The Best Decision

The Best Decision
Tidak Pernah Kehabisan Energi



Hyeon terbangun dari tidurnya, menilik ke sekitar ruangan, Hyeon mendapati kegelapan yang pekat, sepertinya mereka melewatkan makan siang mereka. Hyeon memakai kemejanya dengan cepat lalu memakaikan Myung pakaiannya kembali.


Hyeon mendapati Myung yang masih tidur dengan nyenyak. Hyeon memutuskan untuk membawa Myung pulang tanpa membangunkannya. Hyeon menggendong tubuh Myung dengan pelan dan hati hati.


Hyeon menyetir dengan telaten, sesampainya di mansion milik Hyeon, Myung masih dalam keadaan yang sama persis seperti tadi. Bahkan terlihat lebih pulas daripada tadi. Hyeon menggendong Myung sekali lagi, lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi meja makan mereka dengan Myung di atas pangkuannya.


Seung Ki dan Ye Jun mendatangi ruang makan begitu mereka mendengar bunyi mesin mobil Hyeon.


Mereka mulai mengambil makanan mereka sendiri termasuk Hyeon. Seung Ki melirik Myung yang tertidur pulas di pangkuan Hyeon bahkan tidak merasa terganggu sedikitpun oleh pergerakan Hyeon. Seung Ki memutuskan untuk tetap diam meskipun dia merasa penasaran setengah mati.


Hyeon melirik Myung yang masih tidur di pangkuan nya, tidak ada tanda tanda akan bangun sedikitpun. Hyeon menghela napas berat.


"Myung-ah bangun!!"


"..."


Seung Ki sedikit terkikik, Ye Jun hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah manja Myung kali ini.


"Myung-ah, kau belum mengisi perutmu semenjak siang" Hyeon mengusap pipi mulus Myung dengan lembut. Namun hanya deheman halus yang menjadi respon Myung.


Hyeon tersenyum jahil memikirkan idenya yang sedikit mesum. Hyeon menyentuh paha Myung dengan sentuhan sensual. "Sayang, apa kau benar benar menolak untuk bangun? Hm?" Hyeon sesekali menciumi bibir Myung.


Sesegera mungkin Myung membuka matanya lalu melotot tajam ke arah Hyeon. "Bagaimana bisa kau masih punya energi untuk melakukan itu denganku? Kita sudah bercinta seharian ini" Myung berbicara dengan frustasi. Seung Ki menganga mendengar ucapan Myung yang frontal itu.


Hyeon tersenyum simpul, "Apa kau tau kalau aku tidak pernah kekurangan energi untuk bercinta denganmu? Kau bahkan bisa menambah energi ku dengan melakukannya berkali kali" Hyeon mengedipkan matanya seolah olah hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu.


Myung terdiam menahan kekesalan nya. Myung berulang kali mencoba untuk melarikan diri dari Hyeon namun selalu gagal.


"Kau ini, aku bukan seperti mu, aku sekarang benar benar tidak punya energi lagi" Myung hendak memejamkan matanya kembali karena rasa kantuk yang mulai menyerang kembali.


Secepat kilat Hyeon menyentuh dada Myung membuat Myung terbangun kembali. "Kau harus makan sekarang, aku tidak ingin kau sakit walau sedetikpun"


Myung mendecih, "Ayo pulang!" Myung hendak berdiri namun di tahan oleh Hyeon. "Pulang Kemana?" Hyeon pura pura tidak mengerti.


"Ke mansion, emangnya kau pikir kemana?" Myung mengetuk bibir Hyeon dengan jari telunjuknya. "Ke hotel mungkin" Hyeon menjilat jari mungil Myung membuat Myung sesegera mungkin melepaskannya.


"Tidak bisakah kalian berdua melakukannya di kamar saja?" Seung Ki berkata dengan nada sedikit jengkel. Myung mengedipkan matanya berusaha mencerna apa yang terjadi. Myung baru sadar saat ini mereka berada di mansion, lebih tepatnya di meja makan setelah punggung Myung membentur meja makan.


"Kenapa kau tidak membangunkan ku semenjak tadi?" Myung mencubit perut Hyeon yang keras sambil beranjak dari sana dan pindah ke samping Hyeon.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂