
Paula dan Malvin keluar dari mobil.
"Aku pergi" pamit Malvin.
"Iya hati-hati. Eh, sebentar. Muka kamu pucet banget, kamu sakit?"
"Enggak, aku gak papa. Mungkin ini karena baru bangun tidur"
Malvin mengecup kening Paula di depan Kania yang masih mematung. Kemudian ia masuk ke dalam mobilnya. Sebelum melajukan mobilnya, Malvin membuka kaca jendela mobil. Ia melambaikan tangan pada Paula dan Paula membalasnya.
Setelah Malvin pergi, Paula menghampiri Kania. Ia memegang pundak Kania tetapi tidak ada respon dari sahabatnya itu.
"Kania!" teriak Paula, ia mengguncang tubuh Kania.
"Paula!! Apa ini? Apa yang kalian lakukan? Bagaimana bisa kalian ada di satu mobil yang sama? Kalian tidur bersama?"
"Sstttt.. Kania, kau ini cerewet sekali! Bagaimana jika nanti ada yang dengar?" Paula membekap mulut Kania dengan tangannya.
Kania membulatkan matanya saat ia melihat cincin yang melingkar di jari manis Paula. Ia melepas bekapan Paula dan langsung teriak histeris.
Aaaaaaaaa..
"Paula, ini.. Ini" Kania menunjuk-nunjuk cincin Paula.
"Iya, aku terima lamaran pak Malvin" Paula tersenyum malu-malu.
"Aku gak mau tau, sekarang juga kamu harus ceritakan semuanya pada ku"
"Iya, tapi nanti. Kalau sekarang, kita bisa-bisa telat lagi"
"Iya bener juga. Ya udah sekarang kamu siap-siap gih, tapi nanti malam kamu harus ceritakan semuanya, tanpa ada yang terlewat sedikit pun"
"Iya cerewet"
"Lah.. Kenapa kamu datang dari luar? Abis dari mana kamu?" tanya Mayang yang melihat putrinya itu masuk ke dalam rumah bersama Kania.
"I-itu ma abis.. Abis dari rumah Kania" bohong Paula. Dan Kania terlihat menahan tawanya.
"Ya sudah cepetan sana mandi kamu, nanti langsung turun, kita sarapan"
"Iya ma" Paula langsung pergi ke kamarnya di lantai atas untuk bersiap-siap.
"Ayo Kania, kita ke dapur. Kita masak nasi goreng spesial"
"Siap tante, let's go kita masak"
Di kamar Paula..
Lima belas menit kemudian. Paula menatap dirinya di cermin. Ia memulas bibirnya dengan liptint sebagai sentuhan akhir. Kini Paula sudah siap bekerja.
Paula menatap cincinnya. "Gak mungkin aku memakai cincin ini ke kantor. Hanya dengan melihat cincin ini aja semua orang pasti akan langsung tau, kalau aku adalah Michelle. Apa yang harus aku lakukan?"
Ponsel Paula berdering, ia mendapat panggilan telephone dari Malvin. Paula mengangkat panggilan itu.
(In Call)
"Halo sayang, kamu udah siap?" tanya Malvin.
"Iya" jawab Paula lesu.
"Kamu kenapa?"
Paula menghela napasnya dalam. "Itu mm.. Aku boleh nggak"
"Boleh apa?" potong Malvin.
"Mmm.. lepas cincinnya"
"Apa? Kenapa di lepas cincinnya? Kamu gak suka"
"Nggak, gak gitu. Aku suka cincinnya, suka banget malah. Tapi aku gak nyaman kalau pake cincin itu ke kantor. Aku belum siap kalau orang-orang tau, aku ini Michelle"
"Hmm.. Baiklah, aku mengerti. Kamu boleh lepas cincinnya"
"Kamu gak marah?"
"Tentu aku marah, aku sangat marah. Kamu mau lihat kemarahan ku, lihatlah. Aku tunggu kamu di kantor" Malvin menutup telephonenya sepihak.
(Call End)
Sebenarnya Malvin tidak marah, ia hanya menggoda Paula saja.
"Kamu akan dapat 'kan hukuman mu nanti sayang" batin Malvin menyeringai.
"Paula.." Kania masuk begitu saja ke kamar Paula.
"Paula ada apa? Kenapa kamu menangis?" panik Kania ketika melihat sahabatnya itu menangis.
"Kania"
"Iya, kamu kenapa?"
"Malvin marah sama aku"
"Kenapa? Kok bisa? Bukankah tadi pagi kalian baik-baik aja"
Paula bercerita pada Kania. Paula memang selalu menceritakan semua masalahnya pada sahabat terbaiknya itu.
"Paula kau ini, pantas saja pak Malvin marah. Bagaimana bisa kau melepas cincin ini" Kania menunjuk cincin Paula. "Ini bukan cincin sembarang Paula"
"Iya, aku tau" cicit Paula.
"Paula kamu sudah terima lamaran Pak Malvin, jadi kamu juga harus terima resikonya. Pak Malvin itu bukan orang sembarangan. Cepat atau lambat orang-orang pasti akan tau tentang hubungan kalian. Kamu harus sudah siap akan hal itu"
"Iya kamu benar Kania. Tapi sekarang aku harus apa?"
"Ya apa lagi, minta maaf. Sekarang kamu hubungi pak Malvin"
Paula menelphone Malvin namun tidak di angkat. Paula mencobanya lagi lagi dan lagi namun tetap saja tidak di angkat.
"Kania dia tidak mengankatnya. Dia pasti marah banget sama aku. Sekarang gimana?"
"Kita pakai cara terakhir, cara yang paling ampuh. Aku yakin pak Malvin akan langsung memaafkan mu"
"Cara apa?"
"Membujuknya. Kamu harus bersikap manis di depan pak Malvin. Kamu harus memanjakannya dan menuruti semua keinginannya"
"Apa? Aku gak mau. Bagaimana kalau dia minta hal yang aneh-aneh?" tolak Paula.
"Hal yang aneh-aneh?" Kania mengerutkan kedua alisnya.
"Iya itu, hal yang aneh-aneh"
"Oh ya ampun, Paula. Pikiran mu itu. Tapi menurut ku gak papa juga 'kan kalau pak Malvin minta hal yang aneh-aneh itu. Toh juga kalian akan segera menikah"
"Kania!!"
"Ah sudahlah, terserah kamu aja. Kalau kamu memang gak mau berbaikan dengan pak Malvin" Kania pergi meninggalkan Paula yang sedang berfikir.
Setelah menutup pintu kamar tak lama Kania kembali membuka pintu kamar Paula. "Paula cepatlah, kenapa kau malah diam? Tante Mayang sudah menunggu kita untuk sarapan" kata Kania, kali ini ia tidak menutup pintunya dan tak lama Paula pun menyusul Kania.
Paula, Kania dan Mayang kini tengah sarapan. Setelah selesai pula dan Kania berpamitan pada Mayang.
"Ma, Paula berangkat ya" pamit Paula.
"Iya tan, Kania juga pamit" Kania menimpali.
"Iya, kalian berdua hati-hati, jangan ngebut"
Saat akan pergi tiba-tiba saja asisten Leon datang. Ia terlihat sangat panik. Paula yang melihatnya juga ikut panik. Terlebih lagi saat ini, ia tidak bisa menghubungi Malvin. Apakah kedatangan Leon ke rumah Paula ada hubungannya dengan Malvin? Atau karena hal lain. Sungguh Paula sangat mengkhawatirkan keadaan Malvin saat ini.
"Asisten Leon!" kata Paula dan Kania bersamaan.
"Nona Paula, anda harus ikut saya sekarang juga" kata Leon.
"Haah.. Kemana?" tanya Paula.
"Rumah sakit"
"Apa?" mendengar kata rumah sakit Paula semakin khawatir dengan keadaan Malvin. Semoga saja ini tidak ada hubungannya dengan Malvin.
"Iya nona, kita harus ke rumah sakit sekarang juga"
"Tapi kenapa? untuk apa?"
"Tadi pagi tiba-tiba saja tuan Malvin pingsan nona dan kini tuan di rawat di rumah sakit" jelas Leon yang sukses membuat tubuh Paula lemas.
"Paula, kau baik-baik aja" tanya Kania panik, ia memegang kedua pundak Paula.
"I-ya aku baik-baik aja. Kania aku harus ke rumah sakit. Ma, Paula pergi ke rumah sakit. Ayo asisten Leon kita pergi sekarang" kata Paula dengan tatapan kosong.
Mendengar Malvin pingsan dan sampai harus di larikan ke rumah sakit, jiwa Paula seakan terlepas dari raganya. Ribuan anak panah terasa tertancap di dadanya. Napasnya terasa terceket seperti ada yang mencekiknya. Entahlah kenapa Paula merasa seperti itu? Apa itu karena Paula sudah mencintai Malvin tanpa di sadarinya?
'Takut' kata itu yang bisa mewakili perasaan Paula saat ini. Ia takut kehilangan Malvin. Ia takut Malvin pergi jauh dari dirinya. Ia takut Malvin membencinya terlebih lagi saat ini Malvin sedang marah padanya.