The Best Decision

The Best Decision
Cemburu 2



Sementara itu Hyeon baru memasuki cafetaria, Hyeon melihat Myung duduk bersama dua pria di depannya,  "Satu manajer kang, satu lagi siapa?" Hyeon bertanya tanya dalam hati.


"Ekhm eeekkkhhhmmm" Hyeon sengaja berdehem agak keras agar Myung tau keberadaan nya, namun Myung tak sadar sama sekali dengan keberadaan Hyeon saat ini.


"Lucas-ssi" Myung memanggil Lucas, sementara yang dipanggil langsung mendongak sambil memanggil pelayan. "Kurasa kita bisa berteman, tadi aku sedang mengetes mu, ku pikir kau sedikit sombong ternyata tidak sama sekali" Myung menampilkan senyum cerianya.


"Manajer Han, aku mau duduk dengan mereka bagaimanapun caranya" Hyeon menunggu jawaban dari Manajer Han.


"Ku rasa itu tidak..." Hyeon melotot tajam. "masalah tuan" manajer Han melanjutkan perkataannya yang sempat terputus.


Manajer Han memindahkan satu kursi di dekat Myung agar Ia duduk disana untuk mengawasi tuannya.


Hyeon duduk di samping Myung, seketika semua kikuk.


"Tuan Hyeon yang terhormat bukankah disana banyak kursi yang masih kosong?" Myung bertanya dengan nada sesopan mungkin. "Myung-ssi" Manajer Kang memperingatkan Myung.


"Aku ingin duduk di kursi ini, apa masalah nya dengan anda?" Hyeon bicara dengan nada formal, Hyeon mengikuti kemauan Myung yang tidak mau mengumumkan hubungan pernikahan mereka.


"Saya tidak masalah dengan hal itu, tapi saya rasa anda akan sedikit terganggu dengan omongan kami nanti, kami suka menggosip" Myung mencoba mengusir Hyeon dengan halus. "Tidak masalah Myung-ssi" Hyeon tersenyum mengejek.


"Anggap saja saya tidak ada disini jika kalian tidak nyaman bergosip dengan saya" Hyeon bermurah hati kali ini agar ia bisa duduk disana bersama sang istri.


Myung menatap tajam ke arah Hyeon yang dibalas senyum tipis. Pelayan langsung bertanya begitu mereka selesai berbicara.


"Saya yang ini dan ini" Myung menunjuk menu dengan antusias. Manajer Kang dan Lucas juga memesan pesanan mereka. "Tuan Hyeon apa yang ingin anda makan?" pelayan bertanya dengan gemetar bahkan kakinya terlihat berguncang hebat.


Semua orang memang segan bercampur takut kepada Hyeon. Mungkin hanya Myung yang sama sekali tidak merasa takut ataupun gentar berada di lingkungan Hyeon.


"Samakan dengan pesanan nona ini" Hyeon memerintah dengan tegas. "Ba-baik tuan" pelayan bergegas menghilang dari hadapan mereka.


"Lucas-ssi, berapa lama kau trainee?" Myung bertanya dengan antusias membuat Hyeon merasakan hawa panas di dadanya. "Ah! Hampir dua tahun Myung-ssi" Lucas menjawab sambil tersenyum lebar.


"Benarkah? Dengar dengar pemilik perusahaan ini benar benar menyeleksi para trainee dengan ketat, mereka bahkan berani membatalkan debut jika belum mencukupi batas yang ditentukan" Myung sengaja memancing amarah Hyeon.


"Bukan... " Perkataan Hyeon terpotong oleh Myung.


"Kau benar benar beruntung Lucas" Myung tersenyum tulus mengatakannya.


Hyeon menggeram marah.


Makanan mereka datang, para pelayan menata makanan itu serapi mungkin karena disana ada pemilik perusahaan.


Mereka makan dalam diam.


Ditengah asyiknya makan, "Lucas-ssi" Panggil Myung.


"Habiskan makananmu dulu!" Hyeon menyela ucapan Myung. "Apa kau punya teman selain aku?" Myung tetap bertanya tanpa memedulikan keberadaan Hyeon. Lucas merasa enggan hendak menjawab karena Hyeon sudah mengingatkan agar mereka menghabiskan makanan mereka dulu.


"Tidak Myung-ssi" Lucas akhirnya menjawab. "Lucas-ssi berapa usiamu?" Myung tetap bertanya meskipun sedang makan.


"Myung-ssi" Hyeon memanggil Myung dengan nada setenang mungkin menandakan ia tengah marah. "Apa?" Myung menjawab dengan ketus. Myung masih kesal dengan Hyeon, kenapa Hyeon selalu membuntuti nya kemanapun ia pergi. Bahkan sekarang mereka berangkat bersama ke perusahaan. Yang benar saja.


"Apa anda tidak menganggap keberadaan saya di sini?" Hyeon bertanya dengan menahan emosi nya sekuat tenaga. Manajer Han takut tuan Hyeon berbuat yang tidak tidak di cafetaria itu. Manajer Han tau kalau sekarang Hyeon dalam emosi yang buruk.


"MYUNG-SSI" Hyeon berteriak kesal. Wajahnya memerah menahan emosi. Myung mengerjapkan matanya berkali kali melihat Hyeon yang benar benar emosi saat ini. "Apa aku terlalu keterlaluan?" batin Myung.


Semua yang ada di cafetaria itu menatap takut ke arah mereka berlima.


"Myung-ssi, jangan bicara seperti itu, minta maaf pada tuan Hyeon!" Manajer Kang menengahi mereka. Hyeon masih menatap tajam ke arah Myung. Hyeon menunggu respon dari Myung.


Myung menampilkan wajah tanpa dosanya. "Tuan Hyeon yang terhormat maafkan saya" Myung mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.


Hyeon berdiri, "Ikut denganku!"


"Pergilah Myung-ssi!"


"Kenapa aku harus mengikutinya?" bisik Myung kepada Manajer Kang yang memintanya agar mengikuti Hyeon. "Myung-ssi" Hyeon memanggil Myung dengan nada yang tenang. Myung tersadar jika saat ini Hyeon benar benar marah.


Semua orang merinding mendengar ucapan Hyeon.


Myung berdiri dari tempat duduknya, "Fighting!" Lucas memberi semangat kepada Myung sementara Myung hanya menggumamkan terima kasih.


Di lift perusahaan, Hyeon langsung menarik pinggang Myung agar mendekat kepadanya, "Kau tau apa kesalahan mu?" Hyeon benar benar menggunakan nada bicara yang membuat manajer Han merinding mendengar nya. Myung juga merasakan ketakutan yang hebat, tubuhnya bergetar.


"Ti-tidak tau Hye-hyeon" Myung menundukkan kepalanya.


Ting! Bunyi lift berdenting, mereka keluar dari lift dan masuk ke ruangan Hyeon kecuali manajer Han yang berbelok ke meja kerjanya.


"Kau benar benar tidak tau kesalahan mu?" tanya Hyeon dengan tatapan mengintimidasi yang kuat. Myung merasakan kapasitas oksigen diruang itu benar benar menipis.


Myung memalingkan wajahnya ke arah lain karena takut melihat wajah emosi Hyeon.


"Lihat aku!"


Myung menundukkan kepalanya seperti anak kecil yang takut dihukum oleh orang tuanya karena bersalah.


"Hei! Lihat aku!" Hyeon membentak Myung. Namun Myung masih setia untuk melihat ke arah bawah.


Hyeon berjalan mendekati Myung yang masih berdiri di dekat pintu. Hyeon menggendong Myung dan membawanya ke kamar pribadinya. Hyeon melemparkan tubuh Myung ke atas king size nya dan bergegas menindih tubuh Myung yang meronta  ketakutan.


Hyeon mencium bibir Myung dengan kasar dan bertubi tubi, Hyeon bahkan menggigit bibir Myung sehingga bibir Myung mengeluarkan darah yang segar. Myung menangis karena Hyeon memperlakukan nya dengan kasar.


Hyeon tersadar dengan apa yang telah ia lakukan setelah ia merasa air mata Myung menerpa wajahnya. Hyeon melepaskan ciuman mereka dan mengusap bibir Myung yang berdarah. Myung menangis sejadi jadinya.


Hyeon duduk dan membawa Myung ke pangkuannya. "Maaf kan aku myung-ah" Hyeon menyeka air mata Myung yang membasahi pipi gadis cantik itu.


Myung makin mengeraskan tangisnya.


"Maaf kan aku, aku benar benar di luar kendali" Hyeon mengecup kening Myung dengan penuh kasih sayang.


Myung berhenti menangis dan tak lama kemudian Myung tertidur di pangkuan Hyeon.


Hyeon merasakan nafas Myung mulai teratur, Hyeon meletakkan Myung di ranjang dengan pelan. Hyeon mengambil kotak P3K dan mengobati luka di bibir Myung ulah akibatnya.


BERSAMBUNG 🙂🙂🙂