
Saat jam makan siang seperti biasa Paula dan Kania makan di kantin, tapi kali ini mereka tidak bisa makan dengan tenang karena semua orang menatap mereka. Tidak, lebih tepatnya sih menatap Paula.
"Aww.." teriak Stella dusta.
Stella menjatuhkan dirinya sendiri tepat di sebelah meja Paula untuk menarik perhatiannya.
"Haa.. Haa.. Haa.." Kania tertawa puas melihat Stella terjatuh. Begitu juga dengan pegawai lainnya.
"Kania, kau ini" Paula menegur Kania. "Stella, bangunlah" Paula mengulurkan tangannya untuk membantu Stella.
Stella menerima uluran tangan Paula. "Terimakasih"
Stella mematung ketika ia melihat cincin di jari manis Paula. Bukan hanya Stella, ketiga temannya juga diam saat melihat cincin yang di kenakan Paula. Stella sengaja menunjukkan cincin yang di kenakan Paula pada ketiga temannya itu yang duduk tepat di sebelah meja Paula.
"Sudah ku duga Stella pasti salah. Entah apa yang dia pikirkan? Bagaimana dia bisa berfikir jika Michelle itu Paula?" gumam Dona
"Cincinnya berbeda. Tuh 'kan bener Paula itu bukan Michelle. Stella pasti merasa sangat kesal sekarang" gumam Dini.
"Dasar keras kepala. Sudah aku bilang menyerah saja. Sekarang terbukti 'kan dia salah" gumam Melly.
Ketiga wanita itu mengeluarkan uneg-uneg mereka seraya menggeleng-geleng 'kan kepalanya kompak.
"I-ini, ini bukan cincin itu. Jadi, dia bukan Michelle? Haahh.. Tapi, bagaimana bisa? Aku yakin banget Paula itu Michelle" batin Stella.
"Stella, kau tidak kenapa-napa 'kan?" tanya Paula membuyarkan lamunan Stella.
"Ahh.. Iya, aku baik-baik saja. Aku permisi. Sekali lagi terimakasih" kata Stella langsung pergi.
"Dia kenapa? Seperti baru melihat hantu saja" tanya Paula.
Kania menunjuk cincin Paula. Paula bingung, ia menatap Kania meminta penjelasan.
"Kamu sendiri yang bilang kemarin malam, Stella mencurigai mu sebagai Michelle bukan?"
"Iya, terus"
"Stella pasti berpikir. Jika kamu adalah Michelle, kamu pasti memakai cincin yang di berikan pak Malvin saat melamar mu di depan semua orang. Tapi nyatanya tidak, dia malah melihat cincin lain di jari manis mu itu. Dia pasti merasa sangat kecewa" jelas Kania.
Paula tersenyum menatap cincin di jari manisnya.
"Di mana cincin itu? Apa kamu melepasnya?" tanya Kania yang juga baru sadar jika Paula tidak memakai cincin yang di berikan Malvin dan malah memakai cincin yang berbeda.
"Bukan aku, tapi kak Mark yang melepasnya dan dia malah memberikan cincin ini untuk menggantinya"
"Paula, kau sangat beruntung. Pak Malvin adalah orang yang sangat pengertian. Apa di dunia ini ada laki-laki lain yang sama kaya pak Malvin. Jika ada, tuhan jadikanlah dia jodoh ku"
Sementara itu Stella berada di toilet. Ia membasuh wajahnya beberapa kali.
"Apa ini? Kenapa cincinnya berbeda? Apa aku memang salah? Akh.. Sial" kesal Stella sembari menatap cermin.
"Apa yang harus aku katakan pada teman-teman ku? Mereka pasti akan meledek ku abis-abisan? Mau taruh di mana muka ku ini?" Stella menutup wajah dengan ke dua tangannya. Untung saja saat itu di toilet sedang tidak ada orang. Jadi Stella bisa meluapkan kekesalannya.
"Bagaimana? Apa kau masih berfikir jika Michlle itu Paula?" tanya Dona yang baru saja masuk ke dalam toilet di ikuti dengan Melly dan Dini yang berjalan di dekatnya.
Stella tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak tau harus mengatakan apa lagi di depan ketiga temannya. Ia merasa sangat malu. Bagaimana tidak? Stella sudah sangat yakin tapi nyatanya ia salah. Sungguh Stella sudah kehilangan wajah di depan mereka.
Sebelum jam makan siang tadi Stella mengatakan jika ia akan memberikan bukti pada teman-temannya itu jika Michelle itu adalah Paula. Stella mengatakan dengan yakin jika Paula pasti mengenakan cincin yang di berikan Malvin pada malam itu. Tapi nyatanya tidak, Paula malah memakai cincin yang berbeda.
Melihat Stella yang merasa kesal, ketiga temannya itu lantas menyusul Stella ke toilet.
"Sudahlah Stella lupakan ini" kata Dini.
"Kalian tidak mengejek ku?" tanya Stella.
"Mau kami ejek?" tanya Melly.
"Jangan" jawab Stella cepat sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Semua wanita itu tertawa. Mereka memang sekumpulan wanita pembuat gosip yang sering bikin heboh seisi kantor karena gosip yang mereka katakan tapi di sisi lain mereka juga adalah teman yang setia.
"Pau, apa kau tidak mau pulang?" tanya Kania heran melihat Paula yang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya di saat jam kantor sudah selesai lima belas menit yang lalu.
"Kau duluan aja, ini tanggung sebentar lagi selesai" jawab Paula masih sibuk dengan berkasnya.
"Kau serius? Bukankah tadi kau di anter sama kak Raihan? Kalau aku pergi, kamu pulang sama siapa?"
"Aku serius Kania, kau pulanglah. Nanti aku bisa pesan taxi online"
"Ok"
"Aku pergi" pamit Kania.
"Iya, kau juga harus hati-hati"
"Jangan terlalu malam"
"Iya cerewet" rutuk Paula.
Kania pergi meninggalkan Paula yang sibuk menatap layar komputernya. Karena beberapa hari ini ia tidak bekerja, pekerjaannya menjadi menumpuk dan ia harus segera menyelesaikannya.
Sementara itu, di rumah Malvin merasa sangat khawatir. Ini sudah waktunya Paula pulang, tapi wanitanya itu belum juga terlihat batang hidungnya. Malvin lantas menelphone asisten Leon. Sebelumnya Malvin sudah menelphone Paula tapi tidak di angkat karena Paula terlalu fokus pada pekerjaannya sampai tidak sadar jika Malvin berulang kali menelphonenya. Terlebih lagi ponsel Paula dalam mode diam.
(In Call)
"Dimana Paula?" tanya Malvin.
"Nona masih ada di kantor tuan" jawab asisten Leon yang mengawasi Paula dari rekaman CCTV yang terhubung langsung ke ponselnya.
"Sendiri?"
"Iya tuan, nona Paula masih sibuk mengerjakan pekerjaannya"
"Baiklah, kau terus awasi Paula. Aku akan ke sana"
"Baik tuan"
(Call End)
Langit sudah gelap saat Malvin tiba di kantor. Asisten Leon menunggu Malvin di lobi.
"Dia masih di ruangannya?" tanya Malvin.
"Iya tuan"
"Kau pulanglah" titah Malvin kemudian ia masuk ke dalam lift. Setelah pintu lift tertutup asisten Leon pun kemudian pergi.
"Aaa.." teriak Paula saat tangan besar seseorang melingkar di pinggannya.
"Ssstt.. Ini aku" bisik Malvin tepat di telinga Paula. Malvin memeluk Paula dari belakang.
Paula menghela napasnya lega. "Kenapa kak Mark ke sini? Bukankah aku udah meminta kak Mark untuk tetap di rumah, istirahat" hardik Paula kemudian.
"Itu karena kamu"
"Aku?" Paula menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Karena kamu belum pulang Ini udah malam. Terus juga, kenapa gak angkat telephone aku?"
Paula mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 malam dan ia juga melihat 21 panggilan tak terjawab dari Malvin.
"Maaf" cicit Paula.
"Kamu udah bikin aku khawatir. Jadi kamu harus dapat hukuman" Malvin menyeringai.
Malvin merapatkan tubuhnya pada tubuh Paula. Kini mereka saling berhadapan. Malvin membelai wajah Paula.
"Kak Mark! Apa yang kamu lakukan?" Paula mulai was-was.
"Memberi mu hukuman" Malvin mengelus lembut bibir ranum Paula.
"Kak Mark ini kantor!" Paula menahan dada Malvin memberikan jarak dengan badannya.
"Biarkan saja" kini Malvin menghirup aroma tubuh Paula dari lehernya. Malvin mengecup, menjilat dan menghisap batang leher jenjang Paula.
"Bagaimana jika ada yang me-mptthh" kata Paula terpotong saat Malvin membungkam mulut Paula dengan mulutnya.
Malvin ******* bibir Paula lembut. Paula terbuai ia mengalungkan tangannya di leher Malvin. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut sampai pada akhirnya...
Brakk..
Terdengar suara barang yang jatuh. Terlihat seseorang berdiri mematung di luar ruangan staff administrasi keuangan. Ruangan tempat Paula bekerja itu adalah ruangan kaca sehingga orang dari luar bisa melihat dengan jelas ke dalam ruangan itu. Orang itu melihat sang big bos dan salah satu pegawainya sedang bercumbu panas.
"OH MY GOD"