
Ye Jun menenggak gelas demi gelas, martini yang mengalir di tenggorokan Ye Jun terasa pahit namun membuat candu.
Ye Jun memang berharap agar dia bisa kehilangan kesadaran walau sejenak. Jika dia masih sadar maka hatinya akan semakin terluka. Ye Jun tidak bisa menahan sakit hati nya meskipun dia seorang laki-laki yang kuat namun untuk masalah yang berhubungan dengan Myung, Ye Jun tidak bisa menahan apapun. Seakan Myung adalah mantra agar Ye Jun terlihat apa adanya.
Ye Jun mulai meracau tak menentu, namun Ye Jun masih menenggak martini itu. "Kenapa harus menikah dengan orang lain Myung?" Ye Jun menangis histeris. "Ah! Dia lebih tampan dari pada aku" Ye Jun terkekeh. Ye Jun menertawakan nasibnya yang miris.
"Aku sangat mencintai mu Myung-ah" Ye Jun mengusap kepalanya frustasi, "Kenapa kau tidak pernah melihat ku? Kenapa kau tidak pernah mencoba untuk mencintaiku?" Ye Jun menangis kembali. "MYUNG-AH, AKU MENCINTAIMU" Ye Jun berteriak sekuat tenaga.
"Kenapa kau tidak pernah memandang ku ? Dia itu gay kau tidak pantas menikah dengannya" Ye Jun memecahkan semua botol dan gelas.
Ye Jun berjalan mengambil cocktail dan menenggak habis. Ye Jun merasa tidak nyaman dengan perutnya. Ye Jun merasa perutnya seakan ingin meledak, tak berapa lama Ye Jun muntah.
Tok tok tok
"Ye Jun-ah kau di dalam?" tanya Choi Yun Dae (Bibi Ye Jun). Yun Dae langsung masuk karena pintu tidak dikunci.
Ceklek
"Ye Jun-ah, aku mendengar kabar kalau kau pulang" ucap Yun Dae seraya mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan. Betapa terkejutnya Yun Dae melihat Ye Jun kejang kejang.
"Ye Jun-ah" Yun Dae menghampiri Ye Jun dan memapah Ye Jun.
Yun Dae membawa Ye Jun ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Ye Jun langsung di bawa ke UGD. "Tolong selamat kan dia dokter!" ucap Yun Dae seraya menyatukan kedua tangannya seolah memohon. Dokter hanya menghela napas berat sambil berlalu dari hadapan Yun Dae.
Dokter memang sering mengalami kejadian seperti ini, seolah hanya dokter yang bisa menyembuhkan penyakit apapun, padahal Tuhan lah yang menyembuhkannya, dokter hanya sebagai perantara.
Yun Dae terduduk lemas di bangku yang tersedia di sana. Tiba tiba datanglah para bodyguard Ye Jun.
Ye Jun memang memiliki kehidupan yang gelap dan hanya orang terdekat nya yang tahu, Ye Jun mempunyai jabatan yang penting di dunia mafia. Sedangkan ketua mafia itu adalah pamannya.
"Nyonya apa yang terjadi?" tanya kepala pengawal. Yun Dae semakin terisak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh kepala pengawal.
Kepala pengawal pun bungkam melihat reaksi Yun Dae.
Lalu dokter keluar dari ruangan UGD, Yun Dae langsung menghampiri dokter, "Bagaimana keadaan nya dokter?" tanya Yun Dae dengan berlinang air mata.
Yun Dae sangat menyayangi Ye Jun, Yun Dae sudah menganggap Ye Jun sebagai anak kandungnya semenjak kakak kandungnya meninggal ketika melahirkan Ye Jun.
"Dia keracunan alkohol, karena minum alkohol terlalu banyak dalam waktu singkat, apa dia punya masalah yang sangat berat?" tanya dokter setelah menjelaskan keadaan Ye Jun. "Dia tidak pernah mempunyai masalah dokter" ujar Yun Dae semakin terisak di depan dokter.
"Aku rasa dia akan sadar tapi aku tidak bisa memastikan jam berapa dia sadar, kurasa tubuhnya mengalami sedikit komplikasi sehingga jantungnya berhenti berdetak sesaat" dokter melanjutkan penjelasan nya.
Yun Dae menangis histeris mendengar ucapan dokter. "Kita tunggu dia sadar, setelah itu kami akan mengambil tindakan" ujar dokter. "Terima kasih dokter" ucap Yun Dae sambil menundukkan kepalanya. Dokter berlalu dari hadapan mereka.
Yun Dae masuk ke ruangan Ye Jun setelah Ye Jun di pindahkan ke ruangan rawat inap VVIP.
Yun Dae menunggu Ye Jun sadar hingga pagi, karena kantuk yang menyerang Yun Dae pulang ke mansionnya, Yun Dae ingin istirahat sebentar, nanti dia akan melihat Ye Jun lagi.
Seung Ki merasa resah, karena Ye Jun tidak pulang semalam. Seung Ki mencoba menelepon Ye Jun namun tak diangkat, Seung Ki mencoba tanpa henti, hingga suara asing menyahut dari seberang sana.
"Hello" sapa suara di seberang telepon.
"Ya, apa aku bisa bicara dengan Ye Jun hyung?" tanya Seung Ki dengan rasa panik yang menyerang.
"Tuan Ye Jun masuk rumah sakit, sekarang dia dirawat di General Hospital di pusat kota, jika nanti tuan Ye Jun sudah sadar, akan saya kabari" ucap suara itu lagi.
"Kenapa dia belum sadar? Apa terjadi sesuatu?" tanya Seung Ki. "Datanglah! Jika ingin tahu" ucap suara di seberang telepon seraya memutuskan panggilan mereka.
Seung Ki langsung menuju penthouse Hyeon, sesampainya di sana, Seung Ki melihat Hyeon tengah mengusap kepala Myung yang bersandar di dadanya, "Hyeon Hyung" ucap Seung Ki.
"Hem" balas Hyeon namun Hyeon tak mengalihkan pandangan nya dari Myung. "Ye Jun Hyung masuk rumah sakit" ujar Seung Ki dengan raut wajah yang panik.
Myung langsung menegakkan kepalanya, "Apa terjadi sesuatu?" tanya Myung cemas, namun Myung menampilkan ekspresi biasa agar Hyeon tidak tahu dengan perasaan cemas yang tengah melandanya.
"Aku tidak tahu Noona" jawab Seung Ki frustasi. "Dimana dia sekarang?" tanya Hyeon. "Di General Hospital Hyung" jawab Seung Ki.
"Kau ikut?" tanya Hyeon kepada Myung. "Apa aku boleh ikut?" tanya Myung kembali. Hyeon mengangguk. "Ayo!" ucap Myung berdiri. "Apa kakimu sudah membaik?" tanya Hyeon sambil menarik Myung agar duduk lagi di tempat semula. Hyeon meraih kaki Myung dan melihat sekilas, kaki Myung memang sudah sembuh.
Hyeon berjalan masuk ke mobilnya dan duduk di kursi kemudi diikuti oleh Myung dan Seung Ki. Hyeon melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang dikatakan oleh Seung Ki.
"Kenapa kau selalu memakai baju yang berwarna sama dengan ku?" tanya Hyeon pura pura kesal. "Bukankah aku yang lebih dulu mandi" jawab Myung kesal. "Kau bisa saja memakai warna yang lain setelah aku memakai pakaian ku" balas Hyeon. "Sudahlah Hyung, mungkin Myung noona memang ingin kalian terlihat lebih romantis" ucap Seung Ki sambil menampilkan wajah berseri.
Mereka terdiam, Myung memperhatikan jalanan yang tidak terlalu padat karena hari masih pagi.
"Apa pemandangan di luar sana lebih bagus dari pada aku?" tanya Hyeon merajuk. "Ah! Aku rasa kau juga tahu tentang itu" jawab Myung santai. "Bohong" celetuk Seung Ki. "Aku setuju denganmu Seung Ki-yah" ucap Hyeon dengan menaik turunkan alisnya ke arah Myung.
Myung bergidik ngeri melihat Hyeon.
"Mana ada pemandangan yang lebih bagus dari pada ketampanan Hyeon hyung" ucap Seung Ki. Hyeon mengangguk seakan membenarkan ucapan Seung Ki. "Seung ki-yah, apa kau menyukai Hyeon?" tanya Myung santai.
Hyeon langsung mengerem mendadak, "Apa kau pikir aku ini tidak normal?" tanya Hyeon setengah emosi. "Aku tidak bertanya kepadamu, apa kau tersinggung dengan ucapan ku?" tanya Myung dengan melihat ekspresi Hyeon.
Hyeon melajukan mobilnya lagi, mereka tidak berbicara lagi.
Sesampainya di General Hospital, mereka langsung menuju ruangan tempat Ye Jun di rawat.
BERSAMBUNG 🙂🙂🙂