The Best Decision

The Best Decision
Perjuangan



"Lalu apa yang bisa kita lakukan?" tanya Yun Dae lagi, "Kita harus melakukan cuci darah" jawab dokter. "Lakukan sekarang!" perintah ketua Kim dengan tegas. "Maaf kan kami ketua, dokter spesialis bagian itu sedang mengurus pasien VIP di luar kota" dokter menunduk dengan takut takut. Badannya bergetar hebat karena takut kepada ketua Kim.


Ketua kim mengeluarkan aura yang biasa ia pakai untuk mengalahkan mafia, aura menyeramkan itu menguar begitu kuat dari tubuh nya membuat siapa pun yang ada disana akan kesulitan untuk bernapas.


"Bagaimana bisa rumah sakit sebesar ini tidak mempunyai dokter yang lengkap?" ketua Kim menarik kerah baju dokter itu, "Maaf kan kami ketua" dokter itu sudah pucat pasi. "Carikan dokternya dalam waktu lima menit!" perintah ketua kim sambil melepaskan kerah baju dokter.


"Ba... Bagaimana bisa kami mencari dokter dalam waktu lima menit", ketua Kim melirik tajam ke arah dokter. "Keluarlah!" ucap Yun Dae dingin. "Ba... Ba... Baik" dokter itu menundukkan kepalanya dan cepat cepat berlalu dari hadapan mereka.


Hyeon, Myung, dan Seung Ki sudah selesai sarapan pagi, mereka menuju ruangan Ye Jun lagi, sesampainya di sana mereka melihat Ye Jun yang kejang kejang, disampingnya Yun Dae dan ketua Kim, "Appa, apa yang terjadi?" tanya Myung panik.


"Appa tidak tahu" jawab ketua kim datar. "Dia harus melakukan cuci darah Myung-ah, tapi dokternya sedang tidak disini" Yun Dae mulai menangis, tiba tiba jantung Ye Jun mulai melemah membuat Yun Dae semakin mengeraskan tangisnya. Seung Ki juga ikut menangis melihat kondisi Ye Jun saat ini.


"Myung-ah bukankah kau seorang dokter?" tanya ketua kim seperti baru menyadari sesuatu. "Aku sudah lama berhenti sekolah appa, aku tidak punya izin melakukan nya" ucap Myung berkaca kaca. "Apa kau ingin membunuh Ye Jun? kau lah yang menyebabkan nya menjadi seperti ini" ucap ketua Kim, Myung merasa bersalah akan hal itu.


"Bagaimana bisa Myung yang bersalah?" tanya Hyeon dingin. "Kau tidak tahu apa apa" jawab ketua Kim. "Cepat lakukan Myung-ah, apa kau seorang pembunuh?" tanya ketua kim jengkel. "Bagaimana dengan appa dan Ye Jun, apa kalian seorang pembunuh?" tanya Myung sarkas.


"Myung-ah kita tidak punya waktu yang banyak, kau boleh menanyakan hal itu nanti" ucap ketua kim lagi. "Sh**" Myung mengumpat, hal itu tidak membuat ketua kim terkejut, namun Seung Ki membelalakkan matanya, Myung yang polos ternyata bisa juga mengumpat.


Myung melakukan pemeriksaan fisik kepada tubuh Ye Jun, "aku butuh asisten satu orang" ucap Myung ketus, Ketua kim langsung menelepon pengawalnya yang ada diluar agar mencarikan asisten dokter untuk Myung.


Myung mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh Ye Jun.


Asisten dokter datang tergopoh gopoh, namun terpatri ketakutan dan kecemasan di wajahnya. "Bawa dia ke ruangan cuci darah!" perintah Myung sambil keluar dari ruangan dan dengan yang lain.


Ketika mereka sudah sampai di depan  ruangan Khusus itu, Hyeon tetap mengikuti dari belakang, "Kau tidak boleh masuk" ucap Myung ketus. "Bagaimana bisa aku membiarkan kau sendirian disana, aku harus ikut untuk menyemangati mu, aku adalah calon suami yang bertanggung jawab" ucap Hyeon serius.


Myung memutar bola matanya, "Kau pikir aku akan melahirkan?" tanya Myung jengkel. "Oh! Ayo lah Ye Jun sudah sekarat" Hyeon menarik tangan Myung kedalam, "Kau tidak boleh masuk" ucap Myung sambil menghentikan Hyeon.


"Tunggu aku diluar!" ucap Myung lagi, "Bagaimana bisa aku bisa tenang menunggu mu diluar sementara kau harus meregang nyawa di dalam Myung-ah" ucap Hyeon frustasi. Seung Ki terkekeh melihat kelakuan Hyeon. "Aku hanya melakukan cuci darah Hyeon, bukan melahirkan. Pengawal bawa dia keluar!" perintah Myung jengkel. "Hei! aku mau masuk" ucap Hyeon.


Pengawal segera membawa Hyeon keluar. Myung mengunci pintu begitu Hyeon keluar. Hyeon geram dengan pengawal yang membawanya keluar.


Yun Dae menunggu Myung dan Ye Jun diluar dengan wajah yang khawatir, Yun Dae mondar mandir di depan ruangan tersebut sehingga membuat ketua Kim menghela napas berat berkali kali, "Duduklah!" perintah ketua Kim tegas seakan tak ingin dibantah. Tanpa babibu Yun Dae langsung duduk namun masih gelisah.


Setelah empat jam lamanya, Myung keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang lelah, "Pindahkan dia ke ruangan rapat inap!" ucap Myung lesu. Hyeon menarik pinggang Myung agar tidak jatuh, ketua Kim memerintahkan anak buahnya agar memindahkan Ye Jun.


"Seung Ki-yah, bisakah kau pulang naik taksi? Kurasa aku harus mengantar Myung pulang, Ah! Dan sampaikan salam kami kepada appa!" ucap Hyeon santai. "Appa? Seperti hyung sudah diterima saja" ucap Seung Ki mengejek.


"Aish! Kau ini" ucap Hyeon. "Pergilah!" ucap Seung Ki sambil mengibaskan tangannya seakan ingin mengusir Hyeon dan Myung.


Hyeon tak memedulikan Seung Ki dan  langsung mengangkat tubuh Myung, Hyeon membawa Myung ke dalam mobil dan meletakkan di kursi penumpang, lalu Hyeon memasangkan seabelt kepada Myung.


Myung benar benar lelah hari ini sehingga ia membiarkan Hyeon melakukan apapun yang jika ia sadar ia tak akan pernah mau.


"Tidurlah!" ucap Hyeon ketika sudah berada di kursi kemudi. Myung mengangguk lemah, "Ah! Bulankah kita akan fitting gaun?" tanya Myung mengingatkan. "Besok saja" ucap Hyeon sambil melihat ke jalan dan menjalankan mobil menuju penthousenya.


Tidak lama Myung pun tertidur, Myung tampak begitu kelelahan, ini adalah pengalaman pertama Myung melakukan praktek secara langsung, wajar saja jika Myung lelah.


Hyeon tak menyangka ternyata Myung adalah putri dari Ketua Kim, Hyeon memang sudah lama bergelut di dunia mafia, bahkan Hyeon mempunyai kekuasaan yang kuat di dunia bawah, bisa dibilang Hyeon mempunyai separuh kekuatan mafia danbm separuh lagi adalah milik ketua Kim.


Namun ketua Kim menjabat sebagai ketua secara sah. Hyeon juga tak menyangka kalau Myung adalah seorang calon dokter yang pintar, Hyeon ingin mengetahui secara mendalam tentang kehidupan Myung.  Setidaknya Hyeon harus tahu hal itu karena ini menyangkut kehidupan calon istri cantik nya itu.


Hyeon mengambil Gadgetnya dan mendial nomor ponsel asisten Han, terdengar suara dari seberang telepon.


"Hello tuan Hyeon " ucap asisten Han sopan, "Carikan aku tentang latar belakang Myung" balas Hyeon serius. "Jangan lama lama" ucap Hyeon lagi.


"Baik tuan" ucap asisten Han. "Baiklah aku tutup teleponnya" ucap Hyeon sambil memutuskan panggilan telepon mereka. Asisten Han terlonjak kaget mendengar Hyeon yang memberitahu nya akan menutup telepon mereka, padahal biasanya Hyeon langsung memutus panggilan mereka secara sepihak tanpa mengatakan apa apa, bahkan terkadang ketika asisten Han masih berbicara.


Myung kelihatan tetap cantik meskipun sedang tidur. Wajah polosnya itu bak peri yang sedang tidur. Hyeon mengambil gadgetnya dan memfoto Myung yang tengah terlelap. Hyeon tersenyum melihat hasilnya.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂