek


Myung masuk dan berdiri di depan meja kerja Hyeon, "Aku ingin mengambil catur yang dikamar tapi kau menguncinya" ujar Myung menjelaskan. "Tidak ada yang gratis Myung-ah" ujar Hyeon jahil.


"Jangan membuat mereka menunggu ku terlalu lama Hyeon-ah" ucap Myung kesal. "Cium aku!" ucap Hyeon sambil menunjuk bibirnya dengan telunjuk. "Ck!" Myung berdecak sebal.


"Kau yang membuat mereka menunggu mu" ujar Hyeon tersenyum jahil. "Ke... Ke... Kemarilah!" ujar Myung gugup.


"Tidak, kau yang kesini" ucap Hyeon. Myung berjalan mendekat ke arah Hyeon yang disambut senyum kemenangan oleh Hyeon. "Aku hanya terpaksa" ucap Myung ketus.


"Tidak masalah" Hyeon memejamkan matanya, Myung mengecup bibir Hyeon sekilas seperti angin lalu hal itu membuat Hyeon membuka matanya cepat. "Kenapa cepat sekali?" tanya Hyeon heran. "Mana kartunya?" tanya Myung tanpa menjawab pertanyaan Hyeon sebelumnya.


Hyeon menarik tangan Myung dan mendudukkan Myung di atas pahanya, Cup! Hyeon menahan tengkuk Myung agar memperdalam ciuman mereka. Setelah Myung kehabisan oksigen barulah Hyeon melepaskan ciuman mereka.


Hyeon tersenyum tipis karena merasa menang sementara Myung memasang wajah super sebal. "Aku sudah bilang kau tidak boleh menyentuhku sesuka hatimu" ujar Myung mengingatkan.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂